
Citra membawa Calista dan Talita ke pusat perbelanjaan. Karena masih pagi, suasana masih sepi, banyak toko-toko yang masih belum buka.
"Calista, Talita karena taman bermain masih belum buka kita makan donat sama es cream dulu ya." Citra mengambil foto Talita dan mengirimkannya ke ponsel Rafi.
"Makasih Tante." Talita memakan donat dan es creamnya.
BZZZTT! BZZZTT!
"Hallo, kenapa Talita ada bersamamu?" suara Rafi dari ponsel.
"Aku hanya ingin kamu menghabiskan waktu bersamaku." Jawab Citra.
"Citra sadar, kita sudah mempunyai keluarga." Rafi terdengar emosi.
"Tapi aku masih cinta sama kamu."
"Kalian dimana?" tanya Rafi.
"Baik akan aku kirim lokasi." Citra mematikan ponselnya.
"Mah, telponan sama siapa?" tanya Calista.
"Sama teman Mamah. Talita suka sama Tante?" Citra berusaha lebih dekat dengan Talita.
"Tante baik, beliin donat sama es cream." Talita dengan polosnya.
"Mana baiknya Tante sama Mama Talita?"
"Tante baik, Mama juga baik Talita sayang sama Mama." Talita melahap habis donatnya.
"Coba lihat Foto Tante sama Calista." Citra menunjukkan foto yang ada di ponselnya kepada Talita.
"Talita juga punya sebentar ya Tan." Talita mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya.
"Talita." Rafi dan Alina menghampiri.
Dengan cepat Citra mengambil foto Talita dan memasukkannya ke dalam tas.
"Mama, Papa, Tante beli in Talita donat dan es cream." Talita menunjuk ke atas meja.
"Terima kasih Mbak sudah beli in Talita." Kata Alina dan lagi-lagi Citra tidak menghiraukannya.
"Tante kok gak jawab Mama." Talita menatap Citra.
"Iya." Citra memalingkan wajahnya.
"Ih Tante kok jahat sama Mama, Talita benci Tante." Talita marah.
"Maaf Mbak, Talita gak boleh begitu sayang. Tante sudah beli in Talita makanan." Alina menasihati Talita.
"Mas Rafi, mau aku pesankan sesuatu?" Citra lembut ada maunya.
"Tidak terima kasih. Ayo Talita kita pulang." Rafi hendak menggendong Talita tapi tiba-tiba Citra memeluknya.
"Mama kenapa memeluk Om?" tanya Calista.
__ADS_1
"Tante lepasin Papa Talita!" Teriak Talita.
Rafi melepas paksa pelukan Citra. "Jaga sikap kamu."
"Tante gak malu peluk Papa Talita dihadapan Mama!" bentak Talita.
"Eh Alina, begini cara kamu mendidik Anak, berani ya sama orang tua." Maki Citra.
"Kamu sendiri tidak malu memeluk pria lain di depan anakmu sendiri. Begitu caramu mendidik." Kali ini Rafi yang bicara.
"Calista ayo kita pulang!" Dengan perasaan dongkol Citra pulang bersama anaknya.
"Sayang, maaf membuatmu tak nyaman." Rafi memeluk Alina.
"Ayo kita pulang, malu dilihat orang." Alina menggandeng tangan Rafi dan Talita.
Citra pulang ke rumahnya dengan perasaan dongkol, kesal, kecewa.
"Bi, tolong urus Calista." Citra masuk ke dalam kamar dan melempar tasnya.
CRAANG!
Cermin yang tak berdosa menjadi sasaran kemarahannya. Serpihan kaca berserakan. Citra memandang foto seorang wanita perpakaian minim di dalam kamarnya.
"Nyai, keluar!" perintah Citra.
Seseorang dari dalam foto itu bergerak dan keluar dari bingkai foto.
"Apa yang membuatmu marah?" tanya Nyai.
"Maaf itu di luar kuasaku. Kita singkirkan orang yang menghalangimu. Anaknya atau Istrinya?" Nyai memberikan pilihan.
"Aku tidak mau tau, ini bereskan!" Citra melemparkan foto yang mana ada Talita dan Alina di sana.
Nyai mengambil foto dan masuk ke dalamnya. Seperti melewati jalan pintas, Nyai keluar dari bingkai foto keluarga di rumah Rafi.
Terlihat Rafi, Alina dan Talita yang sedang bersantai nonton televisi di ruang keluarga.
"Talita, hati-hati ada orang jahat." Falisha berbisik .
"Papa, Mama ada orang jahat." Kata Talita.
"Orang jahat? Dimana?" tanya Rafi.
"Awas Pa!" Talita menunjuk ke arah televisi.
Nyai menyerang Rafi dan Alina.
"Si...siapa kamu?" Rafi mencoba melawan.
"Maut yang akan menjemputmu!" Nyai mengangkat tubuh Rafi dan melemparnya.
Tubuh Rafi mendarat di atas meja kayu.
"AAGGHHHH!" Rafi merasakan sakit seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Nyai menghimpit tubuh Alina ke di dinding, tangannya mencengkram kuat leher Alina.
"UKKHHH!" Alina memukul mukul tangan Nyai.
"Lepasin Mama!" Talita dengan tangan kecilnya menarik tubuh Nyai. Tapi sayang kekuatannya terlalu lemah. Nyai mendorong Talita.
Falisha datang membantu Talita.
"Talita pegang tanganku." Falisha mengulurkan tangannya.
Ada kekuatan yang mengalir masuk ke dalam gelang Talita. Talita mengarahkan gelangnya ke tubuh Nyai, sebuah tembakan dengan kekuatan besar mengenai tubuh Nyai.
"AAAGGHHH! Dasar anak kurang ajar." Nyai melepaskan Alina, berbalik menyerang Talita.
Lagi-lagi Talita dengan kekuatannya bisa menahan serangan Nyai.
"Talita, pegang tangannya! Cari tau siapa yang mengirimnya." Teriak Falisha.
Talita menarik Nyai dengan paksa dan memegang tangannya. Gelang Talita seolah memantulkan gambar ke dinding. Nampak seorang wanita yang dikenal Talita, memberikan sebuah foto kepada seorang wanita yang saat ini ada di rumahnya.
"Citra, kamu telah berkawan dengan siluman." Rafi terkejut atas apa yang dilihatnya.
"Talita, bakar rambutnya!" Falisha melempar korek api ke arah Talita.
Talita menangkap korek api, dan dengan cepat dibakarnya rambut Nyai.
"AAAGGHHH! Dasar bocah ingusan." Nyai berusaha melakukan serangan balasan, tapi tubuhnya habis terbakar kobaran api.
"Sayang, kamu tidak apa?" Rafi mengkhawatirkan Alina.
"Aku baik, Talita Bang Rafi, Talita." Alina mencari Talita.
"Mama Papa, Talita baik-baik saja. Tante jahat sekali, kenapa mau mencelakai Mama dan Papa Talita?" tanya Talita.
"Maafkan Papa, maafkan aku sayang. Karena menyeret kalian dalam masalah ini." Rafi menunjukkan kesedihan.
"Bang Rafi, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Alina.
"Apa sayang?"
"Aku ingin kita meninggalkan kota ini, aku ingin kita menjauh dari sini." Pinta Alina.
"Baiklah." Rafi menyanggupi.
Sementara itu di rumah Citra, foto diri tempat Nyai tinggal di dalam kamar Citra dengan sendirinya terbakar. Yang anehnya asap-asap yang keluar dari foto itu menyerupai wajah orang yang berteriak. Aroma daging lebih tepatnya bangkai terbakar membuat Citra merasakan mual. Citra juga merasakan hawa panas dalam dirinya, hawa panas yang menggerogoti tulang dalam tubuhnya, perlahan panasnya naik sampai ke ubun-ubun. Tubuh Citra mengejang, tidak dapat digerakkan. Mulutnya terkunci, suaranya tertahan. Nafasnya tersendat. Penampakan pria-pria yang pernah dijadikan Citra tumbal bermunculan, seolah-olah mereka marah dan ingin menjemput Citra secara paksa. Sosok hitam muncul di hadapan Citra.
"Lihat ini akhir hidupmu. Sekarang kamu menjadi bagian dari kami. Semua yang kamu dapatkan selama ini hanya sementara. Setelah ini kamu akan terjerat dalam perjanjianmu sendiri dengan dunia hitam." Sosok itu menghilang.
Citra menyesal, selama ini yang Ia inginkan hanyalah uang, karier, kekuasaan. Secara instan dia bersekutu dengan ilmu hitam. Perjanjian pesugihan, sampai rela menumbalkan darah dagingnya sendiri. Anak dari perkawinan Citra dengan Rafi.
SIS! SIS! SIS!
Serpihan pecahan kaca melayang ke udara, melukai wajah dan tubuh Citra. Citra menghembuskan nafas terakhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1