Game & Takdir

Game & Takdir
29. Takdir ku yang malang


__ADS_3

Karena aku adalah seorang wibu, aku berani mendekati cewek yang duduk dimeja sebelah kanan ku. Aku samperin itu cewek dan aku pun, duduk di meja ku sendiri sambil pura-pura tidak lihat cewek itu.


Semua orang masih saja memperhatikan cewek di sebelah ku ini, tidak ada satu pun orang yang melihat ku. Bahkan, Agong dan Ivan saja melihat cewek ini.


Dah lah, ini lah takdir ku, aku adalah bayang-bayang. Tak lama pelajaran jam pertama pun di mulai, guru yang masuk kelas ku adalah, wali kelas ku.


"Oke anak-anak, tolong duduk dan kalian tolong kembali ke kelas kalian masing-masing" ucapan wali kelas ku.


Semua orang pada kembali ketempat duduk mereka masing-masing dan kembali ke kelas mereka.


"Mita, bisa kamu memperkenalkan diri kamu" kata wali kelas ku.


Mita pun berdiri dan berjalan menuju kedepan kelas, dia berbalik badan dengan sangat anggun.


"Salam kenal, nama ku Mita Astuti. Aku sebenarnya bersekolah di SMK swasta ZX dan sekarang pindah kesini, karena pekerja orang tua ku. Mulai saat ini, tolong bantuannya" perkenalan dari Mita sambil tersenyum sangat manis.


Setelah itu wali kelas ku berkata "Makasih Mita, sebenarnya tempat duduk disini diatur sesuai urut absen, tapi karena kamu baru disini, sementara tidak apa-apa kan, duduk dibelakang sendirian"


Sendirian? Woi, aku ada disini loh. Woi pak, bapak tidak lihat apa. Dah lah, ini lah yang aku maksud sebagai bayang-bayang.


Mita pun berjalan kembali duduk disebelah kanan ku. Enak ya... Dari pagi saja sudah jadi pusat perhatian, pasti dia akan mudah mendapatkan teman. Sial, rasanya aku ingin menangis meratapi takdir ku.


"Sambil menunggu ibu Jilyah, bapak absen dulu ya" ucapan wali kelas ku.


"ya pak!"


dua jam kemudian.


"Ini materi untuk yang pasti akan keluar di ulang, jadi tolong dicatat, kalo bisa ingat gak usah dicatat juga gak papa" perkataan Bu Jilyah.


"Hahaha" semua teman sekelas ku pada tertawa.


"Oke, bell istirahat sebentar lagi, sekian dari ibu, terima kasih" Bu Jilyah pun meninggalkan kelas.


Baru dua detik Bu Jilyah meninggalkan kelas, semua teman sekelas langsung kumpul di tempat duduknya Mita.

__ADS_1


Mereka semua berkumpul tak memperdulikan ku sama sekali, bahkan aku sampai dihimpit beberapa orang.


"Misi-misi, aku mau lewat" kata ku sambil berusaha keluar dari kerumunan.


Aku akhirnya bebas dari kerumunan. Sekali lagi, ini lah takdir ku. Mereka semua tidak melihat ku, padahal aku ada di sana tadi.


"Riko, gimana pendapat mu tentang Mita?" Perkataan seseorang dari sebelah ku dan ternyata yang berbicara adalah Alvina.


Aku melihat kearahnya dan mengasihi pendapat "Mita cewek yang sangat cantik dan sempurna menurut ku, dia juga terlihat sangat anggun dari berpakaian sampai tingkah lakunya. Kalo aku berpacaran dengannya, pasti akan berlipat ganda kebahagiaannya"


Alvina tampak mengembangkan kedua pipinya, seolah ada yang salah dengan perkataan ku tentang Mita.


"Eh, apa? Apakah ada yang salah dengan omongan ku?" Pertanyaan ku.


Alvina pun memalingkan kepalanya dan berkata "tidak ada, cuma agak menyebalkan saja mendengar perkataan mu tadi"


"Ha... Terserah kamu lah, aku mau pergi ke kantin, apakah kamu mah ikut?" Ajakan ku.


"Ah... Ya! Aku ikut, Riko!" Jawaban Alvina.


"He... Gak kita berdua saja"


Sehabis makan di kantin, kami berempat mau kembali ke kelas. Saat perjalanan menuju ke kelas, tiba-tiba perut sangat sakti. Yap, aku ingin buang air besar.


"Aduh... Kalian kembali ke kelas saja dulu, aku mau ke toilet, perut ku mules. Oke, bye" perkataan ku dan langsung berlari menuju ke toilet terdekat.


Sesampainya di toilet, aku langsung menabung di sana. Selang beberapa menit, perut ku sudah lega, aku langsung cepat-cepat cuci tangan dan ingin kembali ke kelas.


Saat aku keluar dari toilet laki-laki, aku mendengar suara tendangan dari dalam toilet perempuan.


Aku penasaran, karena tendang ini seperti orang lagi kesurupan, terdengar sangat kuat. Kalo dibiarkan, bisa-bisa dindingnya akan rubuh.


Aku melihat sekeliling, aku mengecek kedalam ada orang lain atau tidak. Aku perlahan masuk kedalam toilet perempuan.


Tujuan ku bukan untuk bermaksud buruk loh ya, aku ingin mengecek dia lagi kesurupan atau tidak. Kalo beneran kesurupan, aku akan segera meminta bantuan.

__ADS_1


Saat aku sudah di dalam toilet perempuan, yang ada di sana adalah, Mita. Dia menendang-nendang dinding dengan ekspresi wajah yang sangat marah.


"Mati ... Mati ... Mati saja kalian" ucapan Mita yang pelan, sambil tiap kata dia menendang dinding.


Wajahnya berubah sangat merah, aku tidak tau kenapa dia bisa seperti itu. Tapi jujur, saat ini aku sangat ketakutan melihat Mita.


Aku memutuskan untuk kembali saja dan pura-pura tidak akan pernah melihat kejadian ini. Hati ku tidak tenang, aku pun berlari karena sudah sangat takut.


Namun, takdir ku berkata lain. Lantai sangat licik dan aku pun terpeleset hingga terjatuh sangat kencang.


Aku berusaha bangun, tapi ada seseorang yang langsung menginjak dada ku. Aku melihat keatas dan yang menginjak ku adalah ... Mita.


aku di bangunkan paksa oleh Mita, kepala ku yang masih terasa sakit membuat aku tidak bisa berdiri tegak. dengan tiba-tiba Mita melakukan beladiri taekwondo dan dia menendang kepala ku hingga aku terlontar tak sadarkan diri.


Aku membuka mata ku dan langsung bangun di atas tempat tidur. Aku melihat sekeliling, saat ini aku berada di ruang UKS.


Aku melihat jam dinding, sekarang sudah jam 5 sore. Aku masih ingat kejadian di toilet tadi, yang membuat aku pingsan adalah Mita. Oh ya, kalo tidak salah kepala ku juga mengeluarkan darah tadi.


Aku menyentuh kepala ku, ternyata kepala ku sudah di perban. Syukurlah kalo begitu, tapi ini sudah sangat sore, kayaknya aku harus segera pulang.


Aku pun beranjak dari kasur dan berdiri. Aku membuka korden penghalang, aku melihat Bu Yun yang masih menunggu di UKS.


"Oh, kamu sudah sadar, kamu mau pulang? Ke sini dulu sebelum pulang, ku cek lagi kondisi mu dulu sebelum pulang" Kata Bu Yun.


Aku pun berjalan menghampiri Bu Yun untuk di periksa. Aku di periksa mulai dari mata sampai di perban kepala ku.


"Abis ini kamu harus berterima kasih kepada Mita ya" ucapan Bu Yun.


"Lah? Kenapa harus Mita?" Pertanyaan ku.


"Mita lah yang mengantar kamu kesini tadi siang. Kata Mita, kamu ketahui sedang mengintip dia, karena kamu panik, kamu pun terjatuh dan kepala mu membentur lantai sangat keras" penjelasan dari Bu Yun.


Namun penjelasan ini aneh, kenapa ceritanya jadi berubah seperti itu? Kalo jatuh aku sih iya, tapi kenapa aku mengintip segala?


Wah, parah ini, seriusan parah dah parah. Aku di fitnah loh, aku disini seharusnya korbannya. para pembaca masih ingat kan siapa korbannya?

__ADS_1


__ADS_2