
Matahari mulai terlihat dan pagi pun tiba. Alvina masih terbaring tidak sadarkan diri. Aku dan Rui tidak berbicara satu sama lain, karena aku memarahi Rui tampa alesan yang jelas.
Mengapa aku tadi memarahi Rui? Kalo di pikir-pikir, ini semua bukan salah Rui melainkan adalah kesalahan ku. Aku harus meminta maaf kepadanya.
"Rui ... Ma-maaf, aku tadi marah-marah tidak jelas kepada mu" ucapan maaf dari aku.
"Eh? Tidak, kamu tidak seharusnya minta maaf, aku sadar kalo aku yang salah" kata Rui.
"Tidak, kamu tidak salah apa pun. Alvina seperti ini adalah kesalahan ku, aku lah yang mengorbankan dia untuk mengulur waktu" perkataan ku yang tidak sanggup menatap mata Rui.
Suara langkah kaki Rui seperti sedang mendekati ku. Aku mengangkat kepalaku ku, karena ingin melihat apa yang dilakukan oleh Rui.
Rui berjalan mengelilingi ku dan seketika.
*Pub*
Dia memeluk ku dari belakang.
"Riko, kamu tahu?" Bisikan Rui yang langsung dari telinga ku.
"Tahu... Tahu apa? Tahu bulat?" Aku bertanya-tanya.
"Apaan itu tahu bulat? Bukannya semua tahu itu berbentuk kotak?" Ucapan Rui yang tidak bisik-bisik lagi.
"Beneran ada kok, di kampung halaman ku ada yang namanya tahu bulat dan rasanya ... Em... Sangat enak"
"Beneran? Hehe, aku jadi ngiler mendengarnya ... Tunggu, bukan ini yang ingin aku bicarakan!" Terikan Rui di akhir kata.
"Riko, apa kamu mencintai Alvina?" Pertanyaan Rui dengan bisik-bisik lagi di telinga ku.
Aku terkejut mendengar bisikan Rui "Tidak-tidak, mana mungkin aku mencintai Alvina" perkataan ku.
"Bohong, kamu marah-marah kepada ku, karena Alvina terluka parah seperti ini" nada bicara Rui agak tinggi.
"Ya... Aku kan sudah minta maaf tadi. Bukanya wajar, kalo aku marah-marah karena teman ku terluka parah seperti ini" jawaban ku.
Rui melepas ku dan di perigi melompat keatas pohon.
"Mau kemana kamu?" Pertanyaan Ku.
__ADS_1
"Aku cuma mau melihat raksasa itu, apakah dia masih di darat atau sudah masuk lagi ke dalam sungai? Kamu istirahat saja, mana kamu sudah habis kan?"
Rui pun pergi, meninggalkan aku dan Alvina. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan.
Aku gagal mengalahkan raksasa itu, apa yang akan aku katakan nanti kalo Alvina bangun? Aku juga sudah sangat lelah, otak ku tidak bisa digunakan untuk berfikir lagi.
Aku berbaring di atas rerumputan, suasana pagi sangat hangat dan nyaman. lama-kelamaan, aku merasa mengantuk dan perlahan menutup mata ku dengan sendirinya.
Seketika aku terbangun, karena aku mendengar suara yang memanggil nama ku.
"Riko, bangun lah, Riko!"
Aku membuka mata ku dan langsung duduk. Yang memanggil ku adalah Rui, yang lagi memegangi Alvina di pangkuannya.
"Alvina Riko... Alvina ... Alvina!" Nada bicara Rui menandakan seperti orang yang sangat panik.
"Tenang ... Tenang dulu dan bicara dengan jelas" ucapan ku untuk menenangkan Rui.
"Alvina tadi terbangun dan sekarang dia tertidur lagi!"
"Heh? A-apa maksudnya?"
Alvina terbangun dan langsung duduk. Mata Alvina melirik kearah ku, seperti lagi kecewa dengan diri ku.
"Lah? Disini salah nih aku? Tunggu, kenapa harus panik? Bukannya seharusnya aku senang kamu baik-baik saja?" Ucapan ku yang masih kebingungan.
"Ha... Maaf Alvina, aku tidak bisa berakting dengan bagus" ucapan maaf Rui.
"Gak kok, kamu tidak salah Rui, Riko saja yang tidak peka" sindiran Alvina.
"He... Apa sih yang sedang terjadi disini? Kalo aku salah maaf-maaf, otak ku masih belum bisa untuk berfikir keras" ucapan ku yang masih kebingungan.
Kami membakar daging ayam liar, ayam ini di dapat dari hasil buruan Rui dan Rui juga mengambilnya air dari sungai Kett.
Setelah kami sudah selesai makan, kami bertiga berbicara tentang rencana untuk mengalahkan sih raksasa atau, pulang ke kota Efar.
Dari diskusi kami yang memakan waktu selama tiga jam, kami memutuskan untuk melawan langsung sang raksasa.
Kami juga menemukan suatu rencana meskipun belum ada jaminan untuk menang. Mana ku belum pulih sepenuhnya atau lebih tepatnya baru pulih hampir setengahnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rui, mananya sudah terkuras setengahnya. Kalo Alvina, mana dia sudah pulih total, tapi dengan kondisinya yang sekarang, dia sudah tidak bisa bertarung lagi.
Setelah selesai diskusi, aku bertanya kepada Rui. Kenapa dia meninggalkan aku dan Alvina saat kami tertidur? Padahal kata dia lagi menjaga malam.
Dan jawaban Rui adalah, saat kami tertidur dengan pulas, raksasa itu muncul dari sungai kepermukaan.
Sontak Rui langsung bertarung dengan raksasa itu. Namun yang terjadi, Rui kewalahan dengan banyak tentakel pada raksasa itu.
Saat Rui lengah karena sudah lelah, dia pun tertangkap oleh tentakel raksasa. Dia di lempar menyebrangi sungai.
Dia terlempar tidak begitu jauh dari sungai. Tetapi, saat dia mendarat kepalanya membentur batu besar dan itu membuat Rui langsung pingsan.
Dia terbangun karena mendengar suara ledakan. Ya, ledakan itu adalah bom dari pesawat tempur yang aku buat.
Karena Rui mendengar suara ledakan yang tidak asing baginya, dia pun langsung ingat apa yang telah terjadi.
Rui pun langsung berubah menjadi naga dan terbang untuk menolong aku dan Alvina, seperti yang kita baca di chapter sebelumnya.
Setelah cerita Rui selesai, Rui bertanya kepada ku. Benda apa yang terbang yang aku tunggangi? Aku pun menjelaskan kepada Rui nama dan fungsi dari pesawat.
"Apakah kalian sudah siap?" Pertanyaan ku.
Alvina dan Rui mengagumkan kepala mereka.
"Bagus, semoga saja rencana ini berhasil" ucapan ku.
Kami pun berjalan kaki santai, untuk menghemat energi. Karena rencana ini, tergantung kepada diri ku dan Rui.
Kami sampai di sungai dan benar saja, raksasa itu sudah tidak ada lagi di permukaan. Kemungkinan, dia telah kembali lagi kedalam sungai.
Beberapa cara aku lakukan untuk membuat raksasa itu muncul kepermukaan. Melempar batu kedalam sungai, memberikan granat Kedalam sungai, sampai-sampai memaki-maki sang raksasa.
Aku pun lelah dan raksasa itu tidak muncul-muncul juga. Aku pun berpendapat, raksasa itu hanya muncul saat malam hari dan memakan seseorang yang telah tertidur lelap.
Kani bertiga pun berkemah lagi di pinggiran sungai, kami menuggu malam tiba. Selagi menunggu malam, kami menyusun lagi rencana. Manfaatnya, kita biar tidak lupa akan rencananya dan kemungkinan akan ada perubahan rencana.
Malam pun tiba, aku juga sudah makan ikan-ikan dari sungai. Ya mau gimana lagi, tidak ada makanan selain ikan disini.
Hari ini malam tidak begitu gelap, rembulan bersinar cerah, tidak ada satu pun awan di langit. Cahaya rembulan lumayan membantu untuk penerangan melawan sang raksasa.
__ADS_1
Aku agak mengantuk, begitu juga dengan Alvina, apa lagi Rui, dia malah sangat-sangat mengantuk.
Aku beberapa kali sudah tidur dan langsung bangun lagi, tidur lagi, bangun lagi. Begitu terus dan sampai-sampai, raksasa itu muncul di permukaan.