Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Emosi Tiffany


__ADS_3

Delvin dan Talita terbangun, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang ada di depan mereka. Wanita itu begitu lama menatap Talita dan Delvin bergantian. Dengan bahagianya wanita itu memeluk Talita yang kebingungan.


"Anakku, setelah bertahun-tahun akhirnya kita bertemu." Wanita itu memeluk dan mencium pipi Talita.


"Ehhmmm, maaf Anda siapa?" Talita melepaskan pelukan wanita itu.


"Aku Mommy sayang, apa kamu lupa dengan Mommymu sendiri!" Wanita itu berubah marah.


Dia memecahkan gelas yang ada dihadapannya. CRAANNGGGG!


Delvin merasakan keanehan dengan wanita yang bersama mereka. Delvin perlahan mendekati Talita dan membisikkan sesuatu. Talita memandangi Delvin, Delvin memaksa Talita untuk melakukan yang dia pinta dan akhirnya Talita mengangguk.


"Mommy." Dengan terpaksa Talita memanggil wanita itu.


Tiffany kaget, dia berbalik memandang Talita. "Akhirnya, kamu mengenaliku. Anakku." Wanita itu kembali memeluk Talita.


Talita dengan terpaksa membalas pelukannya.


"Dan boy, ternyata kamu juga ada di sini. Kita bersama anak-anakku." Tiffany memeluk mereka berdua.


Talita baru menyadari apa yang dibisikkan Delvin benar adanya.


"Apa kabar Mom?" Delvin mencoba bermain.


"Baik sayang, maaf Mommy banyak pekerjaan baru sekarang bisa menemui kalian." Tiffany merasakan kebahagiaan.


"Ini dimana Mom?" tanya Delvin.


"Ini rumah kita sayang, maaf Mommy belum sempat menyiapkan kamar untuk kalian. Tunggu sebentar." Tiffani keluar dari ruangan kecil itu.


"Delvin, apa yang menyebabkan mental wanita ini terganggu? Apa karena kehilangan anak-anaknya?" Bisik Talita.


"Ikuti saja permainannya, hati-hati emosinya tidak stabil. Dia berbahaya." Delvin memberi peringatan kepada Talita.


"My dear kemarilah." Tiffany memanggil.


Talita dan Delvin keluar ruangan. Sebelum keluar ruangan itu Delvin sempat mengintip lewat jendela, ternyata rumah itu banyak pengawalnya, semua berpakaian serba hitam. Sulit untuk melarikan diri karena mereka memakai senjata.


"Hari ini Daddy kalian akan datang. Akhirnya kita semua berkumpul." Lagi-lagi Tiffany merasakan kebahagiaan semua itu terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Daddy?" tanya Talita.


"Iya, dulu kita hidup bahagia. Tapi setelah ada wanita penggoda Daddymu berubah." Tiffany mengambil pisau buah di atas meja dan melemparkannya ke arah depan, pisau itu tepat menancap di leher sebuah foto yang ada di dinding.


Delvin menahan tubuh Talita yang hampir ambruk. Foto itu adalah foto Mamahnya Talita yaitu Arumi. Pertanyaan-pertanyaan memenuhi isi kepala Talita. Siapa wanita yang terlihat cantik, kaya tapi terganggu kejiwaannya ini. Apakah musuh orang tuanya. Delvin dengan segala cara menenangkan Talita.


"Sayang, kalian pasti kangen dengan Daddy. Sebentar ya." Tiffany melakukan panggilan video.


"Tiffany, apa yang ..." Alvan melihat di belakang Tiffany ada Talita dan Delvin.


"Daddy, kami kangen. Kapan pulang?" Talita mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat.


"Daddy juga kangen, Tiffany kirimkan alamat aku akan pulang." Alvan mengerti isyarat Talita.

__ADS_1


"Baik honey, kami menunggu." Tiffany mengirimkan alamat dimana mereka berada.


Tiffany kegirangan, berputar-putar.


"Akhirnya dia akan datang, dia akan datang."


PROOKK! PROOKK!


Pengawal Tiffany masuk setelah mendengar kode dari Tiffany.


"Kurung mereka berdua!" Tiffany mencium-cium foto Alvan.


"Mommy, mau dibawa kemana kami?" tanya Delvin.


"Kalian berdua jangan nakal, Daddy dan Mommy akan menemui kalian." Tiffany meninggalkan mereka


Delvin dan Talita kembali dimasukkan ke dalam ruangan kecil. Mereka dikunci dari luar.


"Ponsel, Delvin cari ponsel." Talita mencari ponselnya.


"Ponselku gak ada." Kata Delvin.


"Akhirnya ketemu." Talita mengambil ponsel mininya di dalam saku celana.


"Kecil amat, ini berfungsi?" tanya Delvin.


"Iya, ini pemberian Grandpa." Talita menelpon Alvan.


"Pah, hati-hati wanita itu gila."


"Kami bisa mengatasi, Papah gak usah susul kami." Talita meyakinkan Alvan.


"Baiklah Nak, jaga diri kalian." Alvan menutup panggilan.


"Dia akan datang, dia akan datang." Tiffany di dalam kamarnya berdandan menunggu kedatangan Alvan.


Setengah jam berlalu, tidak ada tanda Alvan akan datang. Tiffany marah, melempar dan menghancurkan semua barang yang ada dihadapannya. CRAAANNGG! Cermin besar menjadi sasaran amukannya


"Kurang ajar, ingin bermain denganku!" Tiffany keluar dari kamarnya menuju ruangan Delvin dan Talita.


"Buka pintunya!" Tiffany memerintahkan pengawalnya membuka pintu.


KLIK! KREEEK!


"Kurang ajar, kemana mereka pergi. Cari mereka sampaiiiiii dapattttttt!" Tiffany dengan kemarahannya berteriak.


Matahari sudah mulai lelah, sore yang indah perlahan berubah menjadi gelap. Talita dan Delvin terus berlari meninggalkan rumah Tiffany yang ternyata tempatnya jauh dari jalan besar. Hanya pohon-pohon besar yang mereka lewati. Sesekali mereka berhenti sekedar melepas lelah dan menstabilkan nafas yang terengah-engah.


"Del...Vin, aku le...lah." Talita tak kuasa kakinya gemetar, terjatuh ke tanah.


"Baiklah kita istirahat dibalik pohon besar di sana." Delvin mengangkat tubuh Talita membawanya berlindung di bawah pohon besar.


Talita bersandar, sambil meluruskan kedua kakinya. Delvin dengan sabar memijit kaki kekasihnya.

__ADS_1


"Sssttt." Delvin meletakkan telunjuk diatas mulutnya, Delvin mengintip. Beberapa mobil melewati mereka, termasuk Avanza putih yang membawa mereka.


"Si...apa?" Talita menggerakkan pelan bibirnya.


"Anak buah wanita gila." Bisik Delvin.


Tiba-tiba Dari arah belakang Delvin, nampak sosok hitam, wajahnya tertutup rambut panjangnya melayang di udara memperhatikan mereka berdua. Talita memukul cepat bahu Delvin dan menunjuk ke arah belakang. Delvin berbalik dan melihat sesosok kuntilanak berbaju hitam, berkuku panjang, menyeringai ke arahnya.


"AAAAAAAA!" Delvin dan Talita berteriak.


Teriakan mereka terdengar Tiffany dan anak buahnya. Mereka keluar dari mobil dan mencari keberadaan mereka berdua.


"Hmmmm, bau harum tubuhmu memikatku, aku ingin menghisap darahmu." Kuntilanak mendekat.


DOR! DOR! DOR!


Tembakan Tiffany mengagetkan kuntilanak hitam. Matanya menatap tajam ke arah Tiffany.


"Jangan dekati anak-anakku!" Tiffany membabi buta menghujani kuntilanak dengan timah panasnya.


Meskipun tembakan itu tidak ada pengaruhnya hanya menembus tubuh kuntilanak hitam. Tapi berhasil membuat kuntilanak hitam menghilang.


"Kalian tidak apa-apa?" Tiffany mengkhawatirkan Talita dan Delvin.


Talita dan Delvin hanya menganggukkan kepala. Mereka sekarang mengerti Tiffany saat ini dalam mode setengah gila.


"KEMANA SAJA KALIAN, MAU JADI ANAK DURHAKA!" Tiffany berubah murka.


"Hei Tante gila, sudah cukup kami bermain denganmu." Talita mulai terpancing emosi.


"Hei berani kamu ya. Apa kamu tidak takut kalo ku arahkan pistol ini ke tubuhmu?" Tiffany mengarahkan pistol ke kaki Talita.


"Maaf Mom, maaf dia tidak sengaja." Delvin mencoba menenangkan Tiffany.


"Kamu, mengapa tidak mati di malam itu?" Tiffany mengingat sesuatu.


"Mati?" Talita dan Delvin berpandangan.


"Kamu!" Tiffany berbalik menunjuk pengawal yang ada di belakangnya. "Malam itu kenapa tidak kamu bunuh dia!"


"Maaf Bos, maksudnya apa?" tanya pengawal Tiffany.


"Dasar tidak berguna! DORRR!" Tiffany menembak pengawalnya.


"Dasar wanita gila!" Teman pengawal Tiffany yang ditembak mengarahkan pistol ke arah Tiffany.


DORRRR! Sayang, kalah cepat Tiffany terlebih dahulu menembaknya.


"Kalian semua yang di sini masih berani melawanku!" teriak Tiffany.


Semua pengawal hanya diam. Karena mereka tahu apa yang akan terjadi jika terjadi sesuatu kepada Tiffany. Nyawa keluarga mereka akan terancam. karena Ayah Tiffany sangat kejam, demi Tiffany rela melakukan apa saja.


"Dan kalian berdua, sekali lagi mencoba kabur. Ingat tubuh kalian akan dicincang habis dan dilemparkan ke kolam buaya. Ha...ha...ha." Tiffany mengarahkan pistolnya ke arah Talita dan Delvin.

__ADS_1


DORRR! DORRR!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2