
Liburan sekolah berakhir. Talita menempati kelas baru bersama Vida, Dara dan Rani.
"Gimana kakimu Ran?" Talita melihat Rani yang masuk sekolah menggunakan sandal.
"Infeksi kena paku berkarat. Masih bengkak." Rani duduk di kursinya.
"Kemarin waktu di rumah sakit sudah diobatin?" tanya Talita.
"Sudah." Jawab Rani.
"Hayyyy gaesssss." Vida dan Dara masuk ke dalam kelas.
"Yee senyum-senyum ada apaan?" Rani kepo.
"Di ruang kepala sekolah ada Cogan. Kayaknya anak baru." Kata Vida.
"Nah itu orangnya di depan pintu." Tunjuk Dara.
Talita, Dara dan Rani pandangan mata mereka mengarah ke pintu.
"Ya ampun gantengnya." Talita keceplosan dengan cepat dia menutup mulutnya.
"Talita kasih kesempatan para jomblo, loe kan udah ada Delvin." Rani menyikut lengan Talita.
"Iya iya." Talita menutup wajahnya dengan masker.
"Pagi anak-anak, ini ada teman baru. Silakan perkenalkan diri." Bu Wina berdiri di samping siswa baru.
"Pagi, nama saya Aydan. Semoga kita semua bisa berteman." Sapa Aydan.
"Welcome Bro." Sapa Budi dan teman-teman kelas XI.5.
"Silakan duduk di kursi belakang." Kata Bu Wina. "Karena hari ini hari pertama sekolah kalian diperbolehkan belajar sendiri di kelas. Jangan ribut." Bu Wina keluar dari kelas.
"Horeeeee jamkos."
"Hai, namaku Rani." Rani mengulurkan tangan.
"Halo, Aydan." Aydan menjabat tangan Rani.
"Aku Vida, dia Dara dan di sebelahmu Talita." Vida duduk di depan Aydan.
"Halo semua." Sapa Aydan.
"Pindahan mana Bro?" tanya Dara.
"Dari Kota M." Jawab Aydan.
"Jauh juga, di sini tinggal di mana?" tanya Vida.
"Di jalan Melati."
"Dekat dong dengan rumah Talita." Sahut Rani.
"Oh ya, kenapa pake masker kamu sakit?" Aydan menatap Talita.
"Oh tidak, lagi pengen aja." Jawab Talita.
"Talita, ayo keluar." Delvin tiba-tiba sudah ada di kelas Talita.
"Yuuukk aku duluan ya gaeessss." Talita bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas dengan Delvin.
"Siapa?" Aydan menunjuk Delvin.
__ADS_1
"Kekasihnya Talita, ngomong-ngomong kamu udah punya pacar?" tanya Rani.
"Baru ditinggalin." Muka Aydan berubah menjadi sedih.
Di taman sekolah, Delvin, Talita dan Danish duduk di kursi yang ada di sana.
"Talita, Papa sangat berterima kasih padamu." Danish menyerahkan kotak kecil berpita untuk Talita.
"Apa ini?" Talita menerima kotak itu.
"Dari pada penasaran buka aja." Kata Delvin.
Talita membuka kotak dan ternyata isinya Jam tangan couple.
"Wahhhhh edisi terbaru, ini tuk kamu." Talita memakai jam tangan dan jam tangan yang satu diberikannya kepada Delvin.
"Makasih Danish." Delvin juga memakai jam tangannya.
"Dan malam ini kalian berdua di undang ke rumah, Papa mengundang temannya yang baru pindah ke rumah. Sekalian kenalan dengan anaknya." Ajak Danish.
"Yang lain gak di ajak?" tanya Delvin.
"Ini acara Papa, gak enak." Danish mengangkat bahunya.
"Oke, kami akan datang. Daddy juga diundang?" tanya Delvin.
"Sudah pasti, Om Conan pasti diundang."
Tak terasa siang berganti dengan malam, mentari yang lelah digantikan tugasnya oleh rembulan. Alvan, Arumi dan Talita datang memenuhi undangan Alan. Begitu juga Darel dan Davina mereka tiba di kediaman Alan.
Delvin dan Conan sudah menunggu mereka dikediaman Alan.
Alan mengenalkan sahabatnya Haris dan keluarga kepada keluarga Alvan dan juga Darel.
"Em, kamu...?" Aydan mencoba mengingat.
"Aku Talita teman sekelasmu yang pake masker." Talita mengingatkan.
"Cantik." Aydan terpesona memandang Talta.
"Ehem, Gue Danish anak pemilik rumah ini, dan ini Delvin sepupu Gue." Danish merasa tidak suka dengan tatapan Aydan kepada Talita. Talita kan milik Alvan sepupunya.
"Halo, Danish, Delvin Gue Aydan." Aydan melambaikan tangannya.
"Mari Aydan silakan." Delvin mengajak Aydan ke ruang makan untuk makan malam.
Talita melihat Falisha dari kejauhan. Sudah sekian lama Falisha tidak menemuinya. Talita berlari menghampiri Falisha ke halaman rumah Danish.
"Falisha kemana saja, aku merindukanmu." Talita terharu melihat kembarannya.
"Talita, ada seseorang di sana yang sedari tadi melihat ke dalam rumah." Falisha menunjuk seorang gadis yang seumuran dengan Talita berwajah sendu dan sedih.
"Permisi, aku Talita. Apa yang membawamu ke sini?" Talita menghampiri.
Tapi gadis itu berbalik dan pergi dari hadapan Talita.
"Siapa gadis itu?" tanya Talita.
"Dia tidak seperti aku, dia hanyalah jiwa yang tidak bisa masuk ke dalam tubuhnya." Jawab Falisha.
"Talita." Panggil Delvin.
"Falisha, Falisha." Talita mencari Falisha yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
"Siapa Falisha?" tanya Delvin.
"Itu aku, ya sudah kita masuk ke dalam." Talita menarik tangan Delvin.
Selesai makan malam, para orang tua berbincang-bincang di ruang tamu. Sedangkan Danish, Delvin, Talita dan Aydan ke samping rumah ada sebuah taman kecil di sana. Mereka duduk ditemani bintang-bintang dan rembulan malam. Lagi-lagi Talita melihat gadis yang dia temui di depan rumah Danish. Gadis itu terus menatap seseorang di antara tiga Cowok yang bersama Talita saat ini. Talita penasaran.
"Delvin aku haus." Talita menatap ke arah si gadis. Di saat Delvin berdiri mengambilkan sekaleng minuman ringan gadis itu tetap memandangi seseorang.
"Aydan kamu dipanggil seseorang di sana?" tunjuk Talita.
Aydan menengok ke belakang, tapi tidak melihat siapa-siapa. Gadis itu mengangkat tinggi tangannya berharap Aydan melihatnya.
Delvin menyadari keanehan Talita, Delvin pun menengok ke arah belakang dan melihat seorang gadis berbaju hitam, menggunakan celana pensil, sepatu sneaker.
"Aydan apa kamu mempunyai teman gadis yang sangat dekat denganmu?" tanya Delvin.
"Yang sangat dekat, maksudmu pacar gitu?" Aydan mengerutkan dahinya.
"Iya." Jawab Delvin.
"Untuk sekarang tidak ada." Kata Aydan.
"Delvin, Loe mau ngenalin Aydan sama Cewek?" tanya Danish.
"Maaf Aydan, sedari tadi ada seorang gadis yang memperhatikanmu dari depan rumah, dan sekarang dia berada di samping pohon dekat lampu taman." Kata Talita.
Aydan menoleh ke belakang dan tidak melihat apa-apa.
"Maaf Gue gak percaya hal yang begituan." Aydan tersenyum.
Gadis itu berbalik meninggalkan taman. Talita berlari mengejarnya.
"Tunggu, mungkin aku bisa bantu." Talita terus mengejar.
Gadis itu terus berlari tanpa menghiraukan Talita.
Falisha tiba-tiba muncul dihadapannya dan menghentikan langkahnya.
"Aku sama sepertimu, tapi aku tidak bisa selama-lamanya kembali ke ragaku. Kami bisa membantumu untuk kembali ke ragamu." Falisha dengan tulus menatapnya.
Gadis itu menatap Falisha dan juga Talita. "Aku ingin kalian membawa Aydan ke tempat ku terbaring."
"Baiklah siapa namamu?" tanya Talita.
"Namaku Khanza." Jawabnya.
"Di mana tempatmu?" tanya Falisha.
"Tidak jauh dari sini. Aku akan mengantar kalian." Kata Khanza.
Talita mengambil ponselnya dan mengajak Delvin, Danish dan juga Aydan dengan alasan jalan-jalan. Setelah mendapatkan izin dari orang tua masing-masing mereka pun menuju tempat yang ingin dikunjungi Talita.
"Lho kita ke rumah sakit?" tanya Danish.
"Siapa yang sakit?" Delvin juga bertanya.
"Ikuti saja." Talita mengikuti Khanza yang berjalan di depannya.
Sampailah mereka di depan ruang ICU.
"Aydan, apa kamu mengenal orang yang terbaring di sana?" tanya Talita.
Aydan melihat dari kaca ruangan ICU, seseorang yang selama ini dia rindukan dan juga dia benci, terbaring dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Tapi setelah melihat keadaannya, Aydan kembali merasakan cinta. "Khanza."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...