
"MOMMMMMYYYY!" teriak Delvin.
Tiba-tiba Delvin dan Conan sudah berada di taman bunga tempat Quella.
"Delvin ada apa denganmu?" Conan tidak pernah melihat Delvin seperti ini sebelumnya.
"Mommy tolong!" panggil Delvin.
"Delvin, ada apa Nak?" Quella memeluk Delvin yang ada di kursi roda.
"Talita Mom." Delvin terisak dalam pelukan Quella.
"Gelang yang kau berikan tidak akan pernah hilang." Quella mengusap lembut punggung Delvin.
"Tapi jika gelang itu kembali apa Talita akan hilang?" tanya Delvin.
"Tidak sayang. Seseorang dari dimensi lain menyukai Talita. Dia memanfaatkan keadaan untuk mengambil Talita darimu."
"Siapa orang itu Mom?".
"Mommy juga tidak mengenalnya. Yang berhak menentukan pilihan adalah Talita. Berusahalah untuk mendapatkannya kembali." Quella memberikan semangat kepada Delvin.
"Talita amnesia Mom." Kata Delvin.
"Selama Talita amnesia kekuatannya menghilang. Jagalah dia." Quella menjentikkan jarinya.
Delvin dan Conan kembali ke ruangan Delvin.
"Permisi Delvin, mulai hari ini ruangan mu dipindahkan ke ruangan Talita." Dokter Aaron masuk ke dalam ruangan Delvin.
"Kenapa dipindahkan Om?" tanya Conan.
"Permintaan Talita." Jawab Dokter Aaron.
"Benarkah?" Delvin merasa senang.
"Ayo Delvin." Dokter Aaron mendorong kursi roda Delvin.
Kini Delvin dan Talita berada di dalam ruangan yang sama. Talita terus saja memandangi Delvin yang beristirahat di sebelah hospital bed miliknya.
"Talita ada apa?" tanya Delvin.
"Kata Mamah, kamu orang yang paling dekat denganku."
"Iya, sangat dekat. Kita banyak melakukan petualangan seru." Kata Delvin.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Talita.
"Kita berdua pernah ketemu Om Genderuwo, menolong teman kita yang kesurupan waktu camping dan bertemu Ratu ular beserta pasukannya, dikejar manusia serigala bahkan dikejar orang gila." Delvin tertawa mengingatnya.
"Oh ya." Talita tersenyum. Senyumannya membuat Delvin bahagia.
"Kita juga pernah bertemu dengan roh anak kecil yang bernama Ade. Kisah ini masih meninggalkan kenangan bagiku, di mana saat itu kita menangis bersama, dan akhirnya bahagia bersama setelah melepas kepergian Ade. Dan baru-baru ini kita juga bertemu dengan roh yang bernama Khanza. Khanza pergi karena kanker otak yang dideritanya. Khanza memutuskan hubungan dengan kekasihnya, dia menyembunyikan penyakitnya karena tidak ingin melihat kekasihnya sedih. Tapi takdir menemukan mereka kembali di sini, di rumah sakit ini. Dengan bantuanmu mereka akhirnya bertemu dan mengikhkaskan satu sama lain." Delvin tersenyum penuh cinta kepada Talita.
"Apakah kamu juga seperti itu?" tanya Talita.
"Maksudnya?" Delvin menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu juga seperti Khanza? Yang tidak jujur dan memutuskan kekasihnya?" Talita menunggu jawaban Delvin.
"Tidak, aku akan selalu jujur padamu." Jawab Delvin.
"Apakah kita berdua menjalin hubungan?" tanya Talita.
"Iya, sejak kamu masih dalam kandungan kita sudah mempunyai hubungan. Sekarangpun kita masih." Delvin merasakan sakit di hatinya.
"Kenapa kamu melepaskanku?" tanya Talita.
"Aku tidak melepaskanmu." Delvin mengambil remote control ranjang elektrik menaikkan posisi badannya.
"Aku merasa kamu melepaskanku." Kata Talita.
"Delvin, bantu aku mengingatmu. Dan Delvin maafkan aku. Aku tidak punya kekuatan. Jika memang kamu adalah takdirku, kita pasti akan bertemu." Talita seolah mengucapkan salam perpisahan.
Delvin berusaha untuk turun dari hospital bed, kakinya kaku, kepalanya sakit, dadanya nyeri. Tepat di depan matanya Talita dibawa pergi oleh seseorang berjubah hitam Halloween persis di dalam mimpinya, mereka menghilang di dalam cahaya putih.
"TALITA, TALITAAAAA!" Delvin histeris.
Teriakan keras Delvin membuat Darel, Alvan, Arumi, Conan masuk ke dalam ruangan.
"Delvin, ada apa Nak?" Conan menghampiri Delvin.
"Talita, Talita hilang." Delvin memegang dadanya.
"Kemana Talita?" tanya Arumi dalam kepanikan.
"Maaf Tante, Talita dibawa orang asing ke dimensi lain. Ma..af." Delvin tidak sadarkan diri.
...----------------...
Talita berada di sebuah kamar yang besar. Kepalanya masih terbungkus dengan perban, di tangannya terpasang selang infus.
__ADS_1
"Sayang kamu sudah bangun?" seorang Cowok menghampiri Talita dengan gelas dan obat dalam botol plastik.
"Maaf kamu siapa?" Talita berusaha mengingat orang yang berada di depannya saat ini.
"Namaku Sakha. Aku yang menyelamatkanmu di malam kamu tenggelam." Sakha meletakkan gelas dan obat di atas meja nakas.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku." Ucap Talita.
"Sama-sama, aku juga mengucapkan terima kasih berkatmu aku masih hidup." Sakha duduk di sofa di samping tempat tidur Talita.
"Kenapa?" Talita menatap Sakha.
"Aku merasa beban hidupku terlalu berat. Malam itu aku ingin mengakhiri hidup. Tapi aku dikejutkan dengan suara 'siapapun tolong kami', suara itu menggetarkan hatiku. Aku mencari ternyata suara itu berada di luar dimensi alam kami. Aku berusaha menarikmu tapi sesuatu menghalangi. Aku melihat sesuatu bercahaya di tanganmu. Akhirnya dengan kekuatan yang ada aku menyelamatkan kalian, keluar dari dalamnya sungai. Dan maafkan aku dengan keegoisanku memaksamu ke alamku." Sakha berusaha jujur.
"Aku tidak mengerti." Kata Talita.
"Kamu nanti akan mengerti. Sekarang izinkan aku merawatmu. Mengobati lukamu. Dan izinkan aku mencintaimu." Sakha berharap Talita mempertimbangkan kata-katanya.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Talita terus bertanya.
"Ini pertemuan kedua kita, aku jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita." Jawab Sakha.
"Akan aku pertimbangkan." Talita melihat ke luar jendela.
"Apa kamu ingin jalan-jalan?" Sakha berdiri mengambil kursi roda yang ada di kamar itu.
"Bila tidak merepotkan, boleh kah?" Talita dengan sopan meminta.
Dengan perlahan Sakha mengangkat Talita dan mendudukkannya di kursi roda. Sakha mengajak Talita berkeliling rumahnya, kemudian mereka berjalan-jalan keluar rumah.
"Kamu tinggal sendirian?" tanya Talita.
"Iya, di rumah sebesar itu aku tinggal sendirian. Orang tuaku selalu bertengkar, mereka tidak betah tinggal di rumah. Mereka mencari kesibukan masing-masing. Talita itu namamu kan?" tanya Sakha.
"Yang aku dengar orang-orang memanggilku dengan Talita. Maaf apakah duniaku dengan duniamu berbeda?" Talita menoleh ke arah Sakha.
"Tidak, semuanya sama, udaranya, orang-orangnya, permasalahannya. Yang berbeda dunia kami berada di bawah duniamu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menembusnya. Aku bisa datang ke duniamu karena panggilanmu." Sakha terus mendorong kursi roda Talita.
"Aku baru saja mengalami mimpi bertemu dan berpisah dengan keluargaku." Talita memegang kepalanya.
"Sudah jangan terlalu di ingat. Itu akan menyebabkan sakit. Ingatlah kamu berada di sini karena sebuah kecelakaan, dan aku yang menyelamatkanmu. Kamu tidak bisa kembali ke duniamu karena hanya di sini yang aman untukmu." Sakha melihat Talita yang menahan sakit di kepalanya.
"Sebentar." Sakha berlari meninggalkan Talita.
Talita melihat di depannya ada sebuah sungai kecil. Di dalam sungai itu Talita melihat pantulan bayangan seorang Cowok berpakaian piyama khas rumah sakit yang kesakitan, Talita mencoba memperjelas pandangannya ke arah sungai. Orang itu siapa orang itu, mengapa hatiku terasa sesak melihat kesakitannya, siapakah dirimu?, batin Talita. Hati Talita tergerak, dia berusaha menolong Cowok itu, Talita dengan gemetar berdiri dari kursi rodanya.
__ADS_1
BYYUUURRRR!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...