
Seekor ular berkepala manusia berwarna hitam muncul di belakang Mbah dukun.
Ular itu menjulur-julurkan lidahnya, menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sungguh mengerikan, matanya merah menyala. Perlahan siluman ular itu memundurkan kepalanya, matanya sangat tajam seolah mengunci mangsanya dan bersiap menyerang.
Talita memejamkan matanya, dalam hati memanggil Ratu ular.
Ular hitam menyerang Talita, Talita memekik refleks memegang leher ular dan menghantamnya. Ular hitam terjatuh dengan gesit bangun kembali dan lagi-lagi memundurkan kepalanya bersiap menyerang.
CRASHH!
SSSSSSSS!
Ratu ular muncul di depan Talita dan mematuk ular hitam. Ratu ular melilitkan tubuhnya ke ular hitam.
Ular hitam tidak kalah ganasnya melilitkan tubuhnya ke Ratu ular. Ratu ular memancarkan cahaya merah di matanya.
"Ampun Ratu, maafkan aku tidak mengenalimu." Ular hitam perlahan melepaskan liitan dan menundukkan wajahnya.
"Kembalilah ke asalmu, jangan ganggu mereka. Aku telah membebaskanmu dan jangan pernah dimanfaatkan dukun jahat itu." Ratu ular melepaskan lilitannya dan sekarang menatap tajam ke arah dukun.
"Siluman sialan!" Dukun membacakan mantra.
Ratu ular mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ratu ular tergeletak jatuh memegang dadanya, nafasnya tidak beraturan dan tercekik.
"Ratu." Talita menghampiri Ratu Ular. "Opa tolong."
Opa Farhan membacakan ayat-ayat suci untuk melumpuhkan mantra si dukun. Dukun menarik nafas, telapak tangannya memukul udara ke arah depan, Opa Farhan dengan kedua telapak tangannya menahan pukulan tenaga dalam dukun, serangan dukun membuat tubuh Opa dipaksa mundur. Delvin dengan tenaga yang dia punya berdiri di belakang Opa dan memberikan energinya. Opa perlahan maju, terus dan terus melantunkan ayat-ayat suci. Dukun terus mengeluarkan tenaga dalam dan menyerang dengan membabi buta, UHUKKK! Dari mulut dukun keluar cairan merah.
"Bertobatlah wahai saudara, Tinggalkan ilmu hitam." Kata Opa Farhan.
"Kurang ajar!" Dukun berusaha bangkit tapi tenaganya sudah terkuras habis.
"Opa, selamatkan Ratu." Talita iba melihat Ratu ular yang lemah di atas pangkuannya.
Opa memejamkan mata dan membacakan sesuatu dalam hatinya. Ratu ular bangun, dan mengatupkan kedua tangannya berterima kasih kepada Opa Farhan. Ratu ular pun kembali keasalnya.
"Terima kasih Ratu." Ucap Talita.
"Apa yang terjadi!" Haris bingung melihat keadaan rumah seperti habis kena gempa bumi.
"Ayah, ini semua gara-gara Tante Jessy." Aydan menunjuk ke arah Jessy yang sembunyi di bawah meja.
__ADS_1
"Jessy apa yang terjadi?" tanya Haris.
"Mamah." Panggil seorang anak gadis, dia berlari menghampiri Jessy di bawah meja.
"Mirna." Haris melihat keponakannya yang baru tiba dengan koper.
"Om maafin Mamah, ini semua karena Hanin. Hanin berhasil mencuci otak Mamah. Hanin berusaha menghancurkan keharmonisan keluarga kita, karena Aydan sudah berani melawannya. Hanin beberapa hari ini sering menelpon Mamah. Hanin juga mengetahui kesulitan ekonomi kami. Dia sengaja mengambil kesempatan dengan menjanjikan uang yang banyak jika berhasil menghancurkan keluarga Om. Maafin Mamah Om." Mirna berlutut dihadapan Omnya.
"Apa yang dikatakan Mirna itu benar?" Haris menatap Jessy dan berharap semua yang dikatakan Mirna itu hanyalah kebohongan.
"Iya benar." Jessy tidak menyangkal sama sekali.
"Jessy, seburuk itu kah aku di matamu. Hingga kamu tega ingin menghancurkan keluargaku? Laila menuduhku selingkuh hingga dia kabur dari rumah, apa itu semua juga perbuatanmu?" Haris marah adik kandungnya tega berbuat jahat terhadap keluarganya.
"Yah, itu dia orangnya yang membuat Bunda menjauh dari Ayah dan ingin membuat Aydan gila. Tentu saja dengan perintah Tante Jessy." Tunjuk Aydan ke dukun yang terkapar di lantai.
"Berengsek!" Haris mendekati si dukun, dengan posisi berada di atas dukun Haris duduk menunggang, Haris menghujani wajah dukun dengan tinjunya.
Sungguh sial nasibmu dukun, menjadi pelampiasan amarah.
"Yah, sabar." Aydan menahan tangan Haris.
"Pak, hentikan. Ini bersangkutan dengan nyawa orang." Opa Farhan menarik tubuh Haris.
"Jessy, apa kamu pikir aku tutup mata dengan keadaanmu. Tidak Jessy. Kamu tau siapa yang membuat bangkrut perusahaan suamimu. Papanya Hanin. Kenapa? Kamu ingin tau alasannya? Karena suamimu bermain dengan kekasihnya. Selama ini aku peduli denganmu menyelamatkan hartamu. Harta dari orang tua kita. Kami semua mengetahui akal busuk suamimu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu." Haris mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Tidak lagi peduli akan perasaan Jessy. Karena Haris juga sakit hati karena ditinggal istrinya.
"Maaf, maafkan aku Bang." Jessy terisak.
"Maaf pak Haris, bagaimana dengan pria ini? Kalo tidak diobati bahaya." Opa Farhan mendudukkan dukun di lantai.
"Maaf Om Farhan, maafkan saya. Mari kita bawa ke rumah sakit. Kamu saya lepaskan atas dasar kemanusiaan. Setelah ini tolong kembalikan Istri saya dan jangan membuat gila anak saya. Kalo tidak saya pastikan kamu akan membusuk di penjara." Ancam Haris.
"Baik Pak. Terima kasih." Ucap dukun.
"Jessy, Mirna tolong dibereskan rumah ini dan kalian jangan kemana-mana!" perintah Haris.
Opa Farhan, Haris dan dukun menuju rumah sakit.
"Aydan, maafin Tante." Jessy meraung sedih, menyesali perbuatannya.
"Bang Aydan, maafin Mamah, tolong maafin." Mirna memohon kepada sepupunya.
__ADS_1
"Baiklah Tante, Mirna semua sudah terjadi. Kami memaafkan kalian. Jangan terulang lagi." Aydan memeluk Jessy dan Mirna.
"Aydan." Jessy menghapus air matanya. "Apakah kamu mempunyai teman yang bernama Talita?"
"Itu saya Tante, ada apa?" Talita heran namanya disebut.
"Hati-hati, Hanin merencanakan sesuatu untuk mencelakaimu dan juga Arumi. Siapa dia?" tanya Jessy.
"Itu Mamah saya Tante." Jawab Talita.
"Tante baru beberapa jam yang lalu bertemu dengan Hanin. Hanin berbicara dengan seseorang di teleponnya. Dia menyebut akan menghabisi Talita gadis sialan dan Arumi wanita berengsek." Jessy menirukan ekspresi Hanin.
"Kenapa Hanin membenci Tante Arumi?" tanya Delvin.
"Tante kurang tahu. Tante mau nanya kenapa Hanin membencimu Talita?" Jessy masih belum mengetahui permasalahan Hanin.
"Biar Aydan jawab. Tante ingat dulu Hanin tergila-gila dengan Rudi sampai akhirnya keluarganya pindah ke luar negeri?" Aydan mengingatkan.
"Ya, Tante ingat." Kata Jessy.
"Hanin naksir Delvin seperti dia naksir Rudi. Baru-baru ini kami kecelakaan, tanganku nyaris patah Tan. Itu semua karena Hanin." Aydan berapi-api mengingat perbuatan Hanin.
"Maafkan Tante sayang, percaya sepenuhnya dengan mulut penuh dusta Hanin." Jessy memukul telapak tangannya.
"Delvin sekarang bertunangan dengan Talita. Entah apa yang akan direncanakan Hanin." Aydan seolah memberikan peringatan kepada Delvin dan Talita.
KRING! KRING!
Tante Jessy menaruh telunjuk ke bibirnya memberi kode agar tidak ada yang bersuara. Loudspeaker ponsel diaktifkan.
Jessy : Hallo.
Hanin : Tante, gimana rencana kita?
Jessy : Lancar.
Hanin : Besok bagaimanapun caranya ajak Aydan dan temannya yang bernama Talita ke rumahku Tan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Jessy : Siapa? Bolehkah Tante tahu? Supaya Tante bisa membuat alasan.
Hanin : Orang gila yang bisa membuat kehidupannya menderita. Ha...ha...ha....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...