
Arumi berada di lantai dua rumah Conan. Setelah Alvan, Darel dan Conan pergi mencari Delvin dan Talita, Arumi mendengar seseorang memanggil namanya. Perlahan dan pasti Arumi menaiki anak tangga, tepat di kamar kedua Arumi berhenti. Pintu kamar terbuka, cahaya terang bersinar, dibalik cahaya muncul seorang wanita yang pernah datang dalam mimpi Arumi.
"Anda orang yang ada dalam mimpi saya." Arumi terpesona dengan kecantikannya.
"Iya kita bertemu lagi. Nama saya Quella." Quella memperkenalkan diri.
"Siapakah Anda?" tanya Arumi.
"Aku Ibu kandung Delvin." Jawabnya.
"Ibu kandung Delvin?" Arumi memastikan apa yang didengarnya.
"Iya. Kamu pasti bertanya mengapa Delvin bisa memiliki Ibu sepertiku."
"Iya, bisakah saya mengetahuinya?"
"Aku adalah Ratu Bidadari. Dulu aku dan Daddy Delvin bertemu ketika aku terperangkap di dunia manusia. Saat itu aku belum bisa menggunakan kekuatanku. Aku masuk dalam mesin waktu, sayapku terluka. Manusia memandang aneh diriku. Untung Conan tidak seperti mereka, dia dengan tulus menolong dan mengobati lukaku. Kami menjalin hubungan dan akhirnya kami menikah. Tapi sayang, di dunia kami tidak menerima keberadaan manusia. Akhirnya setelah melahirkan Delvin, aku dipanggil Ratu pulang untuk menggantikannya. Aku harus menerima tawaran itu, agar aku dengan mudah bisa kembali ke dunia manusia untuk menemui Conan dan Delvin. Di sini aku tidak bisa berlama-lama menemui mereka, tapi aku selalu menjaga dan mengawasi mereka dari sana."
"Maaf apa Tuan Conan tidak memiliki pendamping di dunia ini?" Arumi memberanikan diri bertanya.
"Sejauh ini tidak, dia memilih setia." Quella tersenyum bahagia.
"Bolehkah saya bertanya, apakah Anda yang melindungi Talita ketika masih bayi?"
"Benar sekali. Keberadaan Talita sengaja aku tutupi untuk melindunginya. Itulah mengapa kalian tidak mengetahui anak kalian kembar. Aku juga yang memilih Ibu angkat untuk Talita, karena hatinya sama denganmu." Kata Quella.
"Ratu bolehkah saya mengetahui kejadian malam itu. Kenapa Talita bisa terpisah dengan kami?" Arumi mengharapkan jawaban yang selama ini misteri baginya.
"Seseorang sengaja ingin memisahkanmu dengan anakmu. Dia tidak ingin melihatmu bahagia. Dia berharap setelah kehilangan anak, kamu juga akan kehilangan suami. Tapi beruntung kamu mempunyai suami yang sayang dan setia."
"Siapakah yang ingin membuat sengsara hidupku Ratu?" Arumi tanda tanya.
"Coba ingat-ingat siapa orang yang sangat terobsesi dengan suamimu?" Ratu mencoba membuka ingatan Arumi.
Dan Arumi sudah punya jawaban satu nama dihatinya.
...----------------...
Delvin masih berusaha sejauh mungkin menghindari kejaran mobil Avanza putih di belakangnya. Di depannya ada mobil truk besar, Delvin menyalip namun tak disangka dari arah berlawanan ada mobil truk lain yang melintas, tabrakan hampir saja terjadi. Andai saja Delvin terlambat per sekian detik mungkin Delvin dan Talita hanya tinggal nama. Talita menahan rasa mual di perutnya. Saat ini Talita tidak sanggup membuka mata membayangkan dirinya diambang maut.
"Talita, maaf." Delvin berkata tanpa melihat Talita.
__ADS_1
Kali ini mereka berada di jalan padat penduduk. Avanza putih menghilang, Delvin bernafas lega. CR-V Delvin berjalan pelan.
"Delvin di depan ada yang jualan, menepi sebentar." Talita melihat anak jalanan yang menjajakan makanan ringan. Mereka mengingatkan Talita dengan Ade dan teman-temannya.
"Beli beli Kak, ada kacang, minuman, snack." Anak-anak itu menjajakan dagangannya.
Delvin menurunkan kaca mobilnya. Salah satu anak jalanan melemparkan sesuatu ke dalam mobil Delvin, kemudian dia dan teman-temannya kabur.
DUAARRRR!
Ledakan kecil terjadi, asap putih mengepul keluar dari dalam mobil. Delvin dan Talita terbatuk-batuk setelah menghirup udara yang keluar dari ledakan. Tak lama mereka berdua tidak sadarkan diri.
"Ini bagian kalian." Orang berbaju serba hitam memberikan sejumlah uang kepada anak-anak jalanan.
"Makasih Om, Kakak berdua yang di sana mati ya Om?" tanya salah satu anak jalanan.
"Mereka mau dihukum karena bandel. Kalian mau dihukum seperti mereka!" Orang itu melotot.
"Tidak Om, makasih ya Om." Anak itu dan teman-temannya berlari ketakutan.
"Ayo, bawa mereka!" Perintah pimpinan orang-orang berbaju hitam.
Orang-orang berbaju serba hitam itu menutup wajah mereka dengan slayer penutup wajah buff. Dan ada tanda silang putih di tengah buff yang mereka pakai.
Sementara itu, Conan, Darel, Alvan tiba di lokasi dimana terdapat mobil Delvin. Mereka memeriksa mobil tidak ada Delvin maupun Talita di dalamnya. Darel menemukan semacam petasan di kursi tengah mobil Delvin.
"Ini semacam gas yang mengandung obat bius. Siapa yang menghirup tidak sadarkan diri." Kata Darel.
Tidak jauh dari mereka bertiga, Alvan melihat seorang anak yang lagi jualan.
"Permisi Dek, sini mau beli minuman." Panggil Alvan ke anak jalanan yang lagi jualan.
"Mau beli apa Om?" tanyanya.
"Om mau beli semua." Tunjuk Alvan ke barang dagangannya.
"Yang benar Om?" Anak itu luar biasa senangnya.
"Iya, hmmm ngomong-ngomong yang punya mobil ini kemana ya?" Alvan celingak-celinguk.
"Ehhmm, tadi ada Om-om berbaju serba hitam, wajahnya gak keliatan karena ketutupan masker, kayak ninja gitu tapi mata dan kepalanya keliatan." Anak itu cerita sambil mengingat.
__ADS_1
"Terus?" Alvan menunggu kelanjutan cerita.
"Om itu menyuruh teman saya melemparkan sesuatu ke dalam mobilnya. Mobilnya meledak, Kakak yang ada di dalam mobil itu pingsan." Kata anak itu.
"Apa petasan ini yang dilempar teman kamu?" tanya Darel.
"Iya Om, ini yang dilempar teman saya." Tunjuknya.
"Dek, lihat gak Kakak yang ada di mobil dibawa kemana?" kali ini Conan yang bertanya.
"Ke arah sana Om, pakai mobil putih ada tulisan A V A N Z A." Anak itu mengeja.
"Om itu ada ngomong apa lagi?" tanya Alvan.
"Om itu bilang, Kakak yang ada di mobil mau dihukum karena bandel."
"Makasih ya Dek, sini Om borong semua dagangannya. Setelah ini langsung pulang ya." Alvan memberikan segepok uang kepada anak jalanan yang telah memberikan informasi.
"Maaf Om ini kebanyakan." Anak itu mengembalikan uang Alvan.
"Gak apa Dek, gunakan untuk keperluan kamu. Dan simpan baik-baik jangan sampai hilang." Alvan mengembalikan uangnya.
"Makasih banyak Om." Anak itu membungkus semua dagangannya memberikan kepada Alvan. Pulang ke rumah dengan muka yang berseri-seri.
BZZZZT! BZZZZT!
Alvan menerima panggilan dari David sahabatnya.
"Hallo David, apa kabar?"
"Kabar buruk Alvan. Tiffany menghilang, aku dengar dia ke Negara A. Tiffany mengirimkan surat perceraian kepadaku. Aku takut dia akan menggangu keluargamu." David dari seberang sana
"APA!" Alvan mulai merasa ada ancaman untuk keluarganya.
"Maaf Alvan, Tiffany ternyata selama ini masih belum bisa melupakanmu. Aku hanya dijadikan pelarian baginya, karena muka kita yang serupa tapi tak sama."
"Terima kasih David informasinya." Alvan mengakhiri panggilan.
"Ada apa Alvan?" Conan dan Darel bertanya.
"Gawat, kita berhadapan dengan orang gila!" Alvan geram.
__ADS_1
"Orang gila??" Conan dan Darel berpandangan, mereka masih belum mengerti situasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...