Game & Takdir

Game & Takdir
23. pemusnahan


__ADS_3

Aku bertanya kepada Rui dan Alvina "apa yang terjadi di sini?"


Alvina dan Rui saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka menceritakan semuanya yang telah terjadi.


Saat aku tengelam, Alvina dan Rui sedang bertarung dengan raksasa sambil memanggil nama ku.


Mereka ingin menolong ku, tapi keren adanya raksasa, mereka tidak bisa berbuat banyak. Setelah lima menit aku berada di sungai, aku muncul kepermukaan.


Alvina dan Rui agak merasa aneh Kepada diri ku, aku muncul ke permukaan dan bisa berdiri di atas air. Mataku mengeluarkan cahaya biru seperti senter.


Aku bertarung dengan raksasa itu, seperti sang ahli tinju dan lompatan ku tinggi, sampai bisa memukul langsung kepala sang raksasa.


Raksasa itu kewalahan melawan ku. Sampai pada akhirnya, raksasa itu tumbang dan jatuh ketanah. Aku mengeluarkan cahaya biru di tangan ku, cahaya biru itu, aku gunakan untuk penggal kepala raksasa dan memotong-motong bagian tubuhnya.


Namun sebelum aku sampai dilehernya, raksasa itu berbicara kepada ku.


"Tolong jangan bunuh aku! Aku hanyalah penjaga batu Ghilx, yang disimpan di dasar sungai Kett ini. Kalo kamu membunuh ku, batu itu bisa-bisa akan jatuh ke tangan yang sa-"


Sebelum raksasa itu selesai bicara, aku sudah memisahkan kepalanya dari badannya, di ikuti dengan bagian tubuh. Aku mulai lemas dan jatuh tengkurap di atas raksasa.


Setelah mendengar cerita itu, aku pun menceritakan yang aku rasakan sebenarnya. Aku melihat Inventori ku dan tiba-tiba ada batu Ghilx.


"Wah... Batu yang sangat indah dan cantik" kata Alvina.


"Jadi ini ya, yang membuat kamu tiba-tiba menjadi sangat kuat" ucapan Rui yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Ya... Begitu lah. Namun sebagai gantinya, aku harus kehilangan sesuatu" perkataan ku.


"Heh? Memangnya apa yang hilang?" Tanya Alvina.


"Aku belum tau pasti, tapi kemungkinannya, ada beberapa ingatanku yang hilang" jawaban ku.


"Riko... Apa saja yang hilang di ingatan mu?" Alvina bertanya lagi.


"Mana aku tau, kalo aku tau, sekarang pasti sudah aku usahakan untuk mengingatnya" jawaban ku dengan nada agak tinggi.

__ADS_1


"Kalo tidak salah kata raksasa itu sebelum mati, dia ingin mengatakan 'bisa-bisa batu itu akan jatuh ke tangan yang salah' begitu kan" ucapan Rui.


"Eh, kukira dia akan ngomong 'ke tangan yang sah' bukannya benar begitu" tangkap Alvina.


"Kamu ini ya... Maksudnya sah itu apa? Sahriah?" ucapan Rui.


"Sahriah? Siapa Sahriah? Emangnya di sini ada yang namanya Sahriah?" Alvina menganggap serius candaan ku dan Rui.


"Terus, sekarang apa? Apa yang akan kamu lakukan dengan batu Ghilx ini?" Pertanyaan Rui.


"Ya di musnahkan saja, gampang kan?" Jawaban ku.


"Heh? Tu-tunggu, seriusan?" Ucapan Rui dengan muka kebingungan.


"Ya serius lah, kenapa tidak"


"Gimana caranya kamu memusnahkan batu ini? Mau kamu hancurkan sampai berkeping-keping, sampai seukuran pasir gitu?" Lagi-lagi pertanyaan Rui dengan muka kebingungan.


"Tidak, kamu lupa aku ini adalah seorang ahli kimia? Hanya dengan melihat batu ini, aku tau zat-zat apa saja yang terkandung dalam batu ini"


"Aku akan melelehkannya dengan lava. Batu ini tersusun dari zat-zat es dan yang membuat batu ini tidak mencair karena terdapat zat Liquid Nitrogen dan zat dry ice" kalian para pembaca paham gak yang aku maksud.


"Apakah kamu paham? Alvina" pertanyaan Rui ke Alvina.


"Maaf aku tidak bermaksud sombong, tapi aku sangat-sangat tidak paham" jawaban Alvina.


"Intinya ini bukan batu padat tapi batu es, karena ada zat yang membuat batu es ini tidak mencari, jadi masih bisa untuk dicairkan. Akan aku gunakan lava untuk mencairkannya" sekarang paham kan maksud ku.


Aku membuat cangkul dan langsung menggali tanah untuk tempat lava ku nanti. Aku membuka lubang sedalam 45 centimeter dan lebar 35 centimeter.


Selesai membuat lubang, lubang itu langsung aku isi dengan lava. Aku membuat batang kayu kecil, untuk mendorong baru Ghilx masuk kedalam lubang yang berisi lava.


"Apakah kamu yakin melakukan ini?" Pertanyaan Rui.


"Kan sudah aku bilang, tentu saja akan aku lakukan, aku tidak menyesal sama sekali" jawaban ku.

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak menyesal sama sekali? batu itu bisa membuat kamu kuat berkali lipat loh" Lagi dan lagi, Rui bertanya.


"Gini ya Rui, kekuatan yang di berikan batu ini emang sangat luar biasa, tapi begitu juga dengan pengorbanan yang harus di berikan sangat mahal. Dengan kata lain, kekuatan elit bayarannya pun gak sedikit" penjelasan ku.


"Banat juga, kekuatan elit bayarannya gak sedikit" perkataan Rui yang nampak sudah agak tersenyum.


"Dari pada itu, aku tidak ingin menjadi buronan karena membawa batu ini"


"Tapi Riko, gimana dengan quest nya ini?" Pertanyaan Alvina sambil menunjuk kertas quest.


"Kita bakar saja bersama batu Ghilx. Gak papa kita gagal mendapatkan hadiah besar. Kemungkinan yang membuat quest itu adalah orang yang sudah tau tentang kekuatan batu ini.


"Jadi untuk berjaga-jaga, kita gagal untuk menyelesaikan quest, dari pada nanti orang yang membuat quest itu akan mengunakan batu Ghilx dengan salah" penjelasan panjang dari aku.


Rui nampak tenang sekarang dan begitu juga dengan Alvina. Batu Ghilx itu sudah masuk ke dalam lubang lava dan juga dengan keras quest. Perkiraan ku benar, batu Ghilx beneran mencari di dalam lava.


Lava ku sudah kehabisan waktu dan langsung menghilang. Saat lava ku sudah menghilang, batu Ghilx itu juga sudah tidak ada lagi.


Hari mulai gelap, kami bertiga terpaksa bermalam di pinggiran sungai Kett lagi dan memakan ikan di sungai Kett ... Lagi.


Hari mulai larut dan sekarang, kami bertiga bisa tidur dengan nyenyak tapi harus khawatir dengan adanya serangan monster.


Saat pagi tiba, tubuh ku merasa sangat segar, seperti bagun tidur di dunia nyata. Ha... Kayaknya aku kangen dengan ibu, rasanya ingin cepat kembali ke dunia nyata.


Kami bertiga bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke desa Detrap, sambil membawa kepala raksasa. Untung saja bisa aku masukkan ke Inventori. Kalo tidak, pasti akan mengerikan kalo aku membawa dengan tangan.


Rui berubah menjadi naga, untuk menyebrangi sungai Kett. Aku dan Alvina menaiki Rui.


"Apakah kalian sudah siap?" Pertanyaan Rui.


"Oke siap!" Perkataan ku dan Alvina bersamaan.


Rui pun terbang dan kami menyebrangi sungai Kett. Setelah berhasil menyebrangi sungai Kett, Rui berubah menjadi manusia.


Lah kenapa tidak tetap menjadi naga saja? Kam akan lebih cepat kalo terbang. Dikarenakan, aku meminta kepada Rui untuk berjalan kaki bersama. Ku kasih tau ke kalian. Petualangan akan menjadi lebih seru kalo berjalan kaki bersama.

__ADS_1


Satu jam kami bertiga berjalan lurus dan seketika kami berhenti, kami baru sadar, kalo kami


__ADS_2