
Setelah menikmati makan siang, Alina dan Rafi membawa tamu mereka ke ruang tamu.
"Terima kasih banyak Pak Rafi, Bu Alina. Kami sangat menikmati makan siangnya. Kapan-kapan kami yang akan mengundang kalian ke rumah kami." Alvan mengatupkan tangannya.
"Sama-sama Pak Alvan. Kami akan datang ke rumah Pak Alvan." Jawab Rafi.
"Ma, Pa, Bu Arumi setelah melihat Talita katanya seakan melihat Pak Alvan." Kata Talita.
"Jujur, saya juga merasa Talita sangat mirip dengan Pak Alvan." Kata Rafi.
"Mohon maaf sebelumnya, Talita anak Bu Alina dan Pak Rafi kan?" tanya Arumi.
Alina dan Rafi memandang Talita.
"Ma, Pa, ceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Talita tak apa." Talita memegang tangan Alina dan Rafi.
Alina menarik nafas dalam-dalam.
"Kisah ini terjadi 16 tahun yang lalu. Saat itu saya hanyalah seorang anak yatim piatu, tinggal di sebuah gubuk tua. Saya kerja serabutan. Pulang dari tempat kerja saya melihat sebuah kotak di depan rumah. Setelah saya buka ternyata isinya bayi perempuan." Alina memeluk Talita.
Arumi dan Alvan terkejut mereka memandangi Talita, tangan mereka berdua berpegangan.
"Setelah hari itu saya memutuskan untuk mengasuh Talita. Beruntung saya mempunyai Bos yang baik hati yang menyediakan tempat tinggal untuk saya dan Talita. Juga tetangga-tetangga yang baik yang sering membelikan keperluan untuk Talita. Bos saya itu sekarang menjadi Ibu mertua dan Bang Rafi mau menerima saya dan juga Talita. Kami sangat beruntung." Alina memeluk Talita dan menatap Rafi suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Bisa Anda ingat kejadian itu tepatnya tanggal berapa?" tanya Alvan.
"Minggu, 22 April 2007. Saya menemukan Talita sekitar pukul 8 malam. Dan tunggu sebentar." Alina berdiri masuk ke dalam kamarnya, tidak berapa lama Alina keluar membawa sepucuk surat. Dan diserahkannya surat itu kepada Arumi dan Alvan.
Surat itu berbunyi :
Tolong jaga dan rawat anak ini. Dia adalah
__ADS_1
anak yang akan membawa keberuntungan bagi kalian. Pakaikan lah gelang ini, hanya ini yang dia punya dalam hidupnya.
"Boleh saya lihat gelang yang di maksud?" tangan Arumi bergetar, Alvan merasakan itu.
Talita menggulung lengan kemejanya yang panjang, tampaklah sebuah gelang berwarna putih berukiran Angel Wings.
"Pa, anak kita Pa." Arumi tidak bisa menahan rasa harunya.
"Tapi maaf sebelumnya, kami tidak mengetahui jika anak kami kembar." Kata Alvan.
"Aku yakin Pa, Talita anak kita." Kata Arumi penuh keyakinan.
"Pak Alvan, saya mengijinkan jika Pak Alvan dan Bu Arumi ingin mencek DNA Talita. Saya juga yakin Talita adalah anak kandung kalian. Saya mellihat dia di wajah Pak Alvan." Rafi kembali memandangi Talita dan Alvan.
"Maaf Bu Arumi, bagaimana Anda bisa terpisah dengan anak Anda?" Alina penasaran.
"16 tahun yang lalu saya berniat menunggu suami saya di dekat rumah makan yang saya punya. Saya waktu itu sedang mengandung 9 bulan. Tiba-tiba perut saya mulas, untung saat itu ada seorang wanita yang menghampiri. Mungkin wanita itu juga yang membawa saya ke klinik bersalin. Setelah sadar saya sudah berada di ruangan operasi bersama anak kami yang sudah tidak bernyawa." Arumi kembali membanjiri wajahnya dengan air mata."
"Talita boleh Ibu memelukmu Nak?" Arumi membuka tangannya.
"Boleh." Talita mendekat dan dipeluk erat Arumi.
Falisha tiba-tiba muncul di hadapan Arumi. Arumi kaget dilepaskannya pelukannya, dipandanginya wajah Talita. Kemudian dipandanginya lagi wajah seorang gadis dihadapannya. Mereka benar-benar mirip.
"Ka...mu apakah anak Mama?" tanya Arumi.
"Iya Ma. Ini anak Mama." Jawab Falisha.
Arumi memeluk Talita dan Falisha. "Ini adalah bukti kalian adalah anak Mama dan Papa."
"Sayang benarkah? Apa di sini ada anak kita? tanya Alvan.
__ADS_1
"Iya Pa, sayang peluklah Papa, dia sangat merindukanmu." Kata Arumi.
Falisha mendekati Alvan, Falisha memeluk Alvan.
"Pa, dia di depanmu. Peluk lah." Arumi mengarahkan tangan Alvan kehadapannya dengan posisi melingkar.
"Maaf Bu Alina, Pak Rafi. Saat ini di depan kami ada seorang gadis yang mirip dengan Talita. Dia mengatakan bahwa dia anak kami. Jadi bisa saya simpulkan dia adalah kembaran Talita. Saya sangat yakin mereka anak kami setelah melihat semuanya." Arumi sesenggukan.
"Bu Arumi, saya sangat senang mendengar semua hari ini. Maaf sebelumnya karena ketidak tahuan saya sempat berpikir mengapa orang tua Talita tega membuang anaknya yang masih merah. Tapi setelah mendengar cerita Bu Arumi saya sangat prihatin." Alina meneteskan air mata.
"Talita, mereka orang tuamu. Sayangi mereka seperti kamu menyayangi kami Nak." Rafi menyeka butiran bening yang jatuh dari sudut matanya.
"Pak Rafi, terima kasih Anda sangat mengerti perasaan kami. Terima kasih kalian telah membesarkan Talita sehingga dia tumbuh sampai hari ini." Alvan memeluk Rafi.
"Bu Alina, Pak Rafi, terima kasih. Kalian berdua orang yang baik. Kalian tetap orang tua Talita. Kalian jangan pernah berpikir kami akan menjauhkan kalian dari Talita. Maukah kalian kami anggap sebagai saudara?" tanya Arumi.
"Bu Arumi, kami pasti mau jadi saudara Bu Arumi dan Pak Alvan. Begitu kan Pa?" Alina menghadap ke arah Rafi.
"Iya Pak Alvan, Bu Arumi. Kami sangat senang mendengarnya. Biar kita semua sama-sama menjaga Arumi." Kata Rafi.
"Yang jaga aku siapa Pa?" Pasya tiba-tiba sudah berada di ruang tamu.
"Kami semua akan jaga kamu. Oh iya ini anak kami Pasya." Alina mengenalkan Pasya.
Pasya mencium tangan Alvan dan Arumi. "Hallo Om, hallo Tante nama saya Pasya, usia saya 11 tahun. Saya adik Kak Talita."
"Hallo sayang, mulai sekarang Talita, Pasya panggil kami dengan sebutan Mamah dan Papah ya, biar Mama dan Papa tetap mereka berdua. Kalian berdua anak-anak kami." Arumi memeluk Talita dan Pasya.
Setelah mendengar kebaikan semua warga Kampung Rambutan. Alvan, Arumi, Alina, Rafi, Pasya dan Talita datang mengunjungi kampung tersebut. Para warga sangat bahagia mendengar kebenaran cerita Talita bertemu dengan orang tua kandungnya. Mereka dulu yang tidak tahu kebenarannya sempat marah dan mengutuk orang tua Talita yang tega membuangnya. Alvan dan Arumi tidak henti-hentinya berterima kasih dan meneteskan air mata haru kepada warga Kampung Rambutan.
Untuk membalas kebaikan warga Kampung Rambutan, Alvan dan Arumi memperbaiki jalan yang rusak, memperbaiki penerangan jalan, memberikan modal usaha, menyumbangkan sembako. Untuk Bu Janeeta, Alvan dan Arumi juga merekomendasikan warung makannya kepada relasi Alvan yang ingin memesan untuk event kantor terdekat di daerah itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...