Game & Takdir

Game & Takdir
39. kisah kejam


__ADS_3

Aku mengumpulkan kekuatan untuk berdiri, aku berjalan keluar dari rumah dan aku melihat Tony yang sudah terbang.


"Ingat ini baik-baik Riko! Aku ... Aku akan membunuhmu di lain waktu" ucapan Tony dan langsung terbang menjauh.


"Ya akan aku tunggu, mungkin ya... Dua tahun lagi ketemunya, kayaknya"


Aku membiarkannya pergi, karena aku sendiri sudah kehabisan mana dan kelelahan. Tapi alesan sebenarnya, mana mungkin aku bisa mengejarnya.


Aku berjalan menuju kerumah kepala desa, untuk menolong Alvina dan Rui. Sesampainya di lantai tiga rumah kepala desa, Rui dan Alvina sudah terbangun.


Aku dengan cepat berlari kearah mereka "Alvina! Rui! Kalian baik-baik saja" Aku melepas Alvina terlebih dahulu baru Rui.


"Sebelum bertanya seperti itu, lihat kondisi mu sendiri seperti apa?" Ucapan Rui.


"Riko, kamu abis bertarung dengan orang itu?" Tanya Alvina.


"Maksud mu Tony? Ya a-"


"Tony? Kenapa kamu berkenalan dengan musuh mu?" Tanya Rui.


"Makanya dengerin omongan orang sampai selesai dulu ... Tunggu, kamu gak tau Tony?"


"Mana mungkin aku tau nama sih brengsek seperti itu" perkataan Rui.


Heh? Apa mungkin lupa ya Rui tentang Tony, dia kan sudah dua tahun tidak melihat wajahnya. Kalo Alvina pasti masih ingat, kita kan cuma satu Minggu saja.


"Kalo kamu Alvina?" Pertanyaan ku.


"Maaf, Rui saja tidak tau, apalagi denganku?" Jawaban Alvina.


Seriusan, mereka lupa atau mungkin beneran tidak tau Tony, padahal sebelumnya aku menyerahkan kepala Tony pada kepala desa. Tapi aku baru tau, Tony memiliki banyak tubuh atau bayangan.


"Tony itu loh Tony, sang penunggu sungai Kett atau lebih tepatnya sang penjaga batu Ghilx" penjelasan ku.


"Eh?" Rui menatap Alvina.


"Eh?" Ucapan Alvina sambil melihat Rui.


"Eh?' Rui


"Eh?" Alvina.


.


.

__ADS_1


.


"Mau sampai kapan kalian ah eh ah eh, kayak orang orang lagi pub aja"


"Ah... Iya ingat-ingat dengan wajahnya" Kate Rui.


"Nah ingat kan? Kalo kamu Al- ... Tuan Sanyo kan per-"


"Woi! Itu tadi mau memangil nama ku kan! Kenapa tidak jadi? Kamu kira aku juga tidak ingat dengan wajah Tony!" Terikan Alvina.


"Apakah itu betul? Ah, pasti cuma bohongan, ya kan Rui?" ucapan ku dan Rui membalas dengan mengangguk.


"Kalian berdua jahat!"


"Jadi, luka kamu separah ini karena abis bertarung dengan Tony?" Pertanyaan Rui.


"Begitu lah, dia jauh lebih kuat dari pada yang wujud raksasa"


"Aku tau, sebelumnya aku juga pernah melawannya ... Tapi tunggu, kamu bisa menyelamatkan kami. Itu berarti, kamu sudah mengalahkan Tony?" Pertanyaan Rui.


"Tidak, aku lah yang di kalahkan ... Untuk sekarang, dia hanya memberi ku untuk bernafas"


"Riko... Apakah Tony masih di luar?" Pertanyaan Alvina.


"Oh ya, Rui" panggilan ku.


"Apa?"


"Aku sebenarnya sudah mengira-ngira sih, tapi aku ingin mendengarnya secara langsung. Cerita saat Tony masuk ke desa ini, pasti kamu tau kan?"


Rui pun bercerita. Saat Tony datang ternyata belum ada satu tahun, melainkan baru tiga bulan yang lalu.


Saat Rui sedang membantu salah satu warga di persawahan. Saat itu hari cerah dan sangat damai seperti hari-hari sebelumnya.


Akan tetapi tiba-tiba, ada ledakan berasal dari dalam desa. Rui yang mendengarnya langsung memiliki firasat beruk.


Karena hatinya tidak tenang, Rui pun langsung meninggalkan pekerjaannya dan langsung berlari menuju desa.


Sesampainya di desa, Rui berubah menjadi wujud naga, dia terbang melewati tembok. Rui terkejut dengan apa yang dia lihat.


Yap, beberapa rumah hancur seperti sedang di Landa topan. Rui mencium bau seseorang yang sangat aneh didekatnya.


Tak lama, Rui pun langsung di pukul oleh seseorang dari samping. Meskipun wujud Rui masih naga yang besar. Tapi Rui bisa terlontar sejauh sepuluh meter dari tempatnya yang semula.


Sosok yang memukulnya adalah, Tony. Rui berusaha membalasnya, namun tidak ada satu pun usahanya yang berhasil.

__ADS_1


Alhasil, Rui di buat pingsan oleh Tony. Saat Rui membuka matanya, dia berubah menjadi wujud manusia dan sudah berada di rumah kepala desa.


Rui sudah terikat dari kaki sampai tangannya. Rui berusaha untuk memutus talinya. akan tetapi, tali yang di gunakan bukan tali biasa.


Namun tali yang mengikat Rui berbahaya, saat dia berusaha untuk memutusnya, mana Rui malah terhisap oleh tali. Ini membuat Rui makin lama makin lemas.


Tiba-tiba Tony datang dan langsung menendang kepala Rui. Rui terhempas dan menatap dinding dengan sangat keras, namun anehnya lagi, dindingnya tidak hancur padahal terbuat dari kayu seperti rumah warga lainnya.


Rui di jambak "dimana batu Ghilx?" Pertanyaan Tony.


"Apa itu? Batu Ghilx? Apakah batu itu batu keberuntungan mu di masa lalu?' jawaban Rui.


Rui pun dilempar oleh Tony dengan sangat kuat, lagi-lagi saat membentur dinding, dindingnya tidak ikutan hancur, retak pun tidak.


"Sekali lagi aku bertanya? Dimana batu Ghilx! Kalo kamu berpura-pura lagi, aku akan menyiksa mu lebih para lagi" ucapan ancaman Tony.


Rui yang sudah kesakitan dan juga sangat ketakutan. Dia pun menjawab "ba-batu Ghilx ti-tidak ada di aku"


"Hoo ~" Tony melempar Rui lagi, sekali lagi dindingnya tidak hancur dan lecet.


Tony menghampiri Rui "be-benar! Aku tidak bohong! Kalo aku membawanya, sudah aku berikan kepada mu dari tadi" perkataan Rui yang sudah sangat ketakutan.


"Eh? Apakah aku bertanya kamu membawa batu Ghilx? Aku kan cuma bertanya ... Dimana batu Ghilx itu berada?"


Rui yang sudah di puncak ketakutan, dia pun memberitahu kepada Tony, kalo batu Ghilx, aku yang membawanya. Rui tidak bilang kalo batu Ghilx sudah aku musnahkan.


Setelah itu, Rui cuma di beri makan nasi dan garam dua kali sehari. Kejamnya lagi, Rui masih diikat tangannya saat di makan. Bisa kalian bayangkan, gimana cara makannya Rui saat itu.


"Kejam ... Itu sangat kejam... Rui!" Alvina langsung memeluk Rui sambil menangis.


"Eh... Alvina, aku tidak apa-apa kok, yang penting aku masih hidup ya kan?" Jawab Rui.


"Tidak, tubuh mu kecil sekali, seperti anak-anak umur sepuluh tahun, tapi kamu sudah menerima siksaan sekejam itu! Aku tidak bisa menerimanya" perkataan Alvina yang masih menangis.


"Ta-tapi umur ku kan sekarang sudah 79 tahun" -Rui melihat kearah ku- "Riko..."


"Iya-iya" -aku menghampiri Rui dan menarik Alvina- "oke Alvina, Rui merasa tidak nyaman itu loh"


Karena di luar sudah sangat gelap, kamu bertiga memutuskan untuk tetap di rumah ini sampai pagi tiba.


Saat bangun tidur, perut ku sudah sangat lapar, tapi tidak ada satu pun yang dapat di makan.


Aku, Alvina, dan Rui. Bersiap-siap untuk pergi. Tujuan pertama kita adalah, memburuh hewan besar untuk di makan.


Saat membuka pintunya,

__ADS_1


__ADS_2