Game & Takdir

Game & Takdir
50. perpisahan END


__ADS_3

"Dulu, organisasi mana yang menerbitkan buku novel mu?" Pertanyaan ku.


"Aku sudah lupa, sekeras apa pun aku berfikir, aku masih saja tidak ingat" kata mbak kunti.


"Tapi... Ada yang aneh ya" Kata Rin.


"Apa yang aneh?" Pertanyaan ku.


"Katanya kan, mbak kunti memiliki penyesalan, mbak kunti mati sebelum karya novelnya belum tamat. Iya kan?" Penjelasan dari Rin.


"Lah terus" kata ku.


"Seharusnya kan, mbak kunti sekarang sudah tidak memiliki penyesalan lagi. Tapi kenapa mbak kunti masih menjadi hantu? Bukannya seharusnya mbak kunti sudah tenang?"


"Lah iya" -aku menoleh ke mbak kunti- "kamu ... Sebenernya penyesalan mu bukan ini kan?"


"Ya... Sebenarnya sebagainya itu, tapi ... Aku hanya ingin melihat wajah penggemar ku yang kagum akan akan hasil karya ku di ending" kata mbak kunti.


Bisa di simpulkan, kalo karya yang baru saja kita selesai ini, sia-sia. Novel ini sudah ada seratus tahun yang lalu, jadi sudah pasti, semua penggemarnya juga sudah meninggal semua.


Ha... Pusing-pusing, aku saja sudah pusing dengan biaya untuk masuk ke kota Gramrut. Ditambah dengan ini, mau meledak rasanya ini kepala.


"Em... Gimana kalo kita modif saja ini cerita menjadi cerpen" Kata Rin.


"Heh? Lah iya, benar juga ... Tapi, mbak kunti" aku melihat mbak kunti.


"Eh? Kok pada melihat ku?" Kata mbak kunti.


"Kami ingin mendengar pendapat mu, bagaimana pendapat mu? Apakah kamu setuju dengan usulan Rin atau tidak?" Pertanyaan ku.


"Jadi cerpen ya... Ide yang bagus!" Kata mbak kunti dengan sangat semangat.


"Tapi masih ada Belum tentu ... Meskipun ini kita terbitkan dengan bentuk cerpen, apakah kamu nanti akan puas atau tidak, ini juga menentukan untuk membuat kamu tenang di alam sana" kata ku.


"Tidak papa kok ... Aku sudah sangat berterima kasih dengan mu telah membantu ku sejauh ini. Lagian, aku juga sudah sangat senang menjadi hantu ... Jadi, tidak masalah kalo ini tidak membuat ku akan tenang atau tidak nantinya"


Setelah itu, kami pun memodifikasi ending novel manji cerpen. Kami bergadang untuk melakukan ini.


Jam lima pagi, akhirnya kami selesai memodifikasi novelnya. Aku dan Rin sudah tidak memiliki tenaga lagi karena tidak makan sama sekali untuk selama memodifikasi dan kekurangan tidur juga.

__ADS_1


Aku menyuruh Alvina dan Rui untuk mencari informasi tentang penerbit buku, dah untungnya ada penerbit buku di kota Uyti.


Tanpa berbasa-basi, kami langsung menyerahkan cerpennya untuk di terbitkan menjadi buku.


Selama menuggu hasilnya, aku mengambil quest untuk mengumpulkan uang untuk penyerangan.


Tiga hari sudah berlalu, karya cerpennya akhirnya laku namun tidak begitu banyak yang beli. Selain itu, aku akhirnya sudah mengumpulkan uang yang cukup untuk penyebrangan.


Uang ku sekarang ada 200 koin emas, hanya membutuhkan 120 koin emas untuk penyerangan. Jadi, aku akan memiliki uang lebih sekitar delapan puluh koin emas.


"Rencana bagus tapi sayang, aku ... Aku masih menjadi hantu" kata mbak kunti dengan senyumannya.


"Maaf, aku telah gagal mewujudkan keinginan mu" kata ku.


"Tidak apa-apa kok, aku juga tidak mempermasalahkannya"


"Besok kamu akan pergi ya?" Pertanyaan dari Rin.


"Ya... Aku harus terus melakukan perjalananku, karena aku adalah seorang petualang"


Itu hanya alesan ku, sebenarnya aku hanya ingin cepat keluar dari game, aku sudah sangat rindu dengan dunia nyata, padahal aku ingin menghancurkan dunia nyata sih.


"Aku akan tetapi di kota ini kok dan aku juga akan di penginapan ini" kata Rin.


Aku dan mbak kunti terkejut mendengarnya. "Maksudnya kamu ... Kamu mau bersama ku selamanya?" Pertanyaan mbak kunti.


"Ya, kayaknya, aku suka pekerjaan menjadi seorang penulis. Jadi, kalo mbak kunti beneran seorang penulis novel yang terkenal pada masanya ... Kumohon, tolong bimbingan aku, jadikan aku juga seorang penulis yang terkenal" kata Rin dan langsung menundukkan kepalanya.


"Ya, akan aku bimbing kamu ... Mau bagaimana lagi ya... Kamu kan seorang pemula" mbak kunti tersenyum sangat lebar dan dai terlihat sangat senang dari sebelumnya.


Keesokan harinya, aku, Alvina, dan Rui. Meningkatkan penginapan. Kami bertiga pergi ke benteng perbatasan.


Aku membayar uang penyebrangan nya. Gerbang pun di buku dan kami bertiga berjalan masuk ke wilayah negara R-Iz.


Baru berjalan beberapa langkah, pengelihatan ku sudah ada hitungan waktu mundur. Aku melihat sekeliling, kota ini seperti kuburan menurut ku, sangat sepi dan bangunannya banyak yang sudah pada retak.


Kami bertiga berjalan lebih menengah lagi ke kota. Sama saja, tidak ada satu pun orang yang beraktivitas. Sebenarnya, apa yang telah terjadi di kota ini?


Aku memiliki firasat yang kurang baik kalo menyuruh Rin menetap di kota ini. Jadi, kalo begitu.

__ADS_1


"Rui, ambil semua uang ini" perkataan ku sambil menyerahkan delapan puluh koin emas yang aku miliki.


"Eh? Apa maksudnya ini?" Pertanyaan Rui.


"Aku dan Alvina, sebentar lagi akan kembali kedunia kita. Jadi, aku menyuruh mu untuk berkeliling negara R-Iz ini untuk menyimpulkan informasi"


"Baik lah, Aku akan mengumpulkan informasi dan aku akan menggangu mu" setelah mengucapkan ini, Rui pun pergi meninggalkan aku dan Alvina.


Waktu mundurnya sudah habis, aku dan Alvina pun mulai menghilang. Aku membuka mata ku dan tentunya aku berada di dalam tabung.


Saat Standar muncul, aku menyampaikan banyak keluhan utama Standar. Tapi, semua usulan ku sia-sia dan tidak didengarkan.


Untuk kali ini, Pertanyaan ku adalah "ada mahkluk apa saja yang kamu buat di game mu ini?"


"Hem, pertanyaan yang mudah, tapi panjang jawabannya" Kata Standar.


Standar pun menjawabnya, karena ini memang pertanyaan yang haru aku dia jawab sebagai hadiah.


Setelah semua selesai, aku pulang kerumah. Seriusan, aku sangat kangen sekali dengan rumah. Padahal di rumah hanya ada ibu dan Fadil.


Besoknya, aku pergi sekolah dengan biasa, tapi rasanya seperti telah liburan yang sangat panjang.


Aku pergi ke sekolah dengan Mita, tanpa aku sadari, ini sudah menjadi kebiasaan ku. Seandainya di sekolah aku merasa sangat rindu sekali dengan sekolahan.


Aku mengikuti pelajaran, meskipun otak ku hanya memikirkan tentang dunia dalam game. Sial, ini bisa bahaya kalo seperti ini terus.


Aku mengajak Alvina untuk pergi ke atap gedung. Aku harus membicarakan apa yang membuat aku mulai tidak aman.


"Alvina" panggilan ku.


"Apa Riko?" Kata Alvina dengan anda yang terdengar sangat imut.


Aku menceritakan semuanya keluhan ku kepada Alvina dan ternyata, Alvina juga merasakan hal yang sama dengan ku.


"Jadi, kita akan menaikkan gamenya bulan depan?" Perkataan Alvina.


"Ya, kayaknya itu akan jauh lebih bagus" perkataan ku.


"Baiklah ... Ini awal dari perjalanan kita ya"

__ADS_1


"Ya... Ini baru di mulai ... Bukan game over"


__ADS_2