Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Racun


__ADS_3

Talita dalam perawatan, dia masih belum sadarkan diri. Kekuatan dan emosinya terkuras habis. Beruntung luka dalamnya sudah diobati Ratu ular. Talita masih merasakan sakit bekas kibasan ekor Ratu ular yang membuat tubuhnya terasa remuk redam. Rasa lelah menghinggapi, Talita enggan membuka matanya.


Sedangkan Robin dan Delvin juga dirawat karena luka benturan di punggung mereka.


Setelah kejadian malam itu, siswa-siswi berpasangan yang melakukan perbuatan tidak semestinya di skors dari sekolah selama satu bulan. Juga diadakan acara selamatan keesokan paginya di Bumi Perkemahan.


Seorang perawat pria masuk memeriksa Talita, perawat itu memberikan suntikan, dan mengambil darah Talita. Setelah merasa cukup perawat itu keluar dari ruangan VVIP menuju parkiran rumah sakit.


BEEP! BEEP!


Perawat pria itu menghampiri mobil yang lampunya kedap-kedip, dan menyerahkan kantong darah Talita. Seseorang membuka sedikit kaca mobil, hanya terlihat tangan yang mengambil kantong darah, kemudian tangan itu memberikan amplop coklat kepada perawat itu. Setelah melihat isi dalam amplop perawat itu mengajungkan jempolnya dan berlari meninggalkan mobil.


"Kita buktikan apakah benar darah gadis itu bisa menyembuhkan luka William." Anya memain-mainkan kantong darah Talita.


"Bos, kenapa tidak kita bunuh saja gadis itu?" tanya pengawal Anya.


"Jangan, jika dia dibunuh, William juga tidak akan bertahan lama. Kembali ke markas!" perintah Anya. Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.


Sinar matahari mengintip dari balik tirai rumah sakit yang bergerak-gerak tertiup hembusan angin. Silaunya memaksa Talita membuka matanya yang berat. Samar-samar di balik sinar nampak sebuah lorong yang panjang, Talita dengan langkah lunglai berjalan melewati lorong. Sampai lah Talita di sebuah taman bunga yang di tengahnya ada kolam kecil. Talita masuk ke dalam kolam duduk berendam memanjakan diri. Rasa letih, sakit, dan luka yang dirasakan perlahan pergi. Tiba-tiba air yang semula jernih berubah menjadi hitam pekat. Talita dengan cepat berlari keluar kolam. Ada pergerakan bumi. Kolam itu bergetar tenggelam seolah di telan bumi.


"Talita, jangan takut." Ada suara di belakang Talita.


Talita berbalik mengangkat lengannya, matanya belum terbiasa dengan cahaya yang begitu bersinar di depannya. Perlahan di turunkan lengannya. Persis dihadapannya seorang wanita sangat cantik berpakaian ala Ratu Bangsawan lengkap dengan mahkota bersusun tiga tersenyum menatapnya.


"Siapa Anda?" tanya Talita.


"Aku yang telah memberikan kamu gelang Angel Wings." Ujarnya lembut.


"Mengapa Anda memberikannya kepada saya?" Talita bertanya lagi.


"Karena anakku yang memilihmu."


"Mengapa anak Anda memilih saya?"


"Tanyakan langsung kepadanya." Ratu tersenyum.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Talita menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Silakan, bertanyalah."


"Hmmmm, apa tidak ada cara untuk mengeluarkan kekuatan besar saya selain dengan...?" Talita tidak sanggup meneruskan kalimatnya mukanya terlanjur merona.


Ratu tertawa, "Kalian berdua ditakdirkan untuk bersama, karena kalian saling membutuhkan. Kamu masih hijau belum sepenuhnya menguasai kekuatan. Jika salah menggunakan kamu akan kehilangan kendali. Ingat kejadian beberapa malam yang lalu. Jika saja Delvin tidak menenangkanmu kamu akan berubah menjadi Devil. Banyak yang ingin memanfaatkan kekuatanmu. Ingat jaga hatimu." Ratu dengan kelembutannya menjawab pertanyaan Talita.


"Mengapa air di kolam tadi berubah menjadi hitam?" Talita ingin menghilangkan rasa penasarannya.


"Tubuh kamu sebelumnya terkena racun Ratu siluman ular, walaupun racunnya sudah dikeluarkan, tapi masih tersisa sedikit tercampur dengan darahmu. Untungnya seseorang dengan kebodohannya mengeluarkan racun itu. Kita lihat nanti apa yang akan terjadi." Ratu tersenyum.


"Boleh saya tahu siapa nama Anda, dan saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?"


"Namaku Quella, panggil saja Mommy."


"Mom...Mommy?" Talita menyipitkan matanya.


"Iya jika kau mau menerima Delvin, kau akan jadi anakku." Ratu membelai lembut rambut Talita. Talita tidak kuasa menahan kantuknya.


Talita merasa nyaman, saat seseorang mengusap lembut kepalanya. Perlahan dia membuka matanya, seseorang yang dia kenal duduk di sampingnya, menatap penuh cinta kepadanya.


"Ah, mimpi yang terlalu indah, aku tidak mau bangun." Talita menarik baju orang itu, dan mendadak kecupan manis mendarat di bibir Talita.


"Apa ini bukan mimpi?" Talita menatap Delvin.


Delvin melotot menggelengkan kepala.


"Ooooooo Mmmmmmm Gggggggg!" Talita sembunyi dibalik selimutnya.


...----------------...


UHUUUKKKK! UHUUUUKKK!


William memegang dadanya yang sakit. Kepakan sayap Talita membuat dirinya dan pasukan serigalanya masuk dalam putaran mesin waktu yang mengirim mereka ke daerah terjal berbatu. William terluka parah, pasukan serigalanya banyak yang mati. Menurut kepercayaan mereka hanya darah Gadis Pilihan yang dapat menyembuhkan manusia setengah serigala.


"Maaf honey, ini aku membawakan obat untukmu." Anya mengeluarkan sekantong darah Talita.


"Darah siapa ini?" William memperhatikan kantong darah.

__ADS_1


"Darah gadis itu. Aku menyuruh orang mengambilnya. Sekarang dia terbaring di rumah sakit." Anya menuang darah Talita ke dalam gelas.


"Benarkah?" William tersenyum bahagia.


"Tidak susah bukan mengambilnya. Minumlah kita buktikan kebenarannya." Anya memberi minum William.


SLURRPPP! SLURRPPP!


William meminum habis darah Talita. Ada kekuatan baru yang dirasakan William. Penglihatan dan pendengarannya semakin tajam. Tapi tidak lama setelahnya William merasakan pandangan matanya gelap, pendengarannya perlahan hilang. Dada William terasa sesak, nafasnya tercekik, mukanya membiru. William memuntahkan darah hitam.


"William apa yang terjadi, Honey!" Anya menjerit.


AUUUUUKKKKK! AUUUUUKKKKK! Lolongan serigala bersahutan.


"Bos William terkena racun ular. Maaf kita terlambat, racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya." Dokter kepercayaan William dengan wajah menyesalnya.


"Kurang ajar kita ditipu. Gadis itu bukan gadis pilihan. Dia adalah gadis pembunuh. Tangkap gadis itu dan seret dia kemari!" perintah Anya.


Beberapa anak buah William dan Anya bergegas menuju rumah sakit di mana Talita berada.


Malam ini rembulan tampak bulat sempurna, sinarnya berpendar terang. Bayang-bayang hitam berloncatan di sisi rumah sakit. Beberapa anak buah William masuk ke dalam ruang istirahat perawat. Mereka menggigit leher perawat, dan mengambil pakaian mereka. Mereka menyamar dan masuk ke dalam ruangan Talita. Talita duduk manis sambil menikmati buah-buahan.


"Permisi, saya periksa dulu ya." Perawat itu mencek Talita dengan stetoskop, mencek infus Talita. Dan menyuntikkan sesuatu ke dalam infusnya.


Talita merasakan tubuhnya tidak seperti biasa. Badannya lemas tidak bertenaga. Dalam setengah sadarnya Talita memanggil satu nama Delvin Delvin tolong aku. Talita terlelap dalam pengaruh obat bius.


Perawat lain membawa kursi roda ke dalam kamar Talita. Talita di dudukkan di atas kursi roda, dipakaikan kacamata dan juga topi. Mereka berjalan pelan seolah membawa Talita jalan-jalan.


Delvin mendengar panggilan Talita. Delvin dan Robin berlari mencari ke kamar Talita namun mereka terlambat. Delvin menggunakan telepatinya, gelang Talita menyala seolah memberi sinyal kepada Delvin.


"Robin itu mereka ayo kejar!" Delvin berlari ke parkiran rumah sakit.


BEEP! BEEP! Robin berinisiatif mengejar mereka dengan mobil.


"Delvin masuk kita kejar mereka!" Robin pelan mendekati Delvin yang berlari di samping mobil.


"Kejar mereka!" Delvin tersengal-sengal masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2