
Delvin dan Talita kembali mengintip ke dalam rumah. Terlihat seorang wanita cantik, yang kalo diperhatikan dari pakaian dan tas yang dipakainya termasuk orang berada. Duduk di atas kursi di depan anak-anak yang duduk di lantai dalam keadaan tangan dan kakinya terikat.
"Mana setoran kalian?" Wanita itu melotot ke arah anak-anak yang tidak berani menatap. Mereka semua menunduk, gemetar ketakutan.
"Sudah beberapa hari kalian tidak menghasilkan uang. Kalo begini terus aku bisa rugi. Sebentar lagi kalian akan aku kirim ke luar negeri!" Wanita itu terus melototkan matanya.
"Bos, bagaimana dengan anak itu?" Tunjuk seorang pria berotot besar ke mayat anak laki-laki.
"Seperti biasa, kubur di belakang!" Wanita itu berdiri mengeluarkan ponsel dalam tasnya dan bicara dengan seseorang.
Pria yang berwajah menakutkan mengangkat mayat anak laki-laki, hampir saja matanya melirik ke arah Delvin dan Talita yang bersembunyi di bawah jendela. Pria itu menuju ke belakang rumah. Mayat anak itu diletakkannya di tanah. Dia berbalik menuju gudang untuk mengambil sekop. Delvin dengan sigap mengunci gudang, pria itu marah dan dengan paksa membuka gudang dengan sekop.
Delvin dan Talita berlari ke depan rumah. Wanita yang di dalam rumah beserta dua anak buahnya menuju gudang untuk melihat apa yang terjadi.
Delvin dan Talita masuk ke dalam rumah, mereka memberi kode agar anak-anak diam tidak bersuara, dengan cepat Talita dan Delvin melepaskan ikatan di kaki dan di tangan delapan orang anak yang ada. Mereka semua dibawa keluar dari rumah. Bertepatan dengan Itu Conan, Alvan, Aaroon, Darel dan Petugas Polisi bersenjata tiba di lokasi.
"Pak Polisi, tolong di belakang rumah itu ada mayat anak laki-laki dan beberapa penculik." Kata Delvin.
Para Polisi segera memeriksa keseluruhan rumah.
"Apa yang terjadi?" tanya Conan kepada anak-anak kecil di depannya.
"Kami disuruh mencuri, dan minta-minta. Kami mau pulang." Salah seorang anak membuka suara dan menangis. Tangisannya menular ke anak-anak yang lain.
"Tenang, kami di sini akan menolong kalian." Alvan menenangkan.
__ADS_1
Roh anak yang tadi sempat ditemui Delvin dan Talita kembali datang. Dia memberi kode agar diikuti. Talita dan Delvin mengangguk mereka segera mengikuti anak itu. Tibalah mereka di sebuah pohon besar. Anak itu menunjuk ke tanah. Delvin menghampiri, memperhatikan apa ada sesuatu yang aneh di tanah. Talita juga mengais-ngais tanah dengan ranting pohon, ternyata ada tulang manusia.
Talita menjerit, "TOOOOOOLOOOONGGGGGGG!"
Conan, Alvan, Darel, Aaroon dan petugas Polisi bergegas menuju suara.
"Talita ada apa?" Alvan menenangkan Talita.
"Ada tengkorak Pah." Tunjuk Talita.
Petugas Polisi segera memeriksa.
"Di belakang rumah ini ada gudang Pak di sana saya lihat ada sekop." Kata Delvin.
"Terima kasih." Polisi masuk mengambil sekop dan menggali tanah di bawah pohon besar itu.
Wanita cantik, dan tiga orang pria berbadan besar berwajah preman ditangkap, ternyata mereka adalah buronan yang selama ini dicari kepolisian. Mereka adalah penculik anak, anak-anak kecil berusia 8 sampai 10 tahun itu diculik untuk dijual organ tubuhnya, bahkan anak-anak itu disuruh mencuri dan menjadi pengemis dijalanan. Kalau diantara mereka ada yang berontak dan melawan mereka akan disiksa sampai mati.
"Terima kasih, kalian berdua sudah membantu kami menangkap buronan. Bisakah nanti kami meminta waktunya ke kantor untuk dimintai keterangan?" tanya Pak Polisi kepada Delvin Talita.
"Kami bersedia Pak." Jawab mereka.
Anak-anak korban penculikan itu dibawa ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan dan informasi dan dikembalikan kepada keluarganya.
Alvan, Darel, Conan, Aaroon, Talita dan Delvin kembali ke rumah Darel.
__ADS_1
Di halaman depan rumah Darel anak kecil yang ditemui Talita dan Delvin tadi tersenyum menunggu mereka.
"Pah, Talita dan Delvin nanti menyusul ya. Sekarang roh anak laki-laki yang Talita temui tadi ada di sini." Bisik Talita.
"Baiklah, Papah duluan ya." Alvan meninggalkan mereka.
"Ada apa Dek?" Talita bertanya kepada anak itu. Kali ini penampilannya berbeda dari pertemuan pertama mereka. Wajahnya tidak ada lagi luka-luka begitu juga ditubuhnya. Mukanya bercahaya.
"Kakak berdua terima kasih. Berkat kalian kami semua telah diselamatkan." Anak itu membawa tiga orang temannya yang mayatnya ditemukan di bawah pohon besar.
"Sama-sama Dek." Delvin tersenyum memandang mereka.
"Namaku Ade Kak. Aku dijual ibu tiriku karena tidak bisa membayar hutang judi. Sedangkan ke tiga temanku mereka diambil dari jalanan, orang tua mereka membuang mereka, mereka tidak punya rumah, terpaksa tinggal dijalan. Tante dan tiga om itu membawa aku dan juga teman-teman ke rumah kecil. Di sana kami diperlakukan semau mereka. Kadang dikasih makan kadang tidak. Makanpun sedikit, kadang juga makanan basi. Air minum pun terkadang kami mengambil dari air hujan. Kami disuruh mencuri dan juga minta-minta. Teman-teman kami
waktu mengemis ada yang beruntung menemukan orang yang baik, mereka berhasil kembali ke keluarganya."
Ade memandangi teman-temannya, "Kami berempat mencuri makanan, makanan itu kami bagikan kepada teman-teman. Uang yang kami dapat dari hasil mengemis kami belikan ke makanan, itu juga demi mereka. Kami harus tetap hidup. Kami berempat juga membela dan melindungi teman-teman kami dari siksaan Tante dan juga Om jahat. Kakak pasti bertanya apa yang terjadi pada kami berempat? Kami berempat kabur Kak, karena tidak tahan tiap hari disiksa, kami meminta tolong kepada orang yang lewat tapi kami tidak dianggap. Akhirnya seperti inilah keadaan kami. Mereka bertiga duluan menghadap Ilahi. Setelah disiksa organ mereka dijual Kak." Muka Ade sedih melihat ketiga temannya.
"Teman-teman kami sekarang sudah dikembalikan ke keluarganya oleh Pak Polisi. Tapi tidak dengan kami. Kami anak-anak yang tidak diinginkan orang tua kami. Kami hanya ingin kisah kami didengar Kak. Dan mohon kirimkan doa untuk kami. Kami pamit Kak." Ade dan ketiga temannya tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Talita dan Delvin. Mereka berempat perlahan melayang naik ke atas cahaya yang menyinari mereka.
Talita dan Delvin tak dapat membendung lagi air mata mereka, mereka menangis bersama saling berpelukan. Kisah hidup Ade sangat menyentuh dan menyayat hati mereka.
Ade hanyalah satu dari beribu-ribu anak di luar sana, yang merasakan kerasnya kehidupan. Diusianya yang sangat muda dia dipaksa untuk menjadi dewasa. Dia dan ketiga temannya tidak ingin melihat teman-teman yang lain menderita. Mereka rela berkorban agar teman-teman bisa bertahan hidup karena mereka masih punya keluarga. Dari cerita Ade dapat diambil kesimpulan Ade dan ketiga temannya menginginkan keluarga yang menyayangi dan memperhatikannya. Itulah ketika mereka berkumpul di dalam atap yang sama, Ade dan ketiga temannya merasa mempunyai sebuah keluarga.
Semoga saja tidak ada lagi Ade-Ade yang lain di luar sana yang bernasib sama.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...