Game & Takdir

Game & Takdir
42. berhasil tapi tidak puas


__ADS_3

"kalo gini mah... Makin kami belah, malah makin banyak. Sial-sial" ucapan ku.


"Terus, kita harus apa Riko? Masak kita harus di sini melulu!" Terikan Rui.


Kami bertiga memanjat pohon agak tinggi, karena saat kami ingin berlari, ternyata jalannya pink worm sangat cepat.


Kami berulang kali mengalahkan pink worm tampah membelahnya. Kami sudah membakarnya, menusuk-nusuk dan cara-cara lain. Akan tetapi, mereka akan membelah diri sebelum semua sekujur tubuhnya mati.


Dan sekarang jumlah mereka makin banyak, malah jauh lebih banyak dari sebelumnya. Kalo dipikir-pikir, kayaknya nih cacing hidupnya abadi.


"Kita tunggu saja para pink worm kembali lagi kedalam tanah" Ucapan ku.


"Kayaknya, mereka tidak akan kembali lagi kedalam tanah" pendapat Rui.


"Lah, sok tau, padahal tadi ngomong Ingin cepat turun"


"Itu cuma dari perasaan ku, entah mengapa aku merasakan kalo mereka sedang sangat marah dan ingin menghancurkan mu sampai tak tersisa, baru mereka akan merasa puas dan kembali lagi kedalam tanah"


"Lah kok cuma aku? ... Ngomong-ngomong, kamu bisa terbang kan? Kenapa tidak berubah saja menjadi naga. Tai perlu repot-repot ikutan bersama kami"


"Kalo gitu, kalian juga ikut terbang bersama aku"


"Maaf, aku akan tetap disini, kamu dan Alvina saja"


"Lah? Kenapa Riko?, Kamu juga ikut dong!" Bujukan Alvina.


"Kalo yang di katakan Rui tadi benar, kalo para pink worm hanya mengincar ku, itu berarti ... Aku tidak bisa ikut ke kota. Kalo aku ikut, pink worm pasti mengikuti kita ke kota, aku tidak tau akan terjadi keributan seperti apa kalo itu beneran terjadi"


"Riko" Rui.


"Riko..." Alvina


Sebenarnya aku juga merasakan, Kao para pink worm ini hanya mengincar ku. Penyebabnya pasti, karena aku lah yang menuangkan sabun cuci baju ke lubang mereka.


Pasti sabun itu mengenai kulit mereka dan itu membuat kulit mereka kering dan sulit untuk bernafas. Apapun jenis cacing, pasti bernafas menggunakan kulit yang lembab, kalo kering ya tidak bisa bernafas.

__ADS_1


"Eh? Tunggu-tunggu ... Iya-ya ... Hehe, Alvina, Rui. Aku memiliki satu rencana" -aku memalingkan wajah ku ke Alvina dan Rui- "Ayo kita manfaatkan kekurangan makhluk hidup!"


Aku tertawa lepas dan rasanya rencana ku mustahil untuk gagal. Aku tidak tau ini takdir ku atau memang sudah kebiasaan ku, aku selalu kepikiran rencana yang bisa di bilang lumayan licik.


Alvina menaiki Rui dan mereka berdua terbang sambil membawa selang yang aku buat. Di ujung selang, aku membuat mesin penyedot air atau biasa di sebut, disel.


Disel yang aku buat ink bukan untuk menyedot air, tapi disel ini nanti akan tangan kanan ku. Dari tangan kananku, aku akan terus membuat sabun cuci baju tanpa henti.


Rencana ini tergantung kepada ku, mana ku akan habis duluan, atau para cacing-cacing ini yang akan mati duluan atau ... Semua alat yang aku buat ini lah abisan waktu, meskipun aku belum kehabisan mana dan pink worm belum mati.


"Riko! Kamu siapa?" Teriakan Alvina.


"Ya... Sekarang!" Aba-aba ku sambil menyalakan disel nya.


Aku sempat terhisap sampai ke siku ku. Tak ku sangka daya hisap dari disel ternyata sangat kencang juga.


Aku membuat sabuk cuci baju dengan sekalah besar dan terus menerus. Saat ini aku dalam keadaan hanya fokus membuat.


Alvina mengarahkan sabun itu semua ke pink worm. Para pink worm terlihat kesakitan bahkan seperti ingin mengering.


Satu menit sudah berlalu, namun aku hampir mencapai batas mana ku. Namun para pink worm terus menerus membela diri dan semakin banyak.


Beberapa pink worm mengering, tapi kebanyakan dari mereka menggali tanah dan pergi.


"Riko! Kita berhasil!" Terikan Alvina.


Diesel ku sudah menghilang. Aku memberi jempol kepada Alvina dan Rui pun menghampiri ku. Sebelum Rui sampai, ada satu pink worm yang muncul lagi dari tanah dan melompat hampir mengenai ku.


Aku gunakan tenaga ku yang tersisa untuk melompat tinggi-tinggi. Alvina menangkap tangan ku dan aku pun ditarik menaiki Rui.


Kami terbang agak tinggi, Alvina juga menembaki anak panah ke satu pink worm itu. Pink worm itu terbelah berkeping-keping dan langsung menggali tanah lagi begitu juga bagian tubuhnya yang terbelah.


Rui mendarat agak jauh dari bangkai pink worm yang sudah mati mengering. Aku tau, Rui bermaksud untuk menghindari kejadian yang pink worm muncul kembali.


"Masih sehat?" Tanya Rui.

__ADS_1


"Iya, aku masih sehat-sehat saja, sampai-sampai aku tidak bisa menggerakkan tangan kanan ku" jawaban ku. Tangan kanan ku berwarna putih dan mati rasa.


"Riko, tangan kanan mu" kata Alvina.


"Tenang saja Alvina, ini cuma tidak ada darah yang mengalir ke tangan kanan ku, sebentar lagi juga akan kembali normal"


"Jadi sekarang, gimana caranya kita ambil bangkit pink worm itu" pertanyaan Rui.


"Gampang, Alvina, simpan itu di inventori mu, kamu masih banyak ruang kan?" Perintah ku untuk Alvina.


"Emangnya bisa Riko?" Pertanyaan Alvina.


"Kita coba dulu, gak ada salahnya kan untuk mencoba"


Alvina pun mendekat dan membuat lingkaran untuk menuju ke ruang inventori. Satu bangkit pink worm masuk ke inventori Alvina.


"Haha, Riko! Beneran bisa. Eh, tapi..." Kata Alvina


"Tapi apa?" Tanya ku.


"Kok langsung memakan lima kota?"


"Hem... Jadi bisa disimpulkan, kalo ukuran benda yang di simpan besar, makin banyak juga slot yang terpakai" aku mendapatkan informasi baru.


Setelah itu, aku memeriksa inventori ku, untuk melihat kertas quest itu sudah hilang atau belum dan ternyata sudah menghilang. Kalo gini kan, sudah benar-benar lega.


Saat hari mulai sore, kami bertiga kembali ke kota dan langsung menuju ke guild. Aku penasaran, ini daging mau di buat untuk apa? Aku sangat penasaran.


Alvina menuju ke pelayanan guild, saat pelayanan guild untuk menanyakan pink worm itu, Alvina pun dengan cerobohnya, langsung mengeluarkannya di dalam guild.


Alhasil, banyak properti guild yang hancur, karena terlalu besarnya pink worm. Kami bertiga yang seharusnya menerima 200 koin emas, sekarang tinggal 89 koin emas.


Yang 111 Koin Emas yang tidak di berikan, untuk ganti-rugi properti yang rusak. Haha, sial-sial, rasanya ingin marah, tapi yang sudah terlanjur, mau gimana lagi.


Kami bertiga langsung pergi ketempat makan. Setelah makan, aku menyewa penginapan dengan dua kamar, yang tentunya aku sendirian.

__ADS_1


Mana ku sudah pulih beberapa karena makan tadi. Aku juga mengecek level ku dan sekarang level ku sudah 38.


Ngomong-ngomong, kok aku tiba-tiba mencium bau aneh. Seperti gosong tapi kok ada bau wanginya juga ... Apa jangan-jangan ini bau...., Ah, mana mungkin lah, ini game RPG loh.


__ADS_2