Game & Takdir

Game & Takdir
36. Diam mendekat


__ADS_3

Mana mungkin lah, Rui sekuat itu, mana mungkin tertangkap dengan mudah. Yang haru aku khawatirkan sekarang hanyalah Alvina.


Kenapa kita tidak bersama saat mulai game? Sudah di upgrade versi terbaru kah? Dan fitur terbarunya, saat mulai game, player akan di pisahkan. Kalo beneran seperti itu, aku akan protes kepada Standar.


Aku berdiri setelah satu jam berbaring memikirkan keadaan. Aku punya dua pilihan, pilihan pertama pergi ke barat, menyebrangi sungai Kett dan kembali ke kota Efar.


Pilihan kedua, aku kembali lagi ke desa Detrap, untuk mengecek keadaan, siapa tau Rui dan Alvina masih ada di sana.


Dan pilihan ku adalah, mencari ikan terlebih dahulu, karena perut ku udah lapar. Aku pun menuju ke sungai Kett, untuk memancing ikan di sana.


Hanya dua puluh menit perjalanan, aku sudah sampai di sungai Kett. Tampa berfikir panjang, aku langsung membuat alat pancing.


Ngomong-ngomong, level ku ternyata sudah naik drastis. Sekarang level ku 35 .Mungkin karena aku telah mengalahkan raksasa saat itu.


Karena sudah naik level, aku pun sekarang bisa membuat sesuatu dan bertahan selama 2 menit 10 detik. Haha, lumayan lah ada sepuluh detiknya.


Tidak cuma itu, jumlah mana dan HP (Hit Poin) ku bertambah. Tapi kenapa damage ku tidak bertambah ya?


Aku menggali tanah yang sudah lama di timpa batu, karena kebanyakan cacing tanah berada di tempat yang lembab, seperti contohnya di balik batu.


Setelah mendapatkan beberapa cacing tanah, aku pasang cacing tanah itu untuk menjadi umpan.


Baru selesai memasang cacing, alat pancing ku sudah kehabisan waktu dan langsung menghilang. Aku terpaksa harus mengambil dahan pohon yang akan aku jadikan tongkat pancing.


Tak lama aku mendapatkan satu ikan. Aku membuka api unggun dan membakar ikan itu. Aku memakannya sambil menahan rasanya yang tidak enak.


Selesai makan, aku pun bergegas kembali lagi ke desa Detrap. Selama perjalanan aku bernyanyi.


"They an Apple ~ children take and eat ~ The birds sing ~ the birds sing ~"


Aku lupa judul lagu itu, tapi aku masih ingat liriknya. Lagu itu aku pernah mendengarnya saat aku masih kecil.


Satu jam perjalanan, aku sampai di desa Detrap, aku mengendap-endap di sekitar pepohonan dan semak-semak. Sumpah banyak banget nyamuknya.


*Peck!*


"Mampus lu, nah, nah, ada yang datang lagi nih"

__ADS_1


"Peck!*


"Haha, kamu salah orang nyamuk!"


aku sudah ahli untuk membunuh nyamuk, karena saat musim hujan, di kamar ku selalu di penuhi oleh nyamuk. Membunuh nyamuk sebelum tidur, sudah seperti kegiatan yang wajib bagi ku dan Fadil.


*Set*


Aku menghindari sebuah anak panah. Aku melihat sumber dari tembakan anak panah ini dan ternyata ada dua Dark Elf yang melihat ku dari atas gerbang.


Sial, sudah ketauan kah, ini semua gara-gara nyamuk. Aku membuat pistol dengan peluru karet.


Aku menembak dua Dark Elf itu. Tiga tembakan ku melesat dan empat tembakan ku berhasil mengenai mereka.


Mereka pun seperti sudah sangat kesakitan, saat mereka sedang kesakitan, ku gunakan untuk menjauhi mereka.


Saat aku sudah merasa sudah cukup aman, tapi sebenarnya tidak. Ada banyak Dark Elf yang sedang berlari kearah ku sambil membawa senjata apa adanya.


Mulai dari cangkul, golok, bahkan sampai panci. Gabut amat tuh orang atau mungkin ingin tampil bedah.


Aku menembak mereka, saat mereka terkena tembakan ku, wajah mereka berubah menjadi ketakutan dan mereka pun lari.


Kenapa begitu padahal cuma bola cet? Hem, mungkin mereka mengira itu adalah darah mereka, karena aku membuat bola cet yang berwana merah cerah.


Kebanyakan dari mereka kabur dan hanya tersisa satu Dark Elf. Dark Elf yang tersisa itu adalah, yang membawa panci.


Aku berhenti nembak, karena ada yang aneh dari dia. Wajahnya ditutupi dengan panci dan hanya bagian tubuhnya yang terkena peluru cet.


Dia membuka wajahnya dan melihat tubuhnya "hah! Ti-tidak ... ini tidak mungkin kan? Haha, selamat tinggal istri ku, semoga kamu mendapatkan suami yang lebih baik dan bisa melindungi mu lebih baik dari aku"


Setelah ngomong seperti itu, dia dengan perlahan mau jatuh ketanah dan sambil pura-pura batuk.


Lebay amat tuh Dark Elf, jadi tidak heran dah, kenapa dia membawa panci? Tidak di dunia nyata dan dunia game, ternyata ada banyak orang lebay.


Dari pada aku menjadi emosi melihat orang lebay, aku pun meninggalkannya. Aku mengendap-endap lagi menuju ke pintu belakang.


Sesampainya di pintu belakang, ada lima Dark Elf yang menjaga. Aku perlahan mendekat, semakin dekat dan sudah sangat dekat, aku membuat tongkat besi.

__ADS_1


Ku pukul salah satu dari mereka dari belakang, yang lain sadar dan langsung menyerang ku. Namun usaha mereka sia-sia, saat aku sudah memegang tongkat, di situlah jiwa ku sebenarnya.


Mereka berlima ku buat pingsan, menyeret mereka satu persatu agar agak jauh dari gerbang.


Setelah itu aku mundur dua puluh meter dari gerbang, aku membuat RPG-7 dan hanya membuat satu roket peluncur.


*Boom*


Ku ledakan gerbang tersebut, suara ledakan sangat kencang, kemungkinan semua suku Dark Elf akan datang ke pintu belakang.


Aku bersembunyi di semak-semak dan agak lebih jauh, aku berjalan lagi menuju pintu depan.


Saat aku mengendap-endap, aku sambil melihat ke gerbang yang sudah hancur dan terbakar, karena gerbang dan temboknya terbuat dari kayu.


Benar dugaan ku, banyak sekali Dark Elf yang datang kesana. Firasat ku, aku harus berlari bukan mengendap-endap lagi.


Aku pun berlari, setelah sampai di pintu depan, tidak ada satu pun Dark Elf yang menjaga. Aku langsung masuk kedalam.


Aku dengan cepat, berkeliling desa untuk tujuan awal ku kembali lagi kesini. Yap, aku sedang mencari Alvina.


Seluruh desa hampir sudah aku jelajahi semuanya, masih belum ketemu juga, tapi untungnya tidak ada satu pun Dark Elf yang terlihat.


Aku akhirnya memutuskan masuk kedalam rumahnya kepala desa. Semua rumah di sekelilingnya sudah pada hancur, tapi hanya rumah ini saja yang tidak hancur.


Aku masuk kedalam, di lantai pertama yakni dapur, aku sedang mencari sesuatu tombol atau tuas yang bisa membuka ruang bawah tanah.


Selama sepuluh menit berkeliling mencari tidak ketemu tombol apa pun. Kayaknya tidak ada ruang bawah tanah sih, aku terlalu banyak nonton film detektif.


Aku langsung naik ke lantai dua, di sini hanya ada beberapa kamar berjajar. Aku membuka satu-satunya pintunya dan hasilnya tetap nihil.


Aku naik lagi keatas, di lantai tiga ini kalo tidak salah adalah kamar dan sekaligus tempat penerimaan tamu.


Aku sampai dan seketika aku kaget dengan apa yang aku lihat. Ada Rui dan Alvina di sini. Mereka tidak sadarkan diri dengan ditemani oleh satu orang laki-laki.


Aku kenal dia, ya, aku masih mengingat betul wajah itu. hehe, keanehan apa lagi ini kawan...


"Ternyata kamu masih hidup ya ... Tony"

__ADS_1


__ADS_2