Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Aral Melintang


__ADS_3

Talita, Rani, Delvin dan Danish sangat menikmati hidangan yang disuguhkan untuk mereka. Aneka ikan bakar, sayur-sayuran, buah-buahan, minuman dingin memenuhi meja makan mereka. Makanan terus saja berdatangan, sampai tidak ada lagi tempat untuk menyimpannya di perut mereka.


"Nek, Kek, terima kasih. Sudah saya tidak sanggup." Talita mengangkat kedua tangannya.


"Iya Kek, Nek, sudah. Di bungkus aja untuk pulang." Kata Rani yang menyenderkan dirinya ke dinding bambu.


"Makanannya semua enak. Terima kasih Kek, Nek." Delvin mengelap mulutnya.


"Kapan-kapan saya ngajak teman atau keluarga. Biar rumah makan Nenek dan Kakek viral." Kata Danish.


"Syukurlah kalo kalian suka." Nenek tertawa melihat mereka yang tidak bisa bergerak karena kekenyangan.


"Talita, Kakek sangat berterima kasih kepadamu. Berkat kamu rumah makan Kakek dan Nenek rame kembali." Kakek menyuguhkan cemilan di atas meja.


"Maksudnya Kek?" tanya Talita.


"Rumah makan Kakek dan Nenek sebelumnya sangat padat pengunjung, pesanan hampir setiap hari. Karyawan kami selalu bertambah karena kewalahan dengan pengunjung yang banyak. Beberapa bulan ini pengunjung berkurang, malah satu hari tidak ada sama sekali." Wajah Kakek nampak sedih.


"Beberapa karyawan, kami istirahatkan. Untuk membayar gaji karyawan aja kami menjual beberapa aset kami." Nenek juga sedih menceritakan.


"Tapi setelah kehadiranmu tadi, pengunjung mulai lagi berdatangan. Dan anehnya ada diantara mereka yang bertanya kenapa rumah makannya tutup, apa Kakek dan Nenek sakit. Kami berdua kaget mendengarnya."


"Begini Kek, Nek. Tadi di pintu masuk saya melihat ada Sesosok Genderuwo berbadan tinggi besar. Dia sengaja dikirim ke sini untuk menutup rumah makan Kakek dan Nenek. Kemungkinan itu yang terjadi, pengunjung mengira rumah makan ini tutup." Talita menjelaskan.


"Pantesan aja ya Kek, Nenek melihat beberapa mobil berhenti di depan tidak berapa lama mereka putar balik."


"Delvin, kenapa kamu tiba-tiba datang menolongku? Padahal aku membawa Genderuwo ke tempat yang sepi." tanya Talita.


"Maaf menyela, sebenarnya Delvin anak indigo." Kata Danish.


"Benarkah?" Rani terkejut.


"Iya, waktu kami memasuki tempat ini, aku melihatmu dikejar Sosok tinggi besar seperti monyet. Aku berlari mengejarmu. Beruntung sosok itu menghilang. Aku melompat menolongmu." Ujar Delvin.


"Kamu lama di dalam kolam, kami sangat khawatir. Nak Delvin berhasil menemukanmu tersangkut di dasar kolam." Cerita Kakek.


"Hujan mulai turun, apa kalian mau nginap di sini?" tanya Nenek.


"Tadi gak ijin nginap dengan Mama Papa, kapan-kapan ya Nek." Talita menolak secara halus.


"Kita pulang sama-sama, hujannya begitu lebat." Ajak Danish.


"Kami bawa motor. Maaf merepotkan." Rani basa basi, padahal di dalam hati paling dalam pengen berlama-lama dengan Danish.


"Motor kalian masukin aja dalam mobil. Gak ngerepotin kok. Ayo Danish." Delvin dan Danish menyiapkan mobil.


"Ini oleh-oleh untuk dibawa pulang." Nenek memberikan satu-satu kepada mereka ber empat.

__ADS_1


"Jangan sungkan datang kemari, kami tunggu kedatangan kalian." Kata Kakek.


"Terima kasih banyak Kek, Nek, kami pulang." Talita pamit.


"Dah Kakek, dah Nenek." Rani melambaikan tangan.


"Permisi Kek, Nek". Danish dan Delvin membungkukkan badan.


Mereka pun perlahan meninggalkan rumah makan Kakek dan Nenek Rani.


Hujan semakin lebat, petir dan gemuruh bersahutan, kilat menyambar. Suasana dingin menyelimuti malam. Mobil mereka melaju pelan menuju kota.


"Ngomong-ngomong kalian sekolah dimana?" Danish mengakrabkan suasana.


"Kami baru lulus SMP, masih bingung mau lanjutin kemana. Aku ngikut Talita aja." Sahut Rani.


"Kamu mau sekolah dimana Talita?" tanya Delvin.


"Gak tau masih bingung, kalian sekolah dimana?" Talita kali ini bertanya.


"Kami di SMA Nusantara." Jawab Delvin.


"Serius? Talita dapat bea siswa sekolah di sana." Rani semangat.


"Kebetulan sekali."


BRUUUKKK!


"Apaan tu?" Danish menunjuk sesuatu di kap mobilnya.


Mereka semua memajukan badannya, memperhatikan sesuatu di depan mereka. Tampak sosok hitam bergerak kemudian


"AAAAAAAA!" Mereka berteriak.


Ternyata sosok itu Genderuwo yang berkelahi dengan Talita. Genderuwo itu mengguncang mobil. Mereka panik. Tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat mereka celaka, Talita dan Delvin keluar dari mobil. Genderuwo mengejar mereka.


"Aku tidak akan membiarkan kalian keluar dari kota ini. Kalian harus mati!" Genderuwo terus mengejar mereka.


"Falisha, Falisha". Talita memanggil Falisha, tapi Falisha tidak menampakkan dirinya, "Falisha, dimana kamu."


Genderuwo menangkap Talita, Talita berusaha melepaskan diri. Delvan menyerang Genderuwo. Talita jatuh terlempar. Delvan terus menangkis pukulan Genderuwo.


"Hei makhluk berbulu, apa yang kau lakukan!" Talita mencoba bertahan dari serangan.


"Gara-gara kamu, rencana kami gagal, aku dibuang oleh Tuanku." Genderuwo melampiaskan amarahnya.


"Aku cuma ingin membantu orang, dan aku juga ingin membantu dirimu." Talita mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Aku hanyalah makhluk pesuruh, untuk apa dibantu?" Genderuwo melototkan matanya.


"Apa kamu mau berteman denganku? Mari kita menolong orang yang membutuhkan." Kata Talita.


Genderuwo diam.


"Tidak semua makhluk sepertimu jahat. Kamu hanya dipaksa."


"Baru kali ini ada manusia yang baik dengan makhluk sepertiku. Baiklah. Aku akan mengikutimu. Jika kau perlu bantuanku. Ingat aku dalam hatimu dan panggil namaku." Kata Genderuwo.


"Aku harus panggil apa?" tanya Talita.


"Terserah, asalkan kau panggil sambil mengingat wajahku." Genderuwo pamit menghilang.


"Talita, apa alasan kamu berteman dengannya?" Delvin penasaran.


"Sejak pertama kali melihatnya, aku melihat ada yang berbeda dari makhluk itu." Talita berdiri memegang tangannya yang sakit.


"Kamu kenapa?" Delvin melihat tangan Talita yang berdarah.


"Tidak apa cuman luka kecil." Talita tidak sadar, air hujan bercampur dengan darahnya mengalir di jalanan yang basah. Tanpa Talita sadari aroma darahnya memanggil makhluk pencari darah.


Delvin mengandeng tangan Talita membawa masuk ke dalam mobil.


"Rani tolong kamu duduk di depan." Kata Delvin sambil mengambil kotak P3K. "Ayo Danish lanjutkan perjalanan."


"Delvin, aku bisa sendiri." Talita mengambil tisu untuk membersihkan darah di tangannya.


"Tidak apa, aku bisa bantu." Delvin dengan telaten membersihkan luka di tangan Talita.


Lagi-lagi perjalanan mereka terganggu, mobil mereka dihadang sekumpulan orang berpakaian hitam menggunakan motor besar.


"Aku yakin orang yang mempunyai luka di mobil ini adalah orang pilihan. Jika kita meminum darahnya kita akan abadi." Kata Pria pemimpin Geng motor itu.


"Gawat, Delvin. Mengapa Geng Tengkorak bisa berada di sini?" Danish nampak ketakutan dibalik setir mobil.


"Siapa mereka?" Rani pun merasa takut melihat mereka.


"Gawat, rupanya mereka mencium aroma darah Talita." Delvin melihat segerombolan orang di depan mereka menutup jalan dan mengepung mobil mereka.


"Apa yang harus kita lakukan." Talita melihat mereka semakin mendekat.


"Maaf Talita cuman ini jalan satu-satunya agar kita selamat." Delvin menghela nafasnya.


Talita menatap Delvin, mata mereka saling mengunci. Delvin perlahan mendekat, semakin mendekat, tangan Delvin memegang belakang kepala Talita, dan Delvin mengecup lembut bibir merah Talita. Tubuh Talita bergetar, matanya membulat seketika aliran listrik mengalir, dan energinya masuk ke dalam gelang Talita. Mobil yang mereka tumpangi mengeluarkan cahaya panas yang membuat abu sebagian tubuh Geng Tengkorak.


Tanpa membuang kesempatan, Danish melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2