
"Be-benar juga ya, lebih baik berhenti bermain game itu" ucapan ku.
Aku melanjutkan perjalanan ku menuju kerumahnya Alvina. Setelah sudah mengantarkan Alvina, dia tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia bertingkah agak aneh dan sesekali mau ngomong sesuatu tapi tidak jadi.
Hem, dasar cewek gampang di baca "ah... Aku mau istirahat sebentar, boleh aku beristirahat sebentar di dalam?" Pertanyaan ku.
Alvina terlihat sangat senang, sampai-sampai aku melihat matanya berkaca-kaca "ya, tentu"
Aku berada di rumahnya Alvina selama setengah jam dan sekarang sudah jam lima sore. Aku melaju motor ku perlahan, ya karena enak saja seperti ini.
Aku sampai di rumah ku tepat jam enam sore. Aku langsung memasak sesuatu untuk aku dan Fadil makan. Hari ini ibu akan pulang sangat malam, dia sudah bilang kepada ku tadi pagi, dia hari ini di minta bos untuk bekerja lembur.
"Kak, makanya sudah siap?" Tanya Fadil.
"Sebentar lagi, tolong siapkan piring-piring" perkataan ku.
Sepuluh menit kemudian kami berdua makan bersama. Setelah makan Fadil mencuci piringnya dan aku baru bisa mandi.
"Ah... Rasanya beban hari ini ikutan hanyut bersama air" aku mandi mengunakan air dingin.
Selesai mandi aku berjalan menuju kamar dan berganti pakaian. Aku bermain handphone sambil rebahan.
Baru membuka handphone, tapi pesan WhatsApp sudah menumpuk. Aku cek, ternyata pesan-pesan itu semua dari Mita. Ah, males bales.
Tapi aku tetap membuka pesannya. Isinya, cuma dia bertanya kepada ku, saat pulang sekolah aku dari mana saja.
Aku belas kalo lagi sibuk, dah gitu doang. Aku membuka aplikasi tok-tok, tapi gak ada lima menit aku langsung keluar dari aplikasi.
Entah kenapa hari ini aku jadi mager banget buat ngapa-ngapain. Kalo tidak salah saat Alvina mengajak aku untuk berhenti main game itu.
Kenapa ya? Padahal aku dulu sangat curiga dengan game itu. Lagi pula, didalam game aku sangat sengsara. Ampas banget dah pokoknya game itu.
Tapi entah kenapa aku sekarang tidak ingin berhenti main game itu. Aku tua ... Aku tau resikonya besar kalo mati dalam game, tapi tetap saja aku ingin bermain.
Ah... Kepala ku sakit memikirkan banyak hal, padahal aku baru sembuh dari sakit. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Kak ... Kakak kenapa? Aku lihat hidup kakak lagi ribet amat" kata Fadil yang sedang bermain game di PC.
Oh ya, minta pendapat dari Fadil saja kali ya. Mungkin dia punya saran atau jawaban dari masalah ku ini.
"Fadil, kakak boleh cerita gak?" Ucapan ku.
"Boleh, tapi Kalo hal yang membosankan lebih baik gak usah" jawaban Fadil.
__ADS_1
"Gini, kakak punya teman, teman kakak itu punya teman. Mereka berdua sering bermain game bersama, tapi tiba-tiba temannya teman kakak itu tiba-tiba ingin berhenti main game.
"Padahal, teman kakak itu masih ingin bermain game dengan temannya dan sekarang dia bertanya kepada ku, dia harus berbuat apa biar temannya itu mau bermain game bersama lagi"
Fadil menoleh kearah ku sambil tersenyum "Paksa saja dia, gampang kan?"
"Mana bisa di paksa, dia kan ce- ... Ehem, maksudnya temannya teman kakak itu adalah cewek, aku juga sudah memberi saran padanya untuk memaksa, tapi kata temen kakak, dia tidak mau memaksa cewek"
"Apakah kakak mencintai cewek itu?"
"Gimana ya... Kayaknya tidak sih, tapi cuma mau bermain game bersama lagi dengan dia"
"Apakah cewek itu mencintai kakak?"
"Kayaknya si... Tunggu, apa maksudnya kakak, kan kakak sudah bilang, ini masalah teman kakak yang lagi minta saran kepada kakak"
"Ya-ya, ku ubah pertanyaan ku. Apakah cewek itu suka sama temannya kakak" Fadil tersenyum.
"Dari yang kakak lihat sih, kayaknya cewek itu suka pada teman kakak"
"Kalo gitu gampang, buat saja dia meleleh dan makin sayang. Dengan begitu, dia pasti akan nurut apa saja yang ka- ... teman kakak mau"
Saran Fadil terdengar licik dan kejam. Akan tetapi, saran Fadil masuk akal juga, lakukan Atau tidak? Tinggal pilihan ini yang harus aku putuskan.
Hari esoknya, aku mau berangkat sekolah tapi Mita sudah menunggu ku lagi di depan rumah. Biar ku tebak, dia pasti mau ikutan naik motor bersama ku.
Setelah Mita naik, aku langsung menarik gas ku. Satu kilometer dari sekolah, Mita pun turut dari motor. Setelah turun aku langsung menancap gas lagi ke sekolah.
Setelah dari parkiran, aku berjalan menuju kelas. Tak terduga, aku bertemu dengan Alvina di depan pintu kelas.
Aku berlari kecil menghampirinya. "Oi, Selamat pagi Alvina" aku menyapanya.
Alvina terlihat terheran-heran "se-selamat pagi Riko"
Aku berjalan menuju ketempat duduk ku dan langsung menaruh tas. Sip, untuk sekarang gini aja dulu. Kalo terlalu berlebihan secara tiba-tiba, akan terlihat aneh.
Istirahat pertama pun tiba, aku berjalan ketempat duduk Alvina, aku berencana untuk mengajak dia ke kantin bersama.
"Alvina, ke kantin yuk!" Ajakan ku.
"Riko, ah... Maaf, hari ini aku membawa bekal dan sudah punya janji dengan teman ku di kelas sebelah ... Aku pergi dulu ya?" Kata Alvina.
Baru tau aku kalo dia punya teman dari kelas sebelah. Kayaknya masih ada banyak lagi yang aku belum ketahui dari Alvina.
__ADS_1
"Di tolak ya? Kasian banget..." Kata Mita.
Aku menghiraukan Mita dan langsung keluar kelas. Setelah balik dari kantin, tak sengaja lagi aku melihat Alvina.
Alvina sedang membawa kardus yang aku juga tidak tau apa isinya. Oke, tidak akan aku sia-siakan peluang emas ini.
"Maaf ya, aku pergi dulu" aku berpamitan dengan Agong dan Ivan.
Aku berlari menghampiri Alvina. Tanpa minta izin, aku dengan tiba-tiba mengambil Kardus yang Alvina bawah.
"Eh-eh-eh, apa yang kamu lakukan?" Tanya Alvina.
"Sudah jelas kan, aku akan membawa kardus-kardus yang ber- ... Eh?"
"Kardus ini tidak ada isinya" -Alvina mengambil lagi kardusnya- "gak papa kok, aku bisa membawanya sendiri, aku duluan" kata Alvina dan langsung pergi.
Sial, sekarang aku merasa sangat malu pada diri ku sendiri. Aku menutup muka ku dengan kedua tangan ku.
"Di tolak dua kali, wkwkwk"
Aku menoleh kebelakang dan ternyata yang ngomong adalah Mita. Aku mengabaikannya lagi dan pergi menuju kelas.
Pulang sekolah telah tiba, aku melihat Alvina sudah keluar kelas, aku dengan cepat beres-beres buku.
Aku mengejar Alvina, syukurlah Alvina masih masih depan kelas 3B. Aku berlari menghampiri Alvina.
"Alvina, pulang bareng yuk!" Ucapan ku.
Tiba-tiba, ada seorang cowok yang keluar dari kelas. Cowok itu tinggi dan ganteng. Warna rambut kuning kecoklatan, kayaknya itu warna alami dari rambutnya.
"Siapa dia?" Tanya cowok ganteng itu.
"Ah... Dia teman sekelas ku" -Alvina menoleh kearah ku- "maaf Riko, aku sudah janji dengan dia untuk pulang bersama"
"Ah, iya gak papa, kalo gitu, aku duluan ya" aku berjalan melewati Alvina.
Sesampainya di parkiran, aku melihat Mita duduk di atas motor ku.
"Di tolak tiga kali, Aduh... Sakit-sakit" kata Mita.
"Minggir"
Mita turun dari motor ku dan aku langsung memutar motor ku.
__ADS_1
"Ayo, cepetan naik" kata ku.
Aku tidak merasa marah atau pun benci kepada Mita. Entah kenapa, rasanya hati ku sudah dipenuhi oleh luka yang jauh lebih sakit dari amarah.