
"Tunggu-tunggu, kalo mati, semua ingat kita akan terhapus? Bahkan sampai lupa nama diri kita sendiri. Kalo tau seperti itu, kenapa kalian tidak berhenti saja bermain game itu"
Aku menceritakan semuanya yang sebenarnya, aku juga memberitahukan kalo aku sangat miskin didalam game dan resiko-resiko di dalam game. Aku berencana menakut-nakuti Billa biar tidak ikut bermain, karena aku tidak inggin Billa yang aku cintai berubah menjadi orang lain.
"Aku juga tau itu, tapi kami tidak akan berhenti memainkannya" ucapan ku, tapi sebenarnya, aku dan Alvina mau berhenti kemarin.
"Ha... Terserah lah, aku tidak jadi ikut main" Billa pun berdiri dan mengambil tasnya.
"Eh, Billa! Kenapa tidak jadi?" Pertanyaan Alvina sambil memegangi tangan Billa.
"Aku tadinya tidak sabar ingin bermain game bersama kamu Alvina, tapi setelah mendengar cerita Riko tadi, kayaknya itu tidak cocok bagi ku. Lagian, aku juga tidak pernah bermain game sebelumnya"
"Apakah kamu merasa akan menjadi beban? Gak papa kok Billa, aku juga sebenarnya beban dan Riko tidak masalah"
"Aku tidak berfikir sejauh itu, aku hanya takut kehilangan ingatan ku"
Yap, sama kalo gitu. Sebenarnya aku juga takut sewaktu-waktu aku mati di game dan kehilangan semua ingatanku ku.
Billa pun pulang dengan menaiki sepedanya, aku tiba-tiba ingin tau satu hal "Billa! Oi Billa!"
Billa pun berhenti, Aku langsung berlari menghampiri Billa, aku minta tolong padanya, untuk tidak memberitahu siapa pun tentang gamenya.
"Tenang saja, meskipun tidak kamu minta tolong, aku dari awal tidak memiliki niat untuk menceritakannya, kalo aku ceritakan aku mungkin akan dikira orang gila" ucapan Billa dan langsung pergi.
Aku menyusul Alvina ketempat Bangunan modern biasanya. Kami berdua masuk kedalam dan berjalan menuju keruangan kendali.
Seperti biasa Alvina memencet tombol. Yang sampai sekarang aku masih tidak tau apa bedanya dari semua tombol merah ini dan kombinasinya seperti apa.
Dua tabung pun keluar dari bawah, aku langsung masuk ke salah satu tabung. Setelah aku masuk Alvina juga masuk kedalam tabung.
Alvina melihat kearah ku dan aku jawaban dengan mengasihinya jempol. Game pun dimulai, rasanya seperti sebelumnya. Pikiran ku rasanya sedang di hisap dan ada rasa kehangatan.
__ADS_1
Aku membuka mata ku, ternyata aku sedang tiduran di atas rerumputan. Aku langsung bangun dan melihat sekeliling.
tak lama, ada tulisan di langit. Yap, itu adalah misi game. Tulisan itu tertulis.
"Pergi ke kota Gramrut. Sesampainya, jadilah orang biasa dan jangan ikut campur dengan apa yang kamu lihat" aku membaca tulisannya.
Aku langsung berdiri dan berjalan mencari Alvina. Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan sekitar dan ternyata seperti tidak ada yang berubah sama sekali dari sebelumnya.
Tembok desa Detrap ini masih terbuat dari kayu. Aku sampai di depan dinding gerbang desa Detrap.
Ada satu penjaga yang bertanya kepada ku sambil waspada "siapa kamu? Kenapa manusia biasa tau desa kami?"
"Tenang-tenang, aku kesini untuk... Oh ya, bertemu dengan Franci, bisa tolong panggilkan dia?" Aku meminta kepada sang penjaga gerbang.
"Sangat di sayangkan sih, dia sedang pergi keluar untuk berburu" -penjaga itu menatap ku dengan tatapan tajam- "apa tujuan mu mencari Franci dan dari mana kamu tau Franci.
"Eh? ya... Karena aku temanya Franci"
Aku pun menunggu di samping gerbang, saat aku melihat ke atas. Ada para Dark Elf yang seperti sedang berjaga-jaga.
aku menunggu sampai tiga jam lebih "ah... lama sekali. Lagian, aku harus menunggunya berapa lagi lagi?" aku berbicara sendiri.
Gerbang pun terbuka, yang keluar adalah Franci. Kalian tau, aku sangat senang dan juga merasa sangat lega.
"Ri-Riko ... Riko!" Teriakan Franci dan langsung memeluk ku.
"Iya-iya ini aku, bisa lepaskan pelukan mu, kamu sedang sangat berkeringat" perkataan ku.
Ada apa ini? Kenapa dia memeluk ku? Seolah-olah seperti sedang bertemu lagi dengan suaminya yang sudah lama merantau. Hem... Ini pasti ada maksud lain, firasat ku tidak enak.
Franci pun melepas pelukannya dan langsung menyuruh ku untuk masuk. Saat aku sudah masuk kedalam desa. Tidak ada satu pun rumah di sini, aku melihat sekumpulan warga desa melihat ku dengan tatapan kebencian.
__ADS_1
"Oke semua rekan-rekan ku! Tolong tenang dan dengarkan aku!" Teriakan Franci.
Apa yang telah terjadi di sini? Dan suasana apa ini? Seriusan, perasaan ku makin tidak enak.
"Dia adalah Riko, Riko adalah manusia yang pernah bertamu di sini" -Franci mengeluarkan pedangnya- "dia adalah orang yang membawa seekor naga itu dan langsung meninggalkan naga itu begitu saja!"
"Eh ... Eh? Seekor naga? Maksudnya Rui? Diman dia sekarang?" Pertanyaan ku.
Franci langsung berhadapan dengan ku "dengan kata lain ... Dia lah orang yang harus bertanggung jawab selama dua setengah tahun ini...!"
Franci dan para penduduk desa menyerang ku. Sebagai seorang pria, yang tidak boleh takut dengan apa pun, karena itu aku mengambil keputusan untuk ... Berlari sambil teriak histeris.
Gimana tidak, mereka ada sekitar 178 lebih Dark Elf yang menyerang ku. Mulai dari anak-anak sampai ke ibu-ibu.
Aku berlari keluar dari gerbang, namun sayangnya mereka masih terus mengejar ku. Berbagai serangan sihir dilakukan untuk menyerang ku.
Aku membuat perisai untuk menahan serangan sihir dan anak panah. Aku terus berlari sampai situasi membaik.
Setelah sepuluh kilometer aku berlari, para Dark Elf sudah tidak mengejar ku lagi. Nafas sulit sekali untuk di atur, tapi jantung ku berdetak sangat kencang seperti pembalap MotoGP.
"Sial, ada apa dengan mereka? Para ... Perasaan ... Haa! Perasaan sebelumnya mereka menyambut ku dengan senyuman dan rasa penasaran. Kenapa sekarang ... Sekarang ... Ahh! Pokoknya itu lah" aku berbicara sendiri dengan pernafasan belum begitu normal.
Aku menguatkan diri ku, untuk berjalan sedikit lagi menuju ke pepohonan. Setelah sampai, aku langsung tergeletak berbaring di bawah pohon.
Kalo dipikir-pikir, mereka marah seperti itu mungkin karena, rumah mereka yang sudah hilang. Tapi kok kenapa melampiaskan kemarahannya kepada ku? Emangnya aku salah ap-
"Oh ya Rui, kalo tidak salah, saat itu Franci berteriak yang isinya 'dia adalah seseorang yang membawa seekor naga itu' kurang lebih begitu lah" perkataan sambil terbangun.
Rumah hilang, warga marah kepada ku, karena telah membawa Rui ... Apa jangan-jangan ... Tidak, sudah bukan lagi jangan-jangan, melainkan sayur pecel. aduh... Perut ku jadi lapar.
Tapi sekarang dia ada di mana sekarang? Alvina pun sama, kenapa aku tidak bertemu dengan Alvina saat awal bermain game tadi, Sial firasat ku kembali tidak tenang lagi.
__ADS_1
Semoga mereka berdua baik-baik saja. Kalo tidak baik-baik saja, kemungkinan terbesar mereka berada di.