
SMA Nusantara setiap tahun mengadakan acara satu hari bebas berekspresi. Jadi dalam satu hari Siswa dibebaskan tugas belajar, di hari itu Siswa bebas berkarya dan menyalurkan bakatnya seperti nyanyi, baca puisi, dance dan lain-lain.
Semua Siswa dikumpulkan di ruangan Aula sekolah. Karena hari ini pengurus sekolah akan hadir memberikan sambutan sekaligus memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi.
"Baiklah Siswa semua, hari ini kita kedatangan tamu kehormatan mereka adalah Pemilik Yayasan SMA Nusantara. Silakan Pak Arsal Alvan dan Ibu Arumi Mahreen waktu dan tempat kami persilahkan." Kata Kepala Sekolah
"Assalamualaikum, selamat pagi semua Siswa SMA Nusantara yang berbahagia. Perkenalkan saya Alvan dan Istri saya Arumi sebagai perwakilan dari Yayasan SMA Nusantara." Alvan memberikan sambutan.
"Waawwww tampannya, juga cantik. Pasangan yang serasi." Siswa berbisik.
"Eh Pak Alvan mukanya tidak asing ya." Kata Siswa yang lain.
"Iya ya, seperti familiar. Siapa ya?" Kata Siswa satunya.
"Hari ini kami sengaja hadir di sini untuk memberikan penghargaan kepada Siswa yang sudah berapa kali mengharumkan nama sekolah. Dan kami akan memberikan hadiah spesial bagi mereka." Alvan penuh semangat.
Tepuk tangan dan sorak sorai dari para Siswa memenuhi ruangan Aula.
"Baiklah saya akan memanggil Siswa yang berprestasi, Delvin Aldise, Talita Falisha." Arumi antusias.
Siswa kembali bertepuk tangan.
"Delvin, Delvin, Talita, Talita."
Delvin naik ke atas panggung Aula di ikuti Talita. Talita melepas maskernya.
"Ternyata Talita mirip dengan Pak Alvan." Kata Siswa.
"Iya benar. Mirip sekali." Kata yang lain.
Arumi merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Arumi kembali mengingat kejadian 16 tahun yang lalu dimana anaknya meninggal. Arumi memegang kepalanya.
"Bu Arumi, Ibu kenapa?" Talita memegang tangan Arumi.
"Sayang, kamu kenapa?" Alvan mengangkat tubuh Arumi dan berlari ke ruang UKS.
Delvin dan Talita mengikuti mereka.
"Anak-anak tenang, di harap tenang. Bu Arumi sedang tidak enak badan. Baik acara silakan dilanjutkan." Kepala Sekolah menyerahkan acara kepada panitia.
"Sayang, coba istirahat dulu sebentar." Alvan mendudukkan Arumi di sofa yang ada di ruang UKS.
"Bu silakan diminum ini air hangat." Talita menyerahkan gelas berisi air putih.
"Apa perlu saya panggil Dokter Bu?" tanya Delvin.
__ADS_1
"Tidak usah. Maaf Ibu merepotkan kalian. Pa coba lihat dia." Arumi memegang tangan Talita, dan kepalanya masuk dalam pelukan Alvan. Arumi menangis.
"Sayang, sabar." Alvan memeluk Arumi seolah merasakan apa yang dirasakan Arumi.
"Maaf Pak Alvan, Bu Arumi, ada apa dengan saya?" tanya Talita.
"Duduk lah Nak." Arumi memberikan isyarat kepada Talita untuk duduk di sampingnya.
"Kamu juga duduklah di sebelah Bapak." Alvan mempersilakan Delvin.
"Makasih Pak Alvan." Delvin duduk di sebelah Alvan.
"Apa kalian mau mendengarkan curhatan Ibu?" Arumi dengan mata sembabnya menatap Talita dan juga Delvin.
Kepala Sekolah yang khawatir dengan keadaan Arumi mengurungkan niatnya masuk ke ruangan UKS, karena ini sudah masuk privasi Arumi.
"Jika Bu Arumi tidak keberatan." Kata Delvin.
"Saya siap Bu." Jawab Arumi.
"Kejadian ini terjadi 16 tahun yang lalu. Saat itu Ibu mengelola rumah makan. Di perjalanan pulang Ibu berniat menunggu suami Ibu di taman dekat rumah makan punya Ibu. Tiba-tiba perut Ibu mulas, saat itu Ibu tengah mengandung sembilan bulan, seorang wanita menolong Ibu. Entah kenapa setelah itu Ibu tidak bisa mengingat kejadiannya. Setelah sadar Ibu sudah berada di ruangan operasi dengan anak kami yang sudah tidak bernyawa." Arumi menangis.
"Sayang, sabar dan ikhlaskan semua." Alvan memeluk Arumi.
"Setelah melihat mu Talita, ada sesuatu dalam hati Ibu yang tidak bisa Ibu jelaskan. Seolah Ibu melihat cerminan Pak Alvan di dalam dirimu." Arumi semakin menangis.
"Maaf Bu Arumi apa ada sesuatu yang mengingatkan Ibu dengan anak Ibu?" tanya Delvin.
"Dia mempunyai gelang berwarna putih berukiran Angel Wings. Setelah dia pergi gelang itupun ikut menghilang." Cerita Arumi.
Delvin dan Talita saling berpandangan.
"Apa Bu Arumi dan Pak Alvan memiliki anak kembar?" tanya Talita.
"Sewaktu Bapak menemukan Bu Arumi Bapak hanya melihat satu anak kami." Jawab Alvan.
"Tapi setelah anak kami pergi, Ibu selalu melihat anak Ibu dalam mimpi bermain dengan seorang anak perempuan muka mereka sangat mirip." Arumi kembali menatap Talita, dan Arumi tidak mampu membendung air matanya.
"Bu Arumi dan Pak Alvan, berkenankah Anda berdua saya undang ke rumah orang tua saya?" Talita menatap mereka berdua.
"Boleh tentu saja jika tidak merepotkan." Arumi senang.
"Baiklah jika kamu tidak keberatan, kabari orang tuamu di rumah biar mereka tidak kaget dengan kedatangan kami." Kata Alvan.
"Permisi dulu Pak, Bu. Saya mau nelpon mereka." Arumi menarik tangan Delvin keluar ruangan UKS.
__ADS_1
"Talita apa kamu merasa seperti apa yang aku pikirkan?" tanya Delvin.
"Delvin sebenarnya aku bukan anak kandung orang tuaku." Talita pertama kali jujur tentang identitasnya.
"APA! Jadi kemungkinan kamu?" Delvin terkejut.
"Itulah mengapa aku mengundang mereka ke rumah untuk bertemu dengan orang tuaku. Delvin aku mohon tolong rahasiakan semua ini. Aku takut ini hanya sebuah kebetulan." Talita memegang tangan Delvin
"Baiklah, maaf di saat ini aku memilih tidak ikut karena ini menyangkut keluargamu. Tapi setelah ini apa pun masalahmu, jadikan aku tempat bersandar bagimu." Delvin menguatkan Talita.
"Terima kasih Delvin. Entah kenapa semakin kenal denganmu aku merasa nyaman."
"Talita setelah semua masalah keluargamu selesai. Ada sebuah rahasia yang ingin aku ceritakan kepadamu."
"Apa itu?" Talita semakin penasaran.
"Selesaikan dulu urusan keluargamu. Sabar itu pahit tapi buahnya manis." Ujar Delvin.
...----------------...
"Assalamualaikum, Ma, Pa." Talita membuka pintu.
"Wa'alaikum salam, mari masuk." Alina dan Rafi mempersilakan tamunya masuk.
"Ma, Pa, kenalkan ini Bu Arumi, dan Pak Alvan." Talita mengenalkan mereka.
"Pa, wajah Talita sangat mirip dengan Pak Alvan." Kata Alina.
Rafi memperhatikan wajah Talita memang sangat mirip dengan Alvan. Apa jangan-jangan ini orang tua Talita Rafi bicara dalam hati.
"Maaf kami datang mendadak, cuman ini yang bisa kami bawa." Arumi memberikan buah tangan.
"Bu Arumi gak usah repot, ayo langsung aja ke ruang makan. Silakan dicicipi masakan kami yang ala kadarnya." Alina menyiapkan makan siang.
"Mari Pak Alvan, Bu Arumi silakan dinikmati, jangan sungkan." Rafi memulai makan.
"Wah masakan Bu Alina enak, saya sangat menikmatinya." Arumi merasa memakan masakannya sendiri. Alina sungguh pintar masak.
"Bu Arumi pintar memuji, masakan saya yang ala kadarnya ini dibandingkan masakan Ibu mungkin tidak ada apa-apanya." Kata Alina.
"Benar, masakan Bu Alina seperti masakan Istri saya. Rasanya seperti makan di rumah sendiri." Alvan juga sangat menikmatinya.
Talita sangat bahagia melihat kedekatan orang tua angkatnya dan orang tua kandungnya. Ah seandainya memang benar mereka orang tua kandungku, sungguh beruntung aku mempunyai orang tua yang baik seperti mereka.
Dari jauh Falisha tersenyum bahagia menatap Talita. Talita tak lama lagi kita akan berkumpul bersama. Tunggu lah sebentar lagi kau akan mengetahui kebenarannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...