
"UHUUKK! UHUUKK!"
"Aydan, kamu sudah sadar Nak?" Bunda Aydan dengan cemas menatap Aydan.
"Aydan, syukurlah kami mencemaskanmu." Ayah Aydan memegang tangan Aydan yang dipasang infus.
"Khanza dimana?" pandangan mata Aydan berkeliling ruangan.
"Tadi Ayah, Bunda dan Abang Khanza pamit. Mereka kembali ke Kota M. Dan Abang Khanza menitip buku diary ini untuk kamu Nak." Bunda menaruh buku diary di atas bedside cabinet.
"Teman-teman Aydan mana Bund?" Aydan baru mengingat kejadian yang dialaminya.
"Mereka ada di sebelah ruanganmu. Mereka belum sadarkan diri." Jawab Bunda.
"AAAGGHH." Aydan memegang kepalanya yang memakai perban.
"Masih sakit?" tanya Ayah.
"Iya." Aydan meringis.
Ayah Aydan mengambil remote ranjang elektrik yang ada di dalam ruangan dan menaikkan posisi kepala Aydan agar lebih nyaman. "Segini apa cukup?"
"Makasih Yah." Aydan merasa lebih nyaman.
"Bisa kamu ceritain kejadian yang menimpa kalian?" Ayah dan Bunda duduk di sofa.
"Malam itu sewaktu kita bertamu ke rumah Om Alan, Talita dan Delvin memberitahu Aydan ada seorang gadis yang terus memperhatikan. Tapi Aydan gak percaya, Talita mengajak kami ke rumah sakit ini dan Ayah dan Bunda mungkin tidak akan percaya. Aydan dan Kenzo bertemu dengan Khanza untuk yang terakhir kalinya." Aydan sedih.
Bunda dan Ayah turut merasakan kesedihannya.
"Setelah berpamitan dengan keluarga Khanza kami keluar dari rumah sakit dan bertemu Hanin. Hanin menyukai Delvin, terlihat dari wajahnya Hanin cemburu melihat Delvin yang memegang tangan Talita. Nah setelah itu Hanin mengekor kami, dengan mobilnya Hanin menabrak belakang mobil Danish. Danish emosi membalas memukul kap mobil dan lampu depan mobil Hanin dengan tongkat besi bisbol. Dari situlah Hanin mulai menggila. Dia mengirim orangnya untuk mengejar kami. Dan Danish berusaha menghindari orang-orang Hanin yang ingin mencelakakan kami. Dan terjadilah mobil kami melompat masuk ke dalam sungai. Ngomong-ngomong siapa yang menyelamatkan kami Yah?" tanya Aydan.
"Ayah, Om Alan, Om Conan beserta kepolisian dan tim SAR menuju tempat kejadian. Sewaktu kami tiba, mobil kalian dengan sendirinya muncul dan naik kepermukaan. Kami semua yang berada di sana sampai sekarang masih belum bisa percaya dengan penglihatan kami. Tapi siapapun yang menolong kalian, kami semua berterima kasih. Kalian selamat." Ayah Aydan mengatupkan tangan.
Di ruangan lain.
Danish perlahan membuka mata. Kepalanya juga terbentur, tangan dan kakinya mati rasa. Dadanya masih terasa sesak akibat kurangnya oksigen.
"Danish." Dania Mama Danish membantu Danish untuk duduk.
"Ma, Pa, Talita, Delvin, Aydan mana?" Danish memegang dadanya yang nyeri.
"Mereka ada di ruangan sebelah." Jawab Alan.
"Pa, Ma kami dikejar orang asing. Ini gara-gara Hanin Pa." Danish masih mengingat kejadian semalam.
"Papa sudah diberitahu Om Haris. Papanya Hanin orang penuh tipu daya. Kita harus berhati-hati. Tidak mudah menyingkirkannya." Ujar Alan.
"Berhati-hatilah Danish, jangan berurusan dengan Hanin lagi." Kata Dania.
Sementara itu dalam ruangan Delvin.
__ADS_1
Delvin di bawah alam sadarnya bermimpi. Delvin berada di sebuah jalan. Delvin berjalan sendirian, sampai di pertigaan jalan Delvin melihat Talita.
"Babe." Delvin melambaikan tangan.
"Babe, Talita." Delvin terus memanggil tapi Talita terasa asing baginya.
Delvin ingin menyebrang tapi sesuatu menghalangi. Delvin melihat seseorang berpakaian jubah hitam seperti kostum Halloween mendekati Talita dan ingin membawanya pergi.
"Tunggu, Anda siapa?" tanya Delvin
Orang berbaju hitam berbalik, wajahnya menunduk tertutup jubah, "Sudah waktunya dia pergi."
"Pergi kemana?" tanya Delvin.
"Pergi bersamaku." Jawabnya.
"Jangan dia milikku." Delvin berusaha menerobos penghalang di depannya tapi apa daya kekuatan Delvin di tempat ini melemah.
"Apa kau bersedia melakukan apa saja demi dia?" tanyanya lagi
"Apa?" Jawab Delvin.
"Jika kamu menginginkan dia kembali ke duniamu. Lepaskan gelang yang ada di tangannya." Tunjuk orang berbaju jubah ke tangan Talita.
"Jika aku menolak?"
"Dia akan pergi dari duniamu."
"Delvin." Conan kaget melihat Delvin yang tiba-tiba terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Dad, bantu Delvin ketemu Talita." Kata Delvin.
Conan keluar mencari kursi roda untuk Delvin.
Di ruangan Talita, Alvan, Arumi dan Darel sangat cemas karena sampai sekarang Talita belum sadarkan diri. Kepala Talita terbentur sangat keras, jantungnya menjadi lemah karena banyaknya air yang masuk dalam paru-parunya.
"Pa, bagaimana Talita?" Darel memandangi keponakannya yang masih enggan membuka mata.
"Bersabarlah, saat ini kondisinya sangat lemah." Dokter Aaron pun sedih menatap cucunya.
"Sayang, bangun Nak." Arumi tidak henti-hentinya menangis.
"Benturan di kepalanya sangat keras. Papa takut setelah sadar Talita akan melupakan kita untuk sementara." Ujar Dokter Aaron.
"Asalkan Talita sadar tidak apa Om. Sedikit demi sedikit ingatannya tentang kita akan kembali. Aku tidak sanggup melihatnya begini." Kata Alvan.
Conan masuk ke ruangan Talita dengan Delvin yang duduk di kursi roda.
"Delvin, kamu masih belum sehat. Kenapa keluar dari ruanganmu?" tanya Dokter Aaron.
"Maaf Grandpa, bagaimana Talita?" Delvin dari kursi roda melihat Talita yang terbaring lemah dengan selang infus dan bantuan oksigen yang dipasang di hidungnya.
__ADS_1
"Benturan di kepalanya sangat keras, paru-parunya banyak kemasukan air. Sekarang kondisinya masih lemah. Kita semua harus bersabar. Kamu juga harus banyak istirahat." Dokter Aaron menepuk pundak Delvin.
Delvin mendekati Talita, tangannya menyentuh gelang Talita. Perlahan gelang berukir Angel Wings terlepas dari tangan Talita dan menghilang.
Tangan Talita bergerak dan menggenggam lemah tangan Delvin. Delvin merasakan itu, dan Delvin mengeratkan genggamannya.
"Grandpa, Talita telah sadar." Kata Delvin.
Dokter Aaron mengeluarkan stetoskop, mencek denyut nadi, menyenter mata Talita.
Talita perlahan membuka mata. Matanya langsung tertuju ke seseorang yang menggenggam tangannya. Delvin perlahan melepaskan genggamannya.
"Maaf kamu siapa?" tanya Talita.
"Aku Delvin." jawab Delvin.
"Aku siapa?" tanya Talita.
"Nama kamu Talita, dan mereka keluargamu." Delvin perlahan menjauh dari Talita. Memberikan kesempatan keluarga Talita.
Talita masih menatap Delvin sampai Delvin menghilang dari pandangannya.
"Talita ini Mamah, dan ini Papah. Kamu anak kami sayang. Dan ini Grandpa dan juga uncle Darel." Kata Arumi.
"Maaf Talita tidak mengenal kalian." Talita memandangi satu satu keluarganya.
"Tidak apa sayang." Kata Alvan.
"Delvin itu siapa?" tanya Talita.
"Dia orang yang paling dekat denganmu." Jawab Arumi.
"Bolehkah Delvin di sini menemaniku?" tanya Talita.
"Delvin juga sama sepertimu sayang, dia perlu istirahat." Kata Dokter Aaron.
"Bisakah Delvin dirawat bersamaku di sini?" tanya Talita lagi.
Alvan, Arumi berpandangan. Darel meminta persetujuan Dokter Aaron.
"Baiklah sayang, kami akan menyiapkan tempat untuk Delvin di sini." Kata Dokter Aaron.
"Untuk kesembuhan Talita, biarkan mereka bersama." Darel berbisik kepada Alvan, Arumi.
Di dalam ruangannya Delvin merasakan sakit di hatinya.
"Delvin, ada apa Nak?" Conan melihat perubahan pada diri Delvin.
"MOMMMMMYYYY!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1