Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Kuburan Di bawah Villa


__ADS_3

AAAAGGHHHH!


Paku kuntilanak merah mengenai kaki Rani. Robin yang melihat segera mengangkat Rani dan bersembunyi di belakang kursi.


"Tahan ya." Robin mencabut paku berkarat yang menancap di kaki Rani.


"AAWW! Makasih Robin." Rani meringis.


Tidak hanya kuntilanak, setan-setan yang lain juga menampakkan keberadaannya.


Danish, Dara berlari dikejar pocong.


Vicky, Vida, Rakha tubuh mereka diangkat dan dilempar ke dalam kolam renang, tidak hanya itu di dalam kolam renang sudah menunggu setan wanita yang menarik-narik kaki mereka. Tubuh mereka timbul dan tenggelam di permukaan kolam. Susah payah mereka bertiga melepaskan diri dari tangan setan kolam renang.


"Tolong hentikan. Apa kesalahan kami?" Talita berhadapan dengan kuntilanak merah.


"Kami tidak suka kalian mengambil tempat tinggal kami!"


"Kami tidak pernah mengambil tempat kalian kami hanya di undang untuk datang ke sini." Delvin berdiri di samping Talita.


"Karena kalian membangun tempat ini tanpa meminta izin kami. Kalian membangun di atas tempat tinggal kami. Karena kalian banyak warga kami yang tidak mempunyai tempat tinggal. Banyak tempat tinggal kami yang hancur karena kalian. Kami tidak suka manusia seperti kalian." Kuntilanak merah kembali menyerang Delvin dan Talita dengan paku berkaratnya.


Talita menahan paku-paku kuntilanak merah dengan perisai di gelangnya.


"Maaf semua itu bukan kami pelakunya. Kami berjanji akan mencarikan jalan keluarnya." Ujar Delvin.


Kuntilanak merah tidak menghiraukan, dia dan makhluk yang ada di sana menghancurkan semua yang ada di Villa dan menghantui Talita dan teman-temannya.


Talita memejamkan matanya. Tidak lama Om Genderuwo dan Ratu ular muncul di hadapannya.


"Om, Ratu tolong kami." Pinta Talita.


Genderuwo segera ke kolam renang menolong Vida, Vicky dan Rakha yang hampir tenggelam dan kehabisan nafas di kolam renang.


Ratu ular memejamkan mata dan menyatukan kedua telapak tangan dengan kekuatannya menghentikan semua pergerakan setan-setan dan mengumpulkan mereka semua di belakang kuntilanak merah.


"Maaf, kedatangan kami di sini bukan ingin berperang dengan kalian." Kata Ratu ular.


"Kami tidak suka dengan manusia. Mereka telah mengambil dan menghancurkan tempat tinggal kami." Kuntilanak merah dengan emosinya.


"Tapi manusia itu bukan mereka. Mereka hanya di undang untuk datang ke sini. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Mereka akan membantu kalian di sini." Ratu ular mencoba meredakan kemarahan kuntilanak merah beserta teman-temannya.

__ADS_1


"Baiklah mereka kami izinkan menginap di tempat ini. Tapi mereka harus membantu kami." Kuntilanak merah mulai berkurang amarahnya.


"Baiklah, terima kasih atas kemurahhatian kalian." Ratu ular membungkukkan badannya.


"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian." Talita delvin dan teman-temannya juga membungkukkan badan.


Kuntilanak merah dan teman-temannya pun menghilang.


"Anak muda segera selesaikan masalah ini. Beritahu pemilik tempat ini, mereka telah mendirikan bangunan tepat di atas kuburan mereka. Di lokasi ini dulunya adalah kuburan umum. Karena tempat ini jauh dari keramaian tidak banyak yang tahu. Penduduk asli daerah ini juga sudah pindah ke kota. Walaupun mereka berbeda dengan kalian tapi mereka juga ada. Tolong bantu mereka." Ratu ular memandangi Talita dan teman-temannya.


"Baiklah Ratu, kami akan mencoba membantu. Terima kasih Ratu dan Om Gend yang telah membantu kami." Talita mengatupkan kedua tangannya dan membungkukkan badannya.


"Terima kasih." Delvin dan kawan-kawan juga melakukan hal yang sama.


Ratu ular dan Om Genderuwo berpamitan, mereka menghilang.


"Danish cepat ceritakan semua ini kepada Papamu." Delvin menepuk punggung Danish.


"Baik, semua ini harus di selesaikan." Danish berdiri mengambil ponsel dan menelpon Papanya.


"Ayo Gaessss kita beresin tempat ini, Gue masih takut. Boleh gak malam ini kita semua tidur di sini." Rakha kedinginan habis tercebur di kolam renang.


"Iya Gue juga masih belum move on." Sahut Vida.


"Rani, Robin dimana?" Dara mencari-cari.


"Kami di sini." Robin mengangkat tubuh Rani dan mendudukkannya di kursi.


"Kakimu kenapa Ran?" tanya Talita.


"Kena paku Mba Kunti, berkarat lagi." Tunjuk Rani.


"Bentar tadi Gue lihat P3K." Dara membuka laci lemari yang ada di ruang tamu mengambil kotak P3K, dan mengoleskan Betadine ke luka Rani.


"Kalian bertiga ganti baju dulu sana, nanti masuk angin." Robin melihat Vida, Vicky, dan Rakha yang menggigil kedinginan.


Rakha dan Vicky mengganti baju mereka di kamar tamu. Sedangkan Vida minta ditemani Talita.


"Maaf gaeeass, kalian tidak menikmati liburan kita." Danish merasa sedih melihat teman-temannya.


"Semua ini juga di luar kuasamu." Kata Robin

__ADS_1


"Kita beresin tempat ini dulu, untuk malam ini kita tidur di ruangan ini rame-rame." Delvin mulai membersihkan ruang tamu.


Dara, Danish, Robin juga dengan cepat membersihkan pecahan kaca, paku dalam hitungan menit semua beres.


Danish menemukan sleeping bag di lemari penyimpanan dan menyusunnya di ruang tamu.


"Wah sudah rapi, baru beberapa menit di tinggal." Talita kaget melihat ruangannya.


"Maaf gaeesss kami mandi dulu tadi." Kata Vicky.


"Gak apa, ayo kita makan malam." Delvin mengajak mereka makan di ruang makan.


"Siapa yang masak?" tanya Vida.


"Kami membelinya dalam perjalanan kemari, sudah dihangatkan. Makan dulu." Dara menyuguhkan makanan untuk teman-temannya.


Selesai makan dan berberes mereka semua kembali ke ruang tamu.


"Danish sudah kamu beritahu Papamu?" tanya Delvin.


"Besok pagi-pagi Papa dan temannya akan datang." Jawab Danish.


"Semoga semua cepat diselesaikan." Ujar Robin.


"Kasian mereka, coba jika semua ini terjadi pada kalian. Rumah kalian diambil paksa, kemudian diatasnya dibangun tempat tinggal orang lain. Tidur dimana kalian?" Talita terlihat sedih.


"Ini semua karena ada orang yang hanya menginginkan keuntungan. Semua faktor ekonomi." Robin juga prihatin.


"Bukannya membela, Om Alan Papanya Danish juga tidak mengetahui hal ini sebelumya." Delvin memandang Robin.


"Iya, Om Alan juga dapat informasi dari orang lain dan juga assistennya. Semoga saja cepat diselesaikan." Robin menguap.


"Ya sudah beristirahatlah, kalian semua." Kata Delvin.


Talita masih belum mengantuk, teman-teman dilihatnya sudah terlelap dalam sleeping bag masing-masing. Talita keluar dari ruang tamu. Perlahan Talita membuka pintu dan pelan-pelan menutupnya kembali. Talita duduk di pinggir kolam renang. Tepat di sebelah Talita seorang Wanita duduk menghampirinya.


"Aku tau kamu bisa merasakan kehadiranku. Aku lah orang yang menangis di pinggir pantai. Aku mempunyai suami yang suka bermain judi. Semua harta benda kami habis dijual untuk bermain dan membayar hutang judi. Hingga di hari itu, aku mendengar seseorang bicara dengan suamiku. Dia ingin membeli tanah dan kuburan di sini. Orang itu menyuruh suamiku untuk memindahkan kuburan bagaimanapun caranya. Suamiku yang sangat memerlukan uang tanpa pikir panjang menyetujui karena uang yang diberikan nilainya begitu besar. Dia dan teman-temannya menghancurkan semua kuburan tanpa memindahkan isi di dalamnya. Dan terbangunlah Villa ini. Aku yang marah dengan sikap suamiku mencoba menyadarkan dan melaporkan tindakannya. Tapi malang, suamiku lebih mencintai uang dia memukulku dengan cangkul dan menguburku tepat di bawah pohon besar itu." Wanita itu menunjuk pohon besar yang berada di sebelah kolam renang.


"Dan hati-hati dengan orang berjam tangan merah, karena dia melakukan perjanjian pesugihan dan menumbalkan temanmu." Bisik wanita itu.


"Temanku, siapa?" Talita menoleh menatapnya.

__ADS_1


Wanita itu cuman tersenyum dan perlahan menghilang di balik dinginnya malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2