Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Salam Terakhir


__ADS_3

"Khanza ada apa denganmu?" Aydan memukul kaca ruangan ICU.


"Sekarang apa kamu percaya dangan kami?" tanya Delvin.


"Maaf aku tadi tidak percaya dengan kalian." Aydan tertunduk.


"Permisi kalian siapa?" Seorang anak Cowok seumuran mereka berdiri di depan pintu ICU.


"Kamu bukannya kekasih Khanza?" Aydan mulai emosi.


"Gue, kekasih Khanza?" Orang itu menunjuk dirinya.


"Loe orang yang terakhir kali memeluk dan membawa Khanza pergi." Aydan memegang kerah Cowok itu.


"Aydan sabar kita berada di rumah sakit." Delvin menahan tubuh Aydan.


"Kalian ayo kita keluar dari sini." Danish menarik tangan Cowok itu ke luar dari rumah sakit. Di ikuti Aydan, Talita dan Delvin.


Di seberang rumah sakit ada taman bermain di sana mereka berhenti.


"Nah sekarang kita selesaikan di sini." Danish melepaskan tangannya dari si Cowok.


"Jelasin siapa Loe? Gara-gara Loe hubungan Gue sama Khanza putus." Aydan kembali emosi.


"Tenang Bro, Gue ngerti perasaan Loe. Seharusnya yang marah itu Gue!" Cowok itu mendorong tubuh Aydan.


"Eeeiiiitttt bisa gak sih kalian bicaranya yang kalem." Danish melerai mereka.


"Kalo begini terus gak kelar-kelar masalahnya Bro." Kata Delvin.


"Ok, dengerin baik-baik. Kenalin Gue Kenzo saudara kembarnya Khanza. Puas Loe!" Kenzo teriak di depan muka Aydan.


"Sau...da...ra?" Aydan kaget tubuhnya lemes, Aydan jatuh terduduk di pinggir jalan.


"Kenapa Loe putusin Khanza!" Kenzo yang kali ini emosi.


"Kalian bisa tenang gak sih. Di sini Khanza sedih melihat kalian." Kata Talita.


"Khanza, di sini?" tanya Kenzo.


Talita mengangguk.


"Gue gak mengerti apa yang Loe maksud. Kalo Khanza ada di sini terus yang di ICU siapa?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Nanti aku jelasin. Sekarang coba kamu jelasin kenapa Khanza masuk ICU biar kita-kita di sini paham." Talita dengan tenang minta penjelasan.


"Khanza beberapa minggu ini sering mengeluh sakit kepala. Beberapa kali dia pingsan. Khanza sering izin dari sekolah. Dan Khanza kami bawa ke rumah sakit. Ternyata Khanza menderita kanker otak." Kalimat Kenzo bergetar menahan kesedihan.


"Maaf, maafin Gue salah paham sama Loe. Karena Khanza tidak pernah menceritakan penyakitnya ke Gue. Secara tiba-tiba Khanza mutusin Gue, dan Gue lihat dia menangis di pelukan Loe." Sesal Aydan.


"Karena di Kota M tidak ada peralatan yang memadai kami dirujuk ke rumah sakit kota ini. Tidak disangka Loe juga ada di kota ini." Kata Kenzo.


"Mengapa Khanza mutusin Gue, apa karena penyakitnya?" Aydan memandang Kenzo.


"Khanza pernah bilang dia mempunyai seseorang yang sangat menyayanginya. Dia bilang tidak mau melihat orang itu sedih. Dia ingin dia bahagia walaupun tidak bersama dia. Khanza bilang dia tidak sanggup menahan sakit di kepalanya. Khanza bahkan berpesan kepada Bunda dan Ayah jika dia tiada sayangi Bang Kenzo seperti Ayah dan Bunda menyayanginya." Kenzo tidak kuasa menahan tangisnya.


"Separah itu kah penyakit Khanza?" tanya Delvin.


"Kami sekeluarga baru saja mengetahui ternyata Khanza menderita kanker. Bahkan Khanza sendiripun tidak menyadarinya. Mungkin karena daya tahan tubuhnya yang lemah Khanza tidak sanggup melawan penyakitnya." Kenzo terisak.


"Khanza maaf, maafin aku yang sudah salah paham padamu." Lirih Aydan.


Khanza mendekati Talita. "Bagaimana caranya agar Aydan dan Bang Kenzo melihatku. Aku ingin mengucapkan salam terakhirku dan permohonan maafku."


Delvin dan Talita bertatapan, apakah ini kesempatan terakhir Khanza, itu yang ada dibenak mereka.


Talita berdiri mendekati Kenzo dan Aydan. "Khanza ingin bicara dengan kalian. Apakah kalian siap?"


"Baiklah aku siap." Kata Aydan.


Talita memegang pundak Kenzo, kemudian berpindah ke samping Aydan dan memegang pundaknya.


Kenzo dan juga Aydan melihat Khanza berdiri di hadapan mereka. Tapi Khanza yang mereka lihat berbeda dengan yang di ruangan ICU. Dia lebih sehat meskipun wajahnya terlihat sedih dan sendu.


"Halo Bang, halo Aydan." Khanza menyapa.


"Khanza." Kenzo ingin memeluk Khanza tapi malah menembus tubuhnya.


Aydan berdiri ingin memeluk Khanza, tapi setelah melihat apa yang terjadi dia mengurungkan niatnya.


"Khanza, maafkan aku yang salah paham padamu. Aku sekarang mengerti kenapa kamu melakukan itu. Aku sama seperti dulu. Aku tidak membencimu." Aydan berusaha tegar di hadapan Khanza.


"Ay, maafkan juga aku yang tidak jujur kepadamu. Aku tidak mau melihatmu sedih, aku akui caraku salah. Tidak seharusnya aku berbohong kepadamu. Aku harap kau akan menemui kebahagiaanmu. Ingatlah aku dalam doamu." Khanza dibalik kesedihannya dia berusaha untuk tersenyum.


"Dek, apa maksudnya ingat aku dalam doamu? Apa kau ingin meninggalkan kami?" Kenzo meneteskan air mata.


"Bang, maafkan aku yang tidak berdaya melawan penyakitku. Abang harus menjadi orang yang kuat, hanya Abang yang bisa menguatkan Ayah dan Bunda. Titip mereka ya Bang." Khanza menatap Kenzo dan juga Aydan.

__ADS_1


"Terima kasih semua, maafkan kalo aku ada salah." Khanza perlahan menghilang dari pandangan mata.


"Khanza." Aydan tidak sanggup menahan tangisannya.


BZZZZT! BZZZZT!


"Hallo Yah, apaaa! Kenzo akan segera ke sana." Kenzo berbalik, dipandanginya Talita, Delvin, Danish dan Aydan. "Khanza berpulang, mohon diikhlaskan." Kenzo menyeka air mata.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Ucap Talita, Delvin, Danish dan juga Aydan.


"Kalian semua, mari kita ke ruangan Khanza untuk yang terakhir kalinya." Kenzo mengajak mereka semua kembali ke ruang ICU.


Aydan tidak kuasa menahan sakitnya. Aydan lebih memilih diputuskan cintanya dari pada ditinggal untuk selama-lamanya oleh Khanza.


Mereka tiba di ruangan ICU. Bunda dan Ayah Khanza berterima kasih atas kedatangan Aydan dan teman-temannya. Untuk yang terakhir kalinya Aydan, Talita, Delvin dan Danish melihat jasad Khanza. Khanza meninggalkan dunia dengan senyuman yang terukir dari bibirnya. Mungkin beban yang terasa berat sudah dilepaskannya.


Khanza akan dimakamkan di kota asalnya, jenazahnya akan dibawa besok pagi.


Aydan, Danish, Delvin dan Talita keluar dari rumah sakit.


"Delvin." Seseorang memanggil Delvin.


"Hanin." Delvin dan Aydan berbarengan.


"Aydan kamu kenal Delvin?" tanya Hanin.


"Dia teman Gue, awas loe jangan macam-macam." Aydan marah kepada Hanin. "Ayo Gaesss kita cabut."


"Ada apa dengan Hanin?" tanya Danish ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Delvin, Loe harus hati-hati dengan yang namanya Hanin. Dulu Gue punya sahabat, Hanin sangat terobsesi dengan Dia. Hanin melakukan hal yang gila sampai-sampai sahabat Gue pindah ke luar negeri. Dan kamu Talita akan jadi sasaran Hanin berikutnya." Aydan masih dengan nada kesalnya.


"Kenapa?" tanya Talita.


"Karena dari pandangan Gue, Hanin tadi cemburu lihat Delvin bergandengan tangan dengan Loe." Mata Aydan mengarah ke belakang mobil.


"Hati-hati Danish, mobil Hanin ada di belakang kita. Dia pasti akan melakukan hal yang gila." Aydan terus mengawasi mobil yang ada di belakang mereka.


BRAAKKK!


BRAAKKK!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2