
"Akhirnya kita selamat." Danish bernafas lega.
"Siapa mereka?" tanya Rani.
"Mereka Geng motor yang berasal dari Negara C. Entah kenapa mereka bisa ada di sini. Mereka terkenal sangat kejam." Danish melirik ke arah spion. Tampak kecanggungan antara Talita dan Delvin.
"Untung kita bisa lolos dari mereka, Talita bagaimana keadaanmu?" tanya Rani yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
"Hmmmm, aku mengalami shock." Kata Talita sambil memegang dadanya.
"Talita, maaf. Aku ingin melindungimu dan kita semua." Delvin menyadari sekarang Talita menghindarinya.
"Apa tidak ada cara lain?" Talita menahan degup jantung yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menarik energimu." Delvin menjelaskan.
"Talita, sekarang keadaanmu tidak aman. Karena darahmu sudah tercium Geng Tengkorak. Berhati-hatilah. Hanya Delvin yang bisa melindungimu. Sekolah lah di SMA Nusantara. Karena di sana kamu akan menemukan jawabannya." Danish menatap Talita dari balik spion.
"Tunggu, aku tidak mengerti. Bisakah di jelaskan kenapa darah Talita bisa memancing kedatangan Geng yang kamu bilang dari Negara yang sangat jauh dari kita." Rani dengan segudang keinginan tahuannya.
"Kalian pasti terkejut dengan penjelasanku. Yang pasti Talita adalah gadis pilihan. Tugas Delvin untuk melindunginya. Kami menanti kalian di sana." Ucapan Danish masih merupakan misteri bagi Talita dan juga Rani.
"Akan kami pertimbangkan sekolah di sana. Ngomong-ngomong banyak cogan gak di sana?" Rani mengedipkan matanya ke arah Danish.
"Ih, cowok mulu." Talita menepuk pundak Rani.
"Kamu lihat aja Delvin dan aku. Wajah kami mewakili siswa di sana." Danish tersenyum.
"Hmmm boleh juga. Talita yuukkk kita lepaskan predikat kejombloan kita disana." Rani semangat mengangkat ke dua tangannya.
Talita tersenyum melihat tingkah Rani.
"Eheemmmm. Kami juga jomblo. Masa gak dilirik." Danish melirik Rani.
"Masa sich kalian berdua gak laku?" Rani melongo.
Talita dan Delvin ketawa. Mereka saling pandang kemudian kembali diam.
"Hei girl, bukannya kami tidak laku. Tapi kami belum ketemu yang cocok." Danish cemberut.
"Kalian pasti cari gadis yang cantik, sexy, bohay, bahenol..." Rani nyerocos.
"Emang kamu pikir kami Om-om hidung belang apa. Kami itu cari cewek yang gak banyak nyerocos kayak kamu." Danish kesal
"Yaaahhhhh belum daftar sudah tereliminasi." Rani kecewa.
"Maksudnya?" Danish tidak mengerti.
__ADS_1
"Ya sudah kalo begitu, aku lelah mau tidur." Rani akhirnya menutup rapat mulutnya dan memejamkan mata.
"Ih ne cewe gak jelas maksudnya apa." Danish fokus ke jalan.
Delvin mengeluarkan ponsel dan memberikannya kepada Talita. "Tolong masukkan nomor ponselmu."
Talita mengambil ponsel dan mengetik angka di dalamnya, kemudian diserahkannya ke Delvin.
Delvin melakukan panggilan, ponsel Talita berdering. Talita mengeluarkan ponselnya.
"Simpan itu nomorku." Kata Delvin
"Ok." Talita menyimpan kontak Delvin dengan nama 'Pencuri'.
Sedangkan Delvin dengan muka yang berseri-seri menyimpan kontak Talita dengan nama 'My Queen'.
...----------------...
Akhirnya sudah satu bulan Talita dan Rani menjadi murid SMA Nusantara. MPLS pun sudah mereka lalui. Talita sejak pertama kali menginjakan kakinya di SMA menutup wajahnya menggunakan masker. Banyak yang beranggapan Talita menderita penyakit aneh, ada yang beranggapan Talita berwajah buruk. Banyak yang menjauh karena mendengar rumor tidak jelas. Tapi tidak dengan teman barunya yang bernama Dara dan Vida. Mereka sangat senang berteman dengan Talita dan juga Rani.
Mereka ber empat menuju kantin sekolah yang saat ini sangat padat karena memang sudah waktunya untuk makan siang. Kantin sekolah mereka berbeda dengan kantin sekolah lain. Di sini mereka bebas memilih menu prasmanan dan juga minuman.
"Makan apa kita girls?" tanya Vida.
"Gado-gado." Jawab Rani
"Gak ada tuh di menu." Dara mencari gado-gado.
"Oohhhh, benar juga." Vida ikutan ketawa.
Mereka seperti biasa mengambil posisi meja untuk makan dipojokan. Biar gak terganggu siswa yang lain.
Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Shintya salah satu idola di sekolah itu masuk ke dalam kantin. Banyak yang terpesona dengan Shintya. Kalo dilihat-lihat Shintya mempunyai wajah ya lumayanlah mendekati cantik, tapi entah kenapa setiap orang yang memandang seakan takluk hatinya. Shintya dilayani bagaikan putri. Semua yang dia mau akan dipenuhi. Apapun itu semua free.
Talita dan teman-teman sudah menikmati makan siang mereka. Talita kembali memakai maskernya.
Falisha muncul dihadapan Talita. Dia menunjuk kearah Shintya. Talita berbalik memperhatikan sosok yang ada di belakang Shintya. Sosok wanita berbaju putih, berambut panjang. Sosok itu menatap balik Talita. Merasa diperhatikan Shintya berjalan kearah Talita.
"Ada apa? Mau kenalan ya?" Shintya dengan kepercayaan dirinya.
"Oh tidak, kamu sudah terkenal. Aku cuman heran dengan makhluk yang dibelakangmu." Talita mengarahkan telunjuknya ke belakang Shintya.
"Makhluk?" Shintya berbalik mencari makhluk yang dimaksud Talita.
"Sudah jangan didengerin, gadis bermasker itu memang aneh, dia biasa bicara sendiri." Kata Tari teman SD Talita.
"Tari, kamu ingin lihat yang bersama Shintya saat ini?" Talita berdiri kemudian tangannya memegang pundak Tari.
__ADS_1
Mata Tari samar-samar melihat bayangan, lama-lama semakin jelas. "AAAAA! SETANNNNNN!" Tari berlari meninggalkan kantin.
"Setan, apa benar ada setan?"
"Masa siang-siang ada setan?"
"Kabuurr."
Suasana kantin menjadi kacau.
"Shintya jangan pernah terpengaruh bujukan setan." Talita berbisik.
"Apa maksudmu? Kamu iri ya dengan kecantikanku! Dasar gadis buruk rupa!" Shintya marah dan melepas masker Talita.
"Wawwwwww cantiknya." Para Cowok kaget melihat kecantikan Talita.
"Ternyata selama ini kecantikannya tersembunyi." Cewek-cewek juga mengagumi Talita.
Shintya terkejut melihat wajah cantik Talita. Dibandingkan dengan dia tidak ada apa-apanya.
"Shintya untuk terakhir kalinya, jangan dengarkan bujuk rayu setan. Dan kamu cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku hancurkan." Talita dan Falisha berpegangan tangan, cahaya keluar dari gelang Talisha.
"Tunggu, apa yang kau lakukan!" Shintya berusaha menghalang-halangi.
"Shintya sadar, kecantikan lahir dari hati. Bukan dari susuk. Itu semua hanya tipu daya setan. Mereka hanya ingin menjerumuskan. Setiap kali ada orang yang terpesona denganmu, menit itu juga energi baik dari dalam tubuhmu di tarik oleh mereka." Talita mencoba menyadarkan Shintya.
"Omong kosong!" Shintya makin marah.
"Apa selama ini kamu sering dihantui ketakutan? Karena di tubuhmu sudah tertanam energi negatif dan memancing energi negatif dari luar untuk masuk. Itulah sebabnya kamu sering kesurupan." Talita mendekati Shintya, dipegangnya pundaknya.
Shintya berbalik ke belakang, melihat dengan mata dan kepalanya sendiri wanita yang mengerikan yang ada dihadapannya sekarang.
"Si...si...apa kamu?" Shintya bergetar ketakutan.
"Aku adalah dirimu." Wanita itu tersenyum mengerikan.
"Om Gend, datanglah. Aku perlu bantuanmu." Talita Meminta bantuan.
Genderuwo tiba-tiba muncul dihadapan Talita. Dan menyeret pergi wanita berbaju putih mengerikan itu dari kantin sekolah mereka.
"Terima kasih." Ucap Talita.
"Talita tolong aku!" Shintya memohon.
"Ingat jangan pernah bermain dengan ilmu hitam, atau nyawamu yang jadi taruhan." Talita menyentuh pipi Shintya, seketika keluarlah dari wajahnya jarum-jarum kecil yang terbuat dari emas. Talita langsung memusnahkannya.
Shintya kembali dengan wajah aslinya yang tidak lagi memikat. Orang-orang yang memandangnya pun sekarang tidak seperti sebelumnya. Tapi semua itu membuat Shintya sadar.
__ADS_1
Tidak ada gunanya disukai semua orang tapi semua itu hanya kepalsuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...