Game & Takdir

Game & Takdir
22. menang atau kalah


__ADS_3

Cahaya bulan di malam ini sangat terang meskipun bukan bulan purnama dan tidak terdapat awan sama sekali. Bisa di bilang, ini adalah malam yang sangat mendukung untuk melawan raksasa.


Sekitar jam dua belas malam, aku melihat air dalam sungai Kett mengeluarkan gelembung, seperti ada yang mau keluar dari air.


Tak lama, kepala sang raksasa muncul dari dalam air, aku langsung membangun Rui dan Alvina.


Selagi menunggu raksasa itu kepermukaan, aku dan Rui bersiap-siap. Aku mengeluarkan senjata baru ku yaitu, tombak yang aku beli dari Silvi di chapter sebelumnya. Raksasa itu berjalan ke pinggiran sungai.


"Rui!" Panggilan ku.


Rui langsung berubah menjadi wujud naga, aku menyuruh Alvina menaiki Rui. Mereka berdua terbang dengan ketinggian yang sudah kita rencanakan.


"Oke... Kita lihat ini berhasil atau tidak!" Perkataan ku dan langsung berlari menuju raksasa.


Aku membuat serbuk ledakan dan tas tempel, yang bisa menempel dimana saja. Ukuran tas itu adalah, lima belas kali sepuluh centimeter.


Aku memasukan sebut ledak itu kedalam tas tempel dan langsung menempelkan nya di ujung tombak ku. Aku melempar tombak itu dengan sangat kencang.


Tombak itu melenceng agak jauh dari rencana, tombak ku menancap di dada sang raksasa. Rencananya, tombak ku seharusnya menancap di kepala raksasa.


Sial-sial, seberapa payahnya sih diri ku ini, cuma segini aja aku tidak sampai, padahal cuma empat meter.


Aku langsung menghentikan lari ku dan langsung berlari menjauh. Dari atas, Alvina sudah membidik kearah tombak ku. Alvina membuat anak panah dari elemen api.


Anak panah itu dilepas dan melesat sangat kencang. Anak panah itu beneran mengenai tas tempel. Tas itu langsung meledak sangat dahsyat.


Sedikit informasi, mungkin ini juga sudah telat untuk beberapa chapter. Alvina mendapatkan job seorang Archer, dia hanya mendapatkan busur panah tidak dengan anak panah.


Tapi dia juga mendapatkan kemampuan untuk membuat sendiri anak panah dari beberapa elemen, seperti api, air, tanah, dan angin. Tapi dia tidak bisa membuat anak panah dari elemen spesial, seperti cahaya dan bayangan. Oke lanjut.


Aku berhenti berlari dan langsung berbalik badan tepat saat ledakan terjadi. Aku memberikan jempol ke atas, untuk memberi pujian kepada Alvina.


Ledakan itu membuat lubang pada dada raksasa dan tentu saja, tombak ku ikutan hancur berkeping-keping. Sial, padahal harganya sangat mahal. Kalo dipikir-pikir, tidak ada manfaatnya aku membelinya.

__ADS_1


Raksasa itu tampak sangat kesakitan dan dia seperti ingin rubuh. Kalo saja tadi tepat menancap di kepalanya, sudah pasti dia akan langsung mati.


Karena rencana satu gagal, kita langsung mengunakan rencana kedua. Selagi raksasa kesakitan dan itu juga membuat dia agak melemah, Rui bertarung dengan raksasa.


Rui hanya mengulur waktu untuk ku, aku lagi berusaha membuat senjata Glock 17 beserta pelurunya.


Glock 17 adalah senjata serbu yang bisa menembakan Lima puluh peluru. Senjata ini dulunya digunakan perang di parit-parit.


Lima menit kemudian, aku sudah selesai membuat Glock 17. Luka pada dada raksasa perlahan mulai pulih kembali.


Aku langsung menembak raksasa itu kearah dada raksasa yang lukanya belum tertutup sempurna. Aku berharap peluru ku dapat menembus dan mengenai jantung raksasa.


Hujan peluru pun terjadi, raksasa itu nampak sangat kewalahan melawan kami bertiga. Rui menyerang raksasa itu, Alvina menembakinya dengan anak panah, dan aku menghujaninya dengan peluru.


Raksasa itu langsung kembali lagi kedalam sungai. Aku tidak pernah menduganya, kalo dia akan kembali lagi kedalam sungai.


Aku menghentikan tembakan ku dan langsung berlari ke sungai. Sial, kenapa aku tidak kepikiran dari awal. Kalo seperti ini, bisa-bisa gagal lagi rencana kedua, padahal cuma ada dua rencana yang kamu rancang.


Aku masih melihat-lihat keadaan dalam sungai, aku pun lengah karena itu. Seketika, ada tentakel yang melilit kaki ku.


Raksasa itu langsung muncul lagi kepermukaan dan aku di putar-putar di udara. Kepala ku dibuat pusing sampai ingin muntah. Setelah di putar-putar, aku dilempar ke udara, tingginya sekitar sepuluh meter dari permukaan air.


Aku langsung terjatuh kedalam air, aku tidak bisa berbuat banyak, karena kepalaku masih terasa sangat pusing.


Aku dengan perlahan mulai tenggelam makin dalam. Aku masih bisa mendengar terikan Alvina dah Rui, yang lagi memanggil nama ku.


Seberapa dalam sih nih sungai? Perasaan dari tadi aku hanya terus tengelam. Nafas ku mulai habis, tubuh ku mulai lemas, satu jari pun tidak bisa aku gerakkan.


Haha, lagi-lagi aku merasa akan mati. Aku bisa melihat cahaya bulan yang menembus air, cahayanya berwarna biru cerah. Lumayan lah, bisa melihat pemandangan yang cantik sebelum aku mati.


Eh? Tunggu, emangnya bisa cahaya menembus air sedalam ini? Cahayanya bukan dari bulan, tapi.


Seketika tenaga ku terkumpul kembali, aku membalikkan badan aku melihat cahaya itu berasal dari dasar sungai. Aku berenang untuk lebih cepat mencapai dasar sungai.

__ADS_1


Cahaya biru yang cantik itu, berasal dari bongkahan batu yang lumayan besar. Besarnya seukuran kepalan manusia.


Aku mengucapkan penglihatan ku untuk meneliti batu ini. Saat aku teliti dari penglihatan ku, disini tertulis batu itu adalah, batu Ghilx.


Aku memegang batu Ghilx, rencananya aku hanya ingin memasukkan batu itu kedalam inventori ku. Tapi yang terjadi malahan, aku merasa ada kekuatan aneh yang merasuki tubuh ku.


Kekuatan ini seperti ingin menguasai tubuh ku, pikiran ku mulai kosong dan batu Ghilx mulai mengecil. Sampai padahal akhirnya, batu Ghilx menghilang.


Aku membuka mata ku, aku berada di tempat antah-berantah yang penuh dengan warna biru.


"Dimana ini? Apakah Aku sudah mati?" Pertanyaan ku dan tidak ada satu pun yang menjawab.


Damai dan sangat sunyi, perasaan ku juga merasa sangat tenang berada di sini. Kenyamanan, kebahagiaan, dan kehangatan. Aku merasakan itu semua


Sudah sepuluh menit berlalu aku berada di tempat ini. Agak samar-samar, tapi aku mendengar suara yang lagi memanggil nama ku.


Suara itu lama-kelamaan makin keras dan makin jelas. Aku berdiri dan berusaha menghampiri sumber suara itu. Aku terus berlari kedepan.


Namun, suara ini makin jelas dan bersumber dari segala arah. Aku berhenti berlari, aku berusaha fokus dengan suara ini.


"Aku kayak pernah mendengar suara ini?"


Hati ku yang tadinya sangat senang, seketika berubah seperti melupakan seseorang. Aku berusaha mengingat seseorang itu dan para akhirnya.


"Alvina ... Ya, Alvina! Ini adalah suara Alvina!"


Aku membuka mata ku lagi dan tiba-tiba berteriak "Alvina!"


"Ya ada apa?" Pertanyaan Alvina.


Aku melihat sekeliling, raksasa itu tergeletak dan beberapa bagian tubuhnya sudah terpotong.


Aku melihat ke Alvina dan Rui, namun tatapan mereka seperti bengong dan juga bersyukur. Aku merasakan, kalo sedang kehilangan sesuatu, tapi aku kehilangan apa?

__ADS_1


__ADS_2