
Agong dan Ivan berada didepan ku, mereka terlihat canggung untuk mengajak ku berbicara. Itu dikarenakan, Alvina sedang duduk di sampingku, melihat ku sambil tersenyum-senyum sendiri.
Aku melakukan gerakan isyarat kepada Agong dan Ivan, untuk meminta mereka menjauhkan ku dengan Alvina.
"Ri-Riko, maaf ya, kami balik ke kelas dulu" -Agong dan Ivan berdiri- "bay bay" Agong dan Ivan pergi.
Woi, kalian salah artikan isyarat ku woi! Ha... Gitu kah teman?
"Ah... Dah lah" -aku menyangga kepala ku dengan tangan kanan ku- "mau sampai kapan kamu melihat ku?"
"Eh, ketauan ya? Ehek" kata Alvina sambil menjulurkan lidahnya.
"Ha... Terserah lu dah"
Aku tetap di kantin sampai bell masuk berbunyi, setelah itu kami berdua pergi menuju kelas. Saat di pertengahan jalan, Billa berjalan cepat dan menyerempet ku.
"Aduh" ucapan refleks ku.
Billa berbalik badan dan berkata "Aduh, maaf ya gak sengaja, lagi buru-buru" sebelum berjalan lagi, matanya melirik ku, seperti dia memberikan suatu kode ancaman.
"Billa, tunggu... Bareng dong" kata Alvina dan lari menghampiri Billa.
Aku masih terdiam tak bergerak, tiba-tiba aku merasa merinding dan firasat ku tidak enak. Pertanda apa ini kawan.
Aku masuk ke kelas lewat lima menit, aku langsung di persilahkan duduk, namun saat berjalan melewati Billa, perasaan ku mulai tidak enak lagi.
Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke atap sekolah di gedung sebelah. Aku harus menjalankan hukumannya dengan baik, ini juga termasuk menghargai seseorang guru.
Sesampainya di atap gedung, benar saja, banyak benget sampah yang berserakan di mana-mana dan berbagai jenis sampah plastik bekas makanan ringan.
Berapa orang sih yang pesta di sini? Kalo banyak, setidaknya ada yang sadar dong, meskipun cuma satu orang.
Aku balik lagi untuk mengambil kantong sampah, aku lupa membawanya. Saat menuruni tangga, ada Alvina yang sedang naik.
"Mau apa kamu kesini?" pertanyaan ku
"aku mau me-" kata Alvina yang aku potong
"Gak usah jawab, palingan mau menemaniku kan?" Perkataan ku.
"Tetot... Salah! Makanya Jangan memotong pembicaraan orang ... Aku kesini mau membantu" kata Alvina sambil tersenyum.
"Hem, sama saja kan! Kalo gitu, tunggu aku saja di atap, aku mau mengambil kantong sampah dulu"
Aku langsung berjalan turun dan Alvina naik keatas. Setelah mengambil kantong sampah di kantor, aku langsung kembali lagi ke atap.
__ADS_1
Aku sudah sempai di atap gedung, terlihat sampah-sampah yang tadi berserakan, sudah terkumpul di satu titik.
"Kamu tidak perlu sampai segitunya membantu ku, yang dapat hukuman kan cuma aku" kata ku sambil berlari menghampiri Alvina.
"Tidak apa-apa kok Riko, aku bosan menunggu mu. Lagian, kenapa tadi kamu lama banget mengambil kantong sampahnya?" Tanya Alvina.
"Maaf-maaf, aku malas untuk menaiki anak tangga"
Aku mengambil satu-persatu sampah yang sudah di kumpulkan oleh Alvina langsung ku masukkan kedalam kantung sampah.
Setelah aku selesai memasukkan semua sampah, Alvina bertanya kepada ku.
"Nanti, kita main game lagi kan?"
Aku berdiri "kayaknya tidak"
"Kenapa? Riko tidak mau memainkannya lagi ya?"
"Bukan begitu, aku malahan sangat ingin bermain game itu lagi, tapi"
"Tapi?"
Alvina membungkukkan badannya sambil memiringkan kepalanya dan kedua tangan ke belakang.
Alvina kembali tegak "baiklah, kalo besok minggu gimana?"
"Oke minggu, jam sepuluh aku akan datang ke rumahmu"
Setelah pembicaraan kami tadi, Alvina langsung turun dan mau pulang duluan, karena sekarang sudah jam lima sore.
Aku masih di lingkungan sekolah, aku berjalan menuju ketempat pembakaran sampah di sekolah Ku.
Tempat pembakaran sampahnya sendiri, terletak agak jauh dari gedung-gedung utama sekolah. Selain itu, disini hampir tidak ada satupun orang atau, disini sangat sunyi.
Setelah membuang sampahnya, aku mau kembali ke kelas lagi, untuk mengambil tas ku yang masih di dalam kelas.
Lorong-lorong sekolah sudah lumayan gelap, sudah tidak ada siapapun disekolah. Tampa rasa takut, aku terus berjalan.
Sesampainya di kelas, masih ada Billa di sana. Seketika, perasaan tidak enak ku kembali lagi, tapi aku mencoba untuk bertanya ke Billa.
"Ke-kenapa kamu masih disini? Ini sudah jam setengah enam loh"
Aku berjalan kebelakang untuk mengambil tas di tempat duduk ku.
"Cuma ngerjain PR" kata Billa saat aku berada di sebelahnya.
__ADS_1
Aku pun berhenti "eh, emangnya ada PR?" -aku lanjut berjalan- "perasaan tidak ada deh, PR pelajaran apa?"
Aku membuka tas ku dan langsung mengambil salah satu buku catatan ku. Aku mengecek satu-persatu buku catatan ku, siapa tau aku lupa kalo ada PR.
"Em... Tidak ada nih" kata ku sambil berbalik badan.
Aku terkejut, ternyata Billa tiba-tiba di belakang ku. Bila tersenyum sambil menutup matanya dan seketika, Billa mengangkat alat kejut listrik. Dia menempelkan alat itu di leher ku dan aku pun jatuh pingsan.
Saat aku membuka mata ku, yang aku lihat adalah, hanyalah kegelapan. Rasanya kepala ku sedang ditutupi oleh kain.
Aku mau mengambil kainnya dari kepala ku, tapi kedua tangan ku sedang di ikat oleh tali. Aku mau bangun, tapi kedua kaki ku juga sedang di ikat.
Apa-apaan ini? Apa yang sedang terjadi pada diri ku? Penculikan kah? Tidak, seingat ku, Aku berada di kelas untuk mengambil tas ku dan di kelas masih ada.
Oh ya, Billa menyetrum ku sampai aku pingsan. Tunggu, mengapa Billa melakukan itu? Dan kalo saat ini juga Billa yang melakukannya, apa yang dia inginkan pada diri ku?
Aku mendengar suara langkah kaki, seketika kaitan itu diambil. Dan aku melihat orang yang mengambil kain itu ternyata, Billa.
"Oh... Sudah bangun ya, sejak kapan kamu bangun?" Kata Billa.
"Meskipun kamu bertanya seperti itu, mana aku tau! Sudah jam aku disini? Dan aku ini dimana?"
"Sudah jam sembilan malam dan kamu sekarang, berada di ruangan bawah tanah rumah ku"
"Eh? Eh...! Bi-Billa, bisa lepaskan ikatan ini? aku harus segera pulang"
"Tidak mau, kamu harus dihukum" kata Billa sambil memukul-mukul samsat tinju.
"Ah... Dihukum ya... Tunggu, emangnya aku salah apa harus di hukum? Telat tadi pagi kah? Tapi aku kan sudah diberi hukuman"
"Pura-pura tidak tau segala, aku tidak akan memberi tahu kesalahan mu"
"Kenapa coba? Kalo aku tidak di kasih tau, mana aku tau"
"Em... Coba kamu tebak dulu, kesalahan mu apa?"
"He... Mana aku tau lah ... lupa akan PR"
"Salah" Billa meninjau samsat tinju satu kali.
Aku terus mencoba mengasih jawaban apa pun yang terlintas di otak ku. Dan hasilnya, semua jawabannya salah.
"Dah lah aku menyerah, sudah tidak ada lagi yang terlintas pada otok ku"
"Ya ampun gitu aja nyerah" -raut wajah Billa berubah- "kesalahan kamu adalah..."
__ADS_1