Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Tiffany Oh Tiffany


__ADS_3

Tiffany semenjak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari Robert Papanya. Karena setelah melahirkan Tiffany, Istri Robert yang bernama Avril meninggal. Robert sangat sedih dan putus asa, dia hampir gila. Setiap kali melihat Tiffany entah kenapa Robert ingin sekali mengakhiri hidup bayi yang tak berdosa itu. Orang tua Robert berkali-kali melihat usaha Robert yang ingin menyingkirkan Tiffany kecil. Demi kelangsungan hidup Tiffany, Oma dan Opa Tiffany memutuskan merawatnya. Tiffany tumbuh dengan kasih sayang Oma dan Opanya.


Setelah berumur 8 tahun, kecelakaan tragis menimpa Oma dan Opa. Tiffany lagi-lagi kehilangan kehangatan kasih sayang. Robert mau tidak mau mengijinkan Tiffany tinggal satu atap dengannya. Tiffany hanya dilayani pelayan. Di rumah mewah dan megah Tiffany merasakan kesepian. Tiffany setiap hari melihat Papanya yang sering pulang larut malam, alkohol seakan sudah menjadi kebutuhan bagi Robert. Tiap kali juga Robert gonta ganti pasangan, bermain panas di dalam rumah, tidak menghiraukan Tiffany yang melihatnya setiap hari.


Tiffany mulai berulah, untuk mendapatkan perhatian dia melakukan kenakalan. Di sekolah dia sering membully teman-temannya, bolos, merokok. Pihak sekolah sering mengirimkan surat panggilan kepada Robert tapi Robert tidak menghiraukan. Robert lebih memilih memberikan sejumlah uang untuk menyelesaikan masalahnya.


Tiffany remaja memutuskan keluar dari rumah Robert. Tiffany memilih tinggal di Apartemen. Walaupun Robert tidak memberikan kasih sayang, tapi Robert selalu mentransfer uang untuk Tiffany dalam jumlah besar. Robert juga mengirimkan pengawal untuk Tiffany. Tiffany yang kurang kasih sayang sering mengkhayal dicintai semua orang. Dan kebahagiaan dirasakan Tiffany ketika kuliah. Dia pertama kalinya mempunyai teman Alvan dan David. Dari mereka Tiffany mulai membuka diri, Tiffany juga berubah sangat baik, ceria dan hari-harinya penuh warna. Tiffany menyukai Alvan, tapi mendapatkan cinta dari David. Tiffany selalu menganggap dia dan Alvan menjalin hubungan dan Alvan sangat mencintainya, padahal dalam kenyataannya tidak pernah ada. Terkadang Tiffany mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem.


Setelah kejadian malam itu Tiffany dibawa David ke rumah sakit. Dokter ahli kejiwaan bekerja sama dengan psikolog, psikiater untuk merawat dan mengobati Tiffany. Jika tidak ditangani dengan baik berdampak buruk terhadap psikologis Tiffany. David dengan setia mendampingi Istrinya Tiffany, begitu juga dengan Robert, dia sangat menyesal telah membuat Tiffany seperti ini. Semua yang terjadi pada Tiffany adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Robert akan menebus segala dosanya kepada Tiffany dan berharap Tiffany pulih kembali.


Di rumah sakit yang berbeda.


Aaron dan para perawat baru saja mengobati luka Alvan, Delvin, Talita, Darel dan Conan. Mereka semua terpaksa harus menginap di rumah sakit. Alvan kakinya infeksi dan terpaksa berjalan menggunakan tongkat untuk beberapa hari ke depan.


Darel dan Conan juga harus beristirahat karena hantaman keras dari Tiffany menggenai dada mereka.


Talita punggungnya terluka, Talita merasakan perih yang amat menyiksa. Karena secara tak kasat mata sayap Talita sebelah kanan patah dipotong Tiffany. Talita terpaksa berbaring telungkup karena lukanya masih basah. Posisi yang sangat menyakitkan, karena leher menjadi kaku.


Delvin setelah keningnya kena lemparan pistol dari Tiffany, sering tidak sadarkan diri.


Sakit kepala yang sangat membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas, sesekali Delvin membuka mata dan memandang Talita yang berbaring di sebelahnya. Delvin dan Talita berada di dalam ruangan yang sama.


"Babe, kamu ok?" Delvin melihat Talita yang memegang lehernya.


"Leherku sakit." Talita menoleh ke arah Delvin.


"Luar biasa kekuatan wanita gila itu, banyak yang jadi korban, salah satunya kita." Delvin tertawa.


"Sayapku patah, sungguh perih. Gak lagi-lagi deh ketemu orang gila." Talita pun ikutan tertawa.


"Liburan sekolah yang penuh dengan ketegangan." Kata Delvin.


"Talita, Delvin bagaimana keadaan kalian?" Dokter Aaron memeriksa Delvin kemudian Talita.


"Kepala masih sakit, pandangan sedikit kabur. Masih belum bisa bangun." Delvin memegang kepalanya.

__ADS_1


"Leher sakit, kapan bisa rubah posisi Grandpa?" tanya Talita.


"Sebentar." Dokter Aaron melihat luka punggung Talita. "Berbalik lah." Dokter Aaron membantu Talita membalik tubuhnya.


"AAAGGHH!" Talita kesakitan.


"Berbaringlah dengan posisi miring, lukamu masih belum kering." Kata Dokter Aaron.


"Papah, Uncle, dan Daddy Delvin dimana?" tanya Talita.


"Mereka ada di kamar sebelah, mereka semua dalam pemulihan. Kalian beristirahatlah." Dokter Aaron meninggalkan ruangan mereka.


"Delvin apa kau melihat sesuatu di sana." Tunjuk Talita ke arah sofa.


"Ada boneka, punya siapa?" tanya Delvin.


TOK! TOK! TOK!


Delvin dan Talita melihat ke arah pintu. Seorang Adik kecil tersenyum ke arah mereka.


"Halo Kak, maaf apa Kaka lihat bonekaku?" tanyanya.


"Apa itu bonekamu?" tunjuk Delvin


"Iya Kaka itu boneka Syifa." Tunjuknya.


"Ayo masuk, nama Adek Syifa ya?" tanya Talita.


"Kaka berdua kenapa?" Syifa duduk di sofa sambil memegang bonekanya.


"Iya, karena orang gila." Kata Delvin.


"Hush." Talita melotot ke arah Delvin.


"Orang gila tidak semuanya jahat Ka. Mama Syifa baik." ujar Syifa.

__ADS_1


"Mama Syifa kenapa?" Talita menyipitkan matanya.


"Mama Syifa baik, Papa yang jahat. Papa ninggalin Mama dan Syifa, Papa jalan sama Tante jahat." Syifa menangis.


"Sayang jangan nangis, Syifa anak yang pintar." Talita masih tidak bisa menahan sakit di punggungnya, Talita menenangkan Syifa dari jauh.


"Sejak Papa pergi, Mama sering ngomong sendiri. Kadang menangis, Mama lupa masak, lupa mandi. Kata orang-orang Mama Syifa gila. Syifa di ejek anak orang gila." Syifa sedih.


Delvin dan Talita turut merasakan kesedihan Syifa.


"Nenek Syifa baik, Nenek Nemanin Syifa dan Mama di rumah. Mama sering ngomong ke Syifa jadi anak yang pintar, jangan suka bohong, sayang sama orang tua. Jangan benci Papa. Tapi setelah itu Mama Syifa diam, Syifa sedih lihat Mama diam." Syifa meneteskan air mata.


"Sabar ya sayang." Kata Talita.


"Hari ini Syifa mandiin Mama, gosok gigi Mama, Syifa suka lihat Mama wangi. Syifa juga milihin baju Mama. Kami jalan-jalan Kak. Tapi orang-orang ngatain Mama orang gila. Syifa marah, Mama Syifa bukan orang gila, Mama Syifa tidak pernah mukul orang, Mama Syifa tidak pernah jahat sama orang. Mereka semua jahat Ka, mereka melempari kami dengan batu. Mama melindungi Syifa, kepala Mama luka terkena batu. Syifa menarik tangan Mama. Setelah itu pandangan Syifa gelap."


Talita dan Delvin berpandangan.


"Syifa memanggil-mangil Mama tapi Mama malah menangis mengangkat tubuh Syifa. Mama ingat dan memanggil nama Syifa. Syifa salah apa Ka? Mama kok mengabaikan Syifa, dan kenapa orang yang diangkat Mama itu mirip dengan Syifa." Syifa menangis.


"Syifa bisa kasih tau Kaka dimana Mama?" tanya Talita.


"Bisa." Syifa berdiri.


"Tunggu sayang." Talita susah payah menekan bel elektrik yang ada di atas kepalanya.


"Maaf ada yang bisa saya bantu." Perawat masuk ke dalam ruangan Talita.


"Saya mau keluar, bisa ambilkan kursi roda?" pinta Talita.


"Saya juga." Kata Delvin.


"Baiklah tunggu sebentar." Perawat itu keluar.


"Syifa, bawa kami menemui Mamamu." Talita ingin membantu Syifa bertemu dengan mamanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2