
Dua orang perawat membawa dua buah kursi roda untuk Delvin dan Talita.
"Sayang, kalian mau kemana?" Dokter Aaron yang melihat perawatnya membawa kursi roda penasaran dan mengikuti sampai kamar Talita.
"Grandpa, tolong bantu Talita duduk di kursi roda." Kata Talita.
Conan yang mengkhawatirkan Delvin juga masuk ke dalam ruangan dan melihat Delvin bangun dari tempat tidurnya. "Delvin kamu sudah baikan?"
"Dad, tolong Delvin duduk di kursi roda." Conan bingung melihat Delvin dan Talita yang meminta duduk di kursi roda.
"Talita jelaskan, kalian mau kemana?" tanya Grandpa.
"Di sini ada seorang anak kecil yang ingin menemui Mamanya. Bisa Grandpa dan Om Conan mengantarkan kami menemui Mama anak ini." Tunjuk Talita ke arah sofa.
Dokter Aaron dan Conan melihat ke sofa yang tidak ada siapa-siapa. Tapi mereka mengerti karena Talita dan Delvin bisa melihat makhluk yang tak kasat mata.
"Baiklah kami akan menemani kalian." Kata Conan.
"Syifa ayo Dek kita ke tempat Mama." Talita mengajak Syifa.
"Ayo Kak." Syifa berjalan paling depan.
Talita dan Delvin mengikuti dari belakang dengan kursi roda yang didorong Dokter Aaron dan Conan.
"Kok Syifa bisa nembus tembok Kak?" Syifa kebingungan.
"Sekarang Syifa punya kekuatan, bisa nembus tembok, bisa terbang." Talita meneteskan air matanya.
"Mama ada di bawah Kak." Tunjuk Talita.
"Syifa kita masuk ke dalam kotak itu ya, karena kami tidak bisa terbang seperti Syifa." Delvin menunjuk lift di depan mereka.
"Baik Ka. Wah kotaknya bisa turun Ka." Syifa kegirangan pertama kali masuk ke dalam Lift.
"Kita kemana Syifa?" tanya Talita.
Syifa berlari menuju ruang UGD. Dan Syifa mendekati Mama. Tapi kemudian Syifa terdiam melihat seseorang yang berada di ranjang pasien dengan penuh luka dan darah. Mamanya terus berteriak memanggil namanya "Syifa, Syifaaaaaa, bangun Nak."
"Kak, apa itu Syifa?" muka Syifa berubah menjadi sedih dan tidak percaya dengan penglihatannya.
Talita dan Delvin menangis melihat kondisi Syifa yang terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
Mama Syifa kaget tiba-tiba ada empat orang berdiri menatap Syifa dan dirinya.
"Pemisi Bu, saya Dokter Aaron. Izinkan saya memeriksa anak Ibu." Dokter Aaron memeriksa luka Syifa, dan denyut nadi Syifa yang sudah tidak ada.
"Dok, tolong anak saya. Selamatkan dia." Mama Syifa memohon kepada Dokter Aaron.
Dokter Aaron hanya tertunduk diam.
"Syifa bangun Nak, Syifa ini Mama sayang. Mama janji akan selalu bersama Syifa walaupun Papa tidak ada. Syifa bangun Nak." Mama Syifa terus berharap agar Syifa terbangun.
"Ka, apa Mama tidak bisa melihat Syifa?" Syifa bicara tanpa menoleh ke Talita, tatapannya saat ini hanya tertuju pada Mamanya yang meraung tiada henti memanggil namanya.
"Iya." Talita tidak henti-hentinya meneteskan air mata.
"Ka, tolong bilang ke Mama Syifa ada di sini."
"Per...misi Bu." Talita memanggil Mama Syifa.
"Iya ada apa?" Mama Syifa terisak menghapus air mata.
"Saat ini Syifa tepat berada di depan Ibu. Syifa membawa sebuah boneka kelinci berbaju pink, ada bordiran love love di bajunya, kelinci itu mempunyai pita warna pink lebih tua dari bajunya tepat di atas kepalanya." Talita sengaja memberikan gambaran kepada Mama Syifa agar Mama Syifa percaya dengan keberadaan Syifa.
"Ka, tolong bilang ke Mama, Syifa sayang sama Mama, Syifa tidak mau Mama sedih." Syifa tidak sedetik pun melepaskan pandangan ke Mamanya.
"Grandpa, tolong dorong Talita mendekati Mama Syifa." Pinta Talita.
Dokter Aaron mendorong kursi roda mendekati Mama Syifa.
"Permisi Bu, pegang tangan Saya." Talita mengulurkan tangannya.
Mama Syifa memegang tangan Talita. Ada energi yang masuk ke dalam tubuhnya, kemudian cahaya seperti kilat masuk kedalam matanya.
"Syifa, Syifa." Mama Syifa memeluk Syifa tapi tidak bisa tubuh Syifa terlihat transparan.
"Mama sudah ingat Syifa?" tanya Syifa.
"Mama ingat semuanya, ayo Syifa bangun Nak, jangan tinggalin Mama." Mama Syifa terus memohon agar Syifa kembali ke tubuhnya.
"Syifa ingin Ma, tapi Syifa tidak tau caranya." Kata Syifa.
"Apa Syifa merasa sakit?" Mama Syifa melihat tubuh Syifa yang berbeda dengan Syifa yang terbaring di atas ranjang pasien.
__ADS_1
"Syifa sehat Ma, Syifa sekarang bisa nembus tembok dan juga terbang." Kata Syifa.
Semua yang ada di sana menangis kecuali Dokter Aaron dan Conan yang tidak bisa melihat Syifa.
"Syifa sayang sama Mama?" tanya Mama Syifa.
"Iya, Syifa sayang Mama."
"Syifa minta sama Allah, bisa tidak Syifa kembali nemanin Mama. Mama minta diberikan kesempatan untuk merawat Syifa, maafkan Mama yang terlalu egois, menyerah dan pasrah dengan keadaan. Mama terlalu kecewa sehingga lupa Mama masih punya Syifa dan juga Nenek. Syifa anak yang baik, Syifa anak Mama yang sholehah, siapa tahu Allah mendengar doa Syifa yang masih berusia 7 tahun tapi sudah merawat Mamanya. Mama tau Allah sayang sama Syifa, tapi bisakah Mama meminta Syifa kembali kepada Mama?" Mama Syifa kembali menangis sambil berlutut di hadapan Syifa.
"Ya Allah, ampuni dosa-dosa orang tua Syifa. Jika boleh Syifa meminta, Syifa ingin bersama-sama Mama dan Nenek. Tapi Syifa juga takut sama Allah, kalo Allah menginginkan Syifa tidak apa. Syifa mohon lindungi Mama dan Nenek Syifa, karena Syifa tidak bisa melindungi mereka. Aamiin." Syifa mengusap kedua tangannya ke wajah.
Tubuh Syifa perlahan menghilang.
"Syifa, Syifa." Mama Syifa berdiri dan memeluk tubuh Syifa di ranjang pasien.
"Ibu, ikhlaskan Syifa. Mungkin ini jalan yang terbaik." Dokter Aaron juga berdiri di samping ranjang pasien.
Dokter Aaron melihat perubahan dari wajah Syifa, wajahnya tidak lagi putih pucat. Dipegangnya tangan Syifa terasa hangat. Dokter Aaron mengambil stetoskop dan mencek jantung Syifa ternyata berdetak walaupun sangat lemah tapi terdengar. Dokter Aaron memencet bel elektrik yang ada di ruangan.
"Permisi bisa tinggalkan kami." Dokter Aaron dan beberapa perawat memasangkan alat ke tubuh Syifa.
Conan, Delvin, Talita yang di dorong kursi rodanya oleh Mama Syifa keluar ruangan.
"Maaf siapa namamu Nak?" Tanya Mama Syifa.
"Nama saya Talita, ini Om Conan ayah dari Delvin yang duduk di kursi roda." Talita memperkenalkan diri.
"Panggil saja saya Bu Mira. Terima kasih banyak, sudah membantu saya bertemu dengan Syifa. Terima kasih." Bu Mira membungkukkan badannya.
"Sama-sama Bu Mira." Jawab Delvin.
Dokter Aaron keluar dari ruangan UGD.
"Silakan jika kalian ingin melihat Syifa." Dokter Aaron kembali masuk ke ruangan UGD.
Bu Mira mendorong kursi roda Talita diikuti Conan dan Delvin. Sekarang mereka kembali berada di ruangan UGD. Betapa terkejutnya mereka semua melihat kondisi Syifa saat ini.
Mereka semua menangis dan memanggil nama "Syifa...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1