Game & Takdir

Game & Takdir
25. Flashback


__ADS_3

Sesampainya di rumah kepala desa, Franci langsung mengetuk pintu, seketika ada suara dari dalam rumah.


"Iya, tunggu sebentar"


Pintu terbuka, yang membuka pintu adalah, seorang perempuan dark elf. Dia tampak kebingungan saat melihat aku, Alvina, dan Rui.


"Apakah kepada desa ada didalam?" Pertanyaan Franci.


"Kepala desa? Ada didalam, tapi mereka..." Kata perempuan itu.


"Mereka adalah manusia, mereka ingin menemui kepala desa, karena ada hal penting yang mereka bawa" kata Franci.


"Oh, kalo gitu silakan masuk" kata perempuan itu.


Rumah kepala desa sangat berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Rumahnya berbentuk segitiga, kayak Piramida, tapi di buat dari kayu dan ada beberapa hiasan bendera berwarna merah.


Didalamnya cukup rumit, lantai pertama, hanya ada dapur dan tempat makan. Kami naik tangga kelantai dua.


Di lantai dua ini, ada beberapa pintu dari kanan dan kiri. Kemungkinan pintu-pintu ini adalah pintu kamar.


Kami naik lagi kelantai tiga. Di lantai tiga, baru kita bertemu dengan kakek-kakek yang sedang berbaring di lantai, sambil ada dua nenek-nenek disebelah kanan dan kirinya.


"Papa, kita kedatangan tamu. Franci, perkenalkan mereka bertiga" kata sih perempuan tadi.


"Baik, kepala desa, biar ku perkenalkan mereka" -sih kepala desa itu langsung duduk- "di sebelah kanan ini adalah Riko dan di belakang ku adalah Alvina, mereka manusia. Di sebelah kiri ku adalah Rui, dia dari suku Naga"


"Terima kasih Franci, apa tujuan mu membawa mereka kesini?" Tanya sih kepala desa.


"Mereka membawa sesuatu yang sangat penting, untuk barangnya ... Biar mereka sendiri yang menunjukkan" jawaban Franci.


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang" perintah kepala desa.


"Baik kepala desa" -Franci berjalan menghampiri ku- "jangan membuat kepala desa terkejut maupun sedih. Akhir-akhir ini, kepala desa sakit-sakitan" bisikan Franci, di telinga ku.


Franci pun menuruni tangga. Selang beberapa menit setelah Franci menuruni tangga, kepala desa itu pun berdiri.

__ADS_1


"Wah! Udah lama sekali aku tidak bertemu dengan manusia. Terakhir aku bertemu manusia kapan ya? Ah... Aku lupa karena terlalu tua" kata kepala desa muka senang? atau mungkin menjijikkan.


Eh? Kok malah senang? Katanya sakit-sakitan, dari mana sakitnya? Yang lebih aneh lagi, emangnya seluruh bisa itu kah melihat manusia?


Kepala desa langsung berubah sifatnya, dia dengan pelan-pelan, kembali duduk diantara nenek-nenek.


"Maaf, kalian melihat hal yang tidak pantas untuk dilihat" Kata kepala desa.


"Ah, tidak papa kok tuan..." Aku memberi kode lagi untuk bertanya namanya.


"Oh ya, aku Sanyo Dark Elf. Dua wanita ini adalah istri ku, Wellfi Dark Elf dan gaini Dark Elf. Sedangkan dia adalah salah satu anak ku, Gyani Dark Elf"


Sip mantap, setiap nama memiliki magar Dark Elf. Kalo tidak salah Franci juga, dia memberitahukan namanya, dengan akhiran Dark Elf. Pasti satu desa juga sama.


"Katanya kalian membawa suatu barang yang penting, memangnya barang apa itu?" Pertanyaan tuan Sanyo.


Aku melihat kearah Alvina dan Rui. Aku memberi kode ke mereka dengan menganggukkan kepala ku dan mereka membalas dengan mengangguk juga.


Aku mengeluarkan kepala raksasa dari sungai Kett dari inventori ku. Aku membungkusnya dengan kain dan kain itu aku bukan dengan perlahan.


"Kamu sudah mati ya... Syukurlah kalo begitu" kata tuan Sanyo yang sambil tersenyum.


"Eh? Lah kok? Ma-maaf tuan Sanyo, kok malah bersyukur, dia Tony anak mu kan?" Pertanyaan ku.


"Iya, dia memang anak ku, tapi itu dulu sebelum dia tumbuh dewasa" ucapan tuan Sanyo yang tenang.


"Apa maksudnya sebelum dewasa? Kalo dia memang anak mu, bukanya sampai kapan pun dia akan tetap menjadi anak mu?" ucapan ku.


Kepala desa itu tiba-tiba meneteskan air matanya "iya, aku tau itu, aku juga menginginkan mimpi indah itu" -air matanya makin deras- "tapi ... Akan tetapi"


Dan akhirnya, aku mendapatkan cerita yang panjang. Sepuluh tahun yang lalu, Tony masih hidup dan tinggal di desa Detrap ini.


Dia tumbuh menjadi seseorang yang sangat kuat, malahan paling kuat di desa. Karena tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kekuatannya, Tony pun menjadi bosan hidup di desa Detrap.


Saat itu umurnya sudah menunjukkan tujuh belas tahun, dia ingin berkeliling dunia seorang diri. Dia sangat percaya diri dengan kekuatan yang dia miliki.

__ADS_1


Akan tetapi, tuan Sanyo melarang dia untuk meninggalkan desa Detrap. Ada banyak alesan tuan Sanyo melarang Tony untuk meninggalkan desa.


Di antaranya adalah, di luar desa ada banyak monster dan orang-orang yang jauh lebih kuat darinya.


Alasan yang paling penting adalah, dia adalah satu-satunya penerus kepala desa selanjutnya, karena saudarinya yang lain ada perempuan, cuma dia yang laki-laki dan anak pertama tuan Sanyo.


Namu Tony masih bersikeras ingin meninggalkan desa, awalnya Tony bersabar untuk dapat izin dari tuan Sanyo, tapi lama-kelamaan. Tony hampir membunuh tuan Sanyo, ayahnya sendiri.


Tony tiba-tiba sadar, dai melihat kedua tangannya sembari berjalan mundur. Mukanya pucat dan kelihatan dia sangat panik.


Tuan Sanyo berdiri, dia langsung bilang kepada Tony "kau ingin pergi kan? Pergi! Aku tidak membutuhkan anak durhaka seperti kamu!"


Kata-kata tuan Sanyo membuat Tony sangat sakti hati. Tony saat itu cuma berdiri tak bisa berbicara apa pun. Saat air matanya menetas, dia langsung berlari keluar rumah.


Tuan Sanyo mengikuti Tony keluar dari rumah, tuan Sanyo langsung berteriak "jangan gunakan nama yang telah aku berikan, mulai sekarang dan selama-lamanya, nama kamu bukan Tony!"


Tony berhenti berlari dan langsung berbalik badan "baiklah ... Baiklah kalo begitu! Mulai sekarang nama ku adalah Hur dan aku tidak akan kembali lagi ke desa ini lagi!" Tony pun langsung berlari lagi.


Setelah dua hari kepergian Tony, tuan Sanyo menyesal dengan perbuatannya sebelumnya. Dia berkata seperti itu, karena saat itu dia sudah di kuasai oleh amarah.


"Aku Gagal sebagai seorang ayah, aku gagal, aku..." Tuan Sanyo berkata seperti itu terus hampir sepanjang hari.


Tahun pertama Tony pergi, tuan Sanyo sudah sangat merindukan Tony.


"Sedang apa Tony sekarang, apakah dia bisa makan dengan teratur, dan apakah Tony akan kembali lagi ke desa?" pertanyaan ini terus bermunculan dan berulang-ulang.


tahun kedua Tony pergi, tuan Sanyo kepikiran terus dengan Tony, tapi Tony tidak ada tanda-tanda kembali ke desa.


Tahun ketiga, tuan Sanyo mulai sakit-sakitan, karena terlalu keras memikirkan Tony dan sakit-sakitan itu pun terus berlanjut sampai sekarang.


Setelah cerita tuan Sanyo selesai, aku balik menceritakan gimana Tony yang aku temui. Aku menceritakan keadaan fisiknya dan juga saat Tony aku bunuh.


"Begitu ya, dia berubah total ya" kata tuan Sanyo yang seperti biasa-biasa saja dan ikhlas menerima keadaan.


Misi ku sudah selesai, kami keluar dari rumah kepala desa dan tiba-tiba, ada gambaran waktu berhitung mundur di penglihatan ku.

__ADS_1


Ya, waktu hitung mundur ini adalah pertanda aku sebentar lagi akan kembali kedunia nyata.


__ADS_2