Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Villa Danish


__ADS_3

Syifa berangsur-angsur sembuh, seperti janjinya Talita membelikan boneka kelinci yang sama persis dengan boneka Syifa sebelumnya. Bahkan Talita membelikan banyak mainan, pakaian untuk Syifa, Bu Mira dan juga Neneknya. Conan juga membiayai pendidikan untuk Syifa.


Syifa, Bu Mira dan Neneknya kembali hidup bersama.


Di kediaman keluarga Alvan.


"Papah sudah sehat?" Talita duduk di samping Alvan yang lagi menikmati roti dan segelas kopi.


"Iya sayang, kamu sudah baikan?" tanya Alvan.


"Sudah Pah. Mamah mana?" Talita mencari Arumi.


"Pah ada sesuatu yang ingin aku ceritakan." Arumi masuk ke ruang keluarga membawa cemilan dan juga buah-buahan."


"Apa?" Alvan memakan rotinya.


"Wanita yang bersamaku di malam Talita diculik itu adalah Tiffany."


"Apa!" Alvan kaget hampir saja gelas yang ada ditangannya terlepas.


"Oh iya Mah, Pah, sewaktu di hutan Tante itu ngomong ke Talita 'kenapa kamu tidak mati?' Kemudian dia juga bertanya kepada pengawalnya, 'kenapa kamu tidak membunuhnya' pengawalnya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tiffany dan dia dengan kejam menembak pengawalnya." Cerita Talita.


"Tiffany perbuatanmu sungguh tidak bisa dimaafkan." Alvan mengepal tangannya.


"Bisa tidak Tiffany disembuhkan?" Arumi bertanya kepada Alvan.


"David dan Om Robert sudah membawa pulang Tiffany ke Negaranya. Om Robert meminta kepada Psikolog menghipnotis Tiffany untuk melupakan Papah. Karena dampaknya sangat besar terhadap keluarga kita. Tidak ku sangka perbuatanmu sungguh tidak dapat dimaafkan Tiffany!" Alvan sangat marah.


"Pah, begitu banyakkah kejahatan yang dilakukannya?" tanya Talita.


"Dia menculik Mamahmu dan membuatnya amnesia. Papah masih melepaskannya karena ingat persahabatan kami. Tapi setelah mengetahui hal ini Papah sangat membencinya. BRAKKK!" Alvan memukul meja melampiaskan amarahnya.


"Sabar Pah. Semoga saja Tiffany tidak ada lagi di kehidupan kita." Arumi menenangkan Alvan.


"Iya, Papah harap begitu." Ujar Alvan.


"Pah, Mah, Talita dan teman-teman ada undangan dari Danish mengunjungi Villa keluarganya. Apa boleh?" Talita minta ijin.


"Kapan?" tanya Alvan.


"Berangkatnya nanti siang, Delvin jemput Talita." Kata Talita.


"Kalian nginap?" tanya Arumi.


"Iya Mah, lusa kami pulang. Apa boleh?" Talita menunggu persetujuan orang tuanya.


"Boleh, kalo sama Delvin. Papah dan Mamah ijinin." Alvan menggoda anak semata wayangnya.


"Udah jadian ne? Kok gak cerita." Arumi ikut menggoda Talita.


"Jadiannya waktu itu sebelum ketemu Tante gila di rumah Delvin." Talita malu-malu.


"Emil dan Emin sukses dong jadi mak comblang." Kata Arumi.

__ADS_1


"Mamah udah tau rencana mereka?" tanya Talita.


"Mamah dan Papah baru tadi malam di cerita in mereka. Uncle dan Auntie juga senang mendengarnya. Keluarga mereka baik. Kami mendukung kalian." Alvan memeluk Putrinya.


"Permisi Tuan, Nyonya, ada teman Non Talita di depan." Kata Mbak Siti.


"Sebentar, Talita mau ambil tas dulu di kamar." Talita berlari naik ke lantai dua mengambil tas travel dan ranselnya.


Alvan dan Arumi keluar menemui teman-teman Talita.


"Hallo Om, Tante." Robin, Rani, Vida, Rakha, Vicky dari dalam mobil menyapa.


"Hallo semua, gak masuk dulu?" tanya Arumi.


Delvin keluar dari mobil dengan sopan mencium punggung tangan Alvan dan Arumi. "Terima kasih, kami takut kesorean sampai Villa."


"Mah, Pah, Talita pergi dulu." Talita mencium punggung tangan dan mencium pipi kedua orang tuanya.


"Tunggu sebentar." Alvan memasukan sekotak minuman kaleng dan sekotak cemilan ke belakang mobil Delvin.


"Makasih Om." Mereka melambaikan tangan.


Delvin melajukan mobilnya, di sampingnya Talita, seperti biasa anak Cewek posisi duduknya di tengah, personil mereka minus Dara karena sudah tiba di Villa barengan dengan Danish. Kursi belakang di isi anak Cowok.


"Udah lama ya kita gak ngumpul." Kata Rani.


"Terakhir kita ngumpul dikejar serigala. Ih ngeri." Vicky menutup matanya.


"Tenang gaesss, ada Gue disini kalian aman." Sahut Robin.


"Delvin cepatan biar bisa lihat sunset." Kata Rani


"Tenang, sebentar lagi kita sampai." Delvin melajukan mobilnya.


Mereka memasuki Villa keluarga Danish. Villa yang cukup besar, parkiran yang luas. Ada kolam renangnya, taman, teras.


"Wawww pemandangan yang luar biasa." Vida dan Rani mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen mereka.


"Hallo gaesss selamat datang." Danish dan Dara menyapa.


"Sini, kita ke pantai pemandangannya bagus." Dara menarik Talita, Vida dan Rani.


Anak-anak Cowok menurunkan semua tas dan bawaan yang ada di dalam mobil. Selesai berbenah mereka menyusul Anak-anak Cewek ke pantai.


"Kok pantainya sepi?" tanya Rakha.


"Pantai ini masih baru, belum dibuka untuk umum." Kata Danish.


"Gaessss sini sebentar lagi sunset." Rani memanggil teman-teman Cowoknya.


Rakha mengambil video moment dia dan teman-temannya di pantai.


Perlahan mentari mengucapkan selamat tinggal di senja jingga. Matahari terbenam memeluk laut dengan sinarnya. Ombak menyapa pantai dalam kehangatan. Malam melingkari dalam kegelapan.

__ADS_1


Suasana senja itu berubah menjadi kelam. Hembusan angin terasa panas. Bulu kuduk berdiri.


"Bulu kuduk berdiri, kenapa ya?" tanya Vicky.


"Iya, Gue juga." Dara menyentuh lehernya.


HIKS! HIKS! HIKS!


"Ada yang nangis gaeessss." Rani sembunyi di belakang Talita.


Mereka semua mencari sumber suara tangisan yang menyayat hati.


"Permisi, maaf kami tidak bermaksud mengganggu disini." Robin bicara sambil membungkukkan badannya.


"Kalian mengganggu kami di sini. Pergilah jangan kembali!" Suara itu hampir memecahkan gendang telinga.


"Maaf kami akan pergi dari pantai ini. Permisi." Talita memberi kode ke teman-temannya untuk meninggalkan pantai.


Mereka bersembilan berlari meninggalkan pantai dan masuk ke dalam Villa.


"Danish ada yang tidak beres dengan Villa ini." Delvin melihat Villa yang tadi sangat indah auranya berubah menjadi gelap.


"Danish Villa ini dulunya apa?" Robin bertanya.


"Kata Papa ini dulunya tanah kosong. Karena dekat dengan pantai, dibuatlah Villa tempat peristirahatan keluarga." Ujar Danish.


"Gaeessss, ada bayangan di jendela." Tunjuk Vida.


"Itu ada anak kecil dekat kolam renang." Rani juga menunjuk ke arah kolam renang.


Tiba-tiba, barang-barang yang ada di ruang tamu tempat mereka bersembilan berada melayang ke udara.


"Hati-hati gaeesss, awaaaaasss!" teriak Rakha.


KLONTANG!


KLOTAK!


CRAAAANNGGG!


Mereka bersembilan di lempari barang-barang entah oleh siapa. Mereka berusaha menghindar.


"Sembunyi di belakang kursi!" Kata Danish.


"PERGI KALIAN DARI SINI!" suara itu terus mengusir mereka.


"Baiklah kami akan pergi." Talita menyuruh teman-temannya bersiap meninggalkan Villa.


"Tapi sebelum kalian pergi, serahkan nyawa kalian kepada kami." Sesosok wanita berbaju merah berkuku panjang wajahnya rusak menyeramkan menampakkan diri di hadapan mereka.


"Maafkan jika kami mengganggu ketenangan kalian. Tapi maaf tidak akan kami serahkan nyawa kami untuk kalian." Talita berdiri di depan teman-temannya.


"Siapapun yang masuk ke tempat kami tidak akan pernah Kembali." Kuntilanak berbaju merah menembakkan paku ke arah Talita dan teman-temannya.

__ADS_1


AAAGGHHH!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2