Game & Takdir

Game & Takdir
30. hal yang tak terduga


__ADS_3

Aku keluar dari ruangan UKS dan langsung menuju ke kelas untuk mengambil tas ku yang masih ada di sana.


Sesampainya di kelas, ternyata masih ada Mita. Ini kenapa ya sial datang melulu, kenapa haru dia yang telah memfitnah ku.


Aku abaikan Mita berjalan melewati dia dan langsung mengambil tas ku di atas meja. Saat aku berbalik badan, Mita berdiri di depan ku Sangat dekat! Sampai-sampai payu daranya menyentuh badan ku.


Mata kami saling berhadapan, karena tinggi kita sama. Dia cuma melihat mata ku, emangnya ada apa sih dengan mata ku? Ada pupil?


Mita akhirnya menjauh dan berbalik badan. Dia berkata "hebat juga kamu ya, kamu tidak memalingkan pandangan mu. dari banyak orang yang aku gitukan, semuanya pada mengalihkan pandangannya dan langsung bertingkah aneh"


Ya mana mungkin aku bisa kek gitu lah. Kalo tidak kamu tendang dan fitnah, aku pasti seperti kebanyakan orang yang kamu maksud.


"Terimakasih atas pujiannya" jawaban ku dan langsung berjalan melewati Mita.


"Tunggu, apakah kepala mu masih sakit?" Pertanyaan Mita.


Aku terus berjalan sambil ngomong "orang yang mencelakakan ku sampai seperti ini, gak pantes untuk bertanya"


"Hahaha, lelucon yang bagus" Mita beneran tertawa.


"Gitu aja lucu, seberapa besar sih selera humor mu?"


Aku berjalan telah sampai di pintu kelas, tiba-tiba tangan ku di tarik oleh Mita dan aku pun berhenti berjalan.


"Jangan sok keren, kamu terlihat menjijikkan" bisikan Mita yang langsung di telinga ku.


"Ya-ya, aku tau kok, aku memang menjijikkan. Bisa di lepas tangan ku" jawaban ku.


Mita menghela nafas, dari hawanya dia seperti menahan emosinya "oke akan aku lepas, tapi tolong dengarkan perkataan ku sampai selesai"


Alhasil, aku mengikuti perkataan Mita. Aku disuruh duduk di tempat duduk yang dekat dari pintu dan Mita berdiri di depan ku.


"Tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur. Asalkan kamu tau, aku bisa membaca raut wajah seseorang yang sedang berbohong, aku ngomong seperti ini tidak hanya omongan belaka"


"Terserah lah, tanpa kamu minta, aku akan menjawabnya dengan jujur sebisa ku"


"Apakah kamu masih ingat dengan kejadian tadi siang?"


"Ya, aku masih ingat semuanya"


"Gitu ya, kepala mu hebat juga ... Tolong jangan beritahu siapa pun yang telah Kamu lihat.


Kalo tidak, akan kamu sebarkan foto mu ini bersama dengan kabar buruk tentang diri mu"

__ADS_1


Mita menunjukkan foto dari smartphone miliknya. Foto itu adalah aku yang telah berbaring tepat di pintu kamar mandi perempuan.


"Hehe, apa-apaan ini?" ucapan ku yang pelan.


"Hah, apa?" Kata Mita.


"Oke baiklah" -aku berdiri- "lagi pula aku juga tidak memiliki banyak teman untuk ku ajak bercerita"


Aku berjalan keluar dari kelas, aku tau ini adalah keputusan seorang pecundang. Akan tetapi, hati kecuali ku mengatakan. Ini lah yang terbaik.


Keesokan harinya, aku mau berangkat ke sekolah menaiki motor supra bapak. Saat aku keluar dari pagar rumah ku.


Aku terkejut sampai mau jatuh dari motor, ada seseorang yang melompat langsung duduk di belakang ku.


Aku berhenti dan melihat kebelakang. Ternyata seseorang itu adalah, Mita. Dia tersenyum saat aku lihat.


"Dari siapa kamu tau rumah ku?" Pertanyaan ku.


"Wow, langsung ke intinya" kata Mita.


"Langsung saja di jawab, kamu kira ini sudah jam berapa"


"Dari siapa ya? Em... Rahasia saja deh"


"Em... Maaf, aku belum hafal nama seluruh teman sekelas"


"Ha... Dah lah terserah"


Aku melanjutkan perjalanan menuju ke sekolahan. Selama perjalanan, Mita bercerita tentang sesuatu, aku mengabaikan ceritanya, jadi aku juga tidak tau dia bercerita tentang apa.


Satu kilometer sebelah sampai di sekolah, aku meminta Mita untuk turun dan dia pun beneran turun. Aku langsung tancap gas.


Istirahat pertama telah di mulai, tapi sekarang aku tidak ke kantin, karena aku membawa bekal. Orang tua ku sedang tidak punya uang dan tentu saja sekarang aku tidak mendapatkan uang saku.


Sebenarnya aku memiliki uang lima juta, uang ini adalah hadia dari Standar. Akan tetapi, aku tidak menggunakannya.


Kalo aku gunakan, pasti akan terlihat mencurigakan sama tetangga sekitar. Bedah cerita kalo Alvina, rumahnya kan jauh kedalam hutan, tidak memiliki tetangga pula.


Aku memakan bekal ku sendiri di tempat duduk ku, di samping ku Mita sedang mendapat wawancara dari beberapa gadis di kelas ku.


"Mita, sekarang kamu tinggal di mana? Di daerah sebelah mana?" Pertanyaan Mutia (teman sekelas)


"Kenapa emang?" Pertanyaan Balik Mita.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, cuma ingin tau saja. Eh siapa tau kita bisa main ke rumah mu, boleh kan?" kata Mutia lagi.


"Boleh saja sih, rumah ku berada di kampung B*** Tepatnya RT 1 RW 5, di jalan S*** dan rumah ku bernomor 4**


Aku kaget sampai menjatuhkan sendok ku. Alamat yang Mita katakan adalah alamat ku juga dan nomer rumahnya itu adalah nomor rumah di sebelah kanan rumah ku.


Ku kira itu akan menjadi rumah kosong selama-lamanya. Rumah itu sudah tidak berpenghuni selama sepuluh tahun.


Apakah keluarga Mita pemilik sebelumnya rumah itu, atau keluarganya membeli rumah itu. Sekarang jelas kenapa Mita tau rumah ku, lah ternyata kita tetangga.


"Ini sendok mu" kata poli (teman sekelas) sambil memberikan sendok ku yang terjatuh.


"Iya makasih, tapi kayaknya aku akan mengunakan tangan saja" balasan ku, tapi kok tumben ya, ada seseorang yang menyadari ku.


Aku melanjutkan memakan bekal ku mengunakan tangan. Bell pulang sekolah pun berbunyi, Tanpa berlama-lama, aku langsung menuju ke parkiran.


Aku sedang berusaha mengeluarkan motor ku dari banyaknya motor. Lima belas menit kemudian, akhirnya aku bisa mengeluarkan motor ku.


Aku langsung tancap gas mau pergi ke toko sayuran, karena ada diskon sayuran sekarang. itulah alesan ku cepat-cepat tadi.


Sesampainya di toko sayuran aku membeli beberapa sayurnya yang lagi diskon. Sangat kebetulan sekali, di sana aku bertemu dengan Alvina.


"Hei, Riko" panggilan Alvina.


Aku menoleh kebelakang "hai, kamu sedang mengincar sayuran diskon juga?" Pertanyaan ku.


"Kalo aku sih sudah biasa disini meskipun tidak diskon. Tapi sangat mengajukan ya, Seorang laki-laki berbelanja sayuran" kata Alvina dan sambil menahan tawanya.


Kami berdua berjalan bersama membeli sayuran, bahkan sampai membayar sayurannya juga. Aku mengantar Alvina pulang kerumahnya.


Selama perjalanan kami berbicara "mengenai pertanyaan mu kemarin Riko" kata Alvina.


"Pertanyaan ku ke Standar, memangnya kenapa?" Pertanyaan ku.


"Dia menjawab, kalo mati didalam game, kita akan lupa ingatan di dunia nyata kan?" Kata Alvina.


"Iya, terus ada apa?"


"Kita berhenti bermain game itu saja yok! Riko"


Aku refleks memberhentikan motor ku di pinggir jalan "kamu ngomong apa tadi, mungkin aku salah dengar" ucapan ku.


"Aku takut Riko, aku takut kalo ingatan ku akan terhapus. Jadi tolong, kita berhenti bermain game!"

__ADS_1


__ADS_2