
Terjadi kejar-kejaran di jalan raya. Robin berusaha mengejar mobil yang membawa pergi Talita. Robin berhasil sejajar di samping mobil itu. Bukannya melambat mobil itu menghantamkan sisi kanan mobilnya ke sisi kiri mobil Robin. Alhasil mobil Robin oleng, Robin berusaha mengendalikan laju mobilnya.
Aksi kebut-kebutan bak di dalam film action terjadi, mobil hitam yang membawa Talita menyalip mobil di depannya, tak mau kalah Robin juga melakukan hal yang sama menyalip mobil didepannya berusaha mengejar mobil hitam itu. Jiwa pembalap Robin pada malam itu keluar.
Diperempat jalan, lampu jalan hendak berganti menjadi warna merah, mobil hitam menerobos lampu lalu lintas. Robin semakin menekan dalam pedal gas, mobil Robin melesat kencang bertepatan dengan lampu jalan yang berubah menjadi warna merah. Aksi Robin yang menerobos lampu merah disambut hardikan, cacian, makian dari pengendara kendaraan yang lain.
"Gila, Gue hampir mati." Delvin mengelus dada.
Robin tidak perduli, pikirannya saat ini fokus mengejar mobil hitam dan menyelamatkan Talita. Saat dipertigaan jalan, sopir mobil hitam membanting setir berbelok ke kiri jalan. Naas bagi Robin dan Delvin, mobil mereka di cegat mobil patroli Polisi.
"Kita berhasil mengecoh mereka." Sopir mobil hitam mengintip lewat spion.
"Bagaimana gadis itu?" tanya temannya.
"Masih belum sadarkan diri." Jawabnya.
Mereka terus melaju masuk ke dalam kelam pekat rimba.
"Anya, kembalilah ke asal kita. Di sini kekuatan kita tidak sekuat tempat asal kita. Di sini tidak cocok dengan kita." William memegang tangan Anya.
"Ini semua karena gadis itu yang memaksa kita untuk datang ke sini." Anya meninju telapak tangannya.
"Bos, mau diapakan gadis ini?" Anak buah Anya mendorong Talita yang belum sadarkan diri di atas kursi roda.
"Ada apa ini?" William minta penjelasan kepada Anya.
"Aku ingin menghabisi dia karena sudah meracunimu. Bakar dia hidup-hidup!" perintah Anya.
"Anya!" William memegang dadanya.
"Kenapa? Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" Anya mendorong William.
"Hanya dia yang bisa mengembalikan kita." Kata William.
"Aku tidak perduli. Aku akan menghabisi nyawanya." Anya keluar meninggalkan William.
Talita di ikat di sebuah kursi. BYUUURRR! Anya menyiram tubuh Talita.
Talita membuka paksa matanya, pandangannya terhalang butiran air.
"Hai gadis, akhirnya kita bertemu." Sapa Anya.
__ADS_1
"Siapa kamu?" Talita memperjelas pandangannya.
"Namaku Anya, kekasih William." Anya berdiri dengan sombongnya.
"Ternyata William sudah punya kekasih. Bilang sama William menjauhlah dariku. Karena aku tidak mau dianggap orang ketiga." Kata Talita.
Anya menjambak rambut Talita, "Karena kamu William terkena racun."
"AAGGGHHHH! Racun?" Talita menahan sakit.
"Di dalam darahmu terdapat racun. Dan William meminumnya." Anya semakin erat menarik rambut Talita.
"Aku tidak mengerti, AAAAGGGHHH!" Talita merasa rambutnya akan terlepas.
"Bakar dia!" Anya melepaskan rambut Talita.
Tubuh Talita disiram, kali ini dengan bensin. Kayu bakar mengelilingi tempat duduk Talita. Anya melemparkan korek api. Dengan cepat api menyambar bensin dan kayu bakar.
Dari kejauhan William menyaksikan hal yang dianggapnya biasa terjadi. Ada perasaan tidak terima melihat perlakuan Anya terhadap Talita. William tidak lagi sekejam dan sebuas dulu yang tidak memandang ampun kepada mangsanya. Mungkin karena darah Talita yang sudah tercampur dengan darahnya, sifatnya menjadi berubah.
Kobaran Si jago merah semakin membesar, melalap habis kayu bakar. Ledakan kecil terdengar, kursi yang di duduki Talita terbang ke udara. Tubuh Talita tidak lagi terlihat karena asap tebal menutupi. Tiba-tiba dari kobaran api yang membara muncul sesosok ular berbadan manusia yang menyemburkan api ke arah Anya dan juga anak buahnya. Anya dan anak buahnya terkena percikan api. Anya melawan balik, diterjangnya tubuh Ratu ular. Anya meninggalkan bekas cakaran di tangan Ratu ular. Ratu ular melilitkan ekornya ke tubuh Anya. Anya menggigit ekor ular, lilitan itu semakin kuat, Anya terperangkap, semakin lama semakin menghimpit, Anya kehabisan nafas dan binasa di tangan Ratu ular.
Genderuwo penyelamat Talita juga menampakkan wujudnya, hanya dengan sekali sentilan anak buah Anya terpental. Pertarungan makhluk astral dan manusia setengah serigala terjadi. Sayang sungguh di sayang, seperti yang William bilang, di Kota ini manusia setengah serigala tidak setangguh yang orang bicarakan. Mereka seperti anjing yang hanya menggonggong tapi tidak ada kekuatan. Dengan mudahnya mereka di binasakan Ratu ular dan Genderuwo.
Dengan langkah terseok-seok, sambil memegang dadanya yang sakit William keluar dari rumah menampakkan dirinya ke hadapan Talita.
"Begini caramu bertarung, menghadapi seorang gadis dengan keroyokan! Sungguh tidak Gentleman!" Talita meluapkan amarahnya.
"Maaf Angel, ini bukan perintahku." William tertunduk.
"Lihat karena perbuatan kekasihmu, semua binasa di tangan mereka." Talita menunjuk bangkai serigala yang bergelimpangan.
William menangis melihat kematian Anya dan juga anak buahnya.
"Maaf, maafkan aku. UHUUUKK!" William menggeluarkan darah hitam.
"Anak muda, rupanya dia meminum darahmu yang tercampur dengan racunku." Kata Ratu ular kepada Talita.
"Racun? Tadi Anya bilang kamu meminum darahku. Apa benar William?" tanya Talita.
"Iya, setelah pertemuan terakhir kita. Kamu mengirim aku dan anak buahku ketempat terjal berbatu. Aku mengalami luka parah. Anya mengambil darahmu untuk menyembuhkanku. Tapi ternyata itu racun." William susah payah menjelaskan.
__ADS_1
"Ratu bisakah kau menolongku?" tanya Talita.
"Apapun itu aku siap membantu. Apakah harus aku musnahkan dia?" Ratu menatap sinis William.
"Tidak, aku mohon hilangkan racunnya." Pinta Talita.
"Tapi...." Ratu ular menatap Talita.
"Ratu, dia sudah meminum darah Talita. Sedikit banyaknya kebaikan tumbuh di hatinya. Berikan dia kesempatan." Kata Genderuwo.
Talita mengatup kedua tangannya.
"Baiklah." Ratu ular menghampiri William dan menghirup racun yang ada di dalam tubuh William.
William kembali mengeluarkan darah hitam.
"UHUUUUKKK! Terima kasih Ratu, terima kasih untuk kalian semua." William terduduk di atas tanah.
"William, apa yang bisa ku bantu untukmu?" tanya Talita.
"Boleh kah aku meminta? Kirim aku dan mereka semua ke asal ku." Pinta William.
"Tapi aku tidak tahu asalmu." Kata Talita.
"Darahmu yang memanggil kami untuk datang kemari. Dan hanya kamu yang bisa mengembalikan kami." William memberikan penjelasan.
Talita memejamkan matanya, dalam hati dia memanggil Ratu Quella.
Ratu Quella muncul dihadapan Talita.
"Ratu Mommy, bisakah Anda menolong mengembalikan mereka semua ke tempat asalnya?" Talita dengan lemah lembut meminta.
"Teteskan darahmu ke tanah, kemudian keluarkanlah energi positif dari hatimu untuk mereka." Ratu Quella menusukkan jarum kecil ke jari Talita.
Darah Talita menetes, tidak lama rintik-rintik hujan turun membasahi bumi. Darah Talita yang bercampur dengan air hujan mengalir. Talita memberikan energi positifnya. William melihat ada putaran cahaya mendekatinya.
"Angel, dan Anda bertiga saya mengucapkan terima kasih atas semuanya. Maafkan kami sudah membuat onar di sini. Terima kasih juga kalian berkenan mengantarkan kami. Terima kasih." William berdiri membungkukkan badannya.
Putaran angin dan cahaya membawa William dan teman-temannya ke mesin waktu untuk kembali ke tempat asal mereka.
"Terima kasih Ratu, terima kasih Ratu Mommy, terima kasih Om Gend. Kalian semua telah menolongku dalam keadaan bahaya." Talita menunduk hormat kepada mereka.
__ADS_1
Talita merasa bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang selalu menjaganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...