
Robin, Talita, Delvin diserang makhluk astral. Mau tidak mau mereka melawan untuk membela diri.
"Gaesss jangan sakiti mereka, cukup untuk melindungi diri kalian saja." Kata Talita.
Robin dan Delvin mengangguk.
Mereka hanya menahan serangan tidak membalas serangan.
Ratu ular semakin marah, kali ini dia yang turun tangan menyerang Talita.
"Mengapa kalian tidak melawan!" Ratu ular mengibaskan ekornya.
"Maaf Ratu, karena dalam hal ini teman-teman kami yang salah. Kami mewakili mereka meminta maaf yang tulus kepada kalian." Talita berusaha menghindar dari kibasan ekor ular.
"Iya Ratu, mereka memang pantas dapat hukuman. Tapi berikanlah mereka kesempatan untuk memperbaiki diri." Delvin mencoba meruntuhkan kemarahan Ratu ular.
"Kami berjanji akan memberikan hukuman kepada mereka, dan kami berjanji akan membersihkan tempat ini." Robin juga berusaha mendapatkan simpati dari Ratu ular.
"Kalian manusia tidak dapat dipercaya!" Ratu ular murka, dia semakin ganas menyerang Robin, Delvin dan Talita.
Mereka bertiga terlempar ke udara. Delvin jatuh menimpa batu, Robin terbentur pohon besar, sedangkan Talita dadanya terkena kibasan ekor ular, Talita mengeluarkan darah segar.
"Ratu dengan cara halus kami tidak dapat maafmu, sekarang maafkan aku. Terpaksa aku harus melawanmu." Talita memejamkan matanya, dia mengeluarkan semua energi yang ada dalam tubuhnya.
Tubuh Talita mengeluarkan cahaya, Talita merentangkan kedua tangannya dan melayang di udara, di balik punggungnya keluar sayap dan sayap itu mengepak, semakin lama kepakan sayapnya semakin kencang membuat hembusan angin yang sangat kuat. Kuntilanak, Genderuwo, Pocong, Tuyul, Sundel bolong, hantu gentayangan dan pasukan Jin yang mengepung mereka berterbangan seperti debu, Talita semakin di luar kendali. Sayap Talita membuat putaran angin tornado, bumi bergetar, pohon-pohon terangkat menampakkan akarnya. Ratu ular tidak dapat mengimbangi kekuatan Talita, dia masuk ke dalam pusaran angin bersama anak buahnya.
"Gawat, Delvin cuman kamu yang bisa mengendalikan emosi Talita. Cepat lakukan sesuatu, kalo terlambat Bumi Perkemahan akan rata!" Teriak Robin.
Delvin sekuat tenaga berjalan melawan arus angin, dia berpegangan pada akar pohon yang terangkat.
"Talita, Talitaaaaa!" Delvin berteriak.
Talita tidak peduli, Talita dalam kemarahan.
"Talita sadar, ini bukan dirimu. Talitaaaaaa!" Delvin memancing Talita. Talita menatap kearah Delvin.
"Talitaaaaaa, aku benci kamuuuuuu!"
__ADS_1
Talita terbang ke arah Delvin. Delvin meloncat memeluk Talita. Mereka melayang di atas tanah.
"Talita sadar!" Delvin menatap Talita yang pandangannya kosong.
Perlahan Delvin mendekatkan wajahnya ke wajah Talita. Delvin mengecup bibir Talita. Delvin kembali menatap lembut Talita. Talita terdiam. Perlahan Delvin memiringkan kepala dan mencium bibir Talita, menariknya semakin dalam, semakin dalam, Talita merespon dan memejamkan matanya, Talita membalas ciuman Delvin, mereka terhanyut dalam manisnya ciuman. Perlahan angin besar yang hampir memporak porandakan Bumi Perkemahan kembali tenang. Pohon-pohon yang hampir tercabut dari akarnya kembali berdiri di tanah. Ratu ular beserta pasukan hantu dan Jinnya berserakan di tanah. Beruntung teman-teman mereka yang tadi kesurupan tidak terkena amukan tornado Talita.
Delvin dan Talita tersadar. Dengan nafas yang masih belum beraturan. Mereka berpandangan. Mereka malu-malu melepaskan pelukan.
"AAAGGHHH!" Talita memegang dadanya.
"Kamu terluka?" Delvin menahan tubuh Talita yang hendak jatuh.
"Iya." Talita menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Delvin.
SSSSS! SSSSS! Suara desisan ular.
Delvin dan Talita waspada.
"Berhenti Ratu! Apa yang ingin kamu lakukan!" Robin berdiri di depan Talita dan Delvin.
"Maafkan aku anak muda. Aku salah. Aku kalah." Ratu ular menunduk hormat kepada Talita, diikuti semua makhluk astral lainnya.
"Kalian semua yang di sana, kemari dan minta maaflah kepada mereka pemilik tempat ini. Karena kalian telah berbuat banyak dosa di sini!" Perintah Robin.
Siswa Siswi yang ada lima pasangan tersebut berlutut sambil mengatupkan tangannya memohon ampun kepada Ratu ular dan pasukannya.
"Maafkan kami Ratu." Delvin juga meminta maaf.
"Anak muda, ijinkan aku mengobati luka dalammu." Ratu ular mendekati Talita yang berada di dalam pangkuan Delvin, dihirupnya racun yang ada di dalam tubuh Talita.
Talita batuk mengeluarkan darah. "Terima kasih atas kebaikanmu Ratu. Maafkan aku telah menyerangmu."
"Aku ingin menjadi pelindungmu. Jika terjadi sesuatu, kami semua siap melindungimu. Panggil Ratu namaku." Ratu ular menyentuh kening Talita, tanda merah masuk ke dalam kening Talita.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi?" Ustad Hidayat datang terlambat, bersama para Guru dan Siswa-siswi SMA Nusantara yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Teman-teman kami telah berbuat dosa di tempat mereka Pak Ustad." Tunjuk Robin.
__ADS_1
"Maafkan mereka Ratu, kami akan menghukum mereka dan membersihkan tempat ini." Kata Ustad Hidayat.
"Doakan kami semua Pak Ustad, kami permisi." Ratu ular dan semua pasukannya pamit menghilang.
"Baiklah tolong semua yang ada di sini. Kita berdoa untuk mereka semua penghuni tempat ini. Berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Bagi yang beragama Islam ikuti saya." Ustad Hidayat memimpin doa bersama.
"Dan tolong kita bersihkan tempat ini, buang semua sampah yang berserakan. Dan untuk kalian yang telah berbuat dosa di sini dan pelajaran bagi semua yang hadir di sini, jangan pernah lagi melakukan hal yang tidak terpuji itu baik di sini maupun tempat lain. Karena kita hidup tidak sendiri. Ada makhluk tak kasat mata di samping kita. Beruntung mereka masih mau memaafkan kalian." Ustad Hidayat memberi petuah.
"Ayo semua kita bersihkan." Kepala Sekolah dan Para Guru memimpin Siswa-siswinya membersihkan tempat itu.
Botol minuman keras dan juga alat kontrasepsi ditemukan di lokasi itu.
"Kalian semua sungguh melakukan perbuatan yang tidak pantas di usia kalian. Pantas penunggu tempat ini murka dengan kalian!" Kepala Sekolah sangat marah.
Kelima pasangan Siswa-siswi itu tertunduk malu dan ketakutan, terlihat penyesalan yang dalam dari raut wajah mereka.
"Sabar Pak, biar kita bersihkan dulu tempat ini. Masalah hukuman bisa kita bicarakan nanti" Pak Ustad menenangkan.
"Talita kamu tidak apa Nak?" Alvan berjongkok melihat kondisi Talita.
Talita memegang dadanya yang sakit dan pandangannya gelap, Talita pingsan.
"Talita, Delvin biar Om yang bawa Talita. Kamu dan juga temanmu juga terluka. Ikut lah bersama kami." Alvan mengangkat tubuh Talita menuju mobilnya.
"Pah, Talita kenapa?" Arumi ikut berlari menuju mobil.
"Talita terluka, ayo Delvin, Robin masuk ke mobil. Kita ke rumah sakit." Alvan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Tibalah mereka di rumah sakit keluarga Arumi.
"Arumi ada apa sayang?" tanya Om Aaron.
"Talita Om." Tunjuk Arumi.
"Tolong langsung dibawa ke kamar VVIP." Perintah Dr. Aaron ke perawatnya.
"Mereka juga terluka Om." Alvan menunjuk Delvin dan Robin.
__ADS_1
"Baiklah, obati juga mereka." Kata Dr. Aaroon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...