
Saat aku membuka pintunya, aku di sambut oleh segerombolan Dark Elf. Aku dengan cepat membuat dua pistol dan aku arahkan kepada mereka.
"Riko! Mereka hanya penduduk desa!" Kata Rui.
"Tidak! Mereka juga menyerang ku saat aku melawan Tony" ucapan ku.
Salah satu dari mereka berjalan kedepan, kedua pistol ku langsung aku arahkan ke dia.
"Tolong jangan melawan kami, kami semua sudah sadar" ucapan Dark Elf yang maju kedepan.
"Sadar?" Aku tidak tau maksudnya.
"Ya, kamu semua sudah sadar, tidak di hipnotis lagi oleh Tony"
Oh... Jadi sebenarnya mereka cuma di hipnotis. Pantesan mereka semu menyerang ku kemarin.
Aku menurunkan pistol ku, karena sudah tidak ada lagi yang harus di waspadai.
"Jadi, apa tujuan kalian berkumpul kesini?" Pertanyaan ku.
Dark Elf yang maju itu, mengeluarkan kantung kecil "ini terima lah, ini mungkin tidak banyak, tapi cuma segini lah yang kami punya"
Aku menerimanya, saat aku pegang rasanya seperti sekumpulan uang. Aku langsung membukanya dan ternyata isinya, uang-uang koin emas.
"Eh? Ini maksudnya apaan?" Pertanyaan ku.
"Itu sebagai ucapan terima kasih dari kami, karena tuan telah mengalahkan Tony" kata perwakilan dari Dark Elf.
"Eh, tapi aku tidak membunuh Tony, dia hanya kabur dan ada kemungkinan kalo dia akan kembali lagi kesini"
"Itu saja sudah cukup, karena tuan berhasil membuat Tony kabur, kami semua pun terbebas dari hipnotisnya"
Aku sebenarnya sangat ingin mengambil uang-uang ini. Akan tetapi, bangunan-bangunan rumah di desa ini sudah pada hancur, hanya rumah kepala desa saja yang tidak hancur.
Kalo aku terima uangnya, pasti akan ada banyak korban jiwa karena kelaparan. Ini memang bukan urusan ku dan kemungkinan besar aku tidak akan ke desa ini lagi. Namun, dalam lubuk hati ku.
"Maaf pak, kami tetap tidak bisa menerima uangnya" -aku melempar kantung di tangan ku- "lebih baik itu gunakan saja untuk memulihkan desa"
__ADS_1
"Tuan yakin dengan ini, tapi gimana pendapat teman-teman tuan? Mereka pasti menginginkan uang ini"
"Alvina Rui, kalian tidak masalah kan, dengan keputusan ku ini?"
"Aduh... Jujur kita sebenarnya juga membutuhkan uang itu. Tapi kamu benar juga, mereka lah yang lebih membutuhkan uangnya" pendapat Rui.
"Iya, gak papa kok Riko ... Aku tau, keputusan Riko pasti selalu yang terbaik" pendapat Alvina.
"Terimakasih, Alvina Rui" -aku menoleh ke arah rombongan Dark Elf- "kalian mau memberikan kami hadiah kan?"
"I-iya, tapi hanya ini yang kami punya"
"Tidak, dari pada uang, kenapa kalian tidak memberikan saja sebuah informasi"
Aku pun mempertanyakan beberapa informasi yang aku butuhkan, tentunya ini ada hubungannya dengan misi dari game yang di berikan.
Kota Gramrut terletak di negara R-Iz. Negara ini untungnya negara tetangga. Sangat menyedihkan emang, tapi baru ini aku tau kalo saat ini aku berada di negara Houwer.
Meskipun negara tetangga, negara Houwer sendiri terbilang cukup luas, di benua T-yiu. Aku juga baru tau nama benua ini.
Karena para Dark Elf bercerita sampai nama benua, aku pun penasaran dengan benua-benua lainnya.
Sebenarnya aku juga punya fitur maps di penglihatan ku. Akan tetapi, aku tidak tau persis gambaran dunia di game ini. Daerah yang belum aku kunjungi, masih ditutupi oleh awan.
Di peta dunia game ini, ternyata memiliki tujuh benua. Benua T-yiu berada di pojok kanan bawah dan benua ini lumayan besar.
Benua Frikor, Pep, Assiss, Xizc, Qop-gen, D Are, dan T-yiu. Benua yang paling kecil adalah benua Pep dan yang paling besar adalah benua Qop-gen.
Meskipun benua Pep, berada di paling pojok kanan atas, atau tepat di atas benua T-yiu. Meskipun kecil dari benua yang lainnya, ini sudah sangat luas menurut ku, karena ada lumayan banyak negara di benua ini.
Benua yang paling kecil aja banyak negaranya, apa lagi dengan benua Qop-gen, aku sampai pusing melihatnya. Benua Qop-gen berada di tengah-tengah dunia.
Aku mulai agak pusing melihat petanya. Bukan karena tidak paham membaca peta, tapi aku sangat pusing memikirkan, dunia di game ini sangat luas sekali dan aku kayaknya baru tiga persen yang telah aku jelajahi.
Aku ingin membawa petanya, tapi para Dark Elf tidak boleh, karena mereka hanya memiliki satu peta ini saja.
Alhasil, aku mengeluarkan mana begitu banyak, aku membuat kamera, komputer, Kertas khusus seperti kertas uang kertas, dan mesin pencetak besar.
__ADS_1
Aku memotret petanya dan berusaha mengambil gambar yang sangat bagus. Setelah itu, ku Ungkapkan kameranya ke komputer dah baru aku cetak.
Aku mencetak petanya sampai sepuluh sekali. Ya, karena makin banyak, maka makin sedikit pula pulang rasa khawatir jika hilang.
"Terimakasih atas informasinya, selamat tinggal"ucapan ku.
"Eh, tunggu tuan Riko!" Kata seorang yang berani kedepan tadi, dia bernama Holi Dark Elf. Kayaknya percuma dah, ku beri tahu namanya.
Aku menoleh pun berhenti "iya, ada apa? Apakah kamu mu mencium Rui dulu untuk ciuman perpisahan"
"Woi! Kenapa kok cuma aku?" Perkataan Rui.
"Itu juga ingin sih, tapi takut di pukul" ucapan Holi.
"Kalo mau di pukul sini aku pukul, gak usah mencium ku segala"
"Hahaha ... Jadi, ada apa memberhentikan kami?" Pertanyaan ku.
"Terimalah ini" -dia memberi ku tiga dukungan kertas- "ini adalah jimat, ini hadis dari sang ahli buat jimat di desa ini"
Ahli apanya, mana ada jimat yang bisa berfungsi sungguhan. Ini kan cuma gulungan kertas, apa yang bisa di buat dengan gulungan kertas?
Aku tidak mau menyingung perasaan para Dark Elf dan aku juga tidak mau terjadi perdebatan ribet kalo aku menolak. Aku lagi males.
Aku menerimanya dan langsung lanjut berjalan lagi. Aku mengeluarkan satu kertas peta yang aku buat tadi dan sekarang aku simpan di inventori ku.
Negara R-Iz masih sangat-sangat jauh. Karena jauh, aku menyuruh Mita untuk berubah menjadi naga, dan terbang lewat jalur langit.
Saat sudah Sore, kami mendarat di dekat sungai, tapi api unggun kita agak lebih jauh dari pinggiran sungai. Aku tidak mau ada monster sungai, karena aku sudah belajar dari kasus sebelumnya.
Aku berburu rusa liar untuk jadi makan malam dan makanan pagi nanti. Jujur, berburu rusa liar ternyata sangat sulit dari kelihatannya.
Karena sangat sulit mengunakan sniper AWM, Aku pun mengambil jalan pintas. Aku membuat bom molotov dan aku lempar ke rusa liar.
Rusa liar terbakar dan itu membuat rusanya bergerak lebih agresif. Karena terlalu agresif, rusa liar itu makin lama makin tenang dan pada akhirnya tergeletak.
Aku membuka pemadam api ringan, langsung ku semprot kak ke badan rusa liar. Untuk mengecek apakah sudah mati beneran atau tidak, aku membuka rusa liar itu dengan AWM dari jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Dengan ini, pasti bisa dimakan" aku balik ke api unggun sambil menyeret rusa liar.