Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Cinta


__ADS_3

Langit hari ini hitam bermuram, matahari enggan menampakkan wajahnya, angin bertiup ringan, alam bersedih seolah turut mengantarkan Ade dan teman-temannya ke peristirahatan yang terakhir. Alvan meminta ijin ke pihak kepolisian untuk memakamkan jenazah Ade dan ketiga orang temannya di pemakaman keluarga Alvan, karena mereka tidak mempunyai keluarga. Isak tangis di sela-sela doa mengiringi pemakaman Ade dan ketiga temannya. Mereka kini tenang, tidak ada lagi rasa sakit, lapar, dahaga. Walaupun terlambat kasih sayang sekarang sudah mereka dapatkan dari semua orang.


Talita dan Delvin mengabulkan permohonan terakhir Ade yang ingin ceritanya didengarkan. Talita dan Delvin lewat media sosialnya memposting kisah nyata Ade dan teman-temannya yang berjuang dan penuh pengorbanan untuk bertahan hidup. Kehidupan mereka penuh aral dan berliku. Talita dan Delvin juga meminta doa untuk Ade dan ketiga temannya, dan mereka juga meminta dengan tulus bagi yang merasa keluarga Ade dan teman-temannya untuk bisa datang ke pemakaman mereka. Diakhir video Talita dan Delvin juga memberi tahu lokasi peristirahatan terakhir Ade dan ketiga temannya yang baru diketahui nama mereka adalah Erwin, Nando, Aldo.


Setelah video tersebut beredar, teman-teman Ade yang pernah satu atap dengan mereka, dan juga yang baru saja kembali ke keluarganya, bahkan orang asing yang tersentuh dengan kisah haru biru menyayat hati Ade, Erwin, Nando dan Aldo hadir di pemakaman. Banyak yang mengantarkan dan mengirimkan doa untuk mereka.


Mereka memang layak untuk dikenang.


...----------------...


Conan mengundang keluarga Darel dan keluarga Alvan untuk berkunjung ke rumahnya. Rumah yang cukup besar, di samping rumah ada kolam renang, di belakang rumah ada taman kecil biasa digunakan untuk acara makan-makan dan santai keluarga. Taman bernuansa ala Jepang yang ciri khasnya terdapat tanaman bonsai, batu-batuan, dinding bermaterial kayu dan dilengkapi dengan kolam ikan koi. Kursi dan meja taman yang terbuat dari kayu berjejer rapi.


Delvin mengajak Talita, Emil dan Emin ke taman belakang rumah untuk bersantai.


"Kak Delvin, rumahnya begitu besar gak ada pelayannya ya?" tanya Emil.


"Ada, mereka cuman datang di pagi hari sampai sore. Karena hari ini hari Minggu mereka libur." Jawab Delvin.


"Danish gak diajak kesini?" Talita duduk di depan Delvin.


"Selama pacaran sama Dara, tuh anak jadi susah dihubungin." Delvin memberikan cookies, minuman kaleng untuk Talita, Emin dan Emil.


"Cookiesnya enak, beli dimana Kak?" tanya Emin.


"Aku yang buat." Jawab Delvin.


"Masa sih?" Talita juga mencoba cookies buatan Delvin.


"Aku suka masak, nanti aku yang akan masakin kamu." Delvin memandang Talita.


"UHUKKKK! UHUKKKK!" Talita tersedak.


Delvin membuka minuman kaleng untuk Talita. "Aku juga akan membuatkanmu minuman."


"UHUKKKKKK! " Talita minum sambil memukul dadanya.


Delvin dengan lembut mengusap punggung Talita.


"Mil, gimana? Kamu suka dengan Kak Delvin?" tanya Emin.


"Setelah dilihat-lihat, aku suka." Emil mengacungkan jempolnya.


"Ok Kak Delvin, kami berdua sepakat. Kak Delvin kami merestui kalian berdua pacaran." Emin mengedipkan matanya kepada Delvin.


"Bagaimana Talita? Bolehkah aku jadi pacar kamu?" Delvin memberikan buket bunga kepada Talita.


Talita menatap Emil, Emin dan juga Delvin.

__ADS_1


"Kalian merencanakan ini?" tanya Talita.


"Maaf Kak, aku lapar mau makan dulu." Emil berdiri dan pergi.


"Aku juga Kak, maaf ya nanti maag ku kambuh." Emin menyusul Emil.


Talita beralih menatap Delvin yang masih berdiri dengan buket bunga di tangan.


Di belakang Delvin, Talita melihat seorang gadis yang juga cantik.


Gadis itu tiba-tiba memeluk Delvin dari belakang. Delvin kaget dan menoleh ke belakang.


"Delvin, aku kangen." Gadis itu semakin erat memeluk Delvin.


"Hanin!" Delvin melepas paksa pelukan Hanin.


"Oh, apakah bunga ini untukku?" Hanin hendak mengambil buket bunga di tangan Delvin.


"Terima kasih sayang, MUAH!" Talita dengan cepat mengambil buket bunga dan mencium pipi Delvin.


Delvin kaget sekaligus senang, apakah ini pertanda cintanya diterima.


"Siapa kamu?" Hanin marah melihat Talita menggandeng lengan Delvin.


"Hai, aku Talita kekasih Delvin." Sapa Talita.


"Delvin benarkah itu?" Hanin menatap kecewa kepada Delvin.


Hanin kesal, kecewa dengan perasaan marah dia meninggalkan Delvin dan Talita.


Talita melepaskan pegangannya, dia menjauh dari Delvin.


"Talita ada apa?" Delvin bingung dengan perubahan sifat Talita.


"Jelaskan siapa dia?" Talita berbalik membelakangi Delvin.


"Dia Hanin, anak dari teman kerja Daddy. Aku tidak suka dengannya. Dia menyebar gosip di perusahaan bahwa aku suka sama dia. Ayahnya ingin kami berdua ada ikatan. Tapi Daddy dan juga aku tidak setuju." Delvin menjelaskan.


"Kok sampai pelukan gitu?" Talita dengan nada kesal.


"Aku juga tidak tahu. Maaf." Delvin tiba-tiba memeluk Talita dari belakang.


DEG! DEG! Talita tidak bisa bernafas.


"Kayaknya aku harus ke Grandpa cek kesehatan."


"Kamu sakit?" Delvin membalik tubuh Talita dan menyentuh keningnya.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini jantungku tidak normal, dan nafasku tidak beraturan."


"Sama aku juga begitu." Delvin memeluk Talita.


"Jadi kita jadian ne?" Delvin meminta kepastian.


Talita menganggukkan kepala.


"Ayo kita pergi dari sini." Delvin mengajak Talita jalan-jalan dengan mobilnya.


Tanpa mereka sadari Hanin membuntuti. Hanin menelpon seseorang. "Hallo Mrs Tiff, saya menemukan orang yang Anda cari. Benar saya yakin seratus persen karena tadi saya sudah melihat foto yang Anda kirim. Ini saya kirim foto mobil dan lokasi." Hanin menutup telponnya.


"Talita kamu mau kemana?" tanya Delvin yang fokus dengan setirnya.


"Kita nonton yuk." Ajak Talita.


"Boleh, film apa?"


"Apa aja deh." Talita melihat dari arah depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti. "Delvin awaassss!"


CIIIIIITTTTTTTT!


Delvin menginjak pedal rem dengan cepat, mobil Delvin hampir menyeruduk bagian belakang mobil di depannya.


Orang-orang berpakaian hitam turun dari mobil, mereka mengarah ke mobil Delvin.


Delvin dengan cepat memundurkan mobilnya, kemudian secepat kilat mobil Delvin berlari.


"Maaf Talita rencana kita batalkan." Delvin terus menancap gas.


"Sepertinya mereka mengejar kita, hati-hati Delvin." Talita mengintip lewat spion, mobil putih yang tadi menghalangi mereka terus membuntuti.


"Daddy, kami dibuntuti. Tolong kami." Delvin mengirim GPS lewat mobilnya.


"Gawat, Talita dan Delvin dalam bahaya." Conan memberi tahu Darel dan Alvan.


"Apa? Dimana mereka?" Alvan berdiri dari tempat duduknya.


"Delvin sudah mengirimkan lokasinya. Ayo!" Conan menghubungi anak buahnya untuk mencari Delvin.


"Sayang, kamu dan Davina tolong tunggu kami di sini. Jaga juga anak-anak. Nanti Papah ceritakan." Bisik Alvan kepada Arumi.


"Mom, jaga anak-anak, Talita dan Delvin dikejar orang. Jangan sampai Papa tahu." Darel juga berbisik kepada Davina.


"Eh mau kemana kalian?" Aaron membawa banyak makanan.


"Sini pa, biar Davina bantu. Biasa ada panggilan pekerjaan." Davina mengalihkan perhatian.

__ADS_1


Sementara itu di lantai dua rumah Conan, Arumi bertemu dengan Wanita berpakaian Ratu yang dia temui dalam mimpinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2