Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Tiffany = Hanin


__ADS_3

Talita, Delvin menceritakan kejadian hari ini kepada Alvan, Arumi, Darel, Dokter Aaron, Conan dan juga Haris.


"Orang gila, Pah jangan-jangan itu Tiffany." Arumi dengan kecemasannya.


"Siapa itu Tiffany?" tanya Haris.


"Penderita Erotomania." Jawab Alvan.


"Bahaya, delusi berlebihan bisa menyebabkan penderitanya berprilaku bar bar." Kata Haris.


"Permisi Tuan Alvan, ada tamu di depan." Pak Satpam masuk ke ruang tamu.


"Persilakan masuk Pak." Suruh Alvan.


"Baik Tuan." Pak Satpam ke depan pintu mempersilakan tamu untuk masuk.


"David!" Alvan kaget bukan main melihat David. Itu pertanda Tiffany ada di kota ini.


"Alvan, Arumi, selamat malam semua." David dengan sopan masuk ke ruang tamu dan menyalami semua yang ada. David duduk. Dan menatap Alvan dengan perasaan tidak enak hati.


"Apakah Tiffany kembali lagi?" Alvan langsung ke intinya.


"Maaf Alvan, maafkan kami. Tiffany semakin menggila." David menundukkan kepalanya.


"Om punya solusi, bagaimana kalo kalian bermain dengan Tiffany." Kata Om Aaron.


Akhirnya dengan bujuk rayu David, Tiffany memberitahukan keberadaannya. David beralasan ingin menandatangani surat perceraian. Tiffany kebetulan berada di salah satu hotel milik Conan. Tiffany sedang menikmati sarapannya dengan Hanin.


"Ms Tiffany, Anda sangat cantik hari ini." Hanin memuji Tiffany.


"Terima kasih, hari ini hari yang sangat istimewa. Karena aku akan bercerai dengan David." Tiffany berseri-seri.


"Selamat Ms." Hanin melihat Alvan di dalam restoran. "Ms bukankah itu Papanya Talita."


Tiffany berpaling mencari keberadaan Alvan. Dan benar itu Alvan duduk sendirian menunggu pesanan.


"Kebetulan sekali, girl kamu tunggu di sini." Tiffany mengambil bedak memperbaiki riasan dan merapikan rambut panjang bergelombangnya. Bergaya bak model profesional Tiffany berlenggok ke meja Alvan.


"Pagi Alvan." Tiffany berdiri di depan Alvan.


"Hei Tiffany. Silakan duduk." Alvan tersenyum menyapa.


"Alvan kamu sangat tampan hari ini." Tiffany menyelipkan rambut ke telinganya.


"Masa sih? Kamu juga sangat cantik hari ini." Alvan menebarkan pesonanya.


"Terima kasih." Tiffany merasakan degupan jantungnya yang tidak beraturan, seolah hendak keluar dari tubuhnya.


"Tiffany." Seseorang memanggil Tiffany.


Tiffany menatap lama orang yang memanggil. Alvan kaget melihat perubahan sikapnya, Alvan menoleh ke belakang.


"Nabil." Sapa Alvan.

__ADS_1


"Alvan, kebetulan kita bertemu di sini." Nabil menjabat tangan Alvan.


"Silakan duduk, kalian saling kenal?" tanya Alvan.


Tiffany diam tidak menjawab, di bawah meja Tiffany menggosok-gosokkan tangannya. Keringat dingin keluar dari keningnya.


"Sangat kenal." Nabil memandangi Tiffany.


"Papa." Hanin menghampiri meja Tiffany.


"Papa?" tanya Tiffany.


"Iya Ms, ini Papa Saya." Hanin memeluk Nabil dari belakang kursi duduk Nabil.


"Jadi Hanin anak kamu?" Alvan sama terkejutnya dengan Tiffany.


"Iya, ada apa?" tanya Nabil yang melihat kemarahan di wajah Alvan.


"Nabil, apa kamu tahu yang dilakukan Hanin? Dia hampir saja membunuh Putriku." Alvan menatap tajam ke arah Hanin.


"Talita merebut Delvin dariku Pa." Hanin bertingkah manja.


"Kak Nabil." Arumi yang melihat dari kejauhan juga menghampiri.


"Arumi." Nabil berdiri menyambut Arumi.


"Pa, jadi ini yang namanya Arumi, dia merebut kekasihnya Ms Tiffany." Kata Hanin.


"Merebut?" Nabil mengarah ke Hanin.


"Hanin cukup!" Bentak Nabil.


Hanin terdiam, baru pertama kali dirinya dibentak Papanya dan dihadapan orang asing.


"Arumi maaf, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Nabil duduk kembali.


Arumi duduk di samping Alvan, memandangi Tiffany yang ada di depannya dan juga Hanin.


"Maaf sebelumnya, Kak Nabil mungkin sudah lama mengenalku. Aku tidak pernah merebut kekasih orang, yang ada orang yang menculikku dari tunanganku." Arumi memandangi Hanin yang tertunduk.


"Tiffany mengalami delusi yang sangat sangat parah dan ekstrim. Dia beranggapan Alvan sangat mencintainya padahal semua itu hanya khayalan belaka. Dia pengidap erotomania. Sudah beberapa kali Tiffany hampir merenggut nyawa kami. Dan Hanin sama seperti Tiffany. Bedanya Hanin tidak mengalami delusi, tetapi Hanin sangat terobsesi dengan Delvin tunangan anakku Talita, dan Hanin juga hampir menghilangkan nyawa Talita, Delvin dan teman-temannya."


Arumi menatap tajam ke arah Nabil. "Bagaimana caramu mendidik Hanin Kak? Apa dengan memanjakannya? Mengikuti semua kemauannya?"


Nabil dengan muka memerah berdiri dan memandangi Hanin, "Jadi orang yang kamu ceritakan waktu itu Talita anaknya Arumi!"


Hanin mengangguk cepat tidak berani melihat Nabil.


Nabil mengacak-acak rambutnya.


GEDUBRAK!


Nabil memukul meja, matanya kini tertuju kepada Tiffany. "Tiffany, kamu tau siapa Hanin!"

__ADS_1


Tiffany mengangkat kepalanya melihat Hanin. Dan menggelengkan kepalanya.


"Dia anak kandungmu, anak yang ingin kamu buang setelah kamu lahirkan. Seorang Ibu yang tega membuang anak kandungnya sendiri. Walaupun aku sebejat ini, tapi aku masih punya hati nurani. Entah mengapa aku pernah bercinta dengan orang gila seperti mu!" Nabil emosi.


Tidak hanya Tiffany, Alvan, Arumi, bahkan Hanin pun terkejut bagaikan tersambar petir di siang bolong.


David, Darel yang mengintip tak jauh dari mereka pun sama terkejutnya. David merasakan dadanya sangat sesak saat ini. Begitu banyak kejutan yang dibuat seorang Tiffany kepada dirinya. Begitu sabarnya selama ini David menghadapi sikap Tiffany. Sungguh sia-sia semua usaha David untuk merebut hati Tiffany. Setelah hari ini, David membuat satu keputusan final. David mengangkat bendera putih untuk Tiffany.


"Aku anak Ms Tiffany?" tanya Hanin.


"Iya, kamu anak kandung dari orang ini. Kamu dan dia sama, suka merebut milik orang lain. Hanin kamu mengikuti kelakuan Ibu kandungmu!" Ucap Nabil.


"Hanin." Tiffany ingin memeluk tapi Hanin berdiri.


"Tidak, aku tidak ingin punya Mama sepertimu." Hanin menghindar.


"Hanin!" Tiffany membentak.


"Apa! Merasa sudah menjadi seorang Ibu!" Hanin bertolak pinggang.


"Begini ya cara Papamu mendidikmu!" Tiffany emosi melototi Hanin.


"Hei, Nyonya. Lihatlah diriku. Aku ini cerminan dirimu!" Kata Hanin.


"Tidak salah waktu itu aku buang dirimu. Ha...Ha...Ha... Sungguh merepotkan punya anak sepertimu!" Tiffany marah.


"Tiffany! Dia juga anakku. Beruntung aku juga membuang dirimu!" Nabil memeluk Hanin.


"Persetan dengan kalian!" Tiffany hendak beranjak pergi.


"Tiffany tunggu!" Alvan berdiri dari tempat duduknya.


"Iya." Tiffany bersikap manis.


"Maaf, kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Karena kamu sudah dinyatakan seratus persen sehat, dan semua bukti kejahatanmu ada di sini. Kamu harus menyerahkan diri!" Alvan melempar amplop coklat ke atas meja.


"Tiffany apa yang dikatakan Alvan benar? Apa kamu seratus persen sehat? Sejak kapan Tiffany!" David dengan geram meminta jawaban Tiffany.


Tiffany mundur perlahan, matanya melirik Hanin yang berada di sampingnya. Dengan cepat Tiffany membuka tasnya dan mengambil pisau lipat, ditariknya tangan Hanin dan Tiffany mengancam Hanin dengan menodongkan pisau lipat ke arah lehernya.


"Yang berani mengejar, ku pastikan Hanin tidak akan selamat!" Ancam Tiffany.


"Tiffany!" Nabil berteriak.


"AAAGGHHH!" Hanin terkena ujung pisau lipat Tiffany.


"Sudah ku bilang jangan ada yang mendekat! Apa kalian ingin melihat Hanin mati dihadapan kalian!" Tiffany mundur dengan Hanin yang menahan kesakitan.


Semua yang ada diam, mereka takut akan terjadi sesuatu dengan Hanin.


Tiffany berhasil keluar restoran, Tiffany dengan paksa mendorong Hanin masuk kedalam mobilnya, Tiffany menyemprotkan sprey ke arah Hanin, Hanin pingsan. Tiffany dengan cepat melajukan mobilnya, kabur sejauh mungkin.


VROOOM! VROOOM!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2