Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Roh Anak Kecil


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat berlalu. Talita dan teman-teman sudah melewati Penilaian Akhir Tahun (PAT), dan mereka naik kelas XI. Begitupun Delvin dan teman-teman melanjutkan ke kelas XII. Dan liburan sekolah di mulai hari ini. Talita dan keluarga berencana liburan ke tempat Uncle Darel. Setelah Grandpa meninggal, Om Aaron dan Darel memutuskan meninggalkan Negara C dan tinggal di Negara A untuk menemani Arumi (yang masih bingung silakan baca novel saya sebelumnya yang berjudul 'KESAKITANKU' bab 21).


Darel menikah dan mempunyai dua orang anak. Setelah mengetahui Arumi menemukan anaknya, Darel mengundang mereka untuk ke kediamannya. Dan inilah kesempatan mereka untuk berkumpul dan mendekatkan diri dengan keluarga.


Alvan, Arumi dan Talita dalam perjalanan menuju rumah Darel.


"Pah, Mah, Uncle Darel orangnya seperti apa?" tanya Talita.


"Orangnya suka bercanda, tampan. Tapi masih tampanan Papah." Arumi menggoda suaminya.


"Ya jelas lah, gak ada yang ngalahin Papah." Alvan mengedipkan matanya lewat spion kepada Talita.


"Talita pengen punya pasangan seperti Papah aja deh yang gak ada duanya." Talita juga menggoda Alvan.


"Btw, Delvin belum nembak?" tanya Alvan.


"Mati dong kalo Talita ditembak." Sahut Talita.


"Ha ha ha, Papah lihat dia memang suka sama kamu sayang. Gimana Mah?" Alvan melirik Arumi.


"Hemmmm, kalo dilihat-lihat Delvin memang ganteng, gak kalah sama Papah. Perhatiannya juga Mamah acungin jempol. Tapi itu semua pilihan kamu sayang. Mamah dan Papah nurut aja kemauan kamu." Kata Arumi.


"Lihat entar deh. Pah Om Fariz istrinya sudah melahirkan?" tanya Talita.


"Kayaknya bulan depan, Papah baru telponan sama Om Fariz. Papah ngajak Om Fariz sama istrinya ke tempat Uncle. Tapi ya karena Om Fariz sekarang super sibuk terpaksa deh gak ikut."


"Gimana gak sibuk Pah, semua kerjaan Papah dikerjain sama Fariz. Trus Papah kerjanya apa?" Arumi mengejek Alvan.


"Papah kan kerjanya jaga Istri dan anak Papah. Nanti hilang lagi susah nyarinya. Gak mau lagi kehilangan kalian." Alvan cemberut.


"Iya deh." Arumi membelai pipi Alvan.


"Biar Talita yang jagain Papah." Talita memeluk Alvan dari belakang.


Mereka memasuki pekarangan rumah yang luas. Di samping rumah terdapat kolam ikan yang kecil dengan air mancur yang mungil tepat di tengah kolam. Di samping kiri dan kanan rumah tersusun rapi bunga-bunga indah. Harum wangi bunga bertebaran. Kupu-kupu pun hilir mudik berterbangan.


"Waww rumahnya sungguh indah." Talita keluar dari mobil.


"Hallo, kamu pasti Talita ya, mari sini." Darel memeluk Talita.


"Hmmmm hallo Uncle." Talita mencium punggung tangan Darel.


"Alhamdulillah akhirnya Uncle punya ponakan. Betapa sedihnya kami bila mengingat kejadian di masa lalu." Darel terharu.


"Alhamdulillah Bang Bro, Talita bersama kita." Arumi juga memeluk Darel.


"Hallo Mama Ar, hallo Papa Al." Panggil anak-anak Darel.

__ADS_1


"Hallo jagoan." Alvan memeluk anak-anak Darel.


"Talita ini kenalin adik-adik kamu. Yang pakai baju kuning Emil, yang pakai baju biru Emin." Darel mengenalkan anak-anaknya.


"Hallo twin boys." Sapa Talita.


"Hallo Kak." Jawab mereka.


"Berapa usia kalian?" tanya Talita.


"15 tahun." Jawab mereka.


"Cuman beda 2 tahun sama Kakak." Kata Talita.


"Ayo masuk dulu, Auntie nunggu kamu di dalam." Darel mengajak keluarganya masuk ke dalam rumah.


"Hallo Arumi, hallo Alvan, apa ini Talita?" Davina memeluk Talita.


"Hallo Auntie." Talita mencium punggung tangan Davina.


"Ayoooo kita ke belakang rumah, kita santai di sana. Papa lagi mancing." Davina mengajak seluruh keluarga menikmati pemandangan belakang rumah.


Dari dapur mereka menuju gazebo pinggir sungai kecil. Aroma ikan bakar menggugah selera.


"Hemmmm bikin laper." Arumi melihat satu-persatu ikan yang dibakar pelayan Davina.


"Oh ya, puas dong makannya." Arumi kegirangan.


"Ommmmm dapat ikannya?" Alvan duduk di samping Aaroon.


"Tuh sudah dibakar sama si Udin. Mancing di kolam sendiri udah pasti banyak ikannya." Aaron sambil ketawa.


"Silakan dinikmatin semuanya." Udin dan pelayan yang lain menjamu mereka.


Mereka dengan lahap menghabiskan semua yang ada di meja. Hanya tersisa tulang belulang ikan di atas piring saji.


"Hemm Talita, Uncle punya teman dia ingin mengenalkan anaknya kepadamu." Kata Darel.


"Oh ya. Dimana?" tanya Talita.


"Mereka sudah di depan pintu. Tunggu sebentar." Darel melihat seseorang datang menuju mereka.


"Maaf Darel, aku datang terlambat." Orang itu duduk di sebelah Darel.


"Oh iya semua kenalin ini temanku namanya Conan." Darel mengenalkan.


"Hallo saya Conan." Conan menyapa satu-satu semua yang ada di sana."

__ADS_1


"Halo juga." Mereka semua balas menyapa.


"Silakan Tuan dinikmatin." Udin dan para pelayan menyajikan hidangan untuk tamu.


"Maaf Darel, anakku ada keperluan jadi tidak sempat kemari." Bisik Conan.


"Gak pa pa masih ada lain waktu." Darel mempersilakan Conan makan.


Mereka asik dalam obrolan, tanpa mereka sadari Talita perlahan menjauh. Talita merasa takut jangan-jangan Uncle Darel mau menjodohkan Talita dengan anak temannya. Talita berusaha menghindar. Talita berjalan keluar rumah Darel.


Di sekitar perumahan Darel ada taman bermain, Talita melepas lelah di sana. Angin sepoi-sepoi membelai rambut kuncirnya. Dari sudut perosotan Talita melihat anak kecil yang sembunyi-sembunyi melihat kepadanya. Talita berbalik lagi-lagi anak itu sembunyi. Talita berdiri menjauh. Tanpa diketahui anak itu Talita mengendap-ngendap ke samping perosotan dan berdiri di belakangnya.


"Dorrrrrrr!" Talita sengaja mengejutkan anak itu. Anak kecil itu berbalik menghadap Talita.


"AAAAAAAAAA!" Talita berteriak kaget membalikkan badannya bersiap untuk berlari. Tapi seseorang menahan dan memeluknya.


"Talita, talita ada apa?" Orang itu ternyata Delvin.


"I...i... tu." Talita menunjuk ke belakangnya.


Delvin melihat anak laki-laki sekitar umur anak kelas 2 SD di belakang Talita. Dimukanya nampak bekas cakaran, darah segar mengalir, bajunya penuh dengan sobekan, tangan dan kakinya membiru.


"Dek, kamu kenapa?" Delvin bertanya dengan lemah lembut.


"Tolong." Ucapnya lirih.


"Talita berbaliklah, dia minta tolong." Delvin melepaskan pelukannya.


Talita berbalik, dan menatap anak itu.


"Maafkan Kakak Dek, Kakak bukannya takut padamu, tapi kaget melihat luka di tubuhmu." Talita sedih.


"To...long!" Anak itu berjalan.


"Talita ayo kita ikuti!" Delvin menarik tangan Talita.


Anak itu terus berjalan, di bawah teriknya mentari. Delvin dan Talita hampir kehilangan jejak, karena anak itu sebentar nampak sebentar hilang. Anak itu berhenti di sebuah rumah kecil, rumah yang terlihat tidak terawat. Kaca jendelanya pecah, daun pintunya rusak, bahkan atap rumahnya sebagian ada yang berlubang. Anak itu menghilang masuk ke dalam rumah.


"Delvin, apa kita perlu panggil bantuan?" Talita berbisik.


"Sebentar aku akan meminta tolong Daddy." Delvin mengambil foto dan video dari ponselnya dan mengirimkan ke ponsel Daddynya beserta lokasi mereka sekarang.


Delvin dan Talita mengintip dari dinding yang berlubang. Nampak anak-anak kecil duduk di lantai, tangan dan kaki mereka terikat.


Dan anak laki-laki yang baru saja mereka temui tadi berada di samping jendela, dia menunjuk seseorang yang berada di depannya. Delvin dan Talita melihat ke arah telunjuknya. Ternyata seseorang yang tergeletak di lantai itu adalah jasad dari anak laki-laki yang tadi bersama mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2