Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Amukan Tiffany


__ADS_3

DOR! DOR!


Tiffany mengarahkan pistolnya ke arah Talita dan Delvin.


Talita membuat perisai dari gelangnya, peluru itu terpental jatuh ke tanah.


"Kamu anak si penggoda. Kenapa kamu kembali. Seharusnya kamu matiiiiii!" Tiffany histeris.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu sangat menginginkan kematianku." Talita berdiri seakan menantang Tiffany.


"Karena kamu anak orang yang sudah mengambil kebahagiaanku." Tiffany menatap tajam ke arah Talita.


"Kebahagiaan apa?" Talita tidak mau kalah dia juga menatap wanita didepannya.


"Alvan, tunanganku, direbut wanita itu. Dia Ibumu, aku benci kamu!" Tiffany menembakkan pistolnya kembali tapi sayang pelurunya kosong. Tiffany dengan kuat melemparkan pistolnya dan tepat mengenai kening Delvin.


"Delvin." Talita melihat darah mengucur deras dari kening Delvin.


"Talita, tenang jangan terpancing!" Delvin menghalangi Talita yang ingin menyerang Tiffany.


Tiffany bertingkah aneh, dia melihat enam pengawalnya yang masih tersisa. Entah apa yang merasuki Tiffany, matanya memerah, Tiffany merentangkan kedua tangannya, JGEEEERRR! JGEEEERRR!


Satu persatu pengawal Tiffany tersamar petir. Mereka seperti tersengat arus listrik, kejang-kejang kemudian terkapar di tanah. Tiffany mengisap jiwa-jiwa para pengawalnya, jiwa yang penuh dengan kejahatan. Tidak ada lagi pergerakan, tidak terdengar lagi tarikan nafas. Mereka semua sudah tidak bernyawa. Tiffany tersenyum, wajahnya memerah, di atas kepalanya muncul dua tanduk kecil.


"Talita, gawat dia berubah menjadi devil. Aura kemarahan, kebenciannya begitu besar sehingga sifat manusianya hilang. Sekarang dia dikuasai oleh iblis." Delvin sambil menahan sakit di keningnya.


"Delvin, berisitirahatlah di sini." Talita membuat perisai untuk Delvin.


"Angel, jadi inilah dirimu." Tiffany sinis menatap Talita.


"Hei kau yang di sana, sadarlah. Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Talita.


"Aku hanya ingin cinta, tapi mengapa cinta tidak berpihak padaku." Suara Tiffany berubah menjadi berat, seolah ini bukan lagi dirinya.


"Aku mencintaimu Tiffany, tapi kamu tidak pernah membuka hatimu untukku." David tiba-tiba muncul bersama Alvan, Robert Ayahnya Tiffany, Conan dan Darel.


"Siapa kamu? Tiffany sudah mati. Sekarang hanya ada aku." Tiffany mengarahkan pandangan matanya ke Alvan.

__ADS_1


"Tiffany sadarlah, maafkan aku." Alvan melangkah maju.


"Tiffany, ini Papa. Sadar Nak. Maafkan Papa yang kurang memperhatikanmu. Papa sayang padamu." Robert mencoba menyadarkan Tiffany.


"Ha ha ha. Manusia memang pandai berdusta. Kamu manusia jahat yang selalu menyiksa orang kecil, anakmu sendiripun sering kau abaikan. Kau berikan dia kemewahan, kebebasan dan sekarang dia sudah menjadi iblis." Tiffany memukul wajah Robert, tamparan keras yang membuat Robert jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.


"Papa." David membalik tubuh Robert yang terjatuh, ada bekas tangan di wajahnya.


"Alvan kamu datang, lihat anak kita sudah besar. Yang satu mirip denganku dan yang satu mirip denganmu." Tiffany mendekati Alvan, sepersekian detik kemudian. "Dasar pria kurang ajar, kenapa kamu tidak pernah menerima cintaku. Kurang apa diriku!" Tiffany mencengkeram erat leher Alvan.


"Tiffany sadar!" Alvan berusaha melepaskan Tiffany.


WHOOOSSSHHH!


Pegangan Tiffany terlepas, Alvan memanfaatkan keadaan untuk menjauh dari Tiffany.


Tiffany terkena serangan jarak jauh Talita.


Tiffany terluka, dia bangkit dan berdiri, Tiffany menyerang Talita. Mereka melayang di udara, pertarungan tangan kosong, Talita dan Tiffany saling mendorong, mengadu kekuatan. Mata Tiffany mengeluarkan laser dan memotong sayap kanan Talita.


"AAAGGHHH!" Talita jatuh dan tergelincir di tanah.


"Alvan, cuma kamu yang bisa menenangkan. Penyakitnya sangat parah. Berpura-pura lah untuk saat ini kamu mencintainya." Kata Darel.


"David, aku minta persetujuanmu. Ini semua hanya sandiwara." Alvan dengan berat hati menerima usul Darel.


"Baiklah, aku ijinkan." David juga dengan berat hati mengiyakan.


"Tiffany, Tiffany maafkan aku. Selama ini aku meninggalkanmu." Alvan perlahan-lahan mendekati Tiffany.


"Aku sudah tidak mencintaimu, terlambat kau datang kemari untukku." Tiffany dengan kekuatan besar mendorong tubuh Alvan, kaki Alvan tertusuk ranting pohon besar.


"AAAGGHHHH!" Alvan berteriak.


Tiffany juga menyerang Conan dan Darel, dia tidak ingin membiarkan mereka melarikan diri.


"Tiffany, sayang ini aku." David memeluk Tiffany dari belakang.

__ADS_1


Tiffany terus saja berusaha melepaskan pelukan David. Tangan David kena cakaran, tapi David masih bisa menahannya.


"Tiffany sadar. Di dunia ini ada yang namanya cinta. Cinta tidak selalu untuk kita miliki. Kita juga berhak untuk dicintai. Cinta itu menerima dan juga pengorbanan. Aku mencintaimu dengan kekurangan dan kelebihanmu. Aku juga rela melepaskanmu asal kau menemukan kebahagiaanmu. Jika kau benar-benar mencintai Alvan, relakan dia, biarkan dia bahagia dengan keluarganya. Jika kau melepaskannya, Alvan bahkan keluarganya akan menyayangimu. Sayang kami semua mencintaimu. Untuk sekarang aku tidak akan melepaskanmu karena hanya aku yang akan membahagiakanmu." David berharap semua yang ia katakan akan meluluhkan hati Tiffany.


Tiffany merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kakinya lemas, Tiffany hampir jatuh tubuhnya ditahan David.


"Sayang apa kamu sekarang sudah sadar?" David melihat perubahan pada Tiffany, wajahnya tidak lagi berwarna merah, tanduk kecil di kepalanya menghilang.


"David, maafkan aku. Aku lelah." Tiffany merasakan sakit di kepalanya. Pandangannya gelap.


"Maaf semuanya, aku akan membawa Tiffany ke rumah sakit." David mengangkat Tiffany masuk ke dalam mobilnya.


"Alvan bagaimana kakimu?" Darel mencoba mencabut ranting pohon di kaki Alvan.


"Sangat sakit." Alvan meringis wajahnya menegang.


"Conan tolong bantu aku memapah Alvan." Darel dan Conan perlahan menuju mobil.


Tuan Robert sudah sadarkan diri, dia berbaring di kursi belakang. Talita punggungnya terluka, Delvin masih merasa pusing karena luka di keningnya. Alvan merasakan nyeri di kakinya. Conan dan Darel juga mendapatkan luka dalam.


"Bagaimana dengan mayat yang ada di sana?" tanya Conan.


"Kita tunggu sebentar, sewaktu dalam perjalanan aku sudah menelpon pihak Kepolisian." Kata Alvan.


"Pah, siapa sebenarnya Tiffany?" Talita mencari tahu kebenaran.


"Om Robert, apakah Anda mengetahui penyakit putri Anda?" Alvan melirik Robert dari arah spion.


"Aku mendengar dari David dia mengalami stres berat." Jawab Robert.


"Baiklah, Papah akan cerita. Tiffany, David dan Papah bersahabat. Kami dipertemukan dalam kegiatan kampus. Singkat cerita David menyukai Tiffany, tapi Tiffany menyukai Papah. Papah sama sekali hanya menganggap Tiffany sebagai sahabat. Tahun demi tahun berlalu, ternyata Tiffany mengalami delusi yang parah, ini disebabkan karena Tiffany mengalami trauma berkepanjangan dan itu cuman Om Robert yang bisa menjawabnya." Lagi-lagi Alvan melihat Robert dari kaca spion, karena saat ini Alvan tidak sanggup menggerakkan badannya.


"Tiffany mengalami Erotomania, yaitu gangguan kejiwaan yang menyebabkan pengidapnya memiliki pemikiran atau keyakinan yang kuat bahwa seseorang sedang jatuh cinta kepadanya, atau ia dan orang tersebut saling mencintai satu sama lain padahal kenyataannya tidak." Alvan menjelaskan.


"Sampai separah itu Pah? Talita lihat kebenciannya begitu besar terhadap Mamah. Dia menancapkan pisau ke foto Mamah." Talita masih begitu jelas teringat.


"Om Robert, sekarang waktunya Anda memperhatikan mental putri Anda." Ujar Alvan.

__ADS_1


Robert hanya bisa diam. Dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana tingkah laku Tiffany. Banyak pengawal Tiffany yang mengundurkan diri karena tidak sanggup dengan perubahan sikap Tiffany. Mereka mengatakan Tiffany wanita gila, tapi selama ini Robert tidak percaya, karena Robert hanya peduli dengan dunianya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2