
Ombak bergemuruh saling berkejaran. Mentari pagi bangun dari lelapnya. Nyiur melambai-lambai di pinggir pantai. Tidak ada satu pun dari Talita, Delvin, Robin, Rani, Rakha, Danish, Dara, Vida Dan Vicky yang ingin menyaksikan sunrise di pinggir pantai. Mereka lebih memilih tinggal di dalam Villa. Mereka masih belum move on dari kejadian yang menimpa mereka kemarin malam.
TOK! TOK! TOK!
Danish berlari menuju pintu depan. Papa Danish dan beberapa orang pagi-pagi mendatangi Villa. Mereka terkejut melihat pemandangan di dalam Villa. Kaca jendela pecah, barang-barang sebagian ada yang rusak dan berserakan. Kursi, meja ruang tamu patah. Di kolam renang juga terjadi kerusakan yang parah.
Danish menarik tangan Papanya menjauh dari orang-orang. "Apa Papa tau Villa ini dibangun di atas kuburan?" bisik Danish.
"Apa!" Om Alan meninggikan suaranya. Otomatis semua yang ada menoleh kepadanya.
"Pa, ada yang ingin mengambil keuntungan bisnis dari Papa. Lebih jelasnya tanyakan Delvin." Kata Danish.
"Delvin, sini Nak." Om Alan memanggil keponakannya
Delvin membawa Talita bersamanya.
"Om, biar Talita yang menjelaskan lebih lanjut." Delvin seolah mengerti apa yang dipikirkan Om Alan.
"Perkenalkan Om saya Talita. Seperti yang Danish ceritakan tadi malam. Tempat ini dibangun di atas kuburan. Di bagian atas kuburan dihancurkan, tapi isi yang ada di dalam kuburan tidak dipindahkan. Penghuni yang ada di sini marah Om tidak terima di atas kuburan mereka dibangun Villa." Talita menjelaskan.
"Om benar-benar tidak mengetahui hal ini." Om Alan sangat menyesalkan apa yang terjadi.
"Dan satu lagi Om. Apa ada di antara teman-teman Om yang mempunyai jam tangan merah?" tanya Talita.
"Memang ada apa?" Om Alan mengerutkan dahinya.
"Berhati-hatilah Om. Dia ada niat yang tidak baik." Talita memberikan peringatan.
"Baiklah, Om ke depan dulu. Terima kasih ya." Alan menuju depan Villa.
"Talita, aku tau orangnya yang memakai jam tangan merah. Memangnya kenapa?" tanya Danish.
"Sebelumnya kenapa kamu mengundang kami datang ke sini." Talita balik bertanya.
"Om Teguh sepupunya Papa mengundang Gue, Om Teguh bilang Papa punya Villa baru dan Gue harus mengundang teman-teman ke Villa sekalian promosi. Semua akomodasi Om Teguh yang nyiapin. Termasuk mobil yang dipakai Delvin, makanan dan minuman yang ada di sini. Sampai-sampai amplop yang Gue bagiin ke kalian sebelum kita ke sini, itu juga dari Om Teguh." Kata Danish.
"Satu anak dikasih amplop 1 juta per orang. Jangan-jangan itu harga untuk membayar tumbal, murah sekali." Talita mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Tumbal?" Delvin dan Danish berbarengan.
"Tadi malam, ada seorang Wanita yang memberi tahu. Dia bilang orang yang berjam tangan merah akan menumbalkan temanmu. Tapi tidak tahu di antara kita semua siapa yang akan ditumbalkan untuk pesugihan." Kata Talita.
Tiba-tiba Villa Danish berguncang. Dari bawah lantai Villa seperti ada yang menghantam-hantam dari bawah.
"Teman-teman lari selamatkan diri kalian!" Delvin berteriak sekuat tenaga.
Semua berlari tanpa kecuali, Rani tertinggal jauh di belakang karena luka di kakinya. Seperti tadi malam, Robin berbalik menggendong Rani dan berlari sekencang mungkin.
Bangunan Villa sebagian runtuh, dari reruntuhan nampak lah batu nisan yang pecah.
"Benar, ternyata di bawah Villa ini ada kuburan. Teguh jelaskan!" Alan menatap marah ke arah Teguh.
"Maaf Alan, aku juga baru mengetahuinya sekarang." Teguh gugup menatap Alan.
Alan melihat jam tangan merah yang dipakai Teguh. "Apa yang kamu rencanakan?"
"Apa maksudmu?" Teguh menahan rasa takut ketahuan.
Vida bertingkah aneh, tatapannya tajam mengarah ke Om Alan. Vida berjalan cepat melewati reruntuhan Villa. Kemudian mendekati orang yang di samping Om Alan.
"Si...apa kamu?" Teguh tidak mengenali Vida.
"Aku orang yang membuatmu kaya." Vida menunjuk ke arah dirinya.
"Babe, Vida kenapa?" Delvin berbisik ke Talita.
"Ada siluman yang merasuki Vida. Biarkan, aku ingin tahu apa yang akan terjadi?" Talita dari jauh memperhatikan Vida.
"Teguh, Jelaskan!" bentak Alan.
"Dia tidak akan menjawab." Vida menatap Alan dari kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa?" Alan mengetahui orang yang di depannya bukan dirinya, melainkan orang lain yang meminjam raganya.
"Dia sudah dua bulan tidak memberiku makan. Dan dia berjanji akan memberikan tiga tumbal untukku. Tapi rencanaku tadi malam digagalkan kamu!" Vida menunjuk Talita.
__ADS_1
"Oh jadi dia dalang dari semua ini. Pria Berjam tangan merah." Talita menunjuk tangan Teguh.
Teguh menyembunyikan jam tangannya ke belakang. "Apa maksudnya wahai gadis kecil!"
"Ternyata kamu yang ingin menumbalkan teman kami. Ingat makhluk yang ada dihadapanmu itu akan memakan keluargamu dan juga dirimu. Kekayaan yang didapatkan dengan pesugihan tidak akan bertahan lama. Jika tidak segera kamu lepaskan, anak yang ada di dalam kandungan istrimu akan jadi tumbalnya." Talita perlahan maju mendekati Vida.
"Teguh, apa semua itu benar!" Alan semakin emosi memandang Teguh.
"Benar, aku melakukan pesugihan. Aku iri padamu, aku iri pada keluargamu. Lihat karena aku, bisnismu berjalan dengan lancar. Karena aku selalu memenangkan tender." Teguh membanggakan diri.
"Dan karena kamu, perusahaanku merugi. Banyak dana yang di korupsi. Dan Villa ini salah satu hal yang sangat ku sesali. Tega kamu membangun Villa di atas kuburan." Alan melayangkan tangannya ke wajah Teguh.
PLAAAKK!
Pukulan yang sangat keras. Teguh memegang pipinya yang memerah, dan di sudut bibirnya keluar cairan merah.
DOOOORRR!
Teguh menembakkan pistol ke kaki Alan.
AAAGGHHH!
"Papa!" Danish ingin menolong Papanya tapi langkahnya ditahan Delvin.
DOOORRR! DOOORRR! DOOORRR!
Beberapa orang yang ingin menolong Alan juga ditembaki kakinya oleh Teguh.
"Hei siluman, makanlah mereka. Hutangku sekarang lunas." Teguh melarikan diri dari Villa.
"Jangan berani-berani kamu mencelakai mereka!" Talita mengangkat tubuh Vida dan menarik sesuatu dari atas kepala Vida.
Siluman yang merasuki Vida, terpaksa keluar. Siluman buaya itu kesakitan karena Talita dengan sekuat tenaga menyerangnya. Talita mengunci kekuatannya kemudian melemparnya dan menindih tubuh Teguh yang berusaha melarikan diri. Kembali Villa berguncang, bumi seolah terjadi gempa. Air di kolam renang membuat pusaran dan menarik Teguh dan siluman buaya masuk kedalamnya. Seketika kolam renang luluh lantak, Teguh dan siluman buaya terkubur di dalam reruntuhan kolam renang.
Di saat terjadi kekacauan Danish menelpon Polisi. Polisi dan ambulans akhirnya datang ke Villa. Rani, Om Alan dan beberapa orang yang kakinya kena timah panas Teguh segera diberikan pengobatan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Om Alan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menghancurkan bangunan Villa dan mengganti nisan-nisan yang rusak. Talita juga memberitahu Kepolisian tentang mayat Wanita yang berada di bawah pohon besar kolam renang. Semua akan dikembalikan ke tempatnya. Dan juga akan diadakan pengajian untuk arwah-arwah penghuni di bawah Villa.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...