Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Diserang Serigala


__ADS_3

Sebagai bentuk rasa syukur atas ditemukannya Talita. Yayasan SMA Nusantara mengadakan camping bersama. Semua Siswa antusias menyambutnya. Acara camping diadakan di Bumi Perkemahan Nusantara milik keluarga Alvan.


Sebagai anak dari yang punya Yayasan, sifat Talita tidak berubah sama sekali. Tetap rendah hati. Talita juga tidak mau dibedakan dengan siswa-siswi yang lain. Talita tidak mau dianggap memanfaatkan koneksi keluarga. Siswa-siswi SMA Nusantara bersiap menuju Bumi Perkemahan dengan Bis Sekolah. Khusus Panitia, mereka diberikan mobil agar mempermudah mengurus segala keperluan camping.


Talita, Dara, Rani, Vida, Delvin, Rakha, Vicky dan Danish di dalam satu mobil yang sama. Robin dan panitia yang lain berada di mobil lain yang sudah lebih dahulu menuju Bumi Perkemahan. Perjalanan sangat menyenangkan, Bis-bis, mobil-mobil berjalan beriringan seperti parade. Mobil yang ditumpangi Talita sengaja memilih dibarisan paling belakang.


Posisi duduk Talita dan teman-teman dalam mobil yang mereka tumpangi, Delvin berada di depan sebagai sopir, Talita disebelahnya, di bagian tengah, Dara, Rani dan Vida. Paling belakang Rakha, Vicky dan Danish.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil Talita berhenti mendadak.


"Kenapa Delvin?" tanya Talita.


"Tidak tahu, tiba-tiba saja mobilnya mati." Delvin mencoba menstarter mobil berulang-ulang kali.


"Delvin hati-hati mobilnya mundur." Kata Danish.


"Duh gimana ne?" Dara, Rani, Vida mulai panik.


"Tenang girls, jangan bikin kami ikutan panik." Sahut Vicky.


VROOOMM! VROOOOM!


"Akhirnya, let's go gaeessss." Delvin melajukan mobilnya


"Kok terasa berat ya." Rakha melihat ke belakang mobil. Sekelebat bayangan putih terlintas dipandangan Rakha.


"Jangan nakut-nakutin, masih pagi ini Rakha." Danish menyikut tangan Rakha.


"Kok merinding ya." Dara merasakan bulu kuduknya berdiri.


"Aroma bunga melati." Rani mengenduskan hidungnya.


"Mulai deh kalian, makanya jangan kebanyakan nonton horor." Vicky menepuk pundak Dara dan Rani dari belakang.


"Iihh sakit." Rani membalas Vicky.


Talita dan Delvin berpandangan, mereka berdua menyadari kehadiran makhluk astral yang ikut di belakang mereka. Tapi mereka berusaha untuk diam agar tidak terjadi keributan dan ketakutan teman-temannya.


"Kita dimana?" tanya Delvin sesekali matanya mencek GPS mobil.


"Apa kita tersesat?" tanya Vida.


"Tidak, ada seseorang yang ingin mengundang kita." Kata Talita.


Semua yang ada dimobil merasakan ketegangan.


"Mobilnya berjalan sendiri." Kata Delvin.


"Kita ikuti kemana mobil ini berhenti." Ujar Talita.

__ADS_1


Mobil mereka terus memasuki dalamnya hutan, pepohonan tampak berlari mengikuti, cuaca yang sebelumnya terang kini tertutup awan muram. Tiba-tiba mobil mereka berhenti.


"Delvin, ayo kita turun. Kalian jika takut sebaiknya tunggu kami di sini." Talita keluar dari mobil di ikuti Delvin.


"Tunggu aku ikut." Rani mengikuti Talita.


Diva dan Dara berpandangan, akhirnya mereka juga keluar dari mobil.


"Kita harus ikut untuk melindungi para gadis." Kata Rakha.


Akhirnya mereka semua berjalan entah kemana. Dari dalam hutan tampak sebuah rumah besar.


"Sssttt, perlahan." Delvin memberi kode ke teman-temannya.


"Girls, kalian sembunyi di sini. Biar kami masuk ke dalam." Vicky, Danish, Rakha dan Delvin mengendap-ngendap masuk ke halaman rumah. Merasa aman mereka masuk kedalamnya. Rumah ini terlihat kosong.


KREKKK! Pintu terbuka dengan sendirinya. Delvin, Danish, Vicky dan juga Rakha memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar.


"AAAAAAA!" mereka semua berlari terbirit-birit keluar dari dalam rumah besar itu.


"Girls ayo masuk ke dalam mobil." Teriak Danish.


Para gadis segera berlari menuju mobil. Delvin segera melajukan mobilnya secepat mungkin.


"Apa yang terjadi?" Para gadis bingung melihat tingkah laku teman-teman cowonya.


"Danish telpon polisi." Kata Delvin.


"Mayat wanita?" Para gadis berbarengan.


"Iya, di dalam rumah itu ada mayat wanita berlumuran darah. Leher, kaki dan tangannya seperti digigit binatang buas." Kata Delvin.


ROAAARRR! ROAAAAARR!


"Awas kita diserang segerombolan serigala." Tunjuk Talita.


BRAAAKKK! BRUUUKKK!


Serigala-serigala itu menabrakkan dirinya ke bagian sisi kiri dan kanan mobil. Mobil mereka oleng.


"Delvin hati-hati." Talita memperingatkan Delvin.


"Gawat mereka juga ada diatas mobil kita." Tunjuk Rakha.


"OH TIDAKKKKK! CAKARANNYA!" Rani menundukkan kepalanya.


Serigala-serigala terus mengamuk di atas mobil, saking kuatnya pukulan serigala menembus atap mobil. Tangan serigala yang berkuku tajam seolah siap menerkam Danish yang berada tepat di bawahnya.


"AWASSSS PEGANGANNN!" Delvin menekan rem secara mendadak.

__ADS_1


CIIIITTTTT! CIIIITTTTT!


Serigala-serigala yang ada di atas mobil terpental jatuh.


Vicky, Danish, Rakha, Dara, Rani, Vida kepala mereka terbentur ringan. Tidak dengan Talita karena kepalanya tertahan lengan Delvin.


"Gaeeesss, tempat apa ini. Sepertinya kita masuk ke sarang serigala." Danish mulai ketakutan.


Mereka semua melihat keluar mobil. Serigala bertambah banyak mengepung mobil mereka.


"Angel, kita bertemu kembali. Aku jauh-jauh datang kemari untuk menemuimu." William muncul di antara gerombolan serigala.


"William, aku bukan Angel. Kamu salah orang." Kata Talita.


"Kemarilah sayang, jangan biarkan umpan yang ku berikan untukmu sia-sia, aku membutuhkanmu." William menjentikkan jarinya. Tubuh Talita melayang.


Delvin juga menjentikkan jarinya, dalam hitungan detik semua teman-temannya yang berada di dalam mobil tertidur.


Delvin menahan tubuh Talita dan menariknya, dengan cepat Delvin mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Talita. Talita merasakan aliran listrik mengalir dari dalam tubuhnya, Talita mengepakkan sayap putihnya, cahaya terang dan angin dari kepakan sayap Talita menyapu bersih serigala-serigala dan juga William.


"Angel, kita akan bertemu lagi!" William dan serigalanya menghilang masuk ke dalam putaran mesin waktu.


"Delvin!" Talita mendorong tubuh Delvin dan memegang bibirnya.


"Talita untuk kesekian kalinya, bukannya aku memanfaatkan keadaan. Hanya dengan cara ini aku bisa mengeluarkan kekuatan dalam dirimu." Delvin berusaha menjelaskan.


"Jangan bohong kamu." Talita mencari kebenaran di mata Delvin.


"Talita apakah masalah keluargamu sudah selesai?" tanya Delvin.


"Iya." Talita memalingkan wajahnya, degup jantungnya masih belum stabil.


"Ada rahasia yang harus aku ceritakan." Delvin berharap Talita mendengarnya.


"Apa?" Talita masih dengan nada kesal.


"Sebenarnya gelang yang kamu pakai itu pemberian Ibuku untuk mu." Tunjuk Delvin.


Talita memperhatikan gelangnya. kemudian menatap Delvin.


"Gelang ini sejak kecil sudah bersamaku." Kata Talita.


"Baiklah kita ke Bumi Perkemahan dulu. Pasti kita sekarang ini sedang dicari. Tanyakan masalah tadi kepada Bu Arumi, dan kamu akan menemukan jawabannya." Delvin menjentikkan jarinya sekali lagi. Dan teman-temannya kembali sadar.


"Aduh kepalaku sakit." Rakha memegang kepalanya.


"SERIGALAAAAA!" teriak Danish.


"Aku ingin pulang." Rani menangis.

__ADS_1


"Tenang gaessss kita selamat. Serigala sudah pergi. Ayo kita menuju perkemahan." Delvin kembali melajukan mobil mereka yang sudah tidak ada bentuknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2