
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa sudah sebulan waktu berlalu. Talita, Delvin, Danish dan Aydan berangsur pulih kembali. Akhirnya Talita dan Delvin mengikat hubungan mereka dengan pertunangan. Acara yang digelar sederhana di kediaman Alvan dan Arumi, dihadiri keluarga besar, orang tua angkat Talita dan sahabat-sahabat terdekat. Untuk pertama kalinya Mommy Quella menampakkan wajahnya. Semua yang hadir terpesona akan kecantikan dan keanggunannya.
Delvin dan Talita mengajak teman-teman ke taman belakang rumah.
"Selamat Delvin, Talita. Gue kapan ya?" Rani dengan ekspresi sedihnya.
"Makanya jadi Cewek tu jangan banyak nyerocos. Cowok banyak gak suka." Kata Danish.
"Loe tu ya dari dulu emang gak pernah suka ya sama gue." Rani ngambek.
"Justru gue sebagai teman yang baik ngasih tau ke loe." Danish ketawa lihat Rani yang mukanya kaya badut.
"Sebenarnya kamu itu cantik Rani, tapi ada sesuatu yang menghalangi kamu sehingga kalo orang lain terutama Cowok yang lihat kamu jadi gak suka." Robin seperti menerawang Rani.
"Benar katamu Robin. Tapi hanya orang yang suka Rani yang bisa melihatnya." Kata Talita.
"Aydan, coba perhatikan Rani apa yang loe lihat?" tanya Delvin.
Aydan memperhatikan Rani dari atas sampai bawah. "Nggak ada apa-apa."
"Dara, Vida gak mungkin lah bisa lihat, sekarang Rakha, Vicky coba kalian perhatikan Rani." Pinta Talita.
"Biasa aja." Jawab Vicky.
"Gak ada apa-apa." Jawab Rakha.
"Robin, apa selama ini kamu menyukai Rani?" tanya Talita.
"Siapa yang musuhan sama Rani? Semua orang menyukainya." Robin tersenyum.
"Coba kamu perhatikan baik-baik Rani." Bisik Talita.
Robin memperhatikan Rani dengan seksama. Di belakang tubuh Rani membentuk bayangan, semakin lama bayangan itu semakin jelas terlihat. Semakin diperhatikan ternyata bayangan itu adalah sesosok makhluk astral yang memiliki wajah tampan, tinggi, mirip orang blesteran.
"Siapa kamu?" tanya Robin.
"Gue Rani weyyyy." Jawab Rani.
Sosok itu tersenyum dan menutup mata Rani dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Lepasin, apa hakmu atas Rani?" Robin menarik tangan Rani.
"Kenapa Robin?" Teman-teman bingung melihat tingkah laku Robin.
"Robin lagi ngomong sama fans beratnya Rani." Talita memegang pundak teman-temannya satu per satu.
"Gantengnya." Rani tak berkedip menatap sosok yang ada di sana.
"Amit-amit gue takut." Dara dan Vida berlari masuk ke dalam rumah.
Penglihatan Aydan, Rakha dan Vicky juga sama seperti Dara dan Vida. Sosok yang di depan mereka ini mukanya hancur berlumuran darah.
"Astaga, sorry gue milih cabut." Rakha berlari masuk ke dalam rumah, diikuti Vicky.
"Rani coba perhatikan baik-baik." Talita berbisik.
"Astagaaaa, siapa dia?" Rani sembunyi di belakang Talita.
"Aku menyukai Rani semenjak kecil. Rani berjanji menungguku." Kata makhluk itu.
"Kamu siapa?" Rani masih sembunyi di belakang Talita.
"Aku teman masa kecilmu Steven." Jawabnya.
"Rani." Cegah Robin.
"Aku percaya dengan Steven. Ada yang harus kami selesaikan." Rani mendekati Steven.
"Rani, maafkan aku. Aku yang membuat semua Cowok menjauh darimu." Steven tertunduk.
"Katakan apa yang membuatmu seperti ini?" Rani memandangi teman kecil dan cinta pertama yang pernah mengisi hari-harinya.
"Setelah pertemuan terakhir kita, aku ingat kamu pernah berjanji untuk menungguku. Aku ke rumahmu tapi saat itu rumahmu kosong. Aku sempat menitipkan nomer ponselku kepada Mita. Tapi kamu tidak pernah sekalipun menelponku. Bertahun-tahun aku menunggumu. Kamu melupakan aku. Hanya dari Mita aku tahu tentang kehidupanmu. Mita sering mengirimkan fotomu bersama teman-temanmu. Dan aku juga tahu kamu seorang penyuka banyak Cowok. Setelah aku cukup mapan aku memutuskan untuk menemuimu, tapi setelah tiba di sini dalam perjalanan aku dirampok dan beginilah keadaanku. Aku marah padamu karena kamu tidak menepati janji. Aku selalu menutup pandangan Cowok yang melihatmu, agar mereka tidak menyukaimu." Ujar Steven.
"Maafkan aku Steven. Selama ini aku tidak pernah mendengar kabarmu. Mita tidak pernah cerita padaku bahwa dia mempunyai nomer ponselmu. Yang aku tau kamu dan Mita menjalin hubungan, bahkan Mita mengatakan dalam waktu dekat kamu akan menjemputnya untuk pergi ke Negaramu. Aku juga sangat marah padamu. Aku orang yang menepati janji. Selama ini tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Aku hanya berteman, tidak seperti yang kau tuduhkan. Tapi setelah mendengar ceritamu, maafkan aku Steven aku salah paham terhadapmu." Rani dengan ketulusannya.
"Maafkan juga aku. Aku lebih percaya omongan orang lain dibandingkan dengan dirimu. Sekarang aku tenang. Aku akan melepasmu. Ingat aku selalu dalam doamu." Steven tersenyum dan menghilang di dalam kegelapan malam.
"Akhirnya, semua yang menjadi pertanyaan selama ini terjawab. Tidak disangka orang terdekat kami lah yang membuat hubungan antara kami retak, tapi Steven datang kemari itu sudah menjawab perasaannya terhadapku." Rani memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
Talita menyadari itu, dia memeluk dan menenangkan sahabatnya. Rani menyembunyikan wajahnya di bahu Talita, tubuhnya bergetar, air matanya membasahi bahu Talita.
"Setelah ini akan banyak Cowok yang mendekatimu." Bisik Talita.
Rani tertawa kecil dan memukul bahu Talita.
Robin mendekati Rani yang masih dalam pelukan Talita. "Dibandingkan dengan Steven, gue juga tampan, tinggi, blesteran gak jauh-jauh amat. Gue juga bisa bela diri, gue bisa lindungin loe dari Cowok berengsek dan juga makhluk tak kasat mata lainnya."
Rani mengintip dari bahu Talita dan memperhatikan Robin yang senyum-senyum sendiri.
"Loe suka sama gue?" tanya Rani.
"Iya, semenjak insiden paku kuntilanak gue udah suka sama loe. Mau ngak jadi pacar gue?" tanya Robin.
"Talita, akhinya ada orang yang nembak gue." Bisik Rani.
"Ya udah, sana." Talita melepaskan pelukannya dan mendekati Delvin, Danish dan Aydan yang lagi menyaksikan romansa cinta anak SMA.
"Gimana Ran? Diterima gak ne?" Robin gak sabaran.
"Dari pada kelamaan jomblo gue terima aja deh." Rani malu-malu.
"Serius?" Kata Robin.
"Iya."
"Makasih ya." Robin menggenggam erat tangan Rani.
"Udah, gitu aja, gak romantis." Aydan mencibir.
"Ha...ha...gue dulu waktu nembak Dara juga gitu." Kata Danish.
"Yang penting sama-sama suka, gak munafik, ngapain dipendam, utarakan aja. Kalo ditahan-tahan keburu diambil orang." Delvin menyikut lengan Talita.
"Iya, apalagi saingannya banyak." Kata Talita.
"Punya teman gak ada yang romantis. Selamat ya Rani dan Robin, semoga menyusul Delvin dan Talita." Aydan merangkul Robin.
"Makasih Bro." Ucap Robin.
__ADS_1
Rani menutup mata mengenang Steven, dalam hatinya berkata, Steven semoga kamu mendengar isi hatiku. Aku sejak dulu menyukaimu tidak pernah melupakanmu. Mungkin memang kita ditakdirkan untuk tidak bersatu. Semoga kau di sana menemukan kebahagiaanmu. Terima kasih telah memberilan momen indah dan kebahagiaan untukku. Doaku selalu dan terus untukmu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...