
"Dokter, apa yang terjadi dengan Syifa?" Bu Mira kaget melihat Syifa yang dipasangkan alat bantu pernapasan.
"Syifa kami bantu pernafasannya." Jawab Dokter Aaron.
"Maksudnya Syifa hidup kembali Om?" Tanya Conan.
"Iya, sungguh suatu keajaiban. Syifa bernafas kembali." Dokter Aaron penuh keyakinan mengatakan.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah Engkau mengabulkan doa Syifa." Bu Mira menggenggam erat tangan Syifa.
Syifa merespon, tangannya bergerak lemah. Matanya terbuka, "Ma...ma"
"Syifa ini Mama sayang." Bu Mira mencium tangan Syifa.
"Halo Syifa." Delvin dan Talita menyapa.
"Kaka berdua siapa?" Syifa menatap asing Delvin dan Talita.
"Kaka berdua teman Syifa, Syifa istirahat yang banyak. Setelah Syifa sehat Kaka akan beliin boneka kelinci untuk Syifa ya." Talita merasa terharu melihat Syifa hidup kembali, dan juga sedih Syifa lupa dengan dirinya yang dijumpainya beberapa menit yang lalu.
"Baiklah Bu Mira, nanti Syifa akan kami pindah ke kamar pasien. Kami permisi dulu." Dokter Aaron, Talita, Delvin dan Conan meninggalkan mereka.
Talita dan Delvin sudah berada di ruangan mereka.
"Sayang, jangan sedih. Grandpa pernah dengar orang yang menjadi roh setelah diberikan kesempatan hidup kembali tidak bisa mengingat kejadian di saat dirinya menjadi roh." Aaron merasakan kesedihan Talita.
"Iya Grandpa. Syukurlah Syifa bisa kumpul kembali bersama Mamanya." Talita mengusap air matanya.
"Sedih juga Daddy mendengar ceritanya." Conan baru saja diceritakan Delvin tentang Syifa.
"Bantu Syifa masalah pendidikannya Dad. Dia anak yang pintar." Kata Delvin.
"Baiklah akan Daddy pikirkan." Conan duduk di sofa melepas lelah.
"Daddy sudah baikan?" Delvin mengkhawatirkan Conan.
"Dada Daddy masih terasa sakit." Conan memegang dadanya.
"Conan, sini biar saya dorong di kursi roda." Dokter Aaron mengambil kursi roda.
"Gak usah Om, biar saya rebahan sebentar di sofa." Kata Conan.
__ADS_1
"Baiklah, saya tinggal kalian semua." Dokter Aaron meninggalkan ruangan.
Sinar yang terang benderang menyinari ruangan. Saking terangnya Conan, Delvin, dan Talita tidak bisa membuka mata.
Perlahan sinarnya redup. Conan, Delvin dan Talita berada di sebuah taman bunga.
"Quella, Quella." Conan berdiri mencari keberadaan Istrinya.
"Mommy, Delvin kangen." Delvin juga mencari keberadaan Quella.
Seorang wanita cantik menggunakan dress merah, berjalan dengan anggun menuju mereka bertiga. Angin membelai lembut rambut panjang bergelombangnya. Dari jauh sudah tercium wangi harum tubuhnya.
"Ratu Mommy?" Talita merasa asing dengan wanita yang di depannya. Sangat berbeda dengan Ratu Quella yang sering di temuinya. Ratu Quella yang biasa menggunakan pakaian kerajaan ala Bangsawan dengan mahkota di kepala. Sekarang berpakaian modis dengan kaca mata hitam di atas kepalanya.
"Babe, kamu kenal Mommy?" Delvin memandangi Talita yang kebingungan.
Talita cuma mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hallo honey." Quella mencium pipi dan memeluk Conan.
"Quella." Conan membalas pelukan Quella.
"Sayang Mommy." Quella mencium dan memeluk Delvin.
Talita cuman diam.
Quella tersenyum menatapnya. "Sekarang panggil Mommy, karena kamu sudah menerima cinta Delvin."
"Benarkah itu Delvin?" tanya Conan.
"Iya Dad, terima kasih. Delvin terima. Maaf waktu itu Delvin tidak tahu orang itu adalah Talita." Delvin merona karena malu.
"Daddy sudah tahu dari Mommy. Untuk mengujimu Daddy sengaja melakukan itu. Bahkan Darel dan keluarganya tidak mengetahui. Talita juga sama sepertimu, dia menghilang setelah mengetahui akan dikenalkan dengan anak Daddy." Conan tersenyum menatap Talita.
"Maafkan Talita Om." Talita tertunduk malu.
"Tidak akan dimaafkan, kecuali panggil Om dengan Daddy." Conan menggoda Talita.
"Hmmm baik Om, eh Daddy." Talita tersipu.
"Talita, Delvin, berendam lah di kolam itu untuk pengobatan kalian." Quella menunjuk kolam kecil yang bertaburan bunga-bunga.
__ADS_1
Quella menjentikkan jarinya, tubuh Talita dan Delvin melayang masuk ke dalam kolam. Mereka menyenderkan diri sambil berendam.
"Sekarang pengobatan untukmu." Quella berbisik dan mengecup leher Conan.
"Ayo sayang, aku ingin melepas rindu." Conan mengecup lembut bibir Quella.
Quella kembali menjentikkan jarinya. Kini mereka berdua berada di dalam sebuah kamar yang luas, di tengahnya ada kolam bertaburan bunga-bunga seperti kolam Delvin dan Talita.
Quella satu persatu membuka kancing pakaian Conan, dada bidang dan roti sobek yang selama ini dia rindukan tepat di depan matanya. Quella juga melepaskan celana yang dipakai Conan.
"Berendamlah." Quella menuntun Conan masuk ke dalam kolam.
Conan menyenderkan diri dan berendam. Quella perlahan mengusap punggung Conan dan menyiramkan air bunga-bunga dari kolam. Conan merasakan energi baru di dalam dirinya. Rasa sakit yang terasa di dada berangsur hilang. Tenaganya kembali pulih.
Quella ikut masuk ke dalam kolam, Conan membuka mata, Quella sudah duduk di atas pangkuannya dan mengalungkan tangan di lehernya, Conan sangat merindukan Istrinya. Dipandanginya Quella yang sudah menanggalkan pakaiannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Conan mulai menciumi bibir Quella, menyesap lebih dalam, memainkan lidahnya, turun meninggalkan jejak di leher jenjang Quella. Quella juga mulai aktif memainkan daerah sensitif Conan. 'Onderdil' yang tadinya kecil, perlahan terasa berisi dan kenyal.
Conan juga bergerilya menaik turunkan gunung keramat dan bermain lidah di puncaknya. Terasa sudah cukup, Conan mengangkat tubuh Quella dari kolam dan membaringkan Quella di atas kasur empuk para Bidadari. Kembali Conan dengan lembut mencium bibir Quella, sampailah pada titik dimana Conan mencapai birahinya dan Conan mulai menancapkan senjata rahasianya. Mereka melepaskan rindu yang selama ini menggebu.
Di luar ruangan, masih di dalam taman bunga Delvin dan juga Talita mulai merasakan sakit di badan mereka berangsur-angsur hilang. Bekas luka di kening Delvin memudar. Begitu pula dengan Talita, luka di punggungnya sembuh dan sayapnya kembali tumbuh meskipun masih berukuran kecil.
"Babe kenapa kamu tadi kebingungan melihat Mommy?" tanya Delvin.
"Mommy yang sering aku temui memakai pakaian Ratu Bangsawan dan juga mahkota. Sedangkan Mommy yang aku lihat tadi sangat berbeda, lebih modis dan wajahnya begitu cantik, muda. Apakah Bidadari tidak bisa tua?" Talita juga bertanya kepada Delvin.
"Aku belum pernah melihat bangsa Bidadari selain Mommy." jawab Delvin.
"Aku sungguh iri melihat Daddy dan Mommy mu Delvin. Apa lagi Daddy yang begitu setia. Padahal di luar sana mungkin godaannya begitu besar." Talita kembali bersender ke kolam.
Delvin berbalik menatap Talita, "Aku akan berusaha setia, menyayangimu selalu."
"Terima kasih Delvin, kita masih terlalu muda. Kita masih belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Kata Talita.
"Semoga saja kita selalu bersama." Delvin tersenyum.
"Mengapa kamu memilih aku Delvin?" Talita berbalik menatap Delvin.
"Entahlah sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Ada cahaya di dalam dirimu yang menarikku. Mungkin itu karena Mamahmu yang menurunkan hatinya kepadamu. Dan dirimu harus aku jaga, karena kamu istimewa." Delvin menatap Talita dengan penuh cinta.
Talita juga terhanyut dengan tatapan Delvin. Seperti ada tarikan magnet, Delvin dan Talita semakin mendekat. Delvin memiringkan kepalanya mengecup lembut bibir Talita. Talita pun membalasnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...