
"bagus kalo begitu ... Rin, tolong buatkan makanan untuk tamu kita" kata tuan Yoidi.
"Eh, tidak usah repot-repot tuan Yoidi, aku juga baru selesai makan tadi" ucapan ku.
"Oh, gitu ya ... Rin! Tidak jadi makanya, antar tamu kita ini menuju ke ladang gandum"
Eh? Eh... Gitu doang? Ya, aku juga tidak begitu lapar sih, tapi kok tidak ada paksaan ya? Kalo di paksa aku pasti akan makan.
Rin adalah anak tuan Yoidi, dia adalah cewek yang lagi bersih-bersih rumah tadi. Namun Rin, sudah memiliki seorang anak perempuan.
Mungkin kalian berfikir dari chapter sebelumnya, kalo tuan Yoidi menghamili anaknya sendiri. Tapi firasat ku, hal itu ... Mustahil terjadi.
Aku di antara ke ke ladang gandum milik tuan Yoidi. Dari yang aku lihat, kebunnya kecil mungkin cuma sepanjang 30-40 meter dan lebarnya sekitar 25 meter.
Kondisi gandum lumayan mengenaskan, karena telat di panen, banyak sekali burung-burung yang sudah memakan biji gandum.
Bukan hanya itu saja, beberapa gandum sudah pada kering. Ini mengakibatkan, banyak biji gandum yang sudah jatuh ketanah dan tidak biasa di ambil lagi, karena ada beberapa yang sudah mulai ada tuntasnya.
"Maaf tuan..." Kata Rin.
"Ah, Riko, salam kenal Rin!" Ucapan ku.
"Sama-sama tuan Riko"
"Panggil saja Riko, lagian kita juga seperti seumuran"
"Baik, Kalo gitu, saya pulang dulu, ya Riko"
Aku mengangguk dan Rin pun pergi pulang. Rumah tuan Yoidi dan ladangnya cuma berjarak sepuluh meter.
Tampa berlama-lama lagi, aku langsung bekerja memanen gandum. Biar pekerjaan ku lebih cepat, aku membuat gergaji untuk membantu ku lebih cepat.
Setelah tiga jam berlalu, aku akhir sudah menyelesaikan separuh dari luas ladangnya. Aku beristirahat dulu di pinggir ladang.
"Ha... Para petani hebat ya, mereka bisa bekerja langsung di bawah sinar matahari ... Panas, ingin minum es kelapa" aku berbicara sendiri.
Tak lama, Rin datang ke ladang, sambil membawa makanan dan minuman. Mungkin sudah waktunya istirahat, aku juga sudah lapar nih.
"Kerja bangus Riko, istirahat dulu yuk" kata Rin, Padahal aku sudah istirahat dari tadi.
Aku berjalan menghampiri Rin, Tampa malu-malu, aku langsung mengambil roti-
"Aduh" perkataan refleks ku, karena tangan ku di pukul oleh RIn.
__ADS_1
"Cuci tangan dulu sebelum makan" kata Rin.
Aku mencuci tangan ku mengunakan air minum yang di bawah Rin. Setelah itu, aku langsung mengambil satu roti.
"Ini sup-nya" kata Rin sambil memberi ku sup hangat di mangkok.
"Ehm-ehm. Makaci" mulut ku penuh dengan roti.
Setelah selesai makan, aku langsung berdiri tanpa lama lanjut berkerja. Masalahnya, matahari sudah menunjukkan kalo sudah jam tiga sore.
Tiga jam kemudian, akhirnya aku sudah selesai panen gandum. Akan tetapi, aku cuma selesai doang dan belum membawa karung-karung yang berisi gandum ini di bawah pulang.
"Ha... Kalo ada Rui, akan aku suruh dia untuk mengangkat ini semua ... Ah... Sedangkan diri mu Riko! Jangan biarkan padam api semangat ini!"
Satu jam kemudian, aku selesai memindahkan semua karung gandum ke rumah tuan Yoidi. Aku pun tergeletak di lantai dengan keringat sangat banyak seperti orang lagi mandi.
"Para Petani hebat ya... Mereka tidak hari bekerja sekeras ini. Tapi kalo di negara ku, para petani tidak pernah di hargai" aku berbicara sendiri.
Tiba-tiba tuan Yoidi menghampiri ku "kerja bagus Riko, berkata kamu, kami bisa tenang sekarang" kata tuan Yoidi.
Aku pun bangun "tidak-tidak, aku yang seharusnya yang berterima kasih kepada tuan Yoidi" perkataan ku.
"Loh, kok bisa gitu?"
"Hem... Aku tidak tau apa yang kamu maksud, tapi syukurlah kalo begitu ... Oh ya, untuk bayarannya, sudah aku serahkan ke guild"
Aku langsung melihat Inventori ku, untuk memeriksa kertas quest dan ternyata, kertas quest nya sudah hilang. Ini menandakan, kalo aku sudah selesai menyelesaikan quest.
Aku pun berdiri, inginnya aku mau cepat pulang ke penginapan di kota Uyti. Namun, hal tak terduga terjadi.
*Tok! tok! tok!*
Ketokan putu yang sangat cepat dan keras.
"Yoidi! Bukan pintunya!" Terikan seseorang.
Tuan Yoidi yang lagi bersama ku, langsung pergi kedepan pintu. Aku diam-diam mengikuti tuan Yoidi.
Tuan Yoidi membuka pintunya dan terdapat lima om-om atau bapak-bapak yang berdiri depan pintu.
"Maaf tuan-tuan, bisa kah besok saja?" Kata tuan Yoidi.
"Kenapa besok? Rin lagi tidak enak badan kah? Gak masalah! Yang penting bisa di nikmati" kata bapak-bapak yang di tengah.
__ADS_1
Pembicaraan ini terdengar sangat aneh. Rin? Di nikmati? Aku punya bayangan yang tidak baik.
"Bukan itu, sekarang aku lagi ada tamu" kata tuan Yoidi.
"Hah? Tahu? Emangnya kamu bisa punya tamu?"
"Hahaha!" Bapak-bapak itu pun tertawa bersamaan.
"Suruh pulang saja tamu mu. Bilang, lagi ada acara penting yang tidak boleh ada orang luar yang tau" Kata bapak-bapak yang di tengah.
Meskipun kamu bilang begitu, aku malah menjadi penasaran, apa yang sebenarnya yang akan kalian lakukan.
Tuan Yoidi pun pergi menuju kerah ku. Aku dengan cepat berpura-pura duduk lagi bersantai.
"Ano... Maaf Riko, aku tau kamu belum makan, tapi... Bisakah kamu pergi sekarang?" Tanya tuan Yoidi.
"Oh, lagi ada tamu ya? Kalo gitu, aku pergi dulu ya?" Ucapan ku dan langsung berdiri berjalan menuju ke pintu depan.
Para bapak yang berdiri di depan pintu masuk, mereka berlima melirik ku sambil tersenyum kepada ku. Aku cuek dan berjalan melewati mereka.
Saat aku sudah lumayan jauh dari rumah tuan Yoidi, aku melihat kebelakang dan para bapak itu pun masuk kedalam rumah tuan Yoidi.
Firasat ku tidak enak akan hal ini, aku pun diam-diam berjalan kembali kerumahnya tuan Yoidi.
Setelah sampai lagi di rumah tuan Yoidi, aku berjalan memutar rumahnya dan menyelinap masuk melewati jendela dapur.
Aku berjalan perlahan menuju sumber suara ramai-ramai yang berasal dari ruang kamar Rin.
"Kumohon berhenti sebentar ... Tidak! Di situ ... Di situ, tidak...!" Suara Rin.
Dari suaranya, aku membayangkan sesuatu yang jorok, pasti kalian juga membayangkan hal yang sama kan.
Aku sudah tidak kuat mendengar suara bapak-bapak yang tertawa-tawa, sedangkan Rin, berteriak terus menerus.
Aku pun mendobrak pintu kamar dan melihat kejadian yang tidak pantas untuk di-
"Eh?" Kata ku.
"Eh?" Kata semua orang yang ada di dalam kamar Rin.
Mereka semua melihat ku dengan wajah kebingungan. Sedangkan aku sendiri, malah jauh lebih kebingungan.
"Riko, apa yang sedang kamu lakukan?" Pertanyaan Rin.
__ADS_1
"Eh? Ya... Ngapain ya?" Aku malah kebingungan sendiri untuk bicara apa. Karena, yang mereka lakukan adalah.