Game & Takdir

Game & Takdir
13. hari apa sih ini?


__ADS_3

"Ya ampun... Bisa-bisanya kamu terlambat di hari kedua ajaran baru" Yang bicara di depan ku adalah Riani Elfi.


Riani seorang guru BK di sekolah ku, dia juga masih kerabat jauh ku. Umurnya baru 24 tahun, tentunya Riani belum menikah.


"Ha... Meskipun aku kerabat mu, kamu tidak boleh seenaknya sendiri. Jadi, gimana ceritanya kamu bisa terlambat?" Tanya Riani.


"Aku kehabisan bensin, aku mendorong motor ku untuk mencari penjual bensin eceran dan ternyata tempatnya sangat jauh dari tempat aku kehabisan bensin"


"Ya-ya-ya, aku mendengar alesan tersebut sampai ratusan kali"


"Ratusan orang itu mungkin hanya lah alesan, tapi aku beneran kehabisan bensin tadi"


"Terserah lah ... Biasanya yang telat aku hukum untuk membersihkan kamar mandi. Tapi, karena kamu sepupu ku, bersihkan saja atap gedung ini sepulang sekolah nanti" kata Riani sambil mencatat keterlambatan ku dan hukuman Ku.


"Aku harus menyapunya? Kayaknya bakalan sia-sia saja sih, pasti akan ada debunya lagi" ucapan ku sambil bersandar di kursi.


"Terserah kamu mau menyapunya atau apa lah. Yang penting, di atap gedung ini tidak ada lagi sampahnya lagi ... Kemarin aku mengeceknya, banyak sampah yang berserakan kesana-kemari, kemungkinan saat liburan.


"ada beberapa siswa yang mengadakan pesta di atas gedung dan tidak bertanggung jawab atas sampahnya"


Aku keluar dari ruangan BK dan mengucapkan terimakasih. Aku berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke kelas ku.


Biar aku ceritakan kejadian sebelumnya. Aku bangun kesiangan dan tidak ada yang membangunkan ku.


Aku segera mandi dan berganti pakaian, saat aku mau menaiki motor ku, ternyata motor supra bapak sudah di pakek oleh adik ku.


Terpaksa aku memakai motor satunya, yaitu motor Vario. Tapi ternyata, motor Vario kehabisan bensin, kemungkinan adik ku memakai motor supra bapak karena dari kemarin motor Vario kehabisan bensin.


Aku tidak tau kemana uangnya untuk membeli bensin. Seingat ku, dia sudah di kasih uang untuk membeli bensin, tapi kenapa tidak di isi bensinnya.


Meskipun begitu, aku tidak bisa membenci adik ku. Seperti saat di tanya sama Riani tadi, aku tidak menyebutkan nama adik ku yang membuat aku terlambat.


Aku sampai di depan pintu kelas, aku membuka pintunya, dan guru yang mengajar melihat kearah ku begitu juga dengan teman sekelas.


"Eh... Kamu telat ya? Sudah bertemu dengan guru BK?" Tanya sih guru yang mengajar.


"Suadah pak dan aku juga sudah di beri hukuman, untuk membersihkan atap gedung sebelah setelah pulang sekolah"


"Ouh, bagus kalo gitu, jangan telat lagi ya, silakan duduk" kata guru pengajar.

__ADS_1


"Baik pak"


Aku berjalan menuju ke tempat duduk ku, yang berada di paling pojok kanan belakang.


"Sepulang sekolah, jangan lupa membersihkan atap gedung ya..." -guru pengajaran langsung berbalik badan- "oke, kita lanjutkan"


Aku baru duduk selama tiga puluh menit dan pelajaran dari guru tadi sudah selesai dan berganti jam pelajaran lain.


Saat Jedah waktu pergantian pelajaran, semua teman sekelas ku melihat ku sambil berbisik-bisik dengan teman sebelahnya.


Ya wajar sih yang kehadirannya di sekolah ini hanya sebagai bayang-bayang, malah sekarang telat masuk sekolah pada hari kedua ajaran baru. Doa ku terkabul sih jadi pusat perhatian, tapi Kalo begini caranya.


Alvina menghampiri ku "Riko... Kenapa kamu bisa telat? Biasanya kamu tidak pernah telat kan?" Tanya Alvina tepat di depanku.


Nih bocah... tidak bisa baca keadaan apa? Sial, semua orang berganti menatap dengan tatapan jijik.


"Ah... Aku ... Aku kesiangan bagun, jadinya telat deh, hehe"


"Emangnya bangun jam berapa? Kok sampai jam sembilan baru masuk kelas?" Alvina bertanya lagi.


Malah tanya lagi... Duduk saja sana duduk... Suasana kelas ini makin memanas, tau gak sih!


"Em..." -guru masuk kedalam kelas- "ah, guru sudah datang" Alvina kembali ketempat duduknya.


Saat Alvina kembali, aku melihat Billa sedang menatap ku dengan tatapan kebencian. Ya, tadinya gak kelihatan Billa, karena terhalang oleh Alvina.


Billa masih menatap ku, Kenapa dia masih menatap ku seperti itu? Apa yang salah dengan ku? Tunggu, kemarin seingat ku Billa berbicara dengan Alvina, apa mungkin Billa menatap ku seperti itu karena temanya yaitu Alvina mendekati ku.


Jam istirahat pertama telah tiba, aku ingin segera keluar dari kelas, karena suasananya masih terasah panas.


Saat aku sampai di depan pintu, Agong dan Ivan membuka pintu kelas ku.


"Riko, aku dengar kamu telat ya? Kenapa bisa telat?" Tanya Ivan.


"Bukannya itu Ivan?" Kata salah satu cewek yang lagi ngerumpi di belakang ku.


"Agong juga" kata temanya.


"Apakah mereka berdua temanya Riko? Ah, mana mungkin lah" kata salah satu temannya yang lain.

__ADS_1


Ya, aku tau itu, mana mungkin kita bertiga berteman, tapi kenyataannya, kami bertiga benar-benar berteman.


"Eh... Bisa pindah ketempat lain gak?" Tanya ku.


"Kenapa kita pindah? Disini saja" kata Agong.


"Dah-dah, pokoknya pindah, akan aku ceritakan semuanya kenapa aku bisa telat" kata ku sambil mendorong Agong dan Ivan.


Kami bertiga pergi ke paling ujung gedung, disini ada tempat penjualan mesin minuman dan tentunya sepi tidak ada orang selain kami bertiga.


Ivan membeli minuman "jadi, kenapa kamu bisa telat" pertanyaan dari Ivan.


Aku menceritakan sama seperti yang aku ceritakan ke Riani "dasar sih Fadil, bisa-bisanya dia seperti itu ... Jadi, mau kamu apakah Fadil nanti" Tebakan Ivan.


"Biarin saja lah, aku juga tidak emosi padanya" ucapan ku.


Bell masuk sudah berbunyi, kami bertiga pergi ke kelas masing-masing. Saat pembelajaran, entah kenapa aku merasa tenang kembali.


Dan sampai saatnya istirahat kedua atau istirahat makan siang. Alvina membawa bekalnya menuju ke tempat duduk ku.


"Riko, mau makan bersama ku?" Tanya Alvina.


Lagi-lagi, teman sekelas melihat kearah ku, bahkan orang-orang yang mau keluar kelas sampai berhenti.


"Terimakasih atas ajakan mu, tapi aku tidak pernah membawa bekal" -aku berdiri- "aku mau ke kantin bersama teman ku, maaf ya"


Aku berjalan perlahan menuju ke pintu, orang-orang yang melihat ku dan mereka langsung pada menyindir ku. Aku mendengar semuanya, tapi aku pura-pura tidak mendengar.


Aku sampai di depan pintu kelas dan langsung berbalik arah. Aku melihat Alvina, dia masih berdiri depan tempat duduk ku.


Hari kecil ku merasa kasian kepada Alvina. Sial-sial Kenapa kamu masih disitu?


Aku berjalan menghampiri Alvina lagi, aku menepuk pundaknya "mau ke kantin dan memakan bekal mu di sana?"


Raut wajah Alvina menghilang dan seketika berubah menjadi wajah yang gembira.


"Oke, yuk ke kantin!" kata Alvina, dia berjalan duluan.


Ha... Hari apa sih ini? Oh ya, hari Selasa.

__ADS_1


__ADS_2