
"Delvin, gawat Talita..." Conan belum menyelesaikan kalimatnya, Delvin bergegas turun dari hospital bed menuju ruang pemulihan. Disusul Conan dan Robin. Aydan yang melihat dari kamarnya pun ikutan berlari. Di depan ruangan pemulihan Arumi masih belum sadarkan diri dalam pangkuan Alvan.
"Uncle apa yang terjadi?" tanya Delvin kepada Darel.
"Talita..." Darel tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa Uncle?" Delvin merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Delvin, sudah duduk dulu. Kamu masih belum sehat." Conan menarik Delvin untuk beristirahat di kursi tunggu.
Aydan dengan perlahan mendekati Robin, "Bro apa yang terjadi?" bisiknya.
"Kami juga tidak tahu." Jawab Robin sambil mengangkat bahunya.
Aydan duduk di samping Delvin.
Setengah jam kemudian Dokter Aaron keluar dengan transfer bed yang membawa Talita.
"Pa, Talita mau dibawa kemana?" Darel mengikuti dari belakang.
Yang lain kecuali Arumi dan Alvan juga berjalan di belakang Darel.
"Dibawa ke ruangannya." Jawab Dokter Aaron.
"Talita apa yang terjadi pada Talita?" tanya Darel.
"Maaf, tadi terjadi kerusakan pada mesin monitor ICU. Talita sudah melalui masa kritisnya." Jawab Dokter Aaron.
Delvin yang mendengar dari belakang merasa lega. Delvin lemas terjatuh di lantai rumah sakit.
"Delvin, loe kenapa?" Robin menggendong Delvin dan membawanya ke ruangannya.
"Gue lega, Talita selamat. Cuman badan gue terasa remuk semua." Jawab Delvin.
"Syukurlah, gue istirahat di kamar dulu ya Bro." Aydan melambaikan tangan dan masuk ke dalam ruangannya.
Talita, Delvin beristirahat di ruangan mereka.
Delvin terus memandangi Talita. Delvin mengambil ponselnya dan mengetik pesan kepada Conan Daddynya.
Delvin : Dad, begitu banyak kejadian yang Delvin dan Talita lalui. Delvin gak mau kehilangan Talita lagi. Delvin mau mengikat hubungan Delvin, bolehkah kami bertunangan?
Daddy : Delvin apa kepalamu masih sakit Nak? Biar Daddy panggilkan Dokter Aaron.
Delvin : Sekalian aja panggil Om Alvan, Tante Arumi sama Uncle Darel 😭.
Daddy : Daddy bicarain dulu sama Mommy 🤗. Setelah Talita sadar kamu rundingkan tentang rencanamu.
Delvin : Ok, Dad.
Conan tertawa, Darel yang duduk di sebelahnya menyikut lengan Conan.
"Apa yang lucu?" Darel keheranan melihat Conan yang cekikikan.
Conan menyerahkan ponselnya ke Darel. Darel membaca pesan chat dari Ayah dan Anak yang hanya terpisah dinding ruangan rumah sakit. Darel pun tersenyum.
"Bagaimana Uncle?" Conan menggoda Darel.
"Hmmmm sebentar. Talita keponakan yang sangat istimewa, maharnya tidak cukup hanya dengan cinta." Darel membalas menggoda Conan
"Wkwkwkwkwk." Conan menepuk pundak sahabatnya.
__ADS_1
"Ada apa ne rame banget." Alvan duduk di samping Darel.
"Arumi sudah siuman?" tanya Darel.
"Sudah, Arumi ada di kamar Talita."
"Neh baca." Darel menyerahkan ponsel Conan.
Alvan mengambil dan membacanya. Alvan mengetik pesan ke Delvin.
Daddy : Hallo Delvin, ini Om Alvan. Keputusan ada di tangan Talita. Kami sepenuhnya mendukung keputusan Talita. Semangat ya 💪.
Delvin : I...ya. Terima kasih Om 🙏.
"Neh." Alvan mengembalikan ponsel Conan.
"Loe ngetik apa?" tanya Darel.
Conan membaca pesan yang dikirim Alvan. Conan pun tersenyum.
"Anak muda zaman sekarang." Conan menggeleng-gelengkan kepala.
"Penasaran." Darel merebut ponsel Conan dan membacanya.
"Bang Bro, gimana? Talita ada yang lamar." Alvan menggoda Darel.
"Hmmm, kalo cuman ngandalin cinta kayaknya maharnya kurang." Darel mengulum bibir dengan telunjuk di dagu.
"Kalo begitu apa dong?" tanya Alvan.
"Kalo dengan cinta kurang cukup, bagaimana dengan cinta dan segenap jiwa raga." Kata Conan.
"Ok, deal." Jawab Darel.
Di dalam ruangan, Talita perlahan membuka mata. Samar-samar terlihat bayangan, Talita kembali menutup matanya.
"Sayang, ini Mamah." Arumi berbisik pelan.
Delvin yang mendengar Arumi, perlahan mendekat dan berdiri di samping Talita.
Talita kembali menggerakkan mata, terasa berat. Tangannya perlahan menggenggam pegangan Arumi.
"Pelan-pelan sayang, kamu pasti bisa." Bisik Arumi.
Talita mencoba membuka kembali matanya. Matanya terbuka, Talita memperjelas pandangannya. Di ujung kakinya dia melihat Robin yang duduk di sofa, di kanannya Arumi dengan mata sembab dan bengkak, sebelah kirinya Delvin dengan muka babak belur.
"Mah, kenapa mata Mamah bengkak?" tanya Talita.
"Sayang, Mamah mencemaskanmu." Arumi terisak.
"Dan kamu kenapa babak belur? Berantem sama siapa?" tanya Talita.
"Biasa anak Cowok, rebutin Cewek." Jawab Delvin.
"Ih kamu ya. AAAGGHHH!" Talita memegang dadanya.
"Sayang, jangan bangun dulu. Lukamu masih belum kering." Arumi merebahkan Talita.
"Luka? Talita kenapa Mah?" tanyanya.
"Kamu tertembak karena menyelamatkanku." Jawab Delvin.
__ADS_1
"Tertembak?" Ingatan Talita rupanya belum pulih sepenuhnya.
"Jadi ini luka tembak??" Talita memegang dadanya.
"Iya sayang, kamu baru di operasi. Istirahat yang banyak." Kata Arumi.
"Mamah juga istirahat, tuh lihat mata panda sama bengkak. Mamah istirahat dulu ya." Bujuk Talita.
"Delvin, Robin, titip Talita ya. Di atas meja sudah Tante beliin makanan dan cemilan, di makan ya." Arumi berpamitan.
"Makasih Tan." Robin berdiri mengantar Arumi sampai pintu.
"Makasih." Kata Delvin.
Talita merajuk, mukanya ditekuk, pandangannya mengarah ke Robin yang baru masuk.
"Robin, coba jelasin, Delvin berantem sama siapa? Dan ngerebutin Cewek mana?" tanya Talita.
Robin tertawa melihat Delvin yang dicuekin Talita. Robin mengambil kursi plastik ditaruhnya di samping bed Talita.
"Bentar, Delvin suruh duduk dulu. Dia kan pasien di kamar ini."
Delvin dengan manisnya duduk di samping bed Talita.
"Talita cantik, yang baik hati dan pandai menabung. Kamu tau gak Delvin sekarang lagi jatuh cinta."
"Robin, loe jangan ngompor!" Delvin bingung dengan Robin bukannya bantuin malah memperkeruh suasana.
"Delvin!" Talita memasang muka jutek.
"Ternyata selain Delvin, ada orang lain yang menyukai gadis itu. Delvin dan orang itu adu jotos, beradu kekuatan. Delvin sangat mencintai gadis itu, dia mengeluarkan jurus rahasia yang mematikan. Hampir saja orang itu kehilangan nyawa. Untung Mommy datang di saat yang tepat." Robin mengelus dadanya.
"Beruntung sekali gadis itu!" Talita membuang muka dari Delvin.
Delvin yang mulai paham arah pembicaraan Robin tersenyum. "Makasih Robin." Kata Delvin.
"Kembali kasih." Robin melihat Talita yang makin kusut, senang rasanya ngeprank Talita.
"Kamu tahu gadis itu sangat berati bagiku. Demi dia aku rela mati-matian melewati dimensi waktu. Tapi gadis itu malah tidak mengenali." Delvin menatap Talita.
"Syukurin!" Jawab Talita sinis.
"Ha...ha...ha. Ya udah gue mau pulang, istirahat. Besok sudah mau masuk sekolah. Selesaikan urusan kalian. Bye." Robin meninggalkan Delvin dan Talita yang lagi bertengkar manis.
"Babe, sewaktu kita dikejar orang-orang Hanin, mobil kita melompat masuk ke dalam sungai. Terjadi benturan hebat. Danish, Aydan terluka terpaksa memakai gips, kamu dan aku juga. Kamu mengalami amnesia." Dengan sabar Delvin bercerita.
"Benarkah?" Talita berbalik menatap Delvin.
"Ada seseorang yang menolong kita keluar dari sungai. Dan setelah kita selamat seseorang dari dimensi lain menculik kamu. Aku merasakan kamu menarikku ke sana. Singkat cerita orang yang menyukaimu marah karena melihatku yang ingin menjemputmu kembali. Dia ingin menembakku, tapi kamu menghalangi dan menyelamatkanku."
"Jadi luka ini karena itu?" tanya Talita.
"Iya, kamu berhasil membawa kita kembali. Dan orang itu bernama Sakha. Sakha tiba-tiba ada di sini di saat kamu dioperasi. Sakha ingin merebutmu kembali. Tapi Robin dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kami bertarung dengannya. Aku kehilangan kendali. Hampir saja aku membunuh orang." Sesal Delvin.
"Hmmmm, jadi gadis itu?" Talita malu-malu karena tadi salah paham.
"Gak tau! Gadis yang kurang peka." Delvin membalas membuang muka.
"AGGHH!" Talita pura-pura kesakitan.
"Babe, masih sakit? Orang itu kamu." Kata Delvin.
__ADS_1
MUAAAAHHH!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...