
"Jadi, mengapa kamu duduk di atas meja ku? Padahal tempat duduk mu ada di sebelah ku" Pertanyaan ku.
"Gak papa kan, lagi jam kosong juga" jawaban Mita.
"Tadi pagi kamu marah-marah kepada ku dan sekarang malah mengajak ku untuk ngobrol"
"Karena aku tertarik dengan mu"
Aku sempat kaget dengan omongannya Mita, tapi itu pasti hanya candaan dari dia.
"Ya-ya, terimakasih, aku merasa senang kok" ucapan ku sambil mengalihkan pandangan ku.
"Hei, nanti pulang sekolah kamu temui Alvina"
"Hah? Kenapa tiba-tiba pindah topik?" Ucapan ku dan langsung menatap mata Mita lagi.
"Ha... Sudah lah, temui saja susah amat" kata Mita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus kalo sudah kutemui, apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu ini ya... Jangan pura-pura tidak tau dengan keadaan sekarang" -Mita melihat Alvina- "aku juga kena batunya gara-gara kamu, sekarang aku merasa tidak enak kepada Alvina"
"Kalo kamu merasa tidak enak, tinggal bumbui saja paket garam atau kecap terserah, yang penting terasnya akan menjadi lebih enak"
"Woi, aku lagi serius, kalo kamu bercanda lagi, ku pukul kamu pakek sepatu nanti" kata Mita yang sudah siap mengambil sepatunya.
"Tidak kamu saja yang menemui Alvina, aku gak usah, lagi pula mengapa haru merasa tidak enak segala" aku masih gigih dengan prinsip ku.
"Ya ampun Riko-Riko, mau sampai kapan kamu bersikap seperti anak-anak yang tidak mau mengalah, kamu ini sudah dewasa loh"
"Biarin masih anak-anak, menjadi dewasa itu tidak seindah yang kita bayangkan"
Mita turun dari meja ku "pokoknya aku tidak mau tau, sepuluh sekolah nanti, kamu harus menemui Alvina"
Setelah berkata seperti itu, dia pun langsung berlari menghampiri Alvina. Dengan suara yang keras dia ngomong sama Alvina.
"Alvina, Katanya Riko, dia mau bertemu dengan kamu di atas gedung nanti sepulang sekolah"
Karena perkataan Mita terlalu keras, seluruh teman sekelasnya melihat kearah ku. Mereka melihat ku dengan tatapan terkejut dan terheran-heran.
__ADS_1
"Oh... Ya, katakan padanya ... Aku akan datang" perkataan Alvina, juga ikut keras.
Suasana kelas menjadi berat dan agak sunyi. Mereka semua yang ada di kelas ini, hanya terdiam dengan tatapan bengong.
Istirahat kedua pun tiba, aku keluar kelas dan dengan tidak sengaja, aku berpapasan dengan Alvina di pintu kelas. Alvina abis dari kamar mandi sepuluh menit sebelum jam istirahat.
Aku hanya melewatinya dan tidak berkata apa-apa. Alvina juga sama seperti yang aku lakukan sekarang.
Sesampainya di kantin, Agong dan Ivan sudah ada di antrian untuk memesan makanan. Agong dan Ivan melambaikan tangannya kepada ku dan aku juga membalas dengan melambaikan tangan.
Kami duduk di tempat duduk yang sama, tapi agak jauh dari kerumunan. Itu di karenakan, aku ingin meminta pendapat dari mereka berdua.
Aku menceritakan kejadian yang baru tadi terjadi di kelas, respon mereka berdua yang mendengar cerita ku, hanya terbengong sambil mulut mereka terbuka. Padahal masih ada nasi didalam mulut mereka.
"Em... Jadi, kamu di jadikan tumbal oleh Mita gitu?" Tanya Ivan.
"Kalo kamu sebutnya tumbal sih... Kesannya kok jadi seram ya?" Ucapan ku.
"Ngomong saja ke Alvina 'kamu salah paham soal kejadian tadi pagi' dah terus kamu pergi setelah ngomong itu, gampang kan?" Pendapat dari Agong.
"Kalo hidup segampang itu, semua orang pasti dengan mudah menggapai cita-citanya" ucapan ku.
"Kalo soal nanti bicara, sepertinya aku tidak tau kamu harus ngomong apa. Tapi masalahnya, pasti ada satu atau dua orang yang kepo dan ingin melihatnya" ucapan Ivan.
"Eh, tunggu" ucapan Agong.
"Ada apa lagi Agong? Kalo mau ajak bercanda nanti saja ya, kita lagi basah hal serius" ucapan Ivan.
"Iya... Aku juga tau lah, ini aku ingin mengasihi saran lagi" perkataan Agong.
"Palingan juga saran sesat seperti tadi" ejekan Ivan.
"Ya-ya serah lu dah, yang paling lu senang" -Agong melihat kearah ku- "Riko, kenapa tidak kamu ubah tempat ketekunannya saja"
"Loh? Tumben sarana lu masuk akal juga, dengan ganti tempat, pasti orang-orang mengiranya ketemuan itu tidak jadi"
"Eh? Iya bener juga ya. Tapi gimana caranya aku memberi tahu ke Alvina?" Pertanyaan ku.
"Gitu aja masak tanya, kamu kan punya nomernya Alvina, tinggal WhatsApp aja Alvina" saran lagi dari Agong.
__ADS_1
Setelah kembali dari kantin, aku mampir ke toilet. Di sana, aku melaksanakan saran Agong. Aku mengirim pesan ke Alvina.
Duh... Kenapa rasanya berat banget buat WhatsApp Alvina. Padahal sebelumnya gampang banget.
Aku mengumpulkan keberanian ku. Setelah terkumpul, aku gunakan semuanya untuk WhatsApp Alvina.
Singkat cerita, aku bertemu dengan Alvina di tempat pembakaran sampah sekolah, di sini tempatnya sangat sepi tidak ada satu pun orang yang kesini.
Ya dikarenakan ada banyak alesan. Pertama, disini sangat bau. Kedua, ini jauh dari gedung-gedung utama sekolah, dan beberapa alesan lainnya.
Aku langsung berhadapan dengan Alvina, sudah sekitar sepuluh menit kita seperti ini dan tidak ada kata apa pun yang keluar.
Aduh... Canggung banget. Aku harus mulai pembicaraan, karena aku laki!
"Alvina, gimana ngomongnya ya" -aku terdiam lagi dan menunduk- "Aku tidak ingin berhenti bermain game itu! Aku ingin kita bermain lagi game itu bersama" aku mengucapkannya dengan suara sangat keras.
"Aku tua ... Aku tau bukan ini yang seharusnya aku katakan. Namun ... Namun hati ku yang menggerakkan ku untuk membicarakan ini" perkataan ku yang masih menunduk.
Aku pun masih menunduk selama dua menit dan belum ada satu pun kata dari Alvina. Aku pun penasaran, aku melihat kearah Alvina.
Ternyata, Air mata Alvina mengalir dan dia sedang menutup mulutnya. Aku dengan cepat menghampiri Alvina dan memeluk dirinya.
Beberapa menit sudah berlalu, kami berjalan bersama menuju kelas untuk mengambil tas kami berdua.
Tapi yang aku pikirkan sekarang, baju ku di bagian dada basah dan ini sangat terlihat jelas. Sudah pasti aku akan terlihat seperti orang konyol dengan baju yang seperti ini.
"Aku belum menjawab ya?" Ucapan Alvina.
Aku menoleh kearah Alvina "Aku sebenarnya masih takut untuk bermain game itu lagi. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalo kita berhenti bermain game itu, aku sudah tidak punya alesan lagi untuk bersama Riko" perkataan Alvina.
Aku berhenti berjalan langsung berkata "eh? Jadi alesan mu nangis"
Alvina juga ikut berhenti berjalan "ya, aku merasa sangat senang, ternyata Riko masih sangat ingin bermain game itu bersama ku"
"Hahaha, syukurlah kalo begitu, kukira kamu menangis tadi karena aku terlalu memaksa"
Kami sampai di depan kelas dan semua orang sudah tidak ada. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu, yang masih mengganjal hati ku.
"Alvina, boleh aku bertanya satu hal lagi?" Pertanyaan ku di depan pintu kelas.
__ADS_1
"Iya boleh kok" Kata Alvina sambil menggambil tasnya.
"Cowok ... Cowok kemari yang pulang bersama kamu" -aku menelan air liur ku- "dia... Siapa?"