
"Berapa harga tombak ini?" Pertanyaan Ku.
"Em... Empat puluh koin emas" jawab Silvi.
"Em-empat puluh koin emas? Gak bisa dikurangi sedikit apa?"
"Maaf, ini adalah harga yang sudah sesuai dengan kesulitan dan item tambahan dalam pembuatannya"
Terpaksa aku membelinya dan uang ku tersisa tujuh koin emas dan satu koin perak. Haha, mantap, aku kembali miskin lagi.
Setelah dari toko perlengkapan, kami bertiga langsung pergi ke toko persiapan untuk kemah, karena ada beberapa barang yang sangat dibutuhkan.
Selama perjalanan, aku membunuh beberapa monster dan begitu juga dengan Alvina. Karena Rui sendiri sudah tergolong sebagai monster, dia tidak mendapatkan Expi sama sekali.
Level ku sekarang 28 dan Alvina 23. Aku tidak tau level Rui berapa, karena penglihatan ku tidak bisa melihat levelnya, atau mungkin levelnya terlalu tinggi sampai tidak bisa ku lihat.
Hari mulai sore, akhirnya kita sudah sampai di sungai Kett. Dilihat gimana pun ini... Sungai yang pernah aku buat untuk tempat beristirahat di misi sebelumnya.
Kalo tidak salah di chapter 7-8, aku dan Alvina menginap di tempat ini. Kalo di sudah dua tahun berlalu, tapi kenapa tempat ini tidak berubah sama sekali.
Biar ku jelaskan gambar tentang sungai Kett. Sungai ini berada di dalam hutan yang tidak begitu lebat, karena tidak begitu lebat membuat sungai ini begitu nyaman.
Lebar sungai ini sekitar 21 atau 22 meter, untuk panjangnya aku tidak begitu tau. Cahaya matahari masih bisa menyinari sungai ini, karena begitu lebar.
Airnya putih bening dan dipinggiran sungai bukan tanah liat melainkan batu kerikil kecil. Kayaknya sungai ini cukup dalam. Meskipun bening, tetapi aku tidak bisa melihat dasarnya.
Untuk jenis ikannya cukup beragam, tetapi aku tidak tau nama-nama tiap ikan disini. Sejauh mata memandang, batu disini sama saja, kalo kek gini, gimana caranya aku mencari batu Ghilx.
Rui membuat api di pinggiran sungai, Alvina mencari ikan dengan memanahnya, dan aku duduk sambil melihat mereka berdua bekerja, hehe.
Hari mulai gelap, kami membakar ikan hasil buruan Alvina. Aku tidak tau ikan yang sudah matang itu gimana. Ah, yang penting aku bakar saja sampai mengeluarkan bau.
beberapa menit kemudian "Kalian berdua, ikannya sudah matang loh..." Panggilan ku untuk Alvina dan Rui yang sedang beristirahat.
Alvina memakan ikannya "gimana rasanya? Enak?" Pertanyaan ku.
"Em... Agak gosong dan masih terasa amis" tanggapan Alvina.
"Eh, gosong? Kalo kamu Rui, enak gak?"
Aku menoleh kearah Rui, dan dia memakan ikannya seperti makan sebutir nasi, sekali lahap.
"Kalo bertanya ke aku percuma saja. Enak apa gak aku tidak tau, yang penting aku kenyang. Aem, aem" tanggapan Rui sambil terus makan.
__ADS_1
Kayaknya enak dah, kalo lihat Rui memakannya begitu lahap. Tapi kata Alvina, ah... Dah lah makan aja, dari pada kelaparan.
Aku mengambil satu ikan dan aku gigit, aku kunyah pelan-pelan sambil merasakan rasanya.
"Hem!"
Aku hampir memuntahkannya, rasanya seperti memakan telur mentah. Ini sangat amis dicampur dengan rasa gosong yang pahit, ini rasa paling menjijikkan yang pernah aku makan.
Nafas makanan ku hilang. Tetapi, karena perut ku keroncongan aku harus tetap memakannya. Sial, tau gini ku habiskan saja uangnya untuk membeli perbekalan.
Kami selesai makan dan berkumpul di sekeliling api unggun. Kami membasah tentang kejadian aneh di sungai ini.
"Kira-kira... Hantu mungkin yang membuat orang-orang disini menghilang" kata ku.
"Hantu!" Teriakan Alvina.
Dari reaksinya, kayaknya Alvina takut akan hantu. Aduh... Merasa bersalah dah aku, kalo dipikir-pikir, kenapa tadi ngomong hantu.
"Maaf-maaf, aku cuma bercanda kok, gak usah takut begitu Alvina" aku berusaha menenangkan Alvina.
"A-aku tidak takut kok, tadi... Ya, tadi aku melamun dan kaget kamu tiba-tiba berbicara" kata Alvina.
Ya... kamu masih ketakutan lah, tuh kaki mu bergetar. Wajar lah ya, kalo orang ingin menutup-nutupi kekurangannya.
"Hem!" Alvina semakin bergetar ketakutan.
"Jangan berpikiran seperti itu dulu Rui, mungkin orang-orang itu cuma mati tenggelam di sungai ini" kata ku.
"Nah, kalo seperti itu, sungai ini sudah pasti dipenuhi oleh hantu kan? Hantu yang mati penasaran" Kata Rui dengan menunjuk ke arah sungai.
"Tidak...!" Terikan Alvina dan dia langsung berlari menuju kerah ku.
"Riko... aku takut, aku takut hantu Riko..." Alvina memeluk ku dari belakang.
"Te-tenang aja, gak ada hantu kok, Rui cuma bercanda, ya kan Rui" perkataan ku sambil memasang mata mengancam ke Rui.
Rui menanggapi reaksi mata ku "ya, aku cuma bercanda kok Alvina, hehe"
"Tuh, Rui cuma bercanda, jadi tolong lepaskan aku, jujur aku susah bernafas"
Alvina mengendorkan pelukannya "sungguh, di sini tidak ada hantu kan?" Alvina memasang mata imut.
"Ya, sungguh" balasan ku.
__ADS_1
"Sungguh-sungguh?"
"Sungguh"
"Sungguh, sungguh, sungguh, sung... guh?"
"Mau sampai kapan kamu seperti itu terus, sudah lah lepas kan aku" aku melepas pelukannya Alvina.
Kami bertiga sudah merasa mengantuk. Aku dan Alvina menggelar kain sebagai alasan untuk tidur.
"Kalian berdua tidur saja, aku akan menjaga malam" kata Rui.
"Ku terima dengan senang hati tawaran mu" kata ku dan langsung berbaring.
Tiga puluh menit sudah berlalu, tetapi aku masih belum tidur. Itu dikarenakan, Alvina memeluk ku karena dia masih ketakutan.
"Alvina... Bisa menjauh dikit tidak?" Ucapan ku dengan nada lembut
"Tidak, tidak mau Riko" Alvina menolak.
"Oke-oke gini aja, kamu boleh di samping ku, tapi lepaskan pelukan mu ini! Aku tidak bisa tidur kalo seperti ini"
Aku melepas pelukan Alvina dan seketika Rui datang menghampiri kami.
"Aku tau kalian lagi bermesra-mesrahan, tapi lihat kondisi napa, kita lagi di luar loh" kata Rui.
"Kata siapa lagi bermesra-mesrahan, Alvina masih ketakutan nih, ini semua salah siapa coba?" Aku memasang mata tajam lagi kearah Rui.
Aku berada di samping kiri, Rui di samping kanan sedang duduk, dan Alvina ditengah. Kami melakukan ini untuk membuat Alvina tidak merasa takut lagi.
Tak lama aku perlahan mengantuk dan sesekali memejamkan mata ku. Ah... Tidur-tidur, kayaknya Alvina sudah tenang dan tidur sekarang. Aku pun memejamkan mata ku dan tertidur.
Beberapa jam berlalu aku tertidur. Tiba-tiba, aku merasakan ada tetesan air yang terasa di kaki ku, karena itu aku terbangun.
Aku membuka mata ku perlahan dan langsung duduk, aku mengusap-usap mata ku biar terbuka lebar.
Saat aku sudah sepenuhnya sadar, aku melihat ada sosok tinggi besar dan memiliki tentakel di punggungnya. Sosok itu, sedang memegang Alvina dan dia terlihat mau memakan Alvina.
Aku langsung bergerak cepat mendekati Alvina, aku membuat pedang katana dan menebas tentakelnya dengan katana.
Aku membawa Alvina menjauh dari sosok besar itu "Alvina, bangun lah!" Teriakan ku.
"Rui? dimana Rui? Tunggu" -aku melihat kerah sosok besar itu- "jangan bilang, Rui telah"
__ADS_1