Game & Takdir

Game & Takdir
32. Sulit dipahami


__ADS_3

"Hei, mampir ke minimarket dulu yuk!" Ajakan Mita yang lagi duduk di belakang ku.


"hah, tidak ah, kita langsung pulang saja. Itung-itung irit duit" perkataan ku.


"kalo di rumah terus kamu mau ngapain? Nangis-nangis sambil mendengarkan lagu galau 'ku menangis ~ melihat mu, bersama orang lain ~' gitu" ucapan Mita sambil bernyanyi salah satu lirik lagu.


"Ti-tidak, mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu" aku menyangkal ucapan Mita.


"Kalo tidak, kita mampir saja ke minimarket, cuma sebentar kok"


"Ha... Baiklah kapten"


Aku pun mengikuti ajakan Mita. Kami sampai di minimarket terdekat, aku dan Mita masuk ke minimarket dan membeli satu minuman.


Kami keluar dari minimarket, terus kami duduk di bangku yang sudah disediakan oleh minimarket tersebut.


"Aduh... Riko ku sayang, muka kamu sangat jijik untuk dilihat, sesakit itu kah di tolak sama orang yang dicintai" kata Mita.


Aku menyembur minuman ku yang sudah masuk ke mulut "Prf, uhuk-uhuk. Siapa yang kamu maksud orang yang aku cintai"


"Gak usah pura-pura deh... Tentu saja Alvina bukan?"


"Hah? Alvina? Sok tau, padahal bukan dia yang aku cinta"


"Gak bisa jujur ya..." -Mita meminum minumannya- "tapi ya... Gak usah khawatir sih, mungkin cowok itu cuma kerabatnya atau sepupunya"


Tunggu, kok dia bisa tahu Alvina tadi bersama seorang cowok? Apakah dia melihatnya sendiri? Atau mungkin dari orang lain yang melihat. Dah lah, nih cewek berbahaya.


"Kalo memang sepupunya sih, gak lah ya. Alvina saja tidak tau orang tuanya siapa?" Ucapan ku dan langsung meminum minuman ku.


"Kalo gitu, cowok itu pacarnya Alvina!" Kata Mita secara tiba-tiba.


Aku kaget lagi dan menyemburkan minuman ku lagi "prf, uhuk-uhuk"


"Hahaha, kenapa kamu terkejut sebegitu nya dan sampai menyembur minuman mu dua kali. Hahaha" Mita tertawa lepas.


Aku tidak ... tidak berkata apapun lagi. Semakin aku berbicara dan menjawabnya, kemungkinan dia juga akan semakin mengejek ku.


"Ha... Aku cuma bercanda kok, maaf-maaf. Tapi sangat mengejutkan juga, Kalo Alvina menolak mu untuk pulang bareng, demi cowok itu" perkataan Mita.

__ADS_1


"Ya... Mungkin Alvina sedang sangat sibuk, sedangkan cowok itu mungkin adalah teman lamanya Alvina dan Alvina lagi minta bantuan sama temanya itu ... mungkin" perkataan ku.


"Hem, semoga saja seperti yang lagi kamu katakan tadi"


Setelah sudah habis minum kami berdua, Kami pun langsung pulang kerumah. Sesampainya di rumah, tubuh terasa lemas dan hati ku sangka kacau"


Untuk melupakan itu, aku langsung mandi, setelah mandi aku ke kamar dan langsung bermain salah satu game MMORPG di PC.


Akan tetapi saat aku bermain game, hati ku masih terasah sakit dan aku pun jadi malas bermain game.


Aku naik keatas kasur yang atas dan bermain handphone membuka aplikasi tok-tok. Sama saja seperti bermain game, aku tiba-tiba aku jadi malas bermain handphone.


Aku menaruh handphone ku di samping bantal. Aku pun hanya berbaring sambil menunggu makanan malam sudah siap.


Tak lama Fadil masuk kedalam kamar dan langsung berganti pakaian. Setelah selesai, dia melihat diri ku.


"Kakak kenapa? Merasa tidak enak badan lagi?" Kata Fadil.


"Ah... Tidak kok, kakak hanya kelelahan saja" jawab ku.


"Hem... Tapi kakak kayak...., Ah, oke lah"


Fadil membuka laptopnya dan langsung bermain game. Tak lama ibu memangil kita berdua untuk makan malam.


"mau sampai kapan kamu bermain game? Kerjakan PR mu" ucapan ku.


"Eh? Tumben kakak menasehati ku tentang PR, padahal selama ini tidak pernah" kata Fadil.


"Ada apa? Sudah wajar kan seorang kakak menasehati adiknya"


"Ya-ya, tapi maaf, hari ini aku tidak punya PR"


"Hem... Begitu"


Aku lanjut fokus mengerjakan PR ku, meskipun aku lagi tidak mut untuk melakukan apa pun. Aku sendiri tidak tau, hati ku masih terasah sangat sakit. Jujur, rasanya sekarang aku ingin menangis.


Hari mulai larut, kira-kira ini sudah jam 11.35 aku juga sudah selesai menyelesaikan PR, padahal ini masih Minggu depan untuk mengumpulkan PR nya.


Fadil sudah tertidur lelap, aku masih belum mengantuk, aku pun membuka jendela kamar ku. Tampa disengaja, Mita juga lagi berada di balkon kamarnya.

__ADS_1


Mita melihat ku dan dia tampak melambaikan tangannya kepada ku. dasar nih cewek, kenapa dia begadang selarut ini.


Aku menutup jendela kamar ku dan langsung naik ke atas kasur. Seperti sebelumnya, hati ku masih terasa sangat sakit. Lama-kelamaan, air mata ku mengalir dengan sendirinya.


Aku menutup muka ku pakek bantal dan aku teriak sekuat tenaga. Ya, aku menangis seperti anak kecil yang sedang mencari ibunya.


Aku bangun, aku langsung melihat jam pada handphone ku. Syukurlah baru jam setengah enam.


Aku turun dari tempat tidur ku, hati ku sudah merasa sangat lega. Dengan begini, aku bisa berprilaku seperti biasanya.


Aku pergi ke kamar mandi, ternyata Fadil sedang mandi. Aku menunggu Fadil selesai mandi di ruang keluarga, sambil melihat berita TV.


Tampa di sengaja, ada berita yang memberitakan tentang suatu penangkapan seorang penipu. Laki-laki dalam berita itu mukanya kayak pernah aku lihat, tapi dimana ya?


Ah... Mungkin cuma perasaan ku saja, mana mungkin aku pernah bertemu dengan orang seperti dia. Aku kan anak rumahan, atau kata gaulnya nolep.


Setelah Fadil sudah selesai mandi, aku pun segera mandi. Setelah sudah selesai makan, aku berangkat ke sekolah.


Entah sudah jadi kebiasaan atau takdirnya seperti ini, Mita menunggu ku lagi di depan pintu pagar rumahnya.


Aku berangkat ke sekolah bareng Mita dengan motor bapak pastinya. Seperti hari-hari sebelumnya, aku menurunkan Mita satu kilometer dari sekolah.


Tapi kali ini beda seperti biasanya, aku melihat Alvina yang sedang melihat ku bersama Mita. Setelah melihat ku, dia berlari menuju ke sekolah.


"Kenapa diam saja, kejar dia" kata Mita.


Aku mengabaikan kata Mita dan aku pun berkendara dengan pelan menuju ke sekolah. Entah kenapa, aku merasa puas melihat Alvina seperti tadi.


Rasa puas itu sampai membuat aku tersenyum dengan sendirinya, ada apa ini kawan? Aku pasti akan di kira gila kalo ada orang yang lihat.


Sesampainya di parkiran, aku memarkirkan motor ku baru aku masuk ke kelas. Namu saat ingin masuk kedalam gedung, Mita seperti sedang menunggu dengan muka marah.


Aku cuma ingin cuek dan melewatinya, tapi saat di sampingnya, dia menarik baju ku dan membawa ku ke belakang gedung.


"Apa yang sedang kamu lakukan!" Ucapan ku sambil melepas tarikannya.


"Dasar cowok rendahan! Tak heran kamu tidak populer" Terikan Mita.


"Ya aku tau itu, tak usah kamu beri tahu tentang itu"

__ADS_1


"Ha... Kayaknya bakalan sia-sia saja" ucapan Mita dan langsung meninggalkan ku sendirian.


"Apa-apaan sih, membawa ku kesini cuma marah-marah tidak jelas ... Sudahlah, cewek memang sulit untuk di pahami"


__ADS_2