
DOR!
"DELVINNNNN!" Talita berdiri di depan Delvin menghadang peluru yang ditembakkan Sakha.
DOR!
Sakha terkena tembakan di tangan, pistolnya terlempar tangannya mengeluarkan darah. Dengan cepat Sakha diamankan pihak kepolisian.
"Ternyata kamu juga sama seperti mereka Talita!" Sakha ingin menyerang Talita tapi di tarik paksa oleh kedua Polisi di sana.
"Talitaaaaa!" Delvin memangku Talita yang kini lemah tanpa tenaga melindunginya dari tembakan Sakha.
"Talita, kamu tertembak." Melda melihat darah mengucur dari dada Talita.
"Mel...da, terima ka...sih untuk semua. Aku dan Delvin ha...rus kembali. Jaga dirimu baik-baik." Talita memegang tangan Melda.
Gelang Angels Wing tiba-tiba muncul di tangan Talita, Ratu Mommy bawa kami kembali. Devin dan Talita masuk ke dalam cahaya yang mengantarkan mereka kembali ke tempat asalnya.
"Talita, Talita!" Teriak Delvin.
"Delvin, Talita, kalian kembali." Arumi mendengar teriakkan Delvin dari ruangannya.
"Tolong selamatkan Talita."
"Tolongggg!" Arumi keluar ruangan.
"Delvin." Talita menatap lembut Delvin.
"Bertahanlah Talita. Aku akan menunggumu." Suara Delvin bergetar.
Talita merasakan sakit di kepalanya matanya berkunang-kunang, pandangannya gelap dan Talita tidak sadarkan diri.
Arumi masuk bersama Dokter Aaron, Alvan, beberapa orang perawat, Conan dan Darel.
Talita diangkat ke transfer bed, menuju ruang operasi.
"Talita akan segera di operasi." Dokter Aaron membawa Talita ke ruangan operasi.
"Apa yang terjadi?" tanya Conan kepada Delvin.
"Delvin tiba-tiba berada di tempat yang Delvin tidak tahu di mana. Delvin melihat Talita tercebur ke dalam sungai. Delvin menolongnya Dad. Saat itu Talita masih belum mengingat Delvin. Ada seseorang bersama Talita dan itu ternyata orang yang membawa pergi Talita."
"Kenapa Talita tertembak?" tanya Alvan.
"Orang itu bernama Sakha, dia yang menembak Talita. Maaf Om, Tante, Talita menyelamatkanku dari tembakan Sakha." Delvin berlutut di hadapan Alvan dan Arumi.
"Sayang, bangunlah. Ini bukan salahmu." Arumi membantu Delvin berdiri dan memeluknya.
"Iya Delvin, ini bukan kesalahanmu." Alvan juga memeluk Delvin.
"Terima kasih Alvan, Arumi." Conan terharu.
Semua menunggu di depan ruangan operasi, kecuali Delvin. Delvin memilih menghabiskan waktunya berada di rooftop rumah sakit duduk bersama Robin. Rumah sakit Dokter Aaron memiliki rooftop taman terbuka dengan pohon-pohon kecil menghijau.
"Bagaimana dengan lukamu Delvin?" tanya Robin.
__ADS_1
"Sudah membaik. Hanin apakah ada kabar?" Delvin menyimpan rasa dendam yang sangat.
"Seperti biasa, Hanin terbebas dari semua tuduhan. Padahal CCTV yang diserahkan Om Conan sebagai bukti cukup untuk membuktikan kesalahannya. Papanya sangat berpengaruh." Sesal Robin.
"Aydan dan Danish sehat? Gue belum menjenguk mereka padahal ruangan kami bersebelahan." Delvin sambil meneguk air mineral.
"Aydan tangannya dibungkus gips, sedangkan Danish leher dan tangannya menggunakan gips. Separah itu kah kalian?" Robin menyayangkan kejadian yang menimpa mereka.
"Seseorang dari dimensi lain menyukai Talita. Gue merasa masalah kami belum selesai sampai di sini." Kata Delvin.
"Gue pernah dengar dari bokap, orang dari dimensi lain ketika menginjakkan kakinya di alam kita, kekuatannya akan bertambah. Berbeda dengan di alamnya, mereka tidak mempunyai kekuatan. Gue harap dia tidak muncul di sini." Robin melihat sesuatu yang berkilau.
"Robin, ada seseorang yang mengamati kita." Delvin menyadari seseorang mengintainya.
Robin berdiri, melangkah pelan menuju sesuatu yang berkilau di ujung sana.
JLEB!
Sesuatu baru saja melintas dari samping telinga Robin dan nyaris mengenai kening Delvin, refleks Delvin menundukkan kepalanya. Benda itu adalah pisau yang tertancap ke batang pohon belakang Delvin duduk.
"Delvinn!" Teriak Robin.
"Hati-hati, awas di belakangmu!" Delvin berdiri menunjuk ke belakang Robin.
Seseorang menyerang Robin, Robin berhasil menghindar.
"Sakha!" Delvin mengenali orang yang di sana.
"Hallo, kita bertemu lagi. Aku mau menjemput Talita." Sakha berdiri dengan kesombongannya.
Sakha melawan, dengan sekuat tenaga melayangkan tendangan ke dada Robin. Robin tersungkur memegang dadanya.
Sakha berlari dan menerjang Delvin, menghimpit tubuhnya ke dinding, dengan lututnya menendang ke perut Delvin. Tangannya meninju pipi Delvin. Delvin menahan tangan Sakha.
BUGH!
Delvin membalas dengan hantaman di rahang Sakha.
BUGH!
Sakha mundur menahan sakit, kepalanya berkunang-kunang, tubuhnya tidak seimbang.
Delvin merentangkan kedua tangannya, JGEEEERRR! Kilat menyambar tubuh Sakha.
"Kembalilah ke asalmu. Jangan pernah menampakkan wajahmu di sini. Semua kekuatanmu di sini akan dilumpuhkan."
JGEEEERRR! Kembali kilat menyambar tubuh Sakha. Sakha kejang-kejang, lemas, tubuhnya ada luka bakar."
"Delvin! Kendalikan dirimu Nak." Quella muncul di hadapan Delvin.
"Maaf Mom." Delvin meringis menahan tubuhnya yang kembali sakit.
"Baiklah Mommy akan mengembalikan Sakha ke tempat asalnya." Quella dan Sakha menghilang.
"Delvin, sadar." Robin menghampiri Delvin yang kesakitan.
__ADS_1
"Maaf, Sakha membangunkan kemurkaanku." Delvin mengatur nafasnya.
"Ayo kita kembali, lukamu harus segera diobati." Robin memapah Delvin kembali ke ruangan.
"Delvin, apa yang terjadi?" Conan melihat Delvin babak belur.
"Maaf Om Conan, kami diserang Sakha di rooftop." Robin berbaring di atas sofa.
"Kamu juga terluka?" Conan melihat Robin menahan sakit di dadanya.
"Iya Om." Jawab Robin.
"Sebentar." Conan menekan bel elektrik di ruangan.
"Permisi." Perawat masuk ke dalam ruangan.
"Tolong diobatin mereka Sus." Kata Conan.
"Baiklah, permisi saya akan periksa." Perawat itu melakukan tugasnya.
...----------------...
Talita bersama Falisha berada di sebuah danau yang memiliki pemandangan yang sangat indah. Pepohonan yang berbaris di sepanjang danau dengan warna hijau, kuning terkena sinaran matahari. Airnya begitu tenang dan biru. Di tengah-tengah danau Talita dan Falisha menaiki sebuah perahu. Falisha mengajak saudara kembarnya berkeliling.
"Pantas kau begitu betah di sini, sangat indah, sejuk dan damai." Talita merasakan udara yang yang sangat nyaman.
"Di sini tempat kami yang meninggalkan dunia dalam keadaan masih bayi. Kami sangat beruntung karena masih suci, kami tidak mempunyai nafsu seperti manusia dewasa. Coba kamu lihat sisi danau yang sebelah sana." Falisha menunjuk dengan tangan kirinya.
"Iya, ada apa di sana?" tanya Talita.
"Di sana tempat jiwa yang penuh dengan kebencian, kemarahan, kemurkaan. Mereka tidak menerima takdirnya. Mereka tertahan di sana sampai akhir dunia." Jawab Falisha.
"Kalau aku masuk ke dalam mana?" tanya Talita.
"Kamu harus mengumpulkan banyak kebaikan agar bisa bertemu denganku. Tempatmu bukan di sini." Falisha tersenyum.
"Aku merasa nyaman di sini. Biarkan aku sebentar merasakan kedamaian di alammu."
...----------------...
Hampir satu jam operasi berlangsung, peluru yang bersarang di dada Talita berhasil dikeluarkan.
Dokter Aaron keluar dari ruangan operasi.
"Pa, bagaimana Talita." Darel sangat mengkhawatirkan keponakan satu-satunya.
"Pelurunya sudah berhasil dikeluarkan. Kita tunggu kesadarannya, baru di pindah ke ruang perawatan." Kata Dokter Aaron
"Dokter Aaron, gawat!" Suster keluar dari ruangan pemulihan.
TIIIIIIIITTTTT! terdengar suara panjang mendatar dari dalam.
Arumi yang mendengar jatuh pingsan dalam pelukan Alvan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1