
Perjalanan tiga hari tiga malam. Ya... bukan berjalan sih, aku terbang menaiki Rui. Akhirnya aku sampai di kota Uyti.
Kota Uyti adalah kota perbatasan dengan negara R-Iz. Tak ku sangka ternyata kota ini lumayan besar dari pada kota Efar. Padahal, kota ini bisa di bilang jauh dari ibukota negara.
Kami bertiga masuk kedalam kota dan berjalan menuju pagar perbatasan. Sesampainya di sana, aku bertanya ke salah satu penjaga.
"Maaf, apakah aku boleh lewat?"
"Hem, kalian ini siapa?" Pertanyaan penjaga itu.
"Kami hanyalah seorang petualang, yang ingin pergi ke negara R-Iz" ucapan ku.
"Oh... Gitu, kalian boleh lewat, tapi kalian harus membayar uang pajak penyebrangan"
"Kalo boleh tau, berapa ya?"
"Emm, 120 koin emas"
Aku, Alvina, dan Rui. Seketika berubah menjadi batu untuk waktu yang lumayan lama.
"Apa-apaan itu, kenapa bisa semahal itu!?" Teriakkan ku saat berada di tempat makan.
"Ha... Tapi ngomong-ngomong, kenapa kita harus ke kota itu segala? Dari kemarin aku ingin tanya saat masih di desa Detrap, tapi aku diam aja" pertanyaan Rui yang bikin nambah beban pikiran.
"Eh... Kan sudah aku bilang, aku dan Alvina adalah seorang petualang, jadi kayak kita sudah puas dengan negara ini, karena itu kita baru berpetualangan di negara sebelah gitu"
"Lah terus, Kenapa kemarin kok kamu terheran-heran saat melihat peta?, Seperti baru pertama kali lihat peta itu saja gitu"
"Ya... Kalo itu sih, aku beneran baru tau struktur peta dunia ini, jadi tidak heran kan gitu?"
"Emangnya kamu tidak di ajarkan saat sekolah gitu?"
"Tidak, saat sekolah aku hanya di ajarkan bahasa dan matematika ... Emangnya kamu sekolah gitu?"
"Kalo sekolah sih enggak, tapi kita semua suku Naga di ajarkan tentang peta dunia. Kalo tidak, mana mungkin ada tradisi untuk keliling dunia dulu baru bisa kawin ... Emangnya kenapa gitu?"
"Tunggu, Kenapa kalian berdua ngomong harus di kasih kata 'gitu' saat di akhir kalimat? Emangnya perlu gitu?" Kata Alvina.
"Gak tau kenapa, lah lu sendiri juga ikut gitu" aku dan Rui berbicara bersamaan.
Kami bertiga nikmati makanya Sampai puas ... Jujur, rasanya enak banget memakan makanan yang ada rasa bumbunya , bukan rasa amis dan gosok dari ikan.
__ADS_1
Karena kami makan sampai puas dan akhirnya uang ku tinggal, tiga Koin perak, Tidak lebih dan juga tidak kurang.
"Ha... Sekarang saja uang kita tinggal tiga Koin perak. Gimana caranya untuk dapetin 120 koin emas?" Aku berbicara sambil berjalan-jalan di kota.
Kami mampir ke guild dan ingin mengambil satu quest untuk kebutuhan makan kami besok. Ya, untuk makan dan nyewa tempat tinggal.
Saat aku melihat daftar quest Aku agak terkejut, karena quest yang disediakan cuma quest yang mudah-mudah dan tentu saja hadiahnya sedikit-sedikit.
"Riko, kita ambil yang itu saja gimana?" Pertanyaan Alvina sambil menunjuk salah satu quest.
Quest yang di tunjuk Alvina adalah, quest untuk mengumpulkan daging dari monster pink worm.
"Eh? pink worm? Cacing yang berwarna pink gitu?" Pertanyaan ku.
"Entah? Tapi jadinya paling tinggi dari pada quest yang lainnya" kata Alvina.
"Hem... Gimana Rui? Kamu setuju?"
"Aku sih terserah, yang penting dapat uang untuk membeli makanan" pendapat Rui.
"Hem, otak kamu memang isinya cuma makan doang ya?"
Kami bertiga pun setuju, aku membawa kertas quest ke pelayan guild, untuk meminta persetujuan dan informasi tempat monster pink worm berada.
"Hem... Dari ukuran lubangnya sih, cacing ini lumayan besar juga ya?" Pertanyaan ku.
"Ya jelas lah, namanya juga monster ... Jadi, sekarang gimana caranya untuk memburuh monster nya?" Perkataan Rui.
Aku pernah memunculkan cacing dari tanah, bukan seperti chapter sebelumnya ya... Saat itu kan aku mencari cacing dari balik batu, tapi sekarang hanya hamparan tanah yang luas dan berlubang-lubang.
Dari ukuran lubangnya sih, cacing ini berukuran lima sampai enam meter. Kalo gitu, aku harus mengeluarkan banyak mana.
Aku tarik nafas dalam-dalam dan langsung berusaha fokus dan makin fokus untuk membuat.
"Woi, jadi gimana nih caranya untuk memancingnya cacingnya untuk keluar?" Pertanyaan Rui.
"Sabar Napa? Aku lagi fokus nih ... Nah, jadi hilang fokus ku"
Aku kembali fokus untuk membuat sabuk cuci pakaian atau masyarakat Indonesia di sebut dengan Renso.
Aku membuat sabuk cuci pakaian dengan sekalah lumayan banyak, kira-kira sampai sepuluh ember.
__ADS_1
"Eh? Iya, ember nya lupa!" Ucapan ku.
Aku pun membuat dua puluh ember dan langsung menaruhnya semuanya ke ember, tiap ember ada setengah sabunya.
"Woi, emangnya ini apaan?" Pertanyaan Rui.
"Alvina, kamu bisa elemen air kan? Tolong buatkan aku air dan isi kesemua ember" perkataan ku.
"Woi! Jawab dulu pertanyaan ku"
"Kamu diam saja dulu, nanti juga paham sendiri dan sambil aku jelaskan nanti" ucapan ku.
"Riko, aku cuma bisa membuat anak panah saja, aku tidak bisa membuat air yang biasa dan kalo sudah aku tembakan anak panahnya tidak bisa bertahan lama" perkataan Alvina.
"Hem... Gitu ya ... Oh ya, gimana kalo gini saja" aku terpikirkan satu ide.
Ide ku adalah, langsung buang saja sabunya ke tiap lubang yang ada. Lagi pula, sabun ku ini hanya bertahan selama dua menit.
Tak lama, aku merasakan ada getaran dari bawah tanah. Ini bukan gempa tanah, ini pasti berasal dari pink worm.
Dan benar saja, yang keluar adalah pink worm. Akan tetapi, kami bertiga terdiam menjadi batu lagi. Itu karena, pink worm yang keluar ukurannya lebih besar dari ukuran lubangnya dan ada banyak banget yang keluar.
Para pink worm melihat kami bertiga dan salah satu dari mereka menyerang kami. Alvina langsung menembak satu pink worm itu.
Pink worm itu langsung terbelah menjadi dua. Namun yang membuat aku heran adalah, ternyata Alvina sudah sangat kuat.
"Haha, bagus Alvina" Rui memeluk Alvina.
"Makasih Rui" -Alvina melihat ku- "kamu tidak memuji ku Riko?"
"Haha, iya-iya, kamu hebat Alvina" aku pun memujinya.
"Woi, caci itu sudah terbelah kan?" Pertanyaan Rui.
"Lah bisa di lihat kan itu sudah ter-"
Aku melihat kearah cacing yang telah terbelah itu. namun, cacing yang telah terbelah mulai sembuh dengan cepat.
setelah sudah sembuh, dua bagian yang telah terbelah mulai hidup dan menjadi dua cacing. Sial, cacing ini memiliki kemampuan pembelahan biner.
Pembelahan biner adalah Jenis reproduksi aseksual di mana sel induk membelah diri dan menghasilkan sel baru yang identik dengan induknya.
__ADS_1
"haha, kalo seperti ini mah ... gimana caranya untuk menang?"